Anakku Makannya Banyak, Tetapi Berat Badannya Tetap Sulit Naik. Mengapa Bisa Terjadi? Benarkah Anak Sudah Makan Banyak? Kesalahan Penilaian Orang Tua yang Sering Terjadi. Anak Makan Lahap, Tetapi Tetap Kurus. Kapan Harus Mencurigai Adanya Penyakit?
Pertanyaan
Dok, anak saya berusia 5 tahun makannya sebenarnya banyak, bahkan porsinya kadang lebih banyak daripada kakaknya. Hampir setiap kali makan dia selalu menghabiskan makanannya, ditambah camilan dan susu setiap hari. Namun, sampai sekarang badannya tetap kurus dan berat badannya sangat sulit naik. Banyak yang mengatakan mungkin karena keturunan, ada juga yang menyarankan ganti susu, minum vitamin penambah nafsu makan, atau obat cacing. Saya mulai khawatir karena anak juga sering batuk pilek, kadang mengeluh sakit perut, susah makan sayur, dan sesekali mengalami sembelit. Apakah kondisi seperti ini normal, atau ada penyakit tertentu yang menyebabkan anak makan banyak tetapi berat badannya tetap tidak naik?
Jawaban
Anak yang makan banyak tetapi berat badannya tetap sulit naik bukanlah kondisi yang selalu normal. Pertumbuhan berat badan dipengaruhi oleh keseimbangan antara jumlah energi yang masuk, kemampuan tubuh menyerap zat gizi, kebutuhan energi sehari-hari, serta adanya penyakit tertentu. Jadi, meskipun asupan makanan tampak banyak, berat badan tetap dapat sulit bertambah apabila nutrisi tidak diserap dengan baik, kebutuhan energi meningkat karena penyakit, atau terdapat gangguan metabolisme. Oleh karena itu, dokter tidak hanya menanyakan seberapa banyak anak makan, tetapi juga mengevaluasi kualitas makanan, pola pertumbuhan, aktivitas, riwayat penyakit, dan perkembangan anak secara keseluruhan.
Kesalahan Penilaian Orangtua
Banyak orang tua juga mengatakan bahwa anaknya sudah makan banyak, tetapi dalam praktik sehari-hari penilaian tersebut sering kali bersifat subjektif. Orang tua cenderung mengingat saat anak sedang makan dengan lahap, sementara hari-hari ketika anak hanya makan sedikit sering terlupakan. Selain itu, nafsu makan anak memang dapat berubah dari hari ke hari. Ada hari ketika anak menghabiskan hampir seluruh makanannya, tetapi pada hari berikutnya hanya makan beberapa suap saja. Penilaian yang lebih akurat sebaiknya dilakukan selama sedikitnya satu hingga dua minggu dengan mencatat seluruh makanan yang dikonsumsi, bukan hanya berdasarkan satu kali makan atau satu hari ketika anak terlihat lahap. Jumlah makanan juga perlu dibandingkan dengan kebutuhan sesuai usia. Sebagai contoh, seorang anak mungkin dianggap sudah makan banyak karena menghabiskan tujuh sendok makan besar, padahal kebutuhan rata-rata untuk usianya sekitar dua belas sendok makan besar setiap kali makan. Dengan demikian, jumlah yang dianggap banyak oleh orang tua sebenarnya masih berada di bawah kebutuhan harian anak.
Kesalahan penilaian yang sama juga sering terjadi saat memantau berat badan. Tidak sedikit orang tua merasa berat badan anak sudah naik karena pada satu kali penimbangan terjadi kenaikan beberapa ratus gram. Padahal, pada minggu berikutnya berat badan kembali turun sehingga dalam beberapa minggu berikutnya berat badan hanya naik turun di kisaran yang sama tanpa menunjukkan peningkatan yang bermakna. Fluktuasi kecil seperti ini dapat dipengaruhi oleh jumlah cairan tubuh, isi lambung, isi usus, atau kondisi anak saat ditimbang dan belum tentu mencerminkan pertumbuhan yang sesungguhnya. Yang lebih penting adalah melihat tren pertumbuhan pada kurva berat badan selama beberapa bulan, bukan membandingkan hasil satu atau dua kali penimbangan. Bila kurva berat badan tetap mendatar atau bahkan menurun meskipun sesekali tampak naik, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan belum optimal dan penyebabnya perlu dievaluasi lebih lanjut.
Penyebab yang paling sering adalah kebutuhan energi anak lebih besar daripada energi yang diperoleh dari makanan. Anak yang sangat aktif bergerak, sering berlari, atau memiliki metabolisme yang lebih tinggi dapat membakar kalori lebih banyak dibandingkan anak lain seusianya. Namun, bila berat badan tetap tidak naik dalam waktu lama, terutama bila kurva pertumbuhan mulai menurun, kondisi tersebut perlu dievaluasi lebih lanjut karena dapat menandakan adanya gangguan kesehatan yang mendasari.
Gangguan pada saluran cerna juga merupakan penyebab yang cukup sering. Alergi makanan, refluks gastroesofageal, konstipasi kronis, penyakit celiac, diare kronis, atau gangguan penyerapan nutrisi dapat menyebabkan makanan yang dikonsumsi tidak dimanfaatkan secara optimal oleh tubuh. Sebagian anak tidak hanya mengalami berat badan sulit naik, tetapi juga sering sakit perut, perut kembung, muntah, diare, sembelit, atau sulit makan terhadap jenis makanan tertentu. Pada kondisi ini, memperbanyak porsi makan saja biasanya tidak cukup karena penyebab dasarnya belum diatasi.
Penyakit kronis juga dapat meningkatkan kebutuhan energi tubuh. Anak dengan asma yang tidak terkontrol, penyakit jantung bawaan, gangguan hormon seperti hipertiroidisme, infeksi kronis, atau penyakit ginjal dapat menggunakan lebih banyak energi hanya untuk mempertahankan fungsi tubuhnya. Akibatnya, kalori yang masuk lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan metabolisme daripada untuk pertumbuhan. Karena itu, dokter akan menilai apakah terdapat gejala lain seperti batuk berkepanjangan, sesak napas, demam berulang, diare kronis, atau keluhan lain yang mengarah pada penyakit tertentu.
Alergi makanan juga perlu dipertimbangkan, terutama bila berat badan sulit naik disertai batuk pilek berulang, eksim, muntah, refluks, konstipasi, diare, nyeri perut, atau riwayat alergi dalam keluarga. Pada sebagian anak, alergi menyebabkan peradangan kronis pada saluran cerna sehingga nafsu makan menurun, proses penyerapan nutrisi terganggu, atau anak menjadi sangat selektif terhadap makanan. Kondisi ini dapat menyebabkan pertumbuhan berat badan melambat meskipun secara kasat mata anak tampak makan dalam jumlah yang cukup.
Untuk mengetahui penyebabnya, dokter akan mengevaluasi kurva pertumbuhan, tinggi badan, indeks massa tubuh, pola makan harian, riwayat penyakit sejak bayi, riwayat keluarga, serta melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Bila diperlukan, dokter dapat menyarankan pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan penunjang lainnya sesuai dengan dugaan penyebab. Pemeriksaan dilakukan secara bertahap agar terapi yang diberikan benar-benar sesuai dengan kondisi anak dan tidak sekadar berdasarkan dugaan.
Hal yang paling penting adalah tidak langsung menyimpulkan bahwa anak kurus hanya karena keturunan atau hanya membutuhkan vitamin dan susu tambahan. Sebagian besar anak dengan berat badan sulit naik dapat mengalami perbaikan setelah penyebab yang mendasarinya ditemukan dan ditangani dengan tepat. Penanganan dapat berupa perbaikan pola makan, terapi terhadap gangguan saluran cerna, pengobatan penyakit yang mendasari, pengelolaan alergi makanan bila memang terbukti, serta pemantauan pertumbuhan secara berkala. Dengan pendekatan yang menyeluruh, sebagian besar anak dapat kembali tumbuh sesuai dengan potensi genetiknya dan mencapai status gizi yang lebih baik.











Leave a Reply