Klinik Picky Eaters

KLINIK KESULITAN MAKAN & GANGGUAN BERAT BADAN

Studi Global: Lebih dari 70% Anak Lahir Prematur Mengalami Gangguan Makan hingga Usia Sekolah

Berita Internasional

Studi Global: Lebih dari 70% Anak Lahir Prematur Mengalami Gangguan Makan hingga Usia Sekolah

reviewer:  Sandiaz Yudhasmara, Widodo Judarwanto

Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Pediatrics mengungkapkan bahwa sebagian besar anak yang lahir prematur masih mengalami gangguan makan (Pediatric Feeding Disorder/PFD) hingga memasuki usia sekolah. Penelitian yang diterbitkan pada 21 Mei 2026 ini menyoroti bahwa masalah makan pada anak prematur bukan hanya terjadi pada masa bayi, tetapi dapat bertahan selama bertahun-tahun dan memengaruhi pertumbuhan, perkembangan, serta kualitas hidup anak dan keluarganya. Temuan tersebut memperkuat pentingnya pemantauan jangka panjang setelah bayi keluar dari ruang perawatan intensif neonatal (NICU).

Penelitian observasional ini dilakukan di AOU Policlinico, Bari, Italia, dengan melibatkan 116 anak yang lahir prematur, terdiri atas 84 anak berusia 0–3 tahun dan 32 anak berusia 4–7 tahun. Sebagai pembanding, peneliti juga menilai 33 anak yang lahir cukup bulan (aterm). Seluruh peserta dievaluasi menggunakan Eating Disorders Questionnaire in Childhood (EDQ-C), yaitu instrumen yang telah tervalidasi untuk menilai berbagai aspek gangguan makan, termasuk hubungan anak dengan pengasuh saat makan, regulasi makan, dan perilaku memilih makanan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 72,6% anak prematur usia 0–3 tahun mengalami sedikitnya satu gangguan makan yang bermakna secara klinis. Angka tersebut hampir sama pada kelompok usia 4–7 tahun, yaitu 71,9%, menunjukkan bahwa masalah makan pada anak prematur cenderung menetap hingga usia sekolah. Temuan ini menjadi perhatian penting karena gangguan makan yang berlangsung lama dapat berdampak terhadap status gizi, perkembangan otak, kemampuan belajar, serta kesehatan psikososial anak.

Ketika dibandingkan dengan anak yang lahir cukup bulan, anak prematur memiliki risiko yang jauh lebih tinggi mengalami berbagai masalah makan. Gangguan hubungan saat makan (relational disturbance) ditemukan pada 32,7% anak prematur, dibandingkan hanya 3,0% pada kelompok kontrol. Selain itu, gangguan regulasi makan (food dysregulation) terjadi pada 34,6% anak prematur dibandingkan 12,1% pada anak aterm. Perilaku menolak makanan secara selektif (selective food refusal) juga lebih sering ditemukan pada anak prematur (30,8% dibandingkan 12,1%).

Analisis statistik lebih lanjut menunjukkan bahwa penggunaan selang makan nasogastrik (Nasogastric Tube/NGT) dalam waktu yang lama merupakan faktor risiko paling kuat terhadap terjadinya Pediatric Feeding Disorder. Anak yang memerlukan penggunaan NGT berkepanjangan memiliki risiko lebih dari 11 kali lipat mengalami gangguan makan dibandingkan anak tanpa paparan NGT yang lama. Selain itu, semakin rendah usia kehamilan saat bayi dilahirkan, semakin tinggi pula risiko anak mengalami gangguan makan di kemudian hari. Sebaliknya, pola keterikatan emosional (attachment style) antara anak dan orang tua tidak terbukti menjadi faktor risiko independen setelah dilakukan analisis multivariat.

Para peneliti menjelaskan bahwa bayi prematur sering menghadapi berbagai tantangan perkembangan neurologis, koordinasi mengisap-menelan-bernapas yang belum matang, pengalaman medis invasif selama perawatan NICU, serta keterlambatan perkembangan sensorik oral. Kombinasi berbagai faktor tersebut dapat menyebabkan anak mengalami kesulitan menerima tekstur makanan baru, mudah menolak makanan tertentu, atau mengalami kecemasan saat makan. Oleh karena itu, gangguan makan pada anak prematur tidak semata-mata disebabkan oleh faktor perilaku, tetapi merupakan kondisi kompleks yang melibatkan aspek neurologis, perkembangan, sensorik, dan medis.

Temuan penelitian ini memberikan pesan penting bagi tenaga kesehatan dan orang tua bahwa tindak lanjut terhadap bayi prematur tidak seharusnya berhenti setelah kondisi medis stabil atau setelah keluar dari NICU. Pemantauan perkembangan makan, pertumbuhan, kemampuan oral-motor, status gizi, serta perkembangan neurobehavioral perlu dilakukan secara berkala hingga usia sekolah. Pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter anak, ahli gizi, terapis wicara, terapis okupasi, psikolog, dan keluarga dinilai sangat penting untuk mendeteksi gangguan sejak dini dan memberikan intervensi yang tepat.

Penelitian ini semakin memperkuat bukti bahwa anak yang lahir prematur merupakan kelompok dengan risiko tinggi mengalami gangguan makan jangka panjang. Dengan tingginya prevalensi gangguan makan yang mencapai lebih dari 70%, serta ditemukannya penggunaan NGT berkepanjangan dan usia gestasi rendah sebagai faktor risiko utama, para peneliti merekomendasikan agar program tindak lanjut bayi prematur diperluas hingga usia sekolah. Strategi ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup anak, memperbaiki status gizi, mendukung perkembangan neurologis yang optimal, dan mencegah dampak jangka panjang terhadap kesehatan serta kemampuan belajar.

Daftar Pustaka

  • Baldassarre ME, Mileto V, Di Mauro A, Cirrottola S, Mazzarelli MP, Graziano G, Pennetta F, Grosso F, Rizzo V, Capozza M, Pellicani S, Laforgia N. Feeding difficulties in preterm-born children aged 0–7 years: an observational cohort study. Frontiers in Pediatrics. 2026;14:1827238. doi:10.3389/fped.2026.1827238.
  • Baldassarre ME, et al. PubMed PMID: 42255915; PMCID: PMC13233402. Frontiers in Pediatrics. 2026.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *