Klinik Picky Eaters

KLINIK KESULITAN MAKAN & GANGGUAN BERAT BADAN

Anak Sulit Naik Berat Badan Sejak Bayi, Sempat Divonis TB tetapi Ternyata Bukan. Apakah Bisa Karena Alergi Makanan atau Faktor Keturunan?

Anak Sulit Naik Berat Badan Sejak Bayi, Sempat Divonis TB tetapi Ternyata Bukan. Apakah Bisa Karena Alergi Makanan atau Faktor Keturunan?

Pertanyaan

“Dok, anak saya sejak lahir berat badannya sulit naik. Dibandingkan kakaknya, badannya lebih kurus. Anak saya jarang sakit, hanya sering bersin, tetapi mengalami sembelit dan sulit makan. Saat usia 4 tahun sempat divonis tuberkulosis (TB). Setelah meminta pendapat dokter lain, dokter menyatakan anak saya bukan TB. Ayahnya dulu waktu kecil juga tidak besar, tetapi sekarang justru tinggi, besar, dan gemuk. Sebenarnya apa penyebab kondisi anak saya?”

Jawaban

Keluhan seperti yang Anda sampaikan cukup sering dijumpai pada praktik dokter anak. Berat badan yang sulit naik sejak bayi tidak selalu berarti anak mengalami penyakit berat. Dokter perlu menilai pola pertumbuhan sejak lahir, kecepatan kenaikan berat dan tinggi badan, riwayat kehamilan, pola makan, serta kondisi kesehatan secara menyeluruh. Bila anak tampak aktif, perkembangan sesuai usia, dan tinggi badan tetap bertambah meskipun lebih lambat dibandingkan teman sebayanya, salah satu kemungkinan adalah constitutional growth delay atau variasi pertumbuhan normal. Pada kondisi ini, anak tumbuh lebih lambat pada masa kanak-kanak, tetapi umumnya akan mengalami percepatan pertumbuhan saat memasuki masa pubertas. Riwayat ayah yang dahulu bertubuh kecil, kemudian menjadi tinggi dan bertubuh besar saat dewasa, dapat mendukung kemungkinan adanya pola pertumbuhan keluarga seperti ini. Namun, diagnosis tidak boleh hanya berdasarkan riwayat keluarga karena penyebab lain tetap harus disingkirkan.

Di sisi lain, keluhan sulit makan dan sembelit dapat menjadi petunjuk adanya gangguan pada saluran pencernaan. Salah satu penyebab yang sering tidak disadari adalah alergi makanan tipe non-IgE. Berbeda dengan alergi yang menimbulkan biduran atau bengkak segera setelah makan, alergi non-IgE berlangsung lebih lambat dan terutama menyerang saluran cerna. Peradangan ringan yang terjadi terus-menerus dapat membuat anak merasa tidak nyaman saat makan, cepat kenyang, perut kembung, nyeri perut, sembelit, atau menolak makanan tertentu. Akibatnya, asupan energi dan zat gizi menjadi kurang sehingga berat badan sulit meningkat. Pada kondisi ini, hasil pemeriksaan alergi seperti IgE spesifik atau tes tusuk kulit dapat saja normal karena mekanisme penyakitnya berbeda. Oleh sebab itu, diagnosis lebih banyak didasarkan pada riwayat penyakit, pemeriksaan dokter, serta respons terhadap penatalaksanaan yang tepat.

Sering bersin juga dapat mengarah pada penyakit alergi, misalnya rinitis alergi. Banyak anak dengan alergi memiliki lebih dari satu manifestasi, misalnya bersin berulang, hidung tersumbat, kulit sensitif, atau gangguan saluran cerna. Tidak semua anak akan mengalami asma atau eksim. Pada sebagian anak, keluhan utama justru berupa sulit makan, sembelit, dan pertumbuhan berat badan yang kurang optimal. Karena gejalanya tidak khas, kondisi ini sering tidak langsung dikenali sebagai bagian dari spektrum penyakit alergi. Penanganan yang tepat terhadap alergi dan gangguan pencernaan sering kali diikuti dengan perbaikan nafsu makan, pola buang air besar, serta pertambahan berat badan.

Kasus yang Anda ceritakan juga mengingatkan pentingnya berhati-hati terhadap overdiagnosis tuberkulosis pada anak. Berat badan yang sulit naik dan nafsu makan yang kurang memang dapat ditemukan pada TB, tetapi kedua gejala tersebut bukanlah gejala yang spesifik. Pada anak yang jarang sakit, tidak mengalami batuk kronis, tidak demam berkepanjangan, dan tidak memiliki riwayat kontak erat dengan penderita TB, dokter perlu mempertimbangkan penyebab lain sebelum menegakkan diagnosis. Diagnosis TB pada anak sebaiknya didasarkan pada gabungan riwayat kontak, gejala klinis, pemeriksaan fisik, uji tuberkulin atau IGRA sesuai indikasi, pemeriksaan pencitraan, serta penilaian dokter secara menyeluruh. Pendapat kedua yang menyatakan anak bukan TB menunjukkan pentingnya evaluasi yang komprehensif agar anak tidak mendapatkan pengobatan yang sebenarnya tidak diperlukan.

Evaluasi yang baik sebaiknya tidak hanya berfokus pada angka berat badan. Dokter juga akan menilai kurva pertumbuhan, tinggi badan, indeks massa tubuh, pola makan harian, frekuensi buang air besar, kualitas tidur, riwayat alergi dalam keluarga, dan perkembangan anak secara keseluruhan. Bila dicurigai terdapat alergi makanan non-IgE, pendekatan diagnosis umumnya berbeda dengan alergi IgE. Penilaian klinis, pengaturan pola makan, eliminasi makanan tertentu di bawah pengawasan dokter, dan uji provokasi makanan bila diperlukan sering lebih bermanfaat dibandingkan hanya mengandalkan hasil pemeriksaan laboratorium.

Kabar baiknya, sebagian besar anak dengan constitutional growth delay akan tetap mencapai tinggi badan sesuai potensi genetiknya ketika dewasa. Apabila terdapat gangguan makan akibat alergi saluran cerna atau penyebab lain yang berhasil diatasi, nafsu makan biasanya membaik, sembelit berkurang, dan pertambahan berat badan menjadi lebih optimal. Yang terpenting adalah tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab hanya dari satu gejala. Pendekatan yang menyeluruh akan membantu membedakan variasi pertumbuhan normal, alergi makanan non-IgE, dan penyakit lain seperti tuberkulosis sehingga setiap anak memperoleh penanganan yang benar sesuai penyebabnya.

Bila diinginkan, artikel ini juga dapat dilengkapi dengan ilustrasi alur diagnosis, tabel perbedaan TB, alergi makanan non-IgE, dan constitutional growth delay, serta referensi dari pedoman WHO, IDAI, AAP, dan ESPGHAN.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *