Kesulitan Makan pada Anak dengan Alergi Makanan Non-IgE: Tinjauan Sistematis Terbaru dan Implikasinya terhadap Praktik Klinis
Sandiaz Yudhasmara, Widodo Judarwanto
Kesulitan makan atau feeding difficulties merupakan salah satu manifestasi yang semakin banyak dikenali pada anak dengan alergi makanan non-IgE mediated. Berbeda dengan alergi IgE yang ditandai reaksi akut, alergi non-IgE sering memberikan gejala kronis pada saluran cerna sehingga berdampak terhadap perilaku makan, status gizi, pertumbuhan, dan kualitas hidup. Tinjauan sistematis terbaru oleh Tomlin dkk. (2026) mengevaluasi bukti ilmiah mengenai prevalensi feeding difficulties pada kelompok ini. Hasil kajian menunjukkan bahwa anak dengan alergi makanan non-IgE memiliki risiko lebih tinggi mengalami berbagai gangguan makan dibanding populasi umum. Gangguan tersebut meliputi oral aversion, food refusal, selective eating, keterlambatan perkembangan kemampuan makan, hingga gangguan sensorik terhadap makanan. Artikel ini mengulas mekanisme patofisiologi, faktor risiko, manifestasi klinis, metode diagnosis, dampak nutrisi, serta strategi tata laksana multidisiplin berdasarkan bukti ilmiah terbaru.
Gangguan makan pada anak merupakan masalah yang sering dijumpai dalam praktik pediatri. Pada anak sehat prevalensinya berkisar 20 hingga 35%, sedangkan pada anak dengan penyakit kronik prevalensinya dapat mencapai lebih dari 70%. Dalam beberapa tahun terakhir diketahui bahwa alergi makanan non-IgE merupakan salah satu penyebab penting feeding difficulties yang sering tidak dikenali.
Tidak seperti reaksi IgE yang muncul dalam hitungan menit, alergi non-IgE menyebabkan inflamasi kronik pada mukosa gastrointestinal sehingga anak mengalami pengalaman makan yang tidak nyaman secara berulang. Akibatnya anak mulai menghindari makanan tertentu, takut makan, menolak tekstur baru, bahkan mengalami oral aversion berat.
Alergi Makanan Non-IgE
- Alergi non-IgE dimediasi oleh respon imun seluler terutama limfosit T tanpa keterlibatan IgE spesifik.
- Manifestasi biasanya muncul beberapa jam hingga beberapa hari setelah konsumsi makanan.
Tabel 1. Spektrum Alergi Non-IgE
| Penyakit | Organ Target | Manifestasi |
|---|---|---|
| FPIES | Usus halus | muntah hebat, diare, syok |
| FPIAP | Kolon | darah pada feses |
| FPE | Usus halus | diare kronis, malabsorpsi |
| Eosinophilic gastrointestinal disease | Seluruh saluran cerna | disfagia, nyeri, muntah |
| Mixed IgE/non-IgE | Multi organ | kombinasi gejala |
Mengapa Feeding Difficulties Terjadi?
Berbagai mekanisme bekerja secara bersamaan.
1. Nyeri saat makan
- Peradangan kronik menyebabkan
- nyeri abdomen
- refluks
- mual
- muntah
- cepat kenyang
- Otak kemudian menghubungkan aktivitas makan sebagai pengalaman yang menyakitkan.
2. Oral Aversion
Setelah beberapa episode nyeri atau muntah, anak mulai menolak:
- sendok
- makanan padat
- tekstur kasar
- makanan baru
- Hal ini disebut conditioned food aversion.
3. Gangguan Sensorik
Anak menjadi sangat sensitif terhadap
- aroma
- suhu
- tekstur
- rasa
- warna makanan
4. Keterlambatan Oral Motor
- Anak terlambat belajar
- mengunyah
- menggigit
- menelan makanan padat
5. Restriksi Diet
Eliminasi makanan yang terlalu luas meningkatkan risiko
- kekurangan protein
- defisiensi zat besi
- kekurangan vitamin D
- defisiensi kalsium
- kekurangan zinc
Bentuk Feeding Difficulties
Tabel 2. Gangguan Makan yang Sering Dijumpai
| Gangguan | Manifestasi |
|---|---|
| Food refusal | menolak makan |
| Selective eating | hanya mau beberapa makanan |
| Oral aversion | takut makan |
| Texture refusal | menolak makanan bertekstur |
| Pocketing | makanan disimpan di mulut |
| Gagging | mudah muntah saat makan |
| Slow eating | makan sangat lama |
| Feeding anxiety | menangis sebelum makan |
Faktor Risiko
Tabel 3. Faktor Risiko Feeding Difficulties
| Faktor | Mekanisme |
|---|---|
| Nyeri gastrointestinal | asosiasi negatif terhadap makan |
| Refluks | muntah berulang |
| Diet eliminasi | paparan makanan terbatas |
| Hospitalisasi | pengalaman traumatik |
| Tube feeding | keterlambatan oral feeding |
| Gangguan sensorik | menolak tekstur |
| Atopi berat | inflamasi kronik |
Dampak terhadap Nutrisi
Feeding difficulties dapat menyebabkan
- gagal tumbuh
- berat badan sulit naik
- wasting
- stunting
- defisiensi mikronutrien
- massa otot menurun
- gangguan perkembangan otak
Tabel 4. Defisiensi Nutrisi yang Sering Terjadi
| Nutrisi | Dampak |
|---|---|
| Protein | gagal tumbuh |
| Energi | berat badan rendah |
| Kalsium | gangguan mineralisasi tulang |
| Vitamin D | rakhitis |
| Besi | anemia |
| Zinc | nafsu makan menurun |
| Vitamin B12 | gangguan neurologis |
Manifestasi Klinis
Gangguan makan dapat muncul sebagai
- makan kurang dari 10 menit atau lebih dari 45 menit
- hanya minum susu
- menolak makanan padat
- muntah setiap makan
- mudah tersedak
- menangis saat makan
- hanya menerima makanan tertentu
- berat badan stagnan
Diagnosis
Diagnosis memerlukan pendekatan multidisiplin.
Tabel 5. Evaluasi Klinis
| Pemeriksaan | Tujuan |
|---|---|
| Riwayat alergi | identifikasi pemicu |
| Riwayat makan | pola feeding |
| Kurva pertumbuhan | status gizi |
| Pemeriksaan fisik | komplikasi nutrisi |
| Food diary | identifikasi makanan |
| Diet review | kecukupan nutrisi |
| Penilaian oral motor | kemampuan makan |
| Evaluasi psikologi | perilaku makan |
Penatalaksanaan
- Terapi tidak cukup hanya menghilangkan alergen.
- Pendekatan harus mencakup rehabilitasi feeding.
Tabel 6. Tata Laksana Multidisiplin
| Intervensi | Tujuan |
|---|---|
| Eliminasi makanan terkonfirmasi | menghilangkan inflamasi |
| Dietisien | memenuhi kebutuhan nutrisi |
| Feeding therapist | memperbaiki perilaku makan |
| Speech therapist | meningkatkan oral motor |
| Occupational therapist | mengatasi gangguan sensorik |
| Psikolog | mengurangi kecemasan makan |
| Dokter anak | memantau pertumbuhan |
Oral Aversion
Oral aversion merupakan komplikasi yang paling penting.
Karakteristiknya meliputi
- menangis saat melihat makanan
- menolak membuka mulut
- muntah saat makanan mendekat
- hanya menerima susu
- takut mencoba makanan baru
- Semakin lama inflamasi tidak diatasi, semakin sulit rehabilitasi feeding dilakukan.
Dampak Jangka Panjang
Bila tidak ditangani, feeding difficulties dapat menyebabkan
- malnutrisi kronis
- gagal tumbuh
- keterlambatan perkembangan
- gangguan kemampuan sosial saat makan
- kualitas hidup menurun
- stres keluarga
- peningkatan biaya kesehatan
Implikasi bagi Praktik Klinis
Dokter anak perlu mempertimbangkan kemungkinan alergi makanan non-IgE pada anak dengan keluhan:
- picky eater berat
- oral aversion
- gagal tumbuh
- muntah kronis
- diare kronis
- konstipasi persisten
- refluks yang tidak membaik
- hanya mau minum susu
- penolakan tekstur makanan
- Identifikasi dini memungkinkan intervensi nutrisi dan terapi makan sebelum terjadi gangguan pertumbuhan yang menetap.
Pesan Klinis
| Poin | Implikasi |
|---|---|
| Feeding difficulties sering menyertai alergi makanan non-IgE | Evaluasi pola makan harus menjadi bagian rutin penilaian klinis. |
| Oral aversion berkembang akibat pengalaman makan yang menyakitkan | Pengendalian inflamasi saluran cerna perlu dilakukan sedini mungkin. |
| Diet eliminasi tanpa pendampingan dapat memperburuk status gizi | Pendampingan oleh dokter dan dietisien sangat dianjurkan. |
| Gangguan makan bersifat multifaktorial | Pendekatan multidisiplin memberikan hasil terbaik. |
| Pertumbuhan harus dipantau secara berkala | Berat badan, tinggi badan, dan status mikronutrien perlu dievaluasi selama terapi. |
Kesimpulan
Tinjauan sistematis Tomlin dan kolega tahun 2026 memperkuat bukti bahwa anak dengan alergi makanan non-IgE memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami feeding difficulties dibandingkan anak tanpa alergi. Gangguan tersebut meliputi penolakan makan, oral aversion, selective eating, keterlambatan perkembangan kemampuan makan, dan gangguan sensorik terhadap makanan. Mekanisme utamanya berkaitan dengan inflamasi kronis saluran cerna yang menimbulkan nyeri dan pengalaman makan yang negatif. Dampaknya dapat berupa malnutrisi, gagal tumbuh, defisiensi mikronutrien, serta penurunan kualitas hidup anak dan keluarganya. Penatalaksanaan memerlukan diagnosis yang tepat, eliminasi alergen yang terkonfirmasi, pemantauan status gizi, serta kolaborasi multidisiplin antara dokter anak, ahli gizi, terapis makan, terapis wicara, dan psikolog untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak.
Daftar Pustaka
- Tomlin ML, Bendall C, Loke P, Bennett CJ. Prevalence of Feeding Difficulties in Children With Non-IgE Mediated Food Allergies: A Systematic Review. Clinical & Experimental Allergy. Published online June 25, 2026. doi:10.1111/cea.70367.







Leave a Reply