Klinik Picky Eaters

KLINIK KESULITAN MAKAN & GANGGUAN BERAT BADAN

Diagnosis dan Penilaian Klinis Picky Eating pada Anak: Pendekatan Multidimensional, Diferensial, dan Berbasis Bukti

Diagnosis dan Penilaian Klinis Picky Eating pada Anak: Pendekatan Multidimensional, Diferensial, dan Berbasis Bukti

Sandiaz Yudhasmara, Widodo Judarwanto

Picky eating (food selectivity) merupakan perilaku makan yang ditandai oleh keterbatasan variasi makanan, penolakan terhadap makanan tertentu, atau keengganan mencoba makanan baru. Pada banyak anak, kondisi ini merupakan bagian dari perkembangan normal, terutama pada masa toddler dan prasekolah. Namun, picky eating yang menetap, semakin berat, atau disertai gangguan pertumbuhan, defisiensi zat gizi, gangguan fungsi makan, atau dampak psikososial memerlukan penilaian klinis yang lebih komprehensif.

Diagnosis tidak seharusnya ditentukan hanya berdasarkan jumlah makanan yang dimakan atau persepsi orang tua bahwa anak “susah makan”. Penilaian perlu mengintegrasikan riwayat makan, pola pertumbuhan, kondisi medis, kemampuan oral-motor, sensitivitas sensorik, perilaku anak, interaksi orang tua–anak, serta konsekuensi nutrisi dan psikososial. Pendekatan seperti ini penting untuk membedakan picky eating perkembangan dari Pediatric Feeding Disorder (PFD), Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID), gangguan menelan, penyakit gastrointestinal, alergi makanan, maupun kondisi medis lainnya.


Prinsip Dasar Penilaian Klinis

Secara praktis, evaluasi picky eating dapat dibangun melalui enam pertanyaan utama:

  • Apa yang dimakan anak?
  • Apa yang ditolak dan mengapa?
  • Bagaimana kemampuan anak makan?
  • Apakah terdapat penyakit atau gejala medis?
  • Apa dampaknya terhadap pertumbuhan dan kecukupan nutrisi?
  • Apakah terdapat gangguan psikososial atau fungsi keluarga?

Dengan kerangka tersebut, dokter tidak hanya menilai food refusal, tetapi berusaha menemukan mekanisme yang menyebabkan dan mempertahankan selektivitas makanan.

Tabel 1. Komponen Utama Penilaian Klinis Picky Eating

Domain Hal yang dinilai Contoh temuan Makna klinis
Pola makan Jenis dan jumlah makanan Diet sangat terbatas Menentukan derajat selektivitas
Variasi makanan Jumlah kelompok makanan Tidak mau sayur, buah, protein Risiko kekurangan zat gizi
Food neophobia Penolakan makanan baru Menolak makanan yang belum dikenal Dapat bersifat perkembangan
Sensorik Rasa, aroma, tekstur, warna, suhu Hanya mau makanan renyah/warna tertentu Mengarah ke sensitivitas sensorik
Oral-motor Mengunyah dan menelan Makan sangat lama, sulit mengunyah Pertimbangkan gangguan keterampilan makan
Gastrointestinal Nyeri, muntah, refluks, konstipasi, diare Gejala berulang setelah makan Pertimbangkan penyebab medis
Alergi Hubungan makanan dengan gejala Gejala konsisten setelah pajanan Evaluasi alergi berdasarkan riwayat klinis
Pertumbuhan Berat, tinggi, BMI, tren pertumbuhan Pertumbuhan melambat Menentukan dampak klinis
Nutrisi Makro dan mikronutrien Diet tidak seimbang Menentukan risiko defisiensi
Psikososial Konflik, kecemasan, aktivitas sosial Makan menjadi sumber konflik Menilai dampak fungsional
Keluarga Respons caregiver Memaksa, mengancam, terlalu membatasi Faktor pemelihara yang dapat dimodifikasi

1. Anamnesis Makan yang Terstruktur

  • Anamnesis merupakan bagian terpenting dalam evaluasi awal. Orang tua perlu diminta menggambarkan pola makan aktual anak, bukan hanya memberikan label “picky eater”.
  • Dokter dapat menanyakan makanan yang diterima, makanan yang ditolak, konsistensi makanan, merek tertentu yang harus digunakan, cara penyajian, suhu makanan, waktu makan, durasi makan, frekuensi ngemil, minuman yang dikonsumsi, serta respons anak ketika makanan baru ditawarkan.
  • Penting pula menanyakan alasan penolakan. Anak mungkin menolak karena tidak menyukai rasa atau tekstur, takut muntah atau tersedak, tidak merasa lapar, mengalami nyeri setelah makan, atau memang mengalami kesulitan mengunyah dan menelan. Alasan penolakan tersebut mempunyai implikasi diagnostik yang berbeda.

Tabel 2. Pertanyaan Kunci dalam Anamnesis

Pertanyaan Informasi yang dicari
Makanan apa yang paling sering dimakan? Repertoar makanan
Berapa banyak jenis makanan yang diterima? Derajat selektivitas
Apakah anak menolak makanan baru? Food neophobia
Apakah makanan yang sebelumnya disukai juga ditolak? Perubahan pola makan
Apakah penolakan berdasarkan tekstur? Sensitivitas/oral-motor
Apakah penolakan berdasarkan aroma atau warna? Sensitivitas sensorik
Apakah anak takut muntah atau tersedak? Fear-based avoidance
Apakah anak tampak tidak tertarik makan? Low interest in eating
Apakah makan menyebabkan nyeri atau mual? Penyebab gastrointestinal
Apakah pernah terjadi tersedak atau muntah berat? Pengalaman aversif
Berapa lama waktu makan? Efisiensi makan
Apakah anak membutuhkan distraksi? Pola perilaku makan
Bagaimana respons orang tua? Interaksi caregiver
Bagaimana pertumbuhan anak? Dampak nutrisi
Apakah ada ketergantungan suplemen/nutrisi enteral? Derajat konsekuensi klinis

2. Menilai Repertoar dan Variasi Makanan

  • Jumlah makanan yang diterima anak dapat memberikan gambaran awal, tetapi tidak boleh digunakan sebagai satu-satunya kriteria diagnosis. Dua anak dengan jumlah makanan yang sama dapat mempunyai kondisi yang sangat berbeda.
  • Misalnya, seorang anak mungkin hanya menerima 20 jenis makanan tetapi seluruhnya mencakup sumber karbohidrat, protein, lemak, buah atau sayur dan pertumbuhannya normal. Anak lain mungkin menerima jumlah makanan yang sama tetapi hanya dari satu atau dua kelompok makanan sehingga berisiko mengalami kekurangan zat gizi.

Tabel 3. Penilaian Kualitas Repertoar Makanan

Aspek Penilaian
Jumlah makanan Berapa jenis makanan yang diterima
Kelompok makanan Karbohidrat, protein, lemak, buah, sayur
Tekstur Cair, lumat, lunak, padat, renyah
Warna Variasi warna yang diterima
Merek Apakah hanya menerima merek tertentu
Cara memasak Goreng, rebus, panggang, dll.
Suhu Dingin, suhu ruang, hangat
Bentuk Harus dalam bentuk tertentu
Konsistensi Apakah repertoar semakin menyempit
Kecukupan nutrisi Apakah diet masih memenuhi kebutuhan

3. Penilaian Pertumbuhan dan Status Nutrisi

  • Pertumbuhan merupakan salah satu indikator terpenting untuk menentukan apakah picky eating telah menimbulkan konsekuensi klinis. Berat badan dan tinggi badan sebaiknya tidak dinilai sebagai angka tunggal, tetapi sebagai tren pertumbuhan dari waktu ke waktu.
  • Penilaian dapat mencakup berat badan menurut umur, tinggi/panjang badan menurut umur, berat badan menurut tinggi badan atau BMI menurut umur sesuai kelompok usia, serta perubahan posisi kurva pertumbuhan. Kecepatan pertumbuhan juga perlu diperhatikan.

Tabel 4. Parameter Antropometri

Parameter Tujuan
Berat badan Menilai status dan perubahan massa tubuh
Tinggi/panjang badan Menilai pertumbuhan linear
BMI menurut umur Menilai proporsi berat dan tinggi pada anak sesuai usia
Berat badan menurut tinggi badan Menilai status gizi terutama pada anak kecil
Kurva pertumbuhan Melihat pola pertumbuhan longitudinal
Kecepatan pertumbuhan Menilai apakah pertumbuhan berlangsung sesuai harapan
Lingkar lengan atas Dapat membantu skrining status nutrisi pada kelompok usia tertentu

Catatan penting: gangguan pertumbuhan tidak otomatis berarti penyebabnya picky eating. Penyebab medis, nutrisi, gastrointestinal, endokrin, genetik, maupun faktor lainnya harus dipertimbangkan sesuai konteks klinis.


4. Evaluasi Pola Nutrisi

  • Selain jumlah makanan, perlu dinilai kualitas diet. Anak dengan selektivitas berat dapat mengalami kekurangan zat besi, vitamin tertentu, protein, serat, atau mikronutrien lainnya, tergantung pada makanan yang dihindari.
  • Riwayat konsumsi makanan dapat diperoleh melalui food recall atau catatan makanan beberapa hari. Namun, catatan makanan merupakan alat untuk menilai asupan, bukan alat untuk menentukan diagnosis alergi makanan.

Tabel 5. Penilaian Nutrisi

Komponen Contoh yang dinilai
Energi Apakah asupan mencukupi
Protein Variasi sumber protein
Lemak Sumber lemak dan kecukupan
Karbohidrat Variasi sumber
Serat Buah, sayur, serealia
Zat besi Daging, telur, pangan fortifikasi
Kalsium Susu dan sumber lainnya
Vitamin D Asupan dan faktor risiko defisiensi
Vitamin B12 Terutama bila diet sangat terbatas
Folat Sayuran, buah, pangan fortifikasi
Zinc Sumber protein dan pangan lainnya
Cairan Asupan minuman dan pola hidrasi

Pemeriksaan laboratorium tidak dilakukan secara rutin pada semua anak picky eater. Pemeriksaan dipertimbangkan berdasarkan riwayat, pemeriksaan fisik, pola diet, pertumbuhan, dan dugaan defisiensi.


5. Evaluasi Sensorik

  • Sensitivitas sensorik merupakan salah satu mekanisme penting pada food selectivity. Anak dapat menolak makanan karena karakteristik sensoriknya, bukan karena kandungan makanan tersebut.
  • Evaluasi perlu mencakup respons terhadap tekstur, aroma, warna, rasa, suhu, suara ketika makanan dikunyah, serta sensasi makanan di dalam mulut.

Tabel 6. Evaluasi Sensorik

Stimulus Manifestasi
Tekstur Menolak lembek, berserat, lengket, atau bercampur
Aroma Menutup hidung atau menjauh
Warna Hanya menerima warna tertentu
Bentuk Menolak jika bentuk berubah
Suhu Hanya menerima makanan dengan suhu tertentu
Rasa Sensitif terhadap pahit/asam/rasa kuat
Sensasi intraoral Gagging atau penolakan
Campuran makanan Tidak menerima makanan dengan beberapa komponen

Pada kasus kompleks, penilaian dapat melibatkan occupational therapist atau profesional lain yang memiliki kompetensi dalam pemrosesan sensorik dan feeding.


6. Evaluasi Oral-Motor dan Menelan

Kesulitan makan dapat berasal dari gangguan keterampilan makan, bukan semata-mata perilaku. Kemampuan makan membutuhkan koordinasi kompleks antara rahang, lidah, bibir, pipi, postur, respirasi, dan proses menelan.

Tabel 7. Red Flag Oral-Motor

Temuan Kemungkinan masalah
Makan sangat lama Efisiensi oral-motor rendah
Sulit mengunyah Gangguan mastikasi
Makanan sering tersisa di mulut Masalah kontrol oral
Batuk saat makan Pertimbangkan gangguan menelan
Tersedak berulang Red flag disfagia
Suara berubah setelah makan Perlu evaluasi menelan
Hanya menerima tekstur tertentu Gangguan keterampilan/sensorik
Riwayat aspirasi Memerlukan evaluasi khusus

Bila terdapat kecurigaan disfagia atau aspirasi, anak perlu mendapatkan evaluasi profesional yang sesuai. Kondisi tersebut tidak boleh disederhanakan sebagai picky eating.


7. Evaluasi Medis dan Gastrointestinal

  • Pemeriksaan klinis perlu mencari kondisi yang dapat menyebabkan atau memperburuk kesulitan makan. Riwayat muntah, mual, nyeri perut, refluks, konstipasi, diare kronis, disfagia, atau gejala gastrointestinal lain perlu digali secara sistematis.
  • Alergi makanan juga dapat dipertimbangkan bila terdapat hubungan yang konsisten antara pajanan makanan dan gejala yang sesuai dengan mekanisme alergi. Namun, tidak semua anak yang menolak makanan mengalami alergi makanan.

Tabel 8. Faktor Medis yang Perlu Dipertimbangkan

Kelompok Contoh
Gastrointestinal Refluks, konstipasi, penyakit gastrointestinal
Alergi Alergi makanan sesuai gambaran klinis
Menelan Disfagia/aspirasi
Oral-motor Gangguan mengunyah atau kontrol oral
Neurologis Kondisi yang memengaruhi koordinasi makan
Respirasi Gangguan napas yang mengganggu makan
Nyeri Nyeri yang berhubungan dengan makan
Penyakit kronis Kondisi yang menurunkan nafsu makan

Prinsip penting: picky eating bukan diagnosis alergi makanan, dan alergi makanan juga tidak boleh ditegakkan hanya karena anak menolak sejumlah makanan.


8. Instrumen Penilaian Klinis

Berbagai kuesioner telah dikembangkan untuk menilai perilaku makan anak. Instrumen tersebut membantu skrining dan karakterisasi, tetapi hasil kuesioner tidak selalu sama dengan diagnosis klinis.

Tabel 9. Instrumen yang Dapat Digunakan

Instrumen Fokus Kelompok usia/kegunaan Peran
CEBQ Food fussiness, satiety responsiveness, food enjoyment, dll. Anak sekitar 2–10 tahun Karakterisasi perilaku makan
MCH-FS Kekhawatiran orang tua, perilaku makan, nafsu makan, oral-motor, relasi makan Bayi–anak kecil Skrining kesulitan makan
BEBQ Respons terhadap makanan, enjoyment, satiety, kecepatan makan Bayi Penilaian perilaku makan awal
NIAS Picky eating, rendahnya minat makan, takut konsekuensi buruk Skrining ARFID Skrining, bukan diagnosis tunggal
PARDI ARFID, presentasi sensorik, fear, rendahnya minat makan Evaluasi spesialis Wawancara diagnostik
Sensory Profile 2 Pemrosesan sensorik Anak dengan dugaan gangguan sensorik Karakterisasi sensorik
Observasi makan Perilaku, sensorik, oral-motor, interaksi Semua usia sesuai kebutuhan Evaluasi langsung
  • CEBQ merupakan salah satu instrumen yang luas digunakan untuk karakterisasi perilaku makan anak, sedangkan MCH-FS dirancang untuk membantu mengidentifikasi kesulitan makan dan telah menjalani validasi lintas konteks. (Wiley Online Library)
  • Untuk ARFID, NIAS memiliki tiga domain utama—picky eating/sensory sensitivity, appetite/lack of interest, dan fear—dan penelitian validasi mengusulkan ambang tertentu untuk keperluan skrining. Namun, NIAS tetap merupakan alat skrining dan tidak menggantikan evaluasi diagnostik komprehensif. (PubMed Central (PMC))

9. CEBQ: Menilai Food Fussiness

  • Children’s Eating Behaviour Questionnaire (CEBQ) dapat membantu menggambarkan pola perilaku makan, termasuk food fussiness. Keunggulannya adalah tidak hanya melihat penolakan makanan, tetapi juga karakteristik lain seperti respons kenyang, ketertarikan terhadap makanan, dan perilaku makan.
  • Dengan demikian, CEBQ lebih bermanfaat bila digunakan sebagai bagian dari profil perilaku makan, bukan sebagai alat untuk menentukan apakah seorang anak mempunyai penyakit tertentu.

10. MCH-FS: Skrining Kesulitan Makan

  • Montreal Children’s Hospital Feeding Scale (MCH-FS) merupakan instrumen yang dirancang untuk membantu tenaga kesehatan mengenali kesulitan makan pada anak. Instrumen ini mempertimbangkan beberapa aspek, termasuk kekhawatiran orang tua, perilaku saat makan, nafsu makan, kemampuan oral-motor, dan hubungan orang tua–anak selama makan. Validasi lintas budaya juga telah dilakukan pada beberapa populasi. (Wiley Online Library)
  • Instrumen seperti MCH-FS sangat berguna pada layanan primer karena dapat membantu mengidentifikasi anak yang memerlukan evaluasi lebih lanjut sebelum masalah makan berkembang menjadi gangguan nutrisi atau fungsional yang lebih berat.

11. NIAS: Skrining ARFID

  • Nine-Item ARFID Screen (NIAS) dikembangkan untuk menangkap tiga pola utama ARFID: sensitivitas terhadap karakteristik sensorik makanan, rendahnya minat terhadap makan, dan ketakutan terhadap konsekuensi makan yang tidak menyenangkan. Studi validasi menemukan bahwa masing-masing subskala mempunyai kemampuan diskriminatif tertentu, tetapi penggunaannya tetap harus dipahami sebagai skrining, bukan sebagai diagnosis ARFID secara mandiri. (PubMed Central (PMC))
  • Hal yang sangat penting adalah hasil skrining positif tidak otomatis berarti anak mengalami ARFID. Anak dengan penyakit gastrointestinal atau kondisi medis tertentu juga dapat membatasi makanan karena pengalaman gejala yang nyata. Karena itu, hasil kuesioner harus diinterpretasikan bersama anamnesis, pemeriksaan medis, pertumbuhan, status nutrisi, dan evaluasi psikososial.

12. PARDI dan Evaluasi ARFID

  • Pada kasus yang dicurigai ARFID, Pica, ARFID, and Rumination Disorder Interview (PARDI) dapat digunakan sebagai wawancara terstruktur/semi-terstruktur untuk mengevaluasi karakteristik ARFID secara lebih mendalam.
  • Yang dinilai bukan hanya “anak memilih makanan”, tetapi mengapa anak membatasi makanan dan apakah pembatasan tersebut telah menimbulkan konsekuensi klinis, seperti defisiensi nutrisi, gangguan pertumbuhan, ketergantungan terhadap suplementasi/nutrisi enteral, atau gangguan fungsi psikososial.

13. Observasi Langsung Saat Makan

  • Observasi makan merupakan komponen penting karena perilaku anak di ruang klinik dapat memberikan informasi yang tidak selalu muncul dari wawancara.
  • Dokter atau tim feeding dapat mengamati bagaimana anak melihat, mencium, menyentuh, mengambil, mengunyah, dan menelan makanan. Interaksi orang tua juga perlu diperhatikan: apakah orang tua memberi tekanan, menggunakan distraksi, memberi hadiah, mengancam, atau memberikan kesempatan kepada anak untuk merespons rasa lapar dan kenyang.

Tabel 10. Komponen Observasi Makan

Komponen Yang diamati
Postur Posisi tubuh saat makan
Atensi Fokus terhadap makanan
Respons sensorik Menolak melihat/menyentuh/mencium
Oral-motor Mengunyah dan manipulasi makanan
Menelan Batuk, tersedak, kesulitan
Kecepatan makan Terlalu lambat/cepat
Respons emosi Cemas, menangis, menghindar
Respons caregiver Tekanan, bujukan, distraksi
Respons terhadap makanan baru Toleransi dan eksplorasi
Interaksi sosial Komunikasi selama makan

Video makan di rumah, bila tersedia dan sesuai privasi keluarga, juga dapat membantu menggambarkan perilaku yang mungkin tidak muncul dalam situasi klinik.


14. Membedakan Picky Eating, PFD, dan ARFID

Salah satu tujuan utama evaluasi adalah menentukan apakah anak masih berada dalam spektrum picky eating perkembangan atau telah mengalami gangguan makan/feeding yang mempunyai konsekuensi klinis.

Tabel 11. Diagnosis Banding

Karakteristik Picky eating perkembangan PFD ARFID
Selektivitas Ada Sering ada Sering berat
Pertumbuhan Umumnya tetap sesuai Dapat terganggu Dapat terganggu
Defisiensi nutrisi Tidak selalu Dapat terjadi Dapat terjadi
Gangguan keterampilan makan Biasanya minimal Dapat menonjol Tidak harus ada
Faktor medis Tidak dominan Dapat dominan Harus dievaluasi
Sensorik Dapat berperan Dapat berperan Salah satu pola utama
Takut konsekuensi makan Biasanya tidak dominan Dapat terjadi Salah satu pola utama
Minat makan rendah Dapat terjadi Dapat terjadi Salah satu pola utama
Dampak psikososial Biasanya ringan Dapat bermakna Dapat bermakna
Diagnosis Perilaku Gangguan feeding multidomain Gangguan makan DSM-5

15. Red Flags yang Memerlukan Evaluasi Lebih Lanjut

Tidak semua picky eater memerlukan pemeriksaan khusus. Namun, beberapa keadaan merupakan tanda bahwa evaluasi lebih mendalam diperlukan.

Tabel 12. Red Flags Klinis

Red flag Mengapa penting
Berat badan tidak naik atau turun Kemungkinan dampak nutrisi/medis
Pertumbuhan linear melambat Perlu mencari penyebab sistemik/nutrisi
Diet sangat terbatas Risiko defisiensi
Menghilangkan seluruh kelompok makanan Risiko ketidakseimbangan nutrisi
Ketergantungan suplemen/nutrisi enteral Konsekuensi berat
Muntah berulang Pertimbangkan penyebab medis
Nyeri saat makan Pertimbangkan gastrointestinal
Diare kronis Evaluasi gastrointestinal/nutrisi
Konstipasi berat Dapat memengaruhi nafsu makan
Tersedak/batuk saat makan Pertimbangkan disfagia
Makan sangat lama Kemungkinan masalah feeding skill
Ketakutan ekstrem terhadap makanan Pertimbangkan ARFID/PFD
Penolakan setelah pengalaman tersedak/muntah Fear-based avoidance
Regresi perkembangan Memerlukan evaluasi segera
Konflik makan berat Dampak psikososial
Gangguan fungsi sekolah/sosial Menunjukkan dampak fungsional

16. Algoritme Pendekatan Klinis

Secara sederhana, pendekatan dapat dilakukan melalui tahapan berikut:

Anak dengan keluhan picky eating

Anamnesis pola makan dan alasan penolakan

Evaluasi pertumbuhan dan status nutrisi

Cari red flags medis, gastrointestinal, alergi, oral-motor, dan perkembangan

Evaluasi sensorik dan perilaku makan

Observasi makan bila diperlukan

Gunakan instrumen skrining yang sesuai

Tentukan apakah merupakan picky eating perkembangan, PFD, ARFID, atau masalah medis lain

Intervensi berdasarkan mekanisme dominan

Pemantauan pertumbuhan, nutrisi, variasi makanan, dan fungsi psikososial


Kesimpulan

  • Diagnosis dan penilaian picky eating pada anak tidak dapat didasarkan hanya pada jumlah makanan yang ditolak atau persepsi bahwa anak “susah makan”. Evaluasi yang baik harus mencakup anamnesis makan, repertoar dan kualitas diet, pertumbuhan, status nutrisi, kondisi gastrointestinal dan medis, alergi bila terdapat indikasi klinis, kemampuan oral-motor, pemrosesan sensorik, perkembangan, emosi, serta interaksi anak–caregiver.
  • Kuesioner seperti CEBQ, MCH-FS, dan NIAS dapat membantu melakukan skrining dan karakterisasi, sedangkan evaluasi yang lebih mendalam dapat menggunakan observasi makan dan wawancara seperti PARDI. Bukti validasi NIAS menunjukkan manfaatnya untuk mengidentifikasi pola ARFID, tetapi hasil positif tidak boleh dianggap sebagai diagnosis definitif tanpa evaluasi klinis. (PubMed Central (PMC))
  • Pada akhirnya, tujuan evaluasi bukan sekadar memberi label picky eater, tetapi menjawab pertanyaan yang lebih penting: mengapa anak membatasi makanan, apa konsekuensinya, dan faktor apa yang mempertahankan masalah tersebut? Pendekatan ini memungkinkan intervensi diarahkan pada mekanisme yang sebenarnya—apakah perkembangan dan food neophobia, sensorik, oral-motor, pengalaman makan yang negatif, kondisi medis atau gastrointestinal, alergi makanan yang terbukti secara klinis, maupun faktor psikososial dan keluarga.

Daftar Pustaka Pilihan

  • Pjetraj D, Pjetraj A, Sayed D, et al. Decoding Picky Eating in Children: A Temporary Phase or a Hidden Health Concern? Nutrients. 2025;17(24):3884. doi:10.3390/nu17243884.
  • Burton Murray H, Dreier MJ, Zickgraf HF, et al. Validation of the Nine Item ARFID Screen (NIAS) subscales for distinguishing ARFID presentations and screening for ARFID. International Journal of Eating Disorders. 2021. (PubMed)
  • Sforza E, et al. Cross-cultural adaptation and validation of the Italian version of the Montreal Children’s Hospital Feeding Scale in a special healthcare needs population. International Journal of Language & Communication Disorders. 2023. (Wiley Online Library)
  • Papaleontiou A, Voniati L, Gryparis A, et al. Cross-Cultural Adaptation and Validation of the Greek Cypriot Montreal Children’s Hospital Feeding Scale. Folia Phoniatrica et Logopaedica. 2024;76(6):538–547. (PubMed)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *