Pertanyaan
Dok, anak saya berusia 3 tahun dan sejak usia sekitar 1 tahun mengalami kesulitan makan. Ia hanya mau makan sedikit, sangat pilih-pilih makanan, lebih sering minum susu daripada makan makanan utama, dan berat badannya hampir tidak bertambah selama beberapa bulan terakhir. Kami sudah mencoba memberikan vitamin penambah nafsu makan, susu tinggi kalori, serta berbagai cara agar anak mau makan, tetapi hasilnya belum memuaskan. Anak juga kadang mengalami sembelit, batuk pilek berulang, dan tidur mendengkur pada malam hari. Saya khawatir ada penyakit tertentu yang menjadi penyebabnya. Pemeriksaan apa saja yang perlu dilakukan untuk mengetahui penyebab anak sulit makan dan berat badannya sulit naik? Apakah semua anak perlu menjalani pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan alergi?
Jawaban
Anak yang sulit makan dan mengalami gangguan kenaikan berat badan memerlukan evaluasi yang sistematis untuk mencari penyebab yang mendasari. Tujuan pemeriksaan bukan hanya mengetahui mengapa anak sulit makan, tetapi juga menentukan apakah terdapat gangguan pertumbuhan, kekurangan zat gizi, penyakit kronis, atau gangguan makan seperti Pediatric Feeding Disorder (PFD). Menurut pedoman American Academy of Pediatrics (AAP), European Society for Paediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition (ESPGHAN), dan North American Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition (NASPGHAN), sebagian besar diagnosis dapat ditegakkan melalui anamnesis yang lengkap, pemeriksaan fisik, serta pemantauan pertumbuhan sebelum mempertimbangkan pemeriksaan penunjang.
Langkah pertama adalah menilai pertumbuhan anak menggunakan kurva pertumbuhan WHO atau CDC sesuai usia. Dokter akan mengukur berat badan, tinggi badan atau panjang badan, indeks massa tubuh, lingkar kepala pada anak kecil, serta membandingkannya dengan hasil pengukuran sebelumnya. Yang dinilai bukan hanya angka berat badan saat ini, tetapi juga kecepatan pertumbuhan dan perubahan persentil pada kurva. Berat badan yang tidak bertambah selama dua sampai tiga bulan, penurunan persentil pertumbuhan, atau tinggi badan yang mulai melambat merupakan tanda bahwa evaluasi lebih lanjut diperlukan.
Anamnesis merupakan bagian terpenting dalam menentukan penyebab. Dokter akan menanyakan pola makan harian, jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi, lama waktu makan, konsumsi susu, kebiasaan ngemil, riwayat pemberian MPASI, riwayat muntah, diare, konstipasi, nyeri perut, batuk, pilek, gangguan tidur, alergi, infeksi berulang, penggunaan obat, riwayat penyakit keluarga, serta perkembangan motorik dan bicara anak. Informasi tersebut sering kali lebih bermanfaat dibandingkan pemeriksaan laboratorium dalam menentukan arah diagnosis.
Pemeriksaan fisik dilakukan secara menyeluruh untuk menilai status gizi, tanda kekurangan vitamin dan mineral, kesehatan rongga mulut, kemampuan mengunyah dan menelan, pembesaran organ, kelainan jantung atau paru, tanda gangguan hormon, serta gejala penyakit kronis. Dokter juga akan mengamati perilaku makan anak bila memungkinkan, karena cara anak menerima makanan sering memberikan petunjuk penting mengenai adanya gangguan sensorik, oral motor, atau perilaku makan.
Pemeriksaan laboratorium tidak dilakukan secara rutin pada semua anak yang sulit makan. Pemeriksaan hanya dilakukan bila terdapat indikasi klinis berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan yang dapat dipertimbangkan antara lain darah lengkap, kadar hemoglobin, ferritin atau status besi, C-reactive protein atau laju endap darah bila dicurigai peradangan, fungsi hati, fungsi ginjal, elektrolit, fungsi tiroid, kadar gula darah, urinalisis, pemeriksaan tinja, atau pemeriksaan penyakit celiac pada anak dengan diare kronis atau gangguan penyerapan nutrisi. Pendekatan ini menghindari pemeriksaan yang tidak perlu dan lebih sesuai dengan prinsip kedokteran berbasis bukti.
Pemeriksaan alergi juga tidak diperlukan pada semua anak. Skin prick test atau pemeriksaan IgE spesifik hanya dianjurkan bila terdapat riwayat yang mengarah ke alergi, misalnya muncul ruam, muntah, diare, sesak napas, atau gejala lain yang berulang setelah mengonsumsi makanan tertentu. Hasil pemeriksaan tersebut harus selalu diinterpretasikan bersama riwayat klinis karena hasil positif tidak selalu berarti anak mengalami alergi. Bila diperlukan, Oral Food Challenge merupakan baku emas untuk memastikan diagnosis alergi makanan. Sebaliknya, pemeriksaan IgG makanan tidak direkomendasikan untuk mendiagnosis alergi karena tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat.
Pada anak yang mengalami gangguan makan berat, dokter juga akan menilai kemungkinan Pediatric Feeding Disorder. Penilaian dilakukan terhadap empat domain utama, yaitu kondisi medis, status nutrisi, kemampuan makan atau oral motor, serta dampak psikososial terhadap anak dan keluarga. Bila ditemukan gangguan pada salah satu atau lebih domain tersebut, anak mungkin memerlukan penanganan oleh tim multidisiplin yang melibatkan dokter spesialis anak, ahli gizi, psikolog, terapis okupasi, atau terapis wicara sesuai kebutuhan.
Kesimpulannya, pemeriksaan pada anak yang sulit makan dan berat badannya sulit naik harus dilakukan secara bertahap, dimulai dari evaluasi pertumbuhan, anamnesis yang rinci, dan pemeriksaan fisik yang komprehensif. Pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan alergi, maupun pemeriksaan penunjang lainnya dilakukan berdasarkan indikasi klinis, bukan sebagai pemeriksaan rutin. Pendekatan yang sistematis sesuai rekomendasi AAP, ESPGHAN, NASPGHAN, dan Konsensus Pediatric Feeding Disorder memungkinkan penyebab gangguan makan ditemukan lebih dini sehingga terapi yang diberikan menjadi lebih tepat dan peluang memperbaiki pertumbuhan anak semakin besar.







Leave a Reply