Review Artikel: Feeding Problems in Infants and Children: Assessment and Etiology
Referensi: Borowitz KC, Borowitz SM. Feeding Problems in Infants and Children: Assessment and Etiology. Pediatric Clinics of North America. 2018;65(1):59–72. doi: 10.1016/j.pcl.2017.08.021. PMID: 29173720.
Latar Belakang
Masalah makan merupakan keluhan yang sering ditemukan pada bayi dan anak. Pada anak yang sehat, tumbuh dan berkembang secara normal, masalah makan umumnya tidak merupakan kondisi serius dan dapat ditangani dengan pendekatan konservatif melalui edukasi orang tua, anticipatory guidance, serta pemantauan pertumbuhan dan perkembangan. Namun, sebagian masalah makan dapat menjadi manifestasi dari kondisi medis, perkembangan, oral-motor, sensorik, maupun perilaku yang mendasarinya sehingga memerlukan evaluasi lebih menyeluruh.
Artikel ini menekankan bahwa sebagian besar masalah makan yang berat ditemukan pada anak yang memiliki masalah medis, perkembangan, atau perilaku lain. Oleh karena itu, kesulitan makan tidak seharusnya langsung dianggap sebagai perilaku “tidak mau makan” atau sekadar picky eating. Evaluasi harus diarahkan untuk memahami mengapa anak mengalami kesulitan makan dan apakah masalah tersebut telah berdampak terhadap pertumbuhan, status nutrisi, kemampuan makan, maupun fungsi sehari-hari.
Konsep Utama Artikel
- Masalah makan pada anak merupakan kondisi yang bersifat multifaktorial. Faktor medis dapat berupa penyakit gastrointestinal, nyeri, refluks, penyakit kronis, atau kondisi lain yang membuat proses makan menjadi tidak nyaman. Faktor perkembangan juga penting karena kemampuan makan berkembang secara bertahap sesuai usia, termasuk kemampuan menerima tekstur, mengunyah, mengontrol makanan di dalam mulut, dan menelan.
- Selain faktor medis dan perkembangan, masalah oral-motor dan gangguan menelan dapat menyebabkan anak kesulitan makan meskipun sebenarnya memiliki keinginan untuk makan. Faktor sensorik juga dapat berperan, misalnya sensitivitas terhadap tekstur, rasa, aroma, suhu, atau bentuk makanan. Pada sebagian anak, faktor perilaku dan interaksi antara anak dengan orang tua selama waktu makan dapat memperberat masalah.
Pendekatan Diagnosis
Evaluasi dimulai dengan anamnesis yang rinci mengenai kapan masalah makan mulai muncul, jenis makanan yang diterima dan ditolak, tekstur yang dapat diterima, lama waktu makan, jumlah makanan yang dikonsumsi, pola pemberian susu atau formula, serta respons anak ketika makanan diberikan. Informasi tersebut membantu menentukan apakah masalah terutama berkaitan dengan asupan, keterampilan makan, kondisi medis, atau faktor perilaku dan sensorik.
Riwayat medis perlu mencakup gejala gastrointestinal seperti muntah, refluks, nyeri perut, konstipasi, diare, serta riwayat penyakit kronis, infeksi berulang, rawat inap, dan penggunaan obat. Gejala tersebut penting karena kondisi medis tertentu dapat menyebabkan makan menjadi tidak nyaman dan akhirnya menimbulkan penolakan makanan.
Penilaian pertumbuhan merupakan bagian penting dalam evaluasi. Berat badan, panjang atau tinggi badan, serta pola pertumbuhan secara serial perlu diperhatikan. Tidak cukup hanya menilai satu kali pengukuran berat badan, karena pola perubahan pertumbuhan dari waktu ke waktu dapat memberikan informasi penting mengenai dampak masalah makan terhadap status nutrisi anak.
Kemampuan makan juga perlu dievaluasi, termasuk kemampuan mengunyah, koordinasi oral-motor, pengendalian makanan di dalam mulut, dan kemampuan menelan. Batuk, tersedak, suara berubah setelah makan, atau kesulitan menangani tekstur tertentu dapat menjadi petunjuk perlunya evaluasi lebih lanjut terhadap fungsi menelan.
Aspek sensorik dan perilaku juga harus diperhatikan. Penolakan makanan dapat berkaitan dengan sensitivitas terhadap tekstur, rasa, aroma, warna, atau suhu. Lingkungan makan, pola interaksi orang tua-anak, tekanan atau pemaksaan saat makan, serta kecemasan selama waktu makan juga dapat mempertahankan atau memperburuk masalah.
Temuan Penting
Pesan penting dari artikel ini adalah bahwa masalah makan harus dipandang sebagai gejala klinis yang membutuhkan penilaian penyebab, bukan semata-mata sebagai kebiasaan buruk anak. Anak yang sehat dengan pertumbuhan dan perkembangan normal dapat mengalami fase selektif makan yang tidak selalu memerlukan intervensi medis intensif.
Sebaliknya, kesulitan makan yang disertai gangguan pertumbuhan, penyakit medis, gejala gastrointestinal, gangguan oral-motor, disfagia, keterlambatan perkembangan, atau masalah sensorik dan perilaku yang berat membutuhkan evaluasi lebih mendalam. Pendekatan ini membantu membedakan masalah makan yang masih berada dalam variasi perkembangan dengan kondisi yang memerlukan intervensi khusus.
Implikasi Klinis
Artikel ini memiliki implikasi penting dalam praktik pediatri karena membantu menghindari dua ekstrem dalam menghadapi anak dengan kesulitan makan. Pertama, tidak semua picky eating harus dianggap sebagai penyakit. Bila anak tetap tumbuh dan berkembang dengan baik serta kebutuhan nutrisinya terpenuhi, edukasi dan pemantauan dapat menjadi pendekatan yang memadai.
Sebaliknya, anak dengan kesulitan makan yang menetap dan disertai berat badan sulit naik, asupan sangat terbatas, gejala gastrointestinal, kesulitan mengunyah atau menelan, gangguan perkembangan, atau masalah sensorik dan perilaku tidak seharusnya hanya diberi label sebagai “anak susah makan”. Kondisi tersebut memerlukan pencarian faktor penyebab secara sistematis.
Kekuatan Artikel
Kekuatan utama artikel ini adalah pendekatannya yang holistik. Penulis tidak melihat masalah makan hanya dari jumlah makanan yang dikonsumsi, tetapi menghubungkannya dengan kondisi medis, pertumbuhan, nutrisi, perkembangan, kemampuan oral-motor, menelan, sensorik, dan perilaku.
Artikel ini juga menekankan pentingnya pendekatan interprofesional pada kasus yang kompleks. Dokter anak, ahli gizi, terapis wicara, terapis okupasi, psikolog, dan tenaga kesehatan lain dapat memiliki peran sesuai dengan masalah yang ditemukan pada masing-masing anak.
Keterbatasan
Keterbatasan utama artikel ini adalah tahun publikasinya yang sudah cukup lama, yaitu 2018. Sejak saat itu, konsep dan terminologi gangguan makan anak berkembang, terutama setelah diperkenalkannya kerangka Pediatric Feeding Disorder (PFD) yang memandang gangguan makan secara multidimensional melalui domain medis, nutrisi, keterampilan makan, dan psikososial.
Perkembangan pemahaman mengenai Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID) juga membuat pentingnya membedakan PFD, picky eating, dan ARFID semakin jelas. Oleh karena itu, artikel Borowitz tetap penting sebagai dasar memahami evaluasi masalah makan, tetapi sebaiknya dilengkapi dengan konsensus dan penelitian yang lebih baru.
Kesimpulan
Kesulitan makan pada bayi dan anak merupakan masalah multidimensional yang tidak dapat selalu dijelaskan sebagai perilaku “tidak mau makan”. Pada anak yang sehat dan tumbuh normal, masalah makan sering dapat ditangani melalui edukasi, dukungan keluarga, dan pemantauan. Namun, bila disertai gangguan pertumbuhan, gejala medis, masalah gastrointestinal, gangguan oral-motor atau menelan, gangguan perkembangan, maupun masalah sensorik dan perilaku, diperlukan evaluasi yang lebih komprehensif.
Secara klinis, artikel ini memberikan dasar penting bahwa diagnosis masalah makan harus dimulai dengan mencari penyebab, bukan sekadar menilai seberapa banyak anak makan. Pendekatan multidisiplin menjadi semakin penting pada kasus kompleks, terutama ketika kesulitan makan berdampak terhadap pertumbuhan, status nutrisi, perkembangan, dan kualitas hidup anak maupun keluarganya.
Referensi: Borowitz KC, Borowitz SM. Feeding Problems in Infants and Children: Assessment and Etiology. Pediatric Clinics of North America. 2018;65(1):59–72. doi: 10.1016/j.pcl.2017.08.021. PMID: 29173720.
Latar Belakang
Masalah makan merupakan keluhan yang sering ditemukan pada bayi dan anak. Pada anak yang sehat, tumbuh dan berkembang secara normal, masalah makan umumnya tidak merupakan kondisi serius dan dapat ditangani dengan pendekatan konservatif melalui edukasi orang tua, anticipatory guidance, serta pemantauan pertumbuhan dan perkembangan. Namun, sebagian masalah makan dapat menjadi manifestasi dari kondisi medis, perkembangan, oral-motor, sensorik, maupun perilaku yang mendasarinya sehingga memerlukan evaluasi lebih menyeluruh.
Artikel ini menekankan bahwa sebagian besar masalah makan yang berat ditemukan pada anak yang memiliki masalah medis, perkembangan, atau perilaku lain. Oleh karena itu, kesulitan makan tidak seharusnya langsung dianggap sebagai perilaku “tidak mau makan” atau sekadar picky eating. Evaluasi harus diarahkan untuk memahami mengapa anak mengalami kesulitan makan dan apakah masalah tersebut telah berdampak terhadap pertumbuhan, status nutrisi, kemampuan makan, maupun fungsi sehari-hari.
Konsep Utama Artikel
Masalah makan pada anak merupakan kondisi yang bersifat multifaktorial. Faktor medis dapat berupa penyakit gastrointestinal, nyeri, refluks, penyakit kronis, atau kondisi lain yang membuat proses makan menjadi tidak nyaman. Faktor perkembangan juga penting karena kemampuan makan berkembang secara bertahap sesuai usia, termasuk kemampuan menerima tekstur, mengunyah, mengontrol makanan di dalam mulut, dan menelan.
Selain faktor medis dan perkembangan, masalah oral-motor dan gangguan menelan dapat menyebabkan anak kesulitan makan meskipun sebenarnya memiliki keinginan untuk makan. Faktor sensorik juga dapat berperan, misalnya sensitivitas terhadap tekstur, rasa, aroma, suhu, atau bentuk makanan. Pada sebagian anak, faktor perilaku dan interaksi antara anak dengan orang tua selama waktu makan dapat memperberat masalah.
Pendekatan Diagnosis
Evaluasi dimulai dengan anamnesis yang rinci mengenai kapan masalah makan mulai muncul, jenis makanan yang diterima dan ditolak, tekstur yang dapat diterima, lama waktu makan, jumlah makanan yang dikonsumsi, pola pemberian susu atau formula, serta respons anak ketika makanan diberikan. Informasi tersebut membantu menentukan apakah masalah terutama berkaitan dengan asupan, keterampilan makan, kondisi medis, atau faktor perilaku dan sensorik.
Riwayat medis perlu mencakup gejala gastrointestinal seperti muntah, refluks, nyeri perut, konstipasi, diare, serta riwayat penyakit kronis, infeksi berulang, rawat inap, dan penggunaan obat. Gejala tersebut penting karena kondisi medis tertentu dapat menyebabkan makan menjadi tidak nyaman dan akhirnya menimbulkan penolakan makanan.
Penilaian pertumbuhan merupakan bagian penting dalam evaluasi. Berat badan, panjang atau tinggi badan, serta pola pertumbuhan secara serial perlu diperhatikan. Tidak cukup hanya menilai satu kali pengukuran berat badan, karena pola perubahan pertumbuhan dari waktu ke waktu dapat memberikan informasi penting mengenai dampak masalah makan terhadap status nutrisi anak.
Kemampuan makan juga perlu dievaluasi, termasuk kemampuan mengunyah, koordinasi oral-motor, pengendalian makanan di dalam mulut, dan kemampuan menelan. Batuk, tersedak, suara berubah setelah makan, atau kesulitan menangani tekstur tertentu dapat menjadi petunjuk perlunya evaluasi lebih lanjut terhadap fungsi menelan.
Aspek sensorik dan perilaku juga harus diperhatikan. Penolakan makanan dapat berkaitan dengan sensitivitas terhadap tekstur, rasa, aroma, warna, atau suhu. Lingkungan makan, pola interaksi orang tua-anak, tekanan atau pemaksaan saat makan, serta kecemasan selama waktu makan juga dapat mempertahankan atau memperburuk masalah.
Temuan Penting
Pesan penting dari artikel ini adalah bahwa masalah makan harus dipandang sebagai gejala klinis yang membutuhkan penilaian penyebab, bukan semata-mata sebagai kebiasaan buruk anak. Anak yang sehat dengan pertumbuhan dan perkembangan normal dapat mengalami fase selektif makan yang tidak selalu memerlukan intervensi medis intensif.
Sebaliknya, kesulitan makan yang disertai gangguan pertumbuhan, penyakit medis, gejala gastrointestinal, gangguan oral-motor, disfagia, keterlambatan perkembangan, atau masalah sensorik dan perilaku yang berat membutuhkan evaluasi lebih mendalam. Pendekatan ini membantu membedakan masalah makan yang masih berada dalam variasi perkembangan dengan kondisi yang memerlukan intervensi khusus.
Implikasi Klinis
Artikel ini memiliki implikasi penting dalam praktik pediatri karena membantu menghindari dua ekstrem dalam menghadapi anak dengan kesulitan makan. Pertama, tidak semua picky eating harus dianggap sebagai penyakit. Bila anak tetap tumbuh dan berkembang dengan baik serta kebutuhan nutrisinya terpenuhi, edukasi dan pemantauan dapat menjadi pendekatan yang memadai.
Sebaliknya, anak dengan kesulitan makan yang menetap dan disertai berat badan sulit naik, asupan sangat terbatas, gejala gastrointestinal, kesulitan mengunyah atau menelan, gangguan perkembangan, atau masalah sensorik dan perilaku tidak seharusnya hanya diberi label sebagai “anak susah makan”. Kondisi tersebut memerlukan pencarian faktor penyebab secara sistematis.
Kekuatan Artikel
Kekuatan utama artikel ini adalah pendekatannya yang holistik. Penulis tidak melihat masalah makan hanya dari jumlah makanan yang dikonsumsi, tetapi menghubungkannya dengan kondisi medis, pertumbuhan, nutrisi, perkembangan, kemampuan oral-motor, menelan, sensorik, dan perilaku.
Artikel ini juga menekankan pentingnya pendekatan interprofesional pada kasus yang kompleks. Dokter anak, ahli gizi, terapis wicara, terapis okupasi, psikolog, dan tenaga kesehatan lain dapat memiliki peran sesuai dengan masalah yang ditemukan pada masing-masing anak.
Keterbatasan
Keterbatasan utama artikel ini adalah tahun publikasinya yang sudah cukup lama, yaitu 2018. Sejak saat itu, konsep dan terminologi gangguan makan anak berkembang, terutama setelah diperkenalkannya kerangka Pediatric Feeding Disorder (PFD) yang memandang gangguan makan secara multidimensional melalui domain medis, nutrisi, keterampilan makan, dan psikososial.
Perkembangan pemahaman mengenai Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID) juga membuat pentingnya membedakan PFD, picky eating, dan ARFID semakin jelas. Oleh karena itu, artikel Borowitz tetap penting sebagai dasar memahami evaluasi masalah makan, tetapi sebaiknya dilengkapi dengan konsensus dan penelitian yang lebih baru.
Kesimpulan
Kesulitan makan pada bayi dan anak merupakan masalah multidimensional yang tidak dapat selalu dijelaskan sebagai perilaku “tidak mau makan”. Pada anak yang sehat dan tumbuh normal, masalah makan sering dapat ditangani melalui edukasi, dukungan keluarga, dan pemantauan. Namun, bila disertai gangguan pertumbuhan, gejala medis, masalah gastrointestinal, gangguan oral-motor atau menelan, gangguan perkembangan, maupun masalah sensorik dan perilaku, diperlukan evaluasi yang lebih komprehensif.
Secara klinis, artikel ini memberikan dasar penting bahwa diagnosis masalah makan harus dimulai dengan mencari penyebab, bukan sekadar menilai seberapa banyak anak makan. Pendekatan multidisiplin menjadi semakin penting pada kasus kompleks, terutama ketika kesulitan makan berdampak terhadap pertumbuhan, status nutrisi, perkembangan, dan kualitas hidup anak maupun keluarganya.










Leave a Reply