Tanya Jawab: Anak Sulit Makan, Berat Badan Sulit Naik, Sering Mual atau Konstipasi. Benarkah Penyebabnya Bisa Alergi Makanan?
Pertanyaan
Anak saya berusia 6 tahun. Selama hampir satu tahun terakhir ia semakin sulit makan, cepat kenyang, sering mengeluh perut kembung, nyeri perut, mual, kadang muntah, sering mengeluh nyeri ulu hati seperti GERD, buang air besar kadang sembelit lalu berganti diare, bahkan dokter pernah mengatakan kemungkinan Irritable Bowel Syndrome (IBS). Berat badannya sangat sulit naik meskipun sudah diberi vitamin, penambah nafsu makan, susu tinggi kalori, dan berbagai suplemen. Beberapa dokter juga menyarankan pemeriksaan penyakit celiac karena berat badan sulit naik dan gangguan pencernaannya berlangsung lama. Kadang anak saya juga mengeluh makanan terasa tersangkut saat menelan, batuk berulang, pilek berulang, dan memiliki eksim. Saya memperhatikan keluhan sering muncul atau memburuk setelah mengonsumsi makanan tertentu, tetapi saya tidak yakin makanan apa penyebabnya. Apakah semua keluhan tersebut mungkin berhubungan dengan alergi makanan? Mengapa alergi makanan pada anak sering tidak dikenali dan justru didiagnosis sebagai GERD, IBS, penyakit celiac, konstipasi kronis, atau gangguan pencernaan lainnya? Benarkah Oral Food Challenge merupakan pemeriksaan terbaik untuk memastikan diagnosis alergi makanan, dan bagaimana penanganan yang tepat agar nafsu makan, berat badan, pertumbuhan, serta kualitas hidup anak dapat kembali membaik?
Jawaban
Alergi makanan merupakan salah satu penyebab gangguan pencernaan kronis pada anak yang masih sering terlewatkan. Banyak orang tua menganggap alergi makanan hanya menyebabkan biduran, gatal, atau ruam kulit. Padahal pada sebagian besar anak, keluhan justru didominasi oleh gangguan saluran cerna seperti refluks gastroesofageal atau GERD, nyeri ulu hati, mual, muntah, nyeri perut, perut kembung, konstipasi, diare, cepat kenyang, sulit makan, hingga berat badan yang sulit naik. Sebagian anak juga mengalami batuk berulang, pilek berulang, hidung tersumbat, gangguan tidur, eksim, atau mengi sehingga gejalanya tampak berasal dari berbagai organ.
Keluhan tersebut sering menyerupai berbagai penyakit saluran cerna lain sehingga diagnosis alergi makanan menjadi tidak mudah. Anak dapat diduga mengalami GERD karena sering muntah dan nyeri ulu hati. Sebagian memenuhi gambaran klinis Irritable Bowel Syndrome atau IBS karena mengalami nyeri perut yang disertai perubahan pola buang air besar. Pada anak dengan diare kronis, perut kembung, anemia, atau berat badan sulit naik, dokter juga perlu mempertimbangkan penyakit celiac. Selain itu, alergi makanan juga dapat menyerupai konstipasi kronis, dispepsia fungsional, intoleransi laktosa, eosinophilic esophagitis, penyakit radang usus, maupun gangguan motilitas saluran cerna. Karena gejalanya saling tumpang tindih, evaluasi harus dilakukan secara sistematis.
Alergi makanan terjadi ketika sistem imun bereaksi terhadap protein makanan yang sebenarnya tidak berbahaya. Reaksi imun tersebut memicu pelepasan berbagai mediator inflamasi yang menyebabkan peradangan pada saluran cerna. Peradangan dapat mengganggu fungsi lambung, usus, dan kerongkongan sehingga timbul refluks, mual, muntah, nyeri saat menelan, rasa makanan tersangkut, nyeri perut, diare, atau konstipasi. Anak kemudian mulai menghubungkan makan dengan rasa tidak nyaman sehingga menolak makan, makan dalam jumlah sedikit, atau hanya mau makanan tertentu. Kondisi ini sering berkembang menjadi feeding difficulties, bahkan Pediatric Feeding Disorder pada sebagian anak.
Berat badan yang sulit naik pada anak dengan alergi makanan tidak hanya disebabkan oleh berkurangnya jumlah makanan yang dikonsumsi. Inflamasi kronis pada saluran cerna dapat mengganggu fungsi sawar usus, meningkatkan permeabilitas usus, mengubah keseimbangan mikrobiota usus, serta menurunkan penyerapan energi, protein, zat besi, kalsium, vitamin D, dan berbagai mikronutrien lainnya. Pada saat yang sama, proses inflamasi meningkatkan kebutuhan energi tubuh. Kombinasi kedua mekanisme tersebut menyebabkan pertumbuhan berat badan melambat, gangguan status gizi, defisiensi mikronutrien, hingga gagal tumbuh apabila tidak dikenali dan ditangani sejak dini.
Diagnosis alergi makanan tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan gejala, hasil skin prick test, ataupun pemeriksaan IgE spesifik. Sebagian anak memiliki hasil pemeriksaan yang positif tetapi tetap dapat mengonsumsi makanan tersebut tanpa reaksi alergi. Sebaliknya, pada alergi makanan non-IgE, hasil skin prick test maupun IgE spesifik sering tetap normal meskipun gejala klinis sangat khas. Oleh karena itu, diagnosis harus didasarkan pada riwayat hubungan antara makanan dan timbulnya gejala, pemeriksaan fisik, evaluasi status gizi, penilaian kurva pertumbuhan, serta pemeriksaan penunjang lain untuk menyingkirkan penyakit seperti GERD, IBS, penyakit celiac, intoleransi laktosa, eosinophilic esophagitis, penyakit radang usus, infeksi kronis, dan gangguan saluran cerna lainnya.
Apabila setelah evaluasi masih terdapat dugaan kuat alergi makanan, Oral Food Challenge atau OFC merupakan baku emas untuk memastikan diagnosis. Pemeriksaan dilakukan dengan memberikan makanan yang dicurigai secara bertahap mulai dari dosis kecil hingga porsi yang sesuai usia di bawah pengawasan dokter di fasilitas kesehatan yang mampu menangani reaksi alergi bila terjadi. OFC membantu memastikan apakah suatu makanan benar-benar menjadi penyebab gejala sekaligus mencegah overdiagnosis yang dapat menyebabkan diet eliminasi yang tidak diperlukan. Pemeriksaan ini juga dapat digunakan untuk menilai apakah anak telah mencapai toleransi terhadap makanan yang sebelumnya menyebabkan alergi sehingga makanan tersebut dapat diperkenalkan kembali secara aman.
Penatalaksanaan harus dilakukan secara menyeluruh sesuai penyebab yang ditemukan. Makanan yang telah terbukti menyebabkan alergi dihindari secara selektif, sedangkan makanan lain yang aman tetap diberikan agar kebutuhan energi, protein, lemak, vitamin, mineral, dan serat tetap terpenuhi. Penyakit penyerta seperti GERD, IBS, konstipasi, penyakit celiac, intoleransi laktosa, eosinophilic esophagitis, gangguan oral motor, maupun feeding difficulties juga harus ditangani secara bersamaan. Pemantauan berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh, status gizi, dan kurva pertumbuhan perlu dilakukan secara berkala. Dengan diagnosis yang tepat dan penatalaksanaan yang komprehensif, banyak anak mengalami perbaikan nafsu makan, berkurangnya gangguan pencernaan, peningkatan status gizi, pertumbuhan yang lebih optimal, serta kualitas hidup yang jauh lebih baik.
Jika diinginkan, naskah ini juga dapat diperluas dengan pembahasan mengenai hubungan alergi makanan dengan infeksi saluran napas berulang, gangguan tidur, gangguan perilaku, anemia defisiensi besi, dan picky eater berdasarkan bukti ilmiah terbaru.











Leave a Reply