Gangguan Berat Badan pada Bayi: Penyebab, Diagnosis, dan Penatalaksanaan Berbasis Bukti
Berat badan merupakan indikator paling sensitif untuk menilai status gizi, kesehatan, dan pertumbuhan bayi. Pada tahun pertama kehidupan, berat badan mencerminkan kecukupan asupan nutrisi, fungsi saluran cerna, metabolisme, serta adanya penyakit yang mendasari. Oleh karena itu, pemantauan berat badan secara berkala merupakan bagian penting dari pelayanan kesehatan bayi.
Gangguan berat badan pada bayi dapat berupa berat badan yang tidak naik sesuai usia, kenaikan berat badan yang melambat, berat badan stagnan, penurunan berat badan, maupun berat badan berlebih. Kondisi ini tidak boleh dianggap sebagai masalah nutrisi semata, karena sering kali merupakan manifestasi dari gangguan medis, seperti infeksi kronis, penyakit jantung bawaan, kelainan endokrin, gangguan penyerapan zat gizi, alergi makanan, hingga Pediatric Feeding Disorder (PFD).
Gangguan berat badan pada bayi adalah kondisi ketika pertambahan berat badan tidak sesuai dengan pola pertumbuhan normal berdasarkan umur dan jenis kelamin. Dalam praktik klinis, istilah growth faltering kini lebih disukai dibandingkan istilah failure to thrive karena menggambarkan perlambatan pertumbuhan tanpa memberi label tertentu pada penyebabnya.
Bayi dikatakan mengalami gangguan pertumbuhan bila terjadi salah satu keadaan berikut:
– Berat badan berada di bawah persentil ke-5 pada kurva pertumbuhan WHO.
– Berat badan turun melewati dua garis persentil utama.
– Kecepatan pertambahan berat badan lebih lambat dibandingkan yang diharapkan.
– Berat badan tidak bertambah dalam beberapa minggu atau bulan sesuai usia.
Pertumbuhan Berat Badan Normal
Pada bayi sehat, pertumbuhan berlangsung sangat cepat.
Secara umum:
– Berat badan lahir kembali dalam 10–14 hari setelah lahir.
– Usia 5 bulan: berat badan sekitar dua kali berat lahir.
– Usia 12 bulan: berat badan sekitar tiga kali berat lahir.
– Kenaikan berat badan paling cepat terjadi pada enam bulan pertama kehidupan.
Penilaian harus menggunakan Kurva Pertumbuhan WHO dengan mempertimbangkan usia, jenis kelamin, dan riwayat kelahiran prematur.
Penyebab Gangguan Berat Badan
1 Asupan Nutrisi Tidak Adekuat
Penyebab tersering adalah kurangnya asupan energi dan protein. Hal ini dapat disebabkan oleh teknik menyusui yang kurang efektif, produksi ASI yang tidak mencukupi, pemberian MPASI yang terlambat atau tidak sesuai, jadwal makan yang tidak teratur, maupun kesulitan makan.
2 Pediatric Feeding Disorder (PFD)
Gangguan makan menyebabkan bayi tidak mampu mengonsumsi makanan sesuai kebutuhannya. Bayi dapat mengalami kesulitan mengisap, menelan, mengunyah, sensitif terhadap tekstur makanan, atau menolak makan akibat pengalaman makan yang tidak menyenangkan.
3 Alergi Makanan
Alergi protein susu sapi maupun alergi makanan non-IgE dapat menyebabkan muntah, refluks, diare, konstipasi, perdarahan saluran cerna, kolik, hingga gangguan penyerapan nutrisi. Akibatnya, kenaikan berat badan menjadi tidak optimal.
4 Gangguan Saluran Cerna
Penyakit seperti GERD, penyakit celiac, fibrosis kistik, insufisiensi pankreas, penyakit hati kronis, dan penyakit radang usus dapat mengganggu proses pencernaan maupun penyerapan zat gizi.
5 Penyakit Jantung dan Paru
Bayi dengan penyakit jantung bawaan atau penyakit paru kronis membutuhkan energi lebih besar untuk bernapas dan mempertahankan fungsi tubuh sehingga berat badan sulit meningkat.
6 Gangguan Endokrin dan Metabolik
Hipotiroid kongenital, kelainan metabolisme bawaan, diabetes neonatal, maupun gangguan hormon pertumbuhan dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan berat badan.
7 Infeksi Kronis
Tuberkulosis, infeksi saluran kemih berulang, HIV, serta infeksi kronis lainnya dapat meningkatkan kebutuhan energi dan menurunkan nafsu makan.
Faktor Risiko
Beberapa faktor yang meningkatkan risiko gangguan berat badan meliputi:
– Prematuritas.
– Berat lahir rendah.
– Kelainan bawaan.
– Gangguan neurologis.
– Penyakit kronis.
– Alergi makanan.
– Kesulitan makan.
– Kondisi sosial ekonomi yang kurang mendukung.
– Kurangnya pengetahuan mengenai pemberian makan bayi.
Gejala Klinis
Gangguan berat badan dapat disertai berbagai gejala, antara lain:
– Berat badan tidak naik sesuai usia.
– Bayi tampak kurus.
– Lemak bawah kulit berkurang.
– Rewel saat makan.
– Menyusu sebentar kemudian berhenti.
– Muntah berulang.
– Diare atau konstipasi kronis.
– Mudah lelah saat menyusu.
– Perkembangan motorik terlambat.
– Infeksi berulang.
Diagnosis
Evaluasi harus dimulai dengan anamnesis menyeluruh mengenai pola menyusu, MPASI, riwayat penyakit, alergi, muntah, diare, kebiasaan makan, serta riwayat keluarga.
Pemeriksaan fisik mencakup penilaian status gizi, tanda dehidrasi, kelainan bawaan, penyakit jantung, gangguan neurologis, dan tanda defisiensi mikronutrien. Pengukuran berat badan, panjang badan, lingkar kepala, serta indeks berat badan menurut panjang badan harus diplot pada kurva WHO.
Pemeriksaan laboratorium atau radiologi tidak dilakukan secara rutin, tetapi berdasarkan indikasi klinis, misalnya bila dicurigai anemia, penyakit celiac, gangguan fungsi tiroid, infeksi kronis, atau alergi makanan.
Penatalaksanaan
Penanganan harus ditujukan pada penyebab utama.
Bila penyebabnya adalah kurangnya asupan, dilakukan perbaikan teknik menyusui, optimalisasi pemberian ASI, dan pengaturan MPASI sesuai usia. Pada bayi dengan feeding difficulties diperlukan pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter anak, ahli gizi, serta terapis oral-motor bila diperlukan.
Apabila ditemukan penyakit seperti alergi makanan, GERD, penyakit jantung, atau gangguan endokrin, maka terapi harus difokuskan pada penyakit tersebut. Pemantauan pertumbuhan dilakukan secara berkala untuk memastikan respons terhadap terapi.
Pencegahan
Pencegahan gangguan berat badan dimulai sejak kehamilan melalui pemenuhan gizi ibu, pemeriksaan antenatal yang baik, serta persalinan yang aman. Setelah lahir, bayi dianjurkan memperoleh ASI eksklusif selama enam bulan, dilanjutkan MPASI yang adekuat mulai usia enam bulan dengan tetap memberikan ASI hingga usia dua tahun atau lebih.
Pemantauan berat badan setiap bulan di posyandu atau fasilitas kesehatan memungkinkan gangguan pertumbuhan dikenali lebih dini sehingga intervensi dapat segera dilakukan.
Kapan Harus Segera ke Dokter?
Orang tua perlu segera membawa bayi ke dokter apabila:
– Berat badan tidak naik selama satu bulan atau lebih.
– Berat badan justru menurun.
– Bayi menolak menyusu atau makan.
– Muntah berulang.
– Diare kronis atau konstipasi berat.
– Tersedak saat menyusu.
– Tampak sangat lemas.
– Disertai demam berkepanjangan atau infeksi berulang.
Prognosis
Sebagian besar bayi dengan gangguan berat badan akan mengalami pertumbuhan yang baik apabila penyebabnya dikenali dan ditangani sejak dini. Sebaliknya, keterlambatan diagnosis dapat menyebabkan stunting, gangguan perkembangan otak, penurunan daya tahan tubuh, keterlambatan perkembangan motorik dan kognitif, serta peningkatan risiko penyakit metabolik pada masa dewasa.
Kesimpulan
Gangguan berat badan pada bayi merupakan tanda penting yang harus dievaluasi secara menyeluruh. Penyebabnya sangat beragam, mulai dari masalah pemberian makan hingga penyakit kronis yang mendasari. Pendekatan yang komprehensif, meliputi anamnesis, pemeriksaan pertumbuhan, identifikasi faktor medis, nutrisi, dan Pediatric Feeding Disorder, merupakan kunci untuk mencapai diagnosis yang tepat. Dengan deteksi dini dan penanganan yang sesuai, sebagian besar bayi dapat kembali mencapai pertumbuhan optimal.
Daftar Pustaka
1. World Health Organization. WHO Child Growth Standards.
2. American Academy of Pediatrics. Pediatric Nutrition. 9th Edition.
3. Cole SZ, Lanham JS. Failure to Thrive: An Update. American Family Physician. 2011.
4. Goday PS, Huh SY, Silverman A, et al. Pediatric Feeding Disorder: Consensus Definition and Conceptual Framework. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2019;68(1):124–129.
5. ESPGHAN Committee on Nutrition. Guidelines on Complementary Feeding and Growth Monitoring.





Leave a Reply