Klinik Picky Eaters

KLINIK KESULITAN MAKAN & GANGGUAN BERAT BADAN

“BB Sulit Naik Sejak Lahir, Sulit Makan dan Sering Sakit: Kisah Panjang Perjuangan Orang Tua Mencari Jawaban untuk Anaknya”

“BB Sulit Naik Sejak Lahir, Sulit Makan dan Sering Sakit: Kisah Panjang Perjuangan Orang Tua Mencari Jawaban untuk Anaknya”

  • “Perjuangan Orang Tua Mencari Penyebab BB Anak Sulit Naik: Dari Sulit Makan, Sering Flu, Dicurigai TB, hingga Tes IgG 50 Makanan—Ternyata Bukan Begitu Cara Mendiagnosis Alergi”

  • “Dari Hampir Dipasang NGT hingga BB Naik 700 Gram: Perjalanan Panjang Mencari Penyebab Anak Sulit Makan”

  • “Dikira TB, Dinyatakan Alergi 50 Makanan, Hampir Dipasang NGT: Akhirnya Anak Membaik Setelah Diagnosis Ditinjau Kembali”

Sebuah Perjalanan Panjang Mencari Jawaban

  • “Dok, anak saya sudah tiga tahun, tetapi berat badannya sulit sekali naik. Sejak lahir pertambahannya seperti seret. Berbeda dengan kakaknya yang lebih mudah naik berat badan dan terlihat lebih berisi.”
  • Keluhan seperti ini sering menjadi sumber kecemasan bagi orang tua. Setiap kali menimbang anak, orang tua berharap angka pada timbangan bertambah. Namun, ketika berat badan tetap atau hanya naik sedikit, kekhawatiran mulai muncul.
  • Pada kisah ini, anak berusia 3 tahun mengalami berat badan yang sulit meningkat sejak kecil. Orang tua juga memperhatikan bahwa anak sulit makan, sering mengalami sembelit, sering bersin, tidur dengan mulut terbuka, dan beberapa kali mengalami keluhan seperti flu berulang.
  • Orang tua kemudian mulai membandingkan pertumbuhan anak dengan kakaknya. Perbedaan tersebut semakin membuat khawatir.
  • Namun, ada satu hal yang juga menjadi pertimbangan keluarga. Ayah anak tersebut ketika kecil juga memiliki tubuh yang relatif kurus. Setelah dewasa, justru tumbuh menjadi tinggi dan besar.
  • Hal ini kemudian menimbulkan pertanyaan penting:
    • Apakah anak memang mengalami gangguan pertumbuhan atau penyakit tertentu, atau sebenarnya memiliki pola pertumbuhan keluarga yang berbeda?
    • Pertanyaan tersebut tidak selalu dapat dijawab hanya dengan melihat satu angka berat badan.

Dari Satu Dokter ke Dokter Lain hingga 11 dokter

  • Karena berat badan tidak kunjung meningkat dan anak sering mengalami berbagai keluhan, orang tua membawa anak ke beberapa dokter hingga 11 dokter tetapi masihbelum mendapatkan jawaban teapat.
  • Salah satu kekhawatiran yang sempat muncul adalah tuberkulosis atau TB. Anak dianggap memiliki beberapa keluhan yang membuat orang tua semakin cemas.
  • Namun setelah mendapatkan evaluasi dari dokter paru anak, dugaan TB tersebut tidak terbukti.
  • Masalahnya belum selesai.
  • Anak tetap sulit makan dan berat badan masih sulit meningkat.
  • Orang tua kemudian kembali mencari penyebab lain.

Ketika Hasil Pemeriksaan IgG Menunjukkan Puluhan Makanan “Positif”

  • Pada pemeriksaan berikutnya, anak menjalani pemeriksaan antibodi IgG terhadap berbagai jenis makanan.
  • Hasilnya mengejutkan.
  • Sekitar 50 jenis makanan dinyatakan positif, bahkan termasuk makanan yang selama ini biasa dikonsumsi.
  • Orang tua tentu menjadi bingung.
  • Jika hasil pemeriksaan menunjukkan banyak makanan “positif”, apakah berarti semua makanan tersebut menyebabkan alergi?
  • Kekhawatiran tersebut kemudian membuat sebagian besar makanan dihentikan. Bahkan, ASI juga dihentikan karena dianggap mungkin menjadi bagian dari masalah.
  • Namun hasil akhirnya justru tidak seperti yang diharapkan.

Berat badan anak tetap tidak kunjung meningkat secara optimal.

  • Anak semakin sulit mendapatkan variasi makanan, sementara masalah utama belum terpecahkan.
  • Hampir Dipasang NGT
    • Karena anak sulit makan dan berat badan sulit naik, akhirnya muncul pertimbangan untuk memberikan nutrisi melalui NGT (nasogastric tube).
    • Bagi orang tua, keputusan tersebut bukan sesuatu yang mudah.
    • Di satu sisi, mereka takut anak mengalami kekurangan nutrisi.
    • Di sisi lain, mereka bertanya: “Apakah benar masalah utama anak saya adalah tidak mampu makan, atau sebenarnya ada penyebab lain yang belum ditemukan?”
  • Karena masih merasa belum mendapatkan jawaban yang memuaskan, orang tua akhirnya mencari second opinion.
  • Ini menjadi titik penting dalam perjalanan anak tersebut.

Ternyata IgG Bukan Pemeriksaan untuk Membuktikan Alergi Makanan

  • Pada konsultasi berikutnya, orang tua mendapatkan penjelasan yang berbeda.
    • Pemeriksaan IgG terhadap makanan tidak dapat digunakan untuk memastikan bahwa seseorang mengalami alergi makanan.
    • IgG atau IgG4 terhadap makanan lebih berkaitan dengan paparan dan respons imun terhadap makanan, dan dapat ditemukan pada orang yang sebenarnya dapat mengonsumsi makanan tersebut tanpa reaksi alergi.
    • Karena itu, menemukan IgG positif terhadap banyak makanan tidak berarti anak alergi terhadap semua makanan tersebut.
    • Inilah salah satu masalah yang dapat terjadi ketika hasil pemeriksaan laboratorium ditafsirkan tanpa dikaitkan dengan gejala klinis.
    • Tes laboratorium tidak boleh menggantikan diagnosis klinis.
  • Berbagai organisasi alergi internasional memiliki pendapat yang sama mengenai pemeriksaan IgG. World Allergy Organization (WAO), American Academy of Allergy, Asthma & Immunology (AAAAI), European Academy of Allergy and Clinical Immunology (EAACI), Australasian Society of Clinical Immunology and Allergy (ASCIA), serta Canadian Society of Allergy and Clinical Immunology (CSACI) tidak merekomendasikan pemeriksaan IgG untuk mendiagnosis alergi makanan. Pemeriksaan tersebut juga tidak boleh dijadikan dasar untuk menentukan makanan yang harus dipantang karena tidak dapat membedakan alergi dengan toleransi normal terhadap makanan.
  • Dokter akan menegakkan diagnosis alergi makanan berdasarkan riwayat klinis yang khas. Dokter akan menanyakan apakah setiap kali anak mengonsumsi makanan tertentu selalu muncul gejala yang sama, kapan gejala mulai muncul setelah makan, apakah disertai biduran, bengkak, muntah, diare, sesak, atau keluhan lain yang konsisten. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan fisik dan evaluasi pertumbuhan. Bila memang ada indikasi, dokter dapat menambahkan pemeriksaan Skin Prick Test atau IgE spesifik. Kedua pemeriksaan tersebut hanya membantu diagnosis dan tidak dapat digunakan sebagai dasar tunggal untuk menyatakan seorang anak alergi makanan.
  • Apabila terdapat dugaan kuat terhadap makanan tertentu, dokter biasanya akan melakukan diet eliminasi yang terarah. Hanya makanan yang paling dicurigai dihentikan sementara sambil dipantau perubahan gejalanya. Menghindari puluhan jenis makanan hanya karena hasil tes IgG dapat menyebabkan anak kekurangan protein, energi, kalsium, zat besi, vitamin, dan mineral. Pada anak yang sudah sulit makan dan berat badannya sulit naik, pembatasan makanan yang berlebihan justru dapat memperburuk pertumbuhan dan status gizinya.

Lalu Bagaimana Alergi Makanan Sebenarnya Didiagnosis?

  • Diagnosis alergi makanan dimulai dari riwayat klinis yang rinci.
  • Dokter perlu mengetahui:
    • makanan apa yang dicurigai;
    • berapa banyak makanan yang dikonsumsi;
    • kapan gejala muncul setelah makan;
    • gejala apa yang muncul;
    • apakah reaksi selalu berulang setelah makanan yang sama;
    • apakah terdapat hubungan yang konsisten antara makanan dan gejala;
    • bagaimana pertumbuhan anak;
    • serta apakah terdapat penyakit lain yang dapat menjelaskan keluhan tersebut.

Pada alergi makanan yang diperantarai IgE, pemeriksaan seperti skin-prick test atau specific IgE dapat membantu bila memang ada indikasi.

    • Tetapi hasil positif pemeriksaan tersebut juga menunjukkan sensitisasi, bukan secara otomatis membuktikan bahwa makanan tersebut menyebabkan gejala klinis.
    • Karena itu, pada keadaan tertentu diperlukan konfirmasi lebih lanjut dengan tes oral Food Chalenge

Oral Food Challenge: Ketika Dugaan Alergi Harus Dibuktikan

  • Dalam kondisi yang sesuai dan aman, dokter dapat mempertimbangkan oral food challenge (OFC).
  • OFC dilakukan dengan memberikan makanan yang dicurigai secara bertahap dan terkontrol, dengan pengawasan tenaga medis yang memiliki kemampuan menangani reaksi alergi.
  • Tujuannya sederhana:
    • Apakah anak benar-benar mengalami reaksi ketika mengonsumsi makanan tersebut?
    • Dengan pendekatan ini, anak tidak harus menjalani pantangan terhadap puluhan makanan hanya karena hasil pemeriksaan laboratorium.
    • Hal ini sangat penting terutama pada anak yang sejak awal sudah mengalami:
      • sulit makan + berat badan sulit naik.
      • Semakin banyak makanan yang dilarang tanpa dasar diagnosis yang kuat, semakin besar kemungkinan variasi makanan anak menjadi semakin terbatas.

Constitutional Growth: Tidak Semua Anak yang Kurus Berarti Sakit

  • Dalam perjalanan kasus ini, terdapat satu aspek lain yang juga perlu diperhatikan.
  • Ayah anak ketika kecil juga memiliki tubuh yang relatif kurus, tetapi setelah dewasa justru tumbuh menjadi tinggi dan besar.
  • Hal tersebut mengingatkan bahwa pola pertumbuhan keluarga juga penting dalam menilai pertumbuhan seorang anak.
  • Sebagian anak memang memiliki pola pertumbuhan yang secara genetik berbeda dari teman sebayanya. Ada anak yang secara konstitusional memiliki tubuh lebih kecil atau pertumbuhan yang lebih lambat pada periode tertentu, tetapi tetap memiliki pola pertumbuhan yang konsisten dan kemudian mencapai potensi pertumbuhan sesuai faktor genetik keluarganya.
  • Namun, istilah constitutional growth tidak boleh digunakan untuk menutup mata terhadap masalah medis.
  • Anak yang berat badannya sulit naik tetap perlu dievaluasi terutama bila terdapat:
    • penurunan berat badan;
    • perlambatan pertumbuhan yang nyata;
    • asupan makanan sangat terbatas;
    • muntah atau diare berulang;
    • konstipasi berat;
    • gangguan menelan;
    • infeksi berulang;
    • gejala respirasi kronis;
    • atau tanda penyakit kronis lainnya.
  • Jadi, faktor genetik dan penyakit dapat sama-sama berperan, dan keduanya harus dibedakan melalui evaluasi pertumbuhan dan klinis yang tepat.

Ketika Pencernaan Diperbaiki, Pola Makan Mulai Berubah

  • Setelah mengikuti pendekatan yang lebih terarah, perubahan mulai terlihat.
  • Anak yang sebelumnya sulit makan mulai menunjukkan perbaikan dalam kemampuan dan kemauan makan.
  • Keluhan yang sebelumnya sering muncul juga semakin jarang.
  • Yang paling menggembirakan bagi orang tua adalah perubahan berat badan.
  • Dalam waktu sekitar satu bulan, berat badan anak dilaporkan meningkat sekitar 700 gram, tiap minggu rata rata naik 200 gram
  • Dan yang paling melegakan:
    • NGT yang sebelumnya hampir dipasang akhirnya tidak diperlukan.
    • Bagi orang tua, kenaikan berat badan tersebut bukan sekadar angka pada timbangan.
    • Itu adalah jawaban dari perjalanan panjang yang telah mereka lalui.

Apa Pelajaran Terpenting dari Kisah Ini?

  • Kisah tersebut memberikan beberapa pelajaran penting.
    1. Pertama, anak sulit makan dan BB sulit naik tidak otomatis berarti alergi makanan.
      • Penyebabnya sangat beragam, mulai dari feeding difficulties, konstipasi, refluks, gangguan oral-motor, penyakit kronis, masalah psikososial, hingga variasi pola pertumbuhan keluarga.
    2. Kedua, anak kurus tidak selalu berarti mengalami penyakit.
      • Penilaian harus melihat pola pertumbuhan dari waktu ke waktu, bukan hanya membandingkan bentuk tubuh anak dengan kakaknya atau anak lain.
    3. Ketiga, hasil tes tidak boleh berdiri sendiri.
      • Hasil laboratorium harus selalu dikaitkan dengan riwayat dan kondisi klinis anak.
    4. Keempat, IgG makanan bukan alat untuk mendiagnosis alergi makanan.
      • Positifnya IgG terhadap makanan tidak berarti makanan tersebut harus dihindari.
    5. Kelima, pantangan makanan yang terlalu luas dapat berbahaya bagi anak yang sudah sulit makan.
      • Jika puluhan makanan dihilangkan tanpa indikasi yang jelas, anak dapat kehilangan sumber energi, protein, vitamin, dan mineral yang penting untuk pertumbuhan.
    6. Keenam, diagnosis alergi makanan membutuhkan pendekatan yang tepat.
      • Riwayat klinis merupakan dasar. Pemeriksaan IgE tertentu dapat membantu pada kondisi yang sesuai, sedangkan pada kasus terpilih, oral food challenge dapat digunakan untuk mengonfirmasi hubungan antara makanan dan reaksi klinis.

Bukan Sekadar Mencari “Makanan yang Salah”

  • Dalam kasus anak dengan BB sulit naik, tujuan dokter bukan sekadar menemukan sebanyak mungkin makanan yang harus dihindari.
  • Tujuan utamanya justru sebaliknya:
    • menemukan penyebab keluhan dengan tepat sambil mempertahankan sebanyak mungkin makanan yang aman dan bergizi.
    • Ini sangat penting karena anak membutuhkan makanan untuk tumbuh.
    • Jika seorang anak sudah sulit makan kemudian harus menghindari puluhan jenis makanan, masalah feeding dan pertumbuhan dapat menjadi semakin kompleks.
    • Karena itu, pendekatan diagnosis harus dilakukan secara hati-hati dan berbasis bukti.

Akhirnya Orang Tua Mendapatkan Jawaban

  • Perjalanan keluarga ini menggambarkan betapa melelahkannya mencari jawaban ketika seorang anak sulit makan dan berat badannya tidak kunjung meningkat.
    • Dari satu dokter ke dokter lain.
    • Dari kekhawatiran TB.
    • Dari pemeriksaan IgG dengan puluhan makanan positif.
    • Dari penghentian berbagai makanan.
    • Hingga muncul pertimbangan pemasangan NGT.
    • Sampai akhirnya orang tua mendapatkan second opinion dan memahami bahwa diagnosis alergi makanan tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan pemeriksaan IgG.
    • Dengan evaluasi yang lebih terarah, anak mulai makan lebih baik dan berat badan meningkat.
  • Alhamdulillah, dalam sekitar satu bulan berat badan bertambah 700 gram dan anak tidak jadi menjalani pemasangan NGT.
  • Kisah ini bukan berarti semua anak dengan BB sulit naik harus menjalani diet atau OFC. Juga bukan berarti setiap anak kurus memiliki alergi makanan.

Pesan yang lebih penting adalah:

  • Jangan biarkan satu hasil pemeriksaan laboratorium menentukan seluruh makanan yang boleh dan tidak boleh dimakan anak.
  • Pada anak yang sulit makan dan berat badan sulit naik, yang diperlukan adalah mencari penyebab secara menyeluruh, menilai pola pertumbuhan, memperbaiki masalah makan dan pencernaan bila memang ada, serta memastikan diagnosis alergi makanan berdasarkan bukti klinis yang tepat.
  • Karena tujuan akhirnya bukan membuat anak semakin banyak berpantang.
  • Tujuannya adalah membuat anak dapat makan dengan aman, cukup, tumbuh optimal, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *