Anak Kurus, Berat Badan Sulit Naik, Sulit Makan, atau Diduga Alergi Makanan. Perlukah Pemeriksaan Laboratorium?
Widodo Judarwanto, Audi Yudhasmara
Anak dengan berat badan sulit naik, sulit makan, atau pertumbuhan yang melambat merupakan salah satu alasan tersering orang tua membawa anak ke dokter. Banyak orang tua berharap pemeriksaan laboratorium dapat langsung menemukan penyebabnya. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa penyebab tersering gangguan pertumbuhan pada anak justru dapat dikenali melalui anamnesis yang lengkap, pemeriksaan fisik, penilaian kurva pertumbuhan, evaluasi asupan nutrisi, dan perilaku makan. Pemeriksaan laboratorium hanya dilakukan bila terdapat indikasi klinis tertentu atau bila hasilnya diperkirakan akan memengaruhi diagnosis dan tata laksana.
Gangguan pertumbuhan dapat disebabkan oleh asupan yang kurang, gangguan penyerapan nutrisi, penyakit kronis, kelainan hormonal, infeksi, gangguan psikososial, maupun alergi makanan. Pada anak dengan dugaan alergi makanan, pemeriksaan laboratorium memiliki keterbatasan sehingga tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya dasar diagnosis. Diagnosis tetap harus menggabungkan riwayat klinis, pemeriksaan fisik, eliminasi makanan yang terarah, dan bila diperlukan dikonfirmasi dengan Oral Food Challenge (OFC), yang hingga saat ini masih menjadi baku emas diagnosis alergi makanan.
Pendekatan Diagnosis Anak Kurus dan Berat Badan Sulit Naik
Tahapan Evaluasi Klinis
| Tahapan | Yang Dinilai | Tujuan |
|---|---|---|
| Riwayat pertumbuhan | Grafik berat badan, tinggi badan, BMI, kecepatan pertumbuhan | Menentukan apakah benar terjadi faltering growth |
| Riwayat nutrisi | ASI, MPASI, pola makan, jumlah kalori, kebiasaan makan | Menilai kecukupan asupan |
| Riwayat penyakit | Diare, muntah, konstipasi, batuk kronis, demam berulang | Mencari penyakit organik |
| Riwayat alergi | Eksem, asma, rhinitis, muntah setelah makanan tertentu | Menilai kemungkinan alergi |
| Pemeriksaan fisik | Status gizi, kulit, abdomen, mulut, organ lain | Menemukan tanda penyakit kronis |
| Pemeriksaan penunjang | Laboratorium sesuai indikasi | Mengonfirmasi dugaan diagnosis |
Diagnosis Banding Anak Kurus dan Berat Badan Sulit Naik
| Kelompok Penyebab | Contoh Penyakit | Petunjuk Klinis |
|---|---|---|
| Asupan kurang | Picky eater, Pediatric Feeding Disorder | Sulit makan, asupan sedikit |
| Alergi makanan | Alergi susu sapi, telur, gandum, kedelai | Eksem, muntah, diare, konstipasi, darah pada tinja |
| Gangguan penyerapan | Penyakit celiac, insufisiensi pankreas | Diare kronis, tinja berminyak |
| Penyakit saluran cerna | GERD, penyakit radang usus | Muntah, nyeri perut, BAB berdarah |
| Infeksi kronis | Tuberkulosis, infeksi saluran kemih berulang | Demam lama, berat badan turun |
| Gangguan endokrin | Hipotiroidisme, defisiensi hormon pertumbuhan | Tinggi badan juga melambat |
| Penyakit metabolik | Kelainan metabolik bawaan | Gejala sejak bayi |
| Penyakit jantung bawaan | Kelainan jantung sianotik | Mudah lelah saat menyusu |
| Penyakit ginjal | Penyakit ginjal kronis | Bengkak, hipertensi |
| Gangguan psikososial | Feeding disorder, stres keluarga | Tidak ditemukan penyakit organik |
Kapan Pemeriksaan Laboratorium Diperlukan?
| Kondisi Klinis | Pemeriksaan yang Dianjurkan | Tujuan |
|---|---|---|
| Berat badan tidak naik >2–3 bulan | Darah lengkap | Anemia, infeksi |
| Anak tampak pucat | Hb, feritin, saturasi transferin | Defisiensi besi |
| Diare kronis | Analisis feses, pemeriksaan sesuai indikasi | Infeksi, malabsorpsi |
| Konstipasi berat disertai pertumbuhan lambat | TSH, Free T4 | Hipotiroidisme |
| Tinggi badan ikut terganggu | Evaluasi hormon sesuai indikasi | Gangguan endokrin |
| Dugaan penyakit celiac | tTG-IgA dan IgA total | Skrining celiac |
| Dugaan penyakit hati | AST, ALT, albumin | Fungsi hati |
| Dugaan gangguan ginjal | Urinalisis, ureum, kreatinin | Fungsi ginjal |
Pemeriksaan pada Dugaan Alergi Makanan
| Pemeriksaan | Kapan Dilakukan | Kelebihan | Keterbatasan |
|---|---|---|---|
| Skin Prick Test | Dugaan alergi IgE | Cepat, sensitif | Tidak memastikan alergi klinis |
| IgE spesifik | Dugaan alergi IgE | Membantu identifikasi alergen | Hasil positif belum tentu berarti alergi |
| IgE total | Tidak dianjurkan sebagai skrining | Nilai terbatas | Banyak hasil positif palsu |
| Atopy Patch Test | Kasus tertentu | Dapat membantu alergi non-IgE | Belum menjadi pemeriksaan rutin |
| IgG makanan | Tidak direkomendasikan | Tidak ada | Tidak dapat mendiagnosis alergi makanan |
Pemeriksaan yang Tidak Dianjurkan Sebagai Skrining
| Pemeriksaan | Alasan |
|---|---|
| IgG makanan | Tidak memiliki nilai diagnostik |
| Hair analysis | Tidak berbasis bukti |
| Bioresonance | Tidak direkomendasikan pedoman internasional |
| Applied kinesiology | Tidak valid secara ilmiah |
| Panel alergi tanpa gejala klinis | Berisiko overdiagnosis |
Oral Food Challenge (OFC), Baku Emas Diagnosis Alergi Makanan
Oral Food Challenge adalah prosedur pemberian makanan yang dicurigai sebagai penyebab alergi secara bertahap, dalam dosis yang meningkat, di bawah pengawasan dokter dengan fasilitas penanganan reaksi alergi. Pemeriksaan ini direkomendasikan oleh WHO, EAACI, WAO, AAAAI, dan AAP sebagai metode paling akurat untuk memastikan apakah seorang anak benar-benar alergi terhadap suatu makanan.
Kapan Oral Food Challenge Dilakukan?
| Kondisi | OFC Dianjurkan |
|---|---|
| Riwayat alergi tidak jelas | Ya |
| Hasil Skin Prick Test positif tetapi tanpa gejala | Ya |
| IgE spesifik positif tetapi belum pernah bereaksi | Ya |
| Menilai apakah alergi sudah sembuh | Ya |
| Menentukan makanan yang benar-benar harus dihindari | Ya |
| Anafilaksis yang belum stabil | Ditunda sampai kondisi aman |
Mengapa Oral Food Challenge Lebih Akurat?
| Pemeriksaan | Menunjukkan Sensitisasi | Menunjukkan Alergi Klinis |
|---|---|---|
| Skin Prick Test | Ya | Tidak selalu |
| IgE spesifik | Ya | Tidak selalu |
| IgE total | Tidak | Tidak |
| IgG makanan | Tidak | Tidak |
| Oral Food Challenge | Ya | Ya, merupakan baku emas |
Kapan Harus Dirujuk ke Dokter Anak Konsultan Alergi atau Gastroenterologi?
| Kondisi | Alasan |
|---|---|
| Berat badan terus turun | Memerlukan evaluasi menyeluruh |
| Sulit makan berat | Perlu penilaian feeding disorder |
| Diare kronis atau darah pada tinja | Mencari penyakit organik |
| Muntah berulang | Evaluasi saluran cerna |
| Dugaan alergi makanan multipel | Perlu diagnosis yang tepat |
| Eliminasi makanan semakin banyak | Mencegah kekurangan gizi |
| Perlu Oral Food Challenge | Dilakukan di fasilitas yang memadai |
Algoritme Praktis
- Nilai kurva pertumbuhan dan status gizi.
- Evaluasi pola makan dan perilaku makan.
- Cari gejala saluran cerna, alergi, infeksi, atau gangguan hormonal.
- Lakukan pemeriksaan laboratorium hanya bila terdapat indikasi klinis.
- Bila dicurigai alergi makanan, lakukan evaluasi alergi yang sesuai.
- Hindari eliminasi makanan jangka panjang tanpa diagnosis yang jelas.
- Gunakan Oral Food Challenge untuk memastikan diagnosis bila indikasinya terpenuhi.
Kesimpulan
Sebagian besar anak dengan berat badan sulit naik tidak memerlukan pemeriksaan laboratorium yang luas pada kunjungan pertama. Pemeriksaan laboratorium dilakukan secara selektif berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pada dugaan alergi makanan, pemeriksaan Skin Prick Test dan IgE spesifik hanya menunjukkan sensitisasi, bukan kepastian alergi klinis. Oral Food Challenge tetap merupakan baku emas untuk menegakkan maupun menyingkirkan diagnosis alergi makanan. Pendekatan bertahap seperti ini membantu menghindari pemeriksaan yang tidak diperlukan, mencegah eliminasi makanan yang tidak tepat, dan memastikan anak memperoleh terapi serta nutrisi yang optimal.
Daftar Pustaka
- European Academy of Allergy and Clinical Immunology. Muraro A, et al. EAACI guidelines on the diagnosis of IgE-mediated food allergy. Allergy. 2023.
- World Allergy Organization. Dramburg S, et al. World Allergy Organization Diagnosis and Rationale for Action against Cow’s Milk Allergy (DRACMA) Guideline Update. World Allergy Organ J. 2023.
- American Academy of Pediatrics. Pediatric Feeding Disorder. In: Red Book and Pediatric Nutrition guidance. 2024–2027.








Leave a Reply