Klinik Picky Eaters

KLINIK KESULITAN MAKAN & GANGGUAN BERAT BADAN

Review Jurnal Ilmiah: Prevalensi Gangguan Makan pada Anak dengan Alergi Makanan Non-IgE: Tinjauan Kritis terhadap Systematic Review Clinical & Experimental Allergy 2026

Review Jurnal Ilmiah: Prevalensi Gangguan Makan pada Anak dengan Alergi Makanan Non-IgE: Tinjauan Kritis terhadap Systematic Review Clinical & Experimental Allergy 2026

Sandiaz Yudhasmara, Widodo Judarwanto

Abstrak

Gangguan makan (feeding difficulties) merupakan salah satu masalah yang sering dijumpai pada anak dengan alergi makanan, namun hubungannya dengan alergi makanan non-IgE masih belum banyak dipahami. Systematic review terbaru yang dipublikasikan dalam Clinical & Experimental Allergy tahun 2026 mengevaluasi prevalensi feeding difficulties pada anak dengan alergi makanan non-IgE melalui sintesis bukti dari berbagai penelitian. Review ini menemukan bahwa anak dengan alergi makanan non-IgE, terutama eosinophilic esophagitis (EoE), memiliki prevalensi gangguan makan yang lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Meskipun demikian, kualitas bukti masih dibatasi oleh heterogenitas definisi feeding difficulties, variasi metode diagnosis alergi, dan belum tersedianya instrumen skrining yang tervalidasi secara luas. Artikel ini mengulas secara kritis metodologi penelitian, hasil utama, kekuatan dan keterbatasan studi, mekanisme biologis yang mendasari hubungan antara alergi makanan non-IgE dan feeding difficulties, serta implikasinya terhadap praktik klinis.

Kata kunci: feeding difficulties, non-IgE food allergy, eosinophilic esophagitis, Pediatric Feeding Disorder, systematic review.

Pendahuluan

Feeding difficulties merupakan spektrum gangguan makan yang mencakup penolakan makan, makan sangat lama, kesulitan menerima tekstur tertentu, muntah saat makan, hingga perilaku menghindari makanan. Prevalensinya diperkirakan mencapai 20 hingga 35% pada anak sehat dan jauh lebih tinggi pada anak dengan penyakit kronis maupun gangguan perkembangan. Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian mulai tertuju pada peran alergi makanan sebagai salah satu penyebab organik feeding difficulties, khususnya alergi makanan non-IgE yang sering luput dari diagnosis karena tidak menimbulkan reaksi alergi akut dan umumnya tidak terdeteksi melalui pemeriksaan IgE spesifik maupun skin prick test.

Clinical & Experimental Allergy menerbitkan systematic review oleh Tomlin dan kolega pada tahun 2026 untuk mengevaluasi apakah anak dengan alergi makanan non-IgE memiliki prevalensi feeding difficulties yang lebih tinggi dibandingkan anak tanpa alergi makanan. Penelitian ini menjadi salah satu kajian paling komprehensif mengenai topik tersebut dan memberikan dasar ilmiah bagi pendekatan multidisiplin pada anak dengan gangguan makan kronis.

Identitas Jurnal

Komponen Keterangan
Judul Prevalence of Feeding Difficulties in Children With Non-IgE Mediated Food Allergies: A Systematic Review
Penulis Marianne Louise Tomlin, Cassandra Bendall, Paxton Loke, Christie Jane Bennett
Jurnal Clinical & Experimental Allergy
Jenis artikel Research Letter, Systematic Review
Tahun 2026
DOI 10.1111/cea.70367
Registrasi PROSPERO CRD42023458648
Pedoman PRISMA 2020

Latar Belakang

Hubungan antara alergi makanan dan gangguan makan telah lama dilaporkan, tetapi sebagian besar penelitian berfokus pada alergi yang dimediasi IgE. Sebaliknya, alergi makanan non-IgE sering memberikan gejala kronis berupa muntah, refluks, nyeri perut, diare, konstipasi, disfagia, atau gagal tumbuh sehingga diagnosis sering terlambat.

Sebelumnya, systematic review EAACI melaporkan prevalensi feeding problems sebesar 13,6 hingga 40% pada anak dengan alergi makanan. Namun, kajian tersebut masih menggabungkan berbagai jenis alergi makanan sehingga belum menggambarkan kondisi khusus pada kelompok non-IgE. Oleh karena itu, penelitian Tomlin dan kolega bertujuan mengevaluasi secara khusus prevalensi feeding difficulties pada kelompok alergi makanan non-IgE.

Metode Penelitian

Penelitian menggunakan desain systematic review sesuai pedoman PRISMA 2020. Penelusuran literatur dilakukan pada empat basis data utama, yaitu Medline, Embase, Emcare, dan Scopus hingga 17 September 2025.

Kriteria inklusi meliputi:

  • Penelitian pada manusia.
  • Anak usia 0 sampai 18 tahun.
  • Artikel peer-reviewed berbahasa Inggris.
  • Tersedia dalam bentuk full text.
  • Menilai alergi makanan non-IgE dan feeding difficulties.

Sebanyak 10.681 artikel berhasil diidentifikasi. Setelah proses penyaringan bertahap, hanya 17 penelitian yang memenuhi seluruh kriteria inklusi.

Ukuran sampel penelitian sangat bervariasi, mulai dari 26 hingga 4.230 peserta, sehingga memberikan gambaran dari berbagai populasi dan pusat pelayanan kesehatan.

Karakteristik Penyakit yang Dievaluasi

Systematic review ini mencakup beberapa bentuk alergi makanan non-IgE.

Penyakit Karakteristik utama
FPIAP Perdarahan rektal pada bayi
FPE Enteropati akibat protein makanan
FPIES Muntah hebat dan diare setelah konsumsi makanan tertentu
EoE Inflamasi eosinofilik kronis esofagus

Eosinophilic esophagitis merupakan kondisi yang paling banyak dikaitkan dengan feeding difficulties.

Hasil Penelitian

Semua penelitian menunjukkan kecenderungan yang sama, yaitu feeding difficulties lebih sering ditemukan pada anak dengan alergi makanan non-IgE dibandingkan populasi kontrol.

Pada EoE, anak usia di bawah lima tahun paling sering mengalami:

  • Sulit makan.
  • Menolak makanan padat.
  • Makan sangat lama.
  • Gangguan pertumbuhan.
  • Berat badan sulit meningkat.

Sementara pada anak yang lebih besar ditemukan:

  • Disfagia.
  • Makanan terasa tersangkut.
  • Food impaction.
  • Menghindari makanan bertekstur keras.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa gejala dapat berlangsung lebih dari enam tahun sebelum diagnosis EoE ditegakkan.

Analisis Kritis

Kekuatan utama penelitian ini adalah penggunaan metodologi systematic review dengan registrasi PROSPERO dan pelaporan mengikuti pedoman PRISMA. Penelusuran literatur dilakukan secara komprehensif pada beberapa basis data internasional sehingga risiko kehilangan artikel yang relevan menjadi lebih kecil.

Namun demikian, terdapat beberapa keterbatasan penting. Definisi feeding difficulties berbeda pada setiap penelitian sehingga sulit dilakukan meta-analisis kuantitatif. Metode diagnosis alergi makanan juga tidak seragam karena sebagian penelitian menggunakan diagnosis klinis, sedangkan penelitian lain menggunakan pemeriksaan histopatologi atau uji eliminasi-provokasi. Selain itu, sebagian besar penelitian menggunakan laporan orang tua sebagai dasar penilaian gangguan makan sehingga berpotensi menimbulkan bias informasi.

Mekanisme Patofisiologi

  • Hubungan antara alergi makanan non-IgE dan feeding difficulties diduga melibatkan inflamasi kronis saluran cerna.
  • Paparan alergen memicu aktivasi sel imun, pelepasan sitokin proinflamasi, infiltrasi eosinofil atau limfosit, serta kerusakan mukosa. Inflamasi kronis menyebabkan nyeri saat makan, disfagia, refluks, muntah, rasa cepat kenyang, dan ketidaknyamanan setelah makan.
  • Anak kemudian mengembangkan perilaku menghindari makanan sebagai bentuk adaptasi terhadap pengalaman makan yang tidak menyenangkan. Bila berlangsung lama, perilaku tersebut dapat berkembang menjadi Pediatric Feeding Disorder, defisiensi nutrisi, gagal tumbuh, dan gangguan kualitas hidup.

Implikasi Klinis

Hasil penelitian ini memiliki implikasi penting bagi praktik pediatri.

Anak dengan feeding difficulties yang menetap tidak boleh langsung dianggap sebagai picky eater atau gangguan perilaku makan semata.

Evaluasi klinis perlu mempertimbangkan kemungkinan:

  • alergi makanan non-IgE,
  • eosinophilic esophagitis,
  • gangguan motilitas saluran cerna,
  • Pediatric Feeding Disorder,
  • gangguan oral-motor,
  • penyakit neurologis.

Hasil skin prick test maupun IgE spesifik yang normal tidak dapat menyingkirkan alergi makanan non-IgE. Diagnosis harus didasarkan pada evaluasi klinis menyeluruh, diet eliminasi yang terarah, oral food challenge bila sesuai, serta endoskopi dengan biopsi pada kasus yang dicurigai sebagai EoE.

Kesimpulan

Systematic review ini memperkuat bukti bahwa anak dengan alergi makanan non-IgE memiliki prevalensi feeding difficulties yang lebih tinggi dibandingkan anak tanpa alergi makanan, terutama pada eosinophilic esophagitis. Meskipun kualitas bukti masih dipengaruhi oleh heterogenitas metode penelitian, seluruh studi menunjukkan arah hubungan yang konsisten. Temuan ini menegaskan bahwa feeding difficulties dapat menjadi manifestasi awal penyakit alergi saluran cerna dan memerlukan evaluasi multidisiplin. Penelitian selanjutnya perlu menggunakan definisi yang seragam, instrumen skrining yang tervalidasi, serta desain prospektif agar estimasi prevalensi dan faktor risiko dapat ditentukan dengan lebih akurat.

Referensi

Tomlin ML, Bendall C, Loke P, Bennett CJ. Prevalence of Feeding Difficulties in Children With Non-IgE Mediated Food Allergies: A Systematic Review. Clin Exp Allergy. 2026. doi:10.1111/cea.70367.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *