Klinik Picky Eaters

KLINIK KESULITAN MAKAN & GANGGUAN BERAT BADAN

Perkembangan Kemampuan Makan Anak dan Picky Eating: Perspektif Perkembangan, Sensorik, Motorik, dan Klinis

Perkembangan Kemampuan Makan Anak dan Picky Eating: Perspektif Perkembangan, Sensorik, Motorik, dan Klinis

Pertimbangan Perkembangan dan Feeding Milestones

Sandiaz Yudhasmara, Widodo Judarwanto

Makan merupakan salah satu tugas perkembangan paling kompleks pada masa kanak-kanak karena membutuhkan integrasi antara kemampuan motorik oral, koordinasi sensorik, regulasi emosi, perkembangan kognitif, komunikasi, serta interaksi sosial. Kemampuan makan tidak muncul sekaligus, tetapi berkembang bertahap sejak refleks mengisap dan menelan pada bayi hingga kemampuan makan mandiri dan mengikuti aturan makan bersama keluarga pada usia prasekolah. Karena itu, penilaian kesulitan makan sebaiknya tidak hanya menanyakan “anak mau makan apa”, tetapi juga menilai bagaimana anak makan, kemampuan oral-motoriknya, respons terhadap tekstur dan rasa, kemampuan menerima variasi makanan, suasana saat makan, pertumbuhan, serta dampaknya terhadap fungsi keluarga. Literatur mutakhir menunjukkan bahwa picky eating merupakan spektrum yang luas: sebagian merupakan variasi perkembangan normal, sedangkan sebagian kecil dapat menetap dan berhubungan dengan keterbatasan diet, gangguan pertumbuhan, kekurangan zat gizi, atau tekanan psikososial. (PubMed Central (PMC))

Perubahan perkembangan makan juga tidak selalu identik dengan satu “milestone” yang berdiri sendiri. Perilaku makan berkaitan dengan berbagai ranah perkembangan, terutama motorik, sosial-emosional, bahasa, sensorik, dan kognitif. Oleh karena itu, keterlambatan atau kesulitan makan yang menetap perlu dipandang dalam konteks perkembangan anak secara keseluruhan. Pendekatan modern sebaiknya menghindari dua ekstrem, yaitu menganggap semua picky eating sebagai penyakit dan sebaliknya menganggap semua kesulitan makan sebagai fase yang pasti akan hilang. Yang lebih penting adalah melihat persistensi, derajat pembatasan makanan, kecukupan nutrisi, pertumbuhan, kemampuan makan, serta gangguan terhadap kehidupan sehari-hari. (PubMed Central (PMC))

Tabel 1. Pemetaan Perkembangan Kemampuan Makan Anak

Usia Perkembangan utama Kemampuan oral-motor/sensorik Perilaku makan Perkembangan sosial-kognitif Hal yang perlu diperhatikan
0–3 bulan Makan terutama bersifat refleks Mengisap, menelan, koordinasi mengisap–menelan–bernapas mulai berkembang Menunjukkan tanda lapar dan kenyang Mengenali suara dan sentuhan pengasuh Kesulitan koordinasi makan, batuk/tersedak berulang, atau masalah intake perlu diperhatikan
3–6 bulan Kontrol kepala dan tubuh semakin baik Kontrol oral berkembang dan bayi semakin siap terhadap pengalaman sensorik baru Mulai memperhatikan makanan dan aktivitas makan Interaksi sosial saat makan semakin jelas Kesiapan makan perlu dinilai secara individual, bukan hanya berdasarkan usia
6–9 bulan Transisi menuju makanan pendamping Mulai belajar mengolah makanan dengan mulut; kemampuan menggenggam berkembang Meraih makanan, membawa benda/makanan ke mulut, mulai mencoba berbagai tekstur Mulai menunjukkan preferensi dan respons terhadap rasa Tekstur dan variasi makanan mulai menjadi bagian penting perkembangan
9–12 bulan Kemandirian makan mulai meningkat Kemampuan mengunyah dan memindahkan makanan di mulut semakin matang Mulai makan sendiri dengan tangan dan berpartisipasi dalam waktu makan Meniru perilaku makan orang lain Penolakan terhadap makanan tertentu dapat muncul, tetapi variasi diet tetap perlu dipantau
12–18 bulan Eksplorasi dan kemandirian meningkat Kemampuan menggunakan alat makan mulai berkembang Mulai memilih makanan, minum dari cangkir, makan bersama keluarga Meniru dan mengikuti rutinitas makan Penolakan makanan dapat meningkat seiring perkembangan otonomi
18–24 bulan Autonomi semakin kuat Kontrol oral-motor dan penggunaan alat makan berkembang Dapat menunjukkan “suka” dan “tidak suka”; variasi makanan dapat menurun Memahami instruksi sederhana dan rutinitas Food neophobia mulai semakin terlihat pada sebagian anak
2–3 tahun Keterampilan makan semakin mandiri Mengunyah dan menggunakan alat makan semakin terkoordinasi Preferensi makanan dapat menjadi kuat Mulai memahami aturan sederhana di meja makan Periode food neophobia/picky eating sering menonjol
3–4 tahun Keterampilan makan semakin matang Kemampuan menggunakan sendok/garpu dan mengelola berbagai tekstur semakin baik Dapat mengikuti pola makan keluarga dengan lebih konsisten Percakapan dan interaksi sosial saat makan berkembang Penolakan ekstrem terhadap banyak tekstur/rasa perlu dievaluasi
4–5 tahun Kemandirian makan semakin baik Kemampuan makan semakin terkoordinasi Dapat mengikuti rutinitas makan dan aturan meja makan Makan menjadi bagian penting dari interaksi sosial Picky eating yang sangat menetap, diet sangat terbatas, atau mengganggu pertumbuhan memerlukan perhatian klinis
>5 tahun Keterampilan makan umumnya semakin otomatis Kemampuan oral-motor lebih matang Variasi makanan idealnya semakin berkembang Anak semakin mampu memahami pilihan dan konsekuensi Persistensi selektivitas berat perlu dibedakan dari preferensi makanan biasa atau gangguan makan

Catatan: tabel ini merupakan kerangka perkembangan umum, bukan alat diagnosis. Kecepatan perkembangan setiap anak dapat berbeda dan penilaian harus mempertimbangkan kondisi individual.

Masa Bayi 0–6 Bulan: Fondasi Makan

Pada awal kehidupan, makan terutama bergantung pada refleks mengisap, menelan, dan koordinasi pernapasan. Kemampuan tersebut merupakan dasar penting untuk memperoleh asupan secara aman dan efisien. Selain fungsi nutrisi, aktivitas makan juga merupakan pengalaman sensorik dan sosial. Bayi secara bertahap belajar mengenali suara, sentuhan, ekspresi, serta pola interaksi pengasuh. Karena itu, pemberian makan pada periode ini bukan hanya proses memasukkan nutrisi, tetapi juga bagian dari perkembangan hubungan sosial dan regulasi bayi.

Dari perspektif klinis, kesulitan makan pada bayi perlu diperhatikan apabila terdapat tanda seperti kesulitan koordinasi, masalah menelan, batuk atau tersedak berulang saat makan, kelelahan ketika makan, atau asupan yang tidak memadai. Namun, satu perilaku saja tidak cukup untuk menentukan adanya gangguan makan; diperlukan penilaian menyeluruh terhadap kondisi medis, perkembangan, nutrisi, dan pola pertumbuhan.

Usia 6–12 Bulan: Transisi Menuju Makanan Padat

Periode 6–12 bulan merupakan fase penting ketika anak mulai beralih dari pola makan yang terutama berbasis susu menuju pengalaman makanan dengan tekstur, rasa, aroma, dan bentuk yang semakin beragam. Anak mulai mengembangkan koordinasi tangan–mulut, meraih makanan, memasukkan benda atau makanan ke mulut, serta belajar mengolah makanan dengan kemampuan oral-motor yang semakin matang. Pengalaman ini menjadi dasar bagi perkembangan kemampuan makan mandiri.

Pengenalan berbagai makanan dan tekstur secara sesuai perkembangan memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar. Penolakan terhadap makanan baru dapat terjadi dan tidak otomatis berarti picky eating patologis. Food neophobia merupakan fenomena perkembangan yang berbeda dari picky eating: neophobia terutama berkaitan dengan keengganan mencoba makanan yang belum dikenal, sedangkan picky eating memiliki cakupan lebih luas dan dapat mencakup penolakan terhadap makanan yang sudah dikenal maupun yang baru. (PubMed Central (PMC))

Usia 12–24 Bulan: Otonomi dan Munculnya Preferensi

Pada usia satu sampai dua tahun, perkembangan otonomi anak menjadi semakin kuat. Anak mulai ingin melakukan berbagai aktivitas sendiri, termasuk makan. Mereka mulai menggunakan sendok atau garpu meskipun belum sempurna, minum dari cangkir, mengambil makanan dengan tangan, dan menunjukkan preferensi terhadap makanan tertentu. Pada fase ini, perilaku “mau sendiri”, “tidak mau”, atau perubahan pilihan makanan dapat menjadi bagian dari perkembangan normal.

Namun, respons orang tua juga berperan dalam membentuk pengalaman makan. Tekanan berlebihan untuk menghabiskan makanan, konflik berkepanjangan di meja makan, atau pola pemberian makan yang sangat mengontrol dapat berhubungan dengan pengalaman makan yang kurang positif. Literatur menunjukkan bahwa perilaku anak dan praktik pemberian makan orang tua saling berinteraksi, sehingga evaluasi picky eating sebaiknya tidak hanya berfokus pada anak tetapi juga pada hubungan anak–pengasuh selama makan. (PubMed Central (PMC))

Usia 2–5 Tahun: Periode Penting Food Neophobia dan Picky Eating

Usia 2–5 tahun merupakan periode penting dalam perkembangan perilaku makan. Anak semakin mandiri, semakin mampu menyatakan pilihan, dan pada saat yang sama dapat menunjukkan peningkatan keengganan terhadap makanan baru. Secara epidemiologis, food neophobia dan picky eating sering menonjol pada usia sekitar 2–6 tahun. Fenomena ini dapat merupakan bagian dari perkembangan normal dan pada banyak anak berkurang seiring bertambahnya usia. (PubMed Central (PMC))

Meskipun demikian, istilah “picky eater” tidak boleh digunakan secara otomatis untuk semua anak yang tidak menyukai beberapa makanan. Yang lebih penting adalah seberapa luas makanan yang ditolak, berapa banyak makanan yang masih dapat diterima, apakah anak memperoleh zat gizi yang cukup, apakah pertumbuhan tetap berjalan, dan apakah perilaku tersebut mengganggu kehidupan sehari-hari. Tinjauan sistematis menunjukkan bahwa hubungan picky eating dengan status berat badan secara keseluruhan tidak selalu konsisten; risiko lebih menjadi perhatian pada kelompok dengan picky eating yang berat atau menetap. (PubMed Central (PMC))

Tabel 2. Membedakan Food Neophobia, Picky Eating, dan Masalah Makan Klinis

Karakteristik Food neophobia Picky eating Kesulitan makan yang bermakna secara klinis
Inti masalah Enggan mencoba makanan baru Variasi makanan terbatas dan menolak makanan tertentu Pembatasan/masalah makan yang menyebabkan dampak fungsional atau kesehatan
Makanan yang ditolak Terutama makanan yang belum dikenal Dapat mencakup makanan baru dan makanan yang sudah dikenal Dapat sangat luas dan menetap
Usia Sering meningkat pada masa prasekolah Sering muncul pada masa kanak-kanak awal Dapat berlangsung lebih lama
Makna perkembangan Dapat merupakan fase normal Sering merupakan bagian dari perkembangan normal Memerlukan evaluasi individual
Dampak nutrisi Biasanya terbatas bila diet tetap beragam Bergantung pada tingkat selektivitas Dapat menyebabkan kekurangan nutrisi
Dampak pertumbuhan Umumnya tidak bermakna Tidak selalu mengganggu pertumbuhan Dapat disertai gangguan pertumbuhan
Dampak keluarga Dapat menimbulkan konflik ringan Dapat meningkatkan stres saat makan Dapat mengganggu kehidupan keluarga secara bermakna
Pendekatan Pengalaman positif dan paparan bertahap Responsive feeding dan pengembangan variasi Evaluasi multidisipliner bila diperlukan

Perbedaan tersebut penting karena tidak setiap anak yang menolak brokoli, ikan, atau makanan tertentu dapat disebut mengalami gangguan makan. Sebaliknya, diet yang sangat sempit, penolakan makanan yang menetap, ketergantungan pada bentuk makanan tertentu, gangguan pertumbuhan, atau dampak psikososial yang nyata merupakan alasan untuk melakukan evaluasi lebih mendalam.

Perkembangan Rasa dan Food Neophobia

Rasa merupakan salah satu sistem sensorik penting yang membantu manusia mengevaluasi makanan. Pada masa bayi, pengalaman terhadap berbagai rasa dan tekstur berkembang seiring diperkenalkannya makanan pendamping. Setelah memasuki masa kanak-kanak awal, sebagian anak mengalami peningkatan kehati-hatian terhadap makanan yang belum dikenal. Fenomena tersebut dikenal sebagai food neophobia dan dipandang memiliki kemungkinan fungsi protektif dalam perkembangan manusia karena membantu anak lebih berhati-hati terhadap sesuatu yang belum dikenalnya.

Namun, konsep tersebut perlu dipahami secara hati-hati. Food neophobia bukan berarti anak memiliki alergi terhadap makanan baru, dan penolakan terhadap makanan baru tidak dengan sendirinya menunjukkan penyakit. Sebaliknya, apabila penolakan semakin luas, berlangsung lama, mencakup makanan yang sebelumnya dapat diterima, atau menyebabkan diet menjadi sangat terbatas, perlu dipertimbangkan apakah perilaku tersebut telah berkembang menjadi picky/selective eating yang lebih bermakna secara klinis.

Tabel 3. Pemetaan Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Makan

Domain Faktor Contoh manifestasi
Motorik oral Mengunyah, menelan, koordinasi oral Kesulitan mengolah tekstur tertentu
Sensorik Rasa, aroma, tekstur, suhu, tampilan Menolak makanan berdasarkan tekstur atau bau
Motorik halus Mengambil makanan, menggunakan alat makan Kesulitan makan mandiri
Kognitif Mengenali makanan, memahami instruksi Memahami aturan makan dan pilihan makanan
Bahasa Menyatakan lapar, kenyang, suka, tidak suka Mengomunikasikan kebutuhan makan
Sosial Meniru orang tua dan makan bersama Makan sebagai aktivitas keluarga
Emosional Regulasi emosi dan respons terhadap tekanan Menangis atau menghindari meja makan
Temperamen Sensitivitas dan respons terhadap perubahan Sulit menerima makanan baru
Lingkungan Pola makan keluarga dan suasana makan Konflik atau pengalaman positif saat makan
Pengasuhan Respons orang tua terhadap penolakan Tekanan, pembatasan, atau pendekatan responsif
Medis Kondisi kesehatan yang memengaruhi makan Nyeri, mual, gangguan menelan, atau masalah gastrointestinal
Nutrisi Kecukupan energi dan zat gizi Diet sangat terbatas atau kekurangan zat gizi
Perkembangan Integrasi berbagai kemampuan Kesulitan makan sebagai bagian dari masalah perkembangan yang lebih luas

Kapan Picky Eating Perlu Mendapat Perhatian?

Secara ilmiah, perhatian sebaiknya tidak ditentukan hanya berdasarkan jumlah makanan yang ditolak. Anak dapat memiliki daftar makanan favorit yang relatif terbatas tetapi tetap tumbuh baik dan memperoleh diet yang cukup. Sebaliknya, anak yang hanya menerima sedikit jenis makanan dapat menghadapi risiko nutrisi meskipun secara kasatmata tampak aktif. Karena itu, evaluasi perlu mencakup pertumbuhan, pola diet, kemampuan makan, gejala yang menyertai, fungsi sehari-hari, dan kondisi psikososial keluarga. Literatur terbaru menekankan pentingnya membedakan variasi perkembangan normal dengan picky eating persisten yang memiliki dampak fungsional.

Tabel 4. Indikator Pemantauan pada Anak dengan Picky Eating

Aspek Pertanyaan utama
Pertumbuhan Apakah berat dan tinggi mengikuti pola pertumbuhan anak?
Variasi diet Berapa banyak kelompok makanan yang masih dapat diterima?
Tekstur Apakah anak hanya menerima tekstur tertentu?
Konsistensi Apakah pilihan makanan sangat kaku atau bergantung pada merek/bentuk tertentu?
Kemampuan makan Apakah anak dapat mengunyah, menelan, dan makan sesuai tahap perkembangan?
Gejala Apakah terdapat keluhan yang menyertai dan perlu evaluasi medis?
Waktu makan Apakah makan berlangsung sangat lama atau selalu menimbulkan konflik?
Psikososial Apakah anak menghindari kegiatan sosial karena makanan?
Keluarga Apakah orang tua harus terus membuat menu terpisah?
Nutrisi Apakah ada risiko kekurangan zat gizi akibat diet yang sangat terbatas?
Perjalanan waktu Apakah masalah membaik, menetap, atau semakin berat?

Kesimpulan

Perkembangan makan anak merupakan proses multidimensional yang berlangsung sejak refleks mengisap dan menelan pada bayi hingga kemampuan makan mandiri dan sosial pada usia prasekolah. Food neophobia dan picky eating sering muncul pada masa perkembangan tertentu, terutama sekitar usia 2–6 tahun, dan pada banyak anak dapat berkurang seiring waktu. Namun, tidak semua kesulitan makan dapat dianggap sebagai fase normal. Penilaian yang lebih tepat harus mempertimbangkan persistensi, luasnya pembatasan makanan, kemampuan oral-motor dan sensorik, kecukupan nutrisi, pertumbuhan, kondisi medis, serta dampak terhadap fungsi anak dan keluarga. Dengan pendekatan tersebut, tenaga kesehatan dan orang tua dapat menghindari dua kesalahan sekaligus: menganggap semua picky eating sebagai penyakit atau mengabaikan anak dengan kesulitan makan yang benar-benar membutuhkan evaluasi dan dukungan. 

  • Daftar pustaka
  • Pjetraj D, Pjetraj A, Sayed D, et al. Decoding Picky Eating in Children: A Temporary Phase or a Hidden Health Concern? Nutrients. 2025;17(24):3884. doi:10.3390/nu17243884. (PubMed Central (PMC))
  • Beyond “It’s Just a Phase”: A Review of Picky Eating in Children. 2026. (PubMed Central (PMC))
  • Risk Factors and Consequences of Food Neophobia and Pickiness in Children and Adolescents: A Systematic Review. (PubMed Central (PMC))
  • Dovey TM, Staples PA, Gibson EL, Halford JCG. Food neophobia and ‘picky/fussy’ eating in children: a review. Appetite. 2008;50(2–3):181–193.
  • Taylor CM, Wernimont SM, Northstone K, Emmett PM. Picky/fussy eating in children: Review of definitions, assessment, prevalence and dietary intakes. Appetite. 2015;95:349–359.
  • Picky eating in children: causes and consequences. Proceedings of the Nutrition Society. (PubMed Central (PMC))
  • Childhood fussy/picky eating behaviours: a systematic review and synthesis of qualitative studies. (PubMed Central (PMC))
  • Neophobia—A Natural Developmental Stage or Feeding Difficulties for Children? (PubMed Central (PMC))
  • Association of Picky Eating and Food Neophobia with Weight: A Systematic Review. (PubMed Central (PMC))

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *