Penyebab Kesulitan Makan pada Anak Berdasarkan Konsep Pediatric Feeding Disorder (PFD): Penjelasan Mendalam Berdasarkan Konsensus Internasional dan StatPearls 2025
Kesulitan makan (feeding difficulties) merupakan salah satu keluhan yang paling sering disampaikan orang tua saat membawa anak ke dokter. Namun, tidak semua anak yang sulit makan hanya mengalami picky eater. Pada sebagian anak, kesulitan makan merupakan manifestasi dari Pediatric Feeding Disorder (PFD), yaitu suatu gangguan makan yang kompleks, berlangsung menetap, dan berdampak terhadap pertumbuhan, status gizi, perkembangan, maupun kualitas hidup anak dan keluarganya.
Menurut konsensus internasional yang dipublikasikan dalam Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition tahun 2019 dan diperbarui dalam StatPearls (2025), PFD merupakan gangguan asupan oral yang tidak sesuai dengan usia, terjadi setiap hari selama sedikitnya dua minggu, serta disertai gangguan pada satu atau lebih dari empat domain, yaitu medis, nutrisi, keterampilan makan (feeding skills), dan psikososial. Keempat domain tersebut saling berinteraksi sehingga sebagian besar anak memiliki lebih dari satu penyebab yang terjadi secara bersamaan.
1. Faktor Medis (Medical Factors)
Faktor medis merupakan penyebab yang paling sering mendasari PFD. Berbagai penyakit dapat mengganggu nafsu makan, menyebabkan rasa nyeri ketika makan, menghambat proses menelan, atau meningkatkan kebutuhan energi sehingga anak tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisinya.
A. Penyakit Saluran Cerna
Gangguan saluran cerna merupakan kelompok penyebab terbesar. Anak dengan gastroesophageal reflux disease (GERD) sering mengalami muntah, nyeri dada, rasa panas di dada, atau nyeri saat menelan sehingga setiap kali makan anak mengaitkan makanan dengan rasa sakit. Akibatnya timbul perilaku menolak makan (food refusal).
Pada gastroparesis (delayed gastric emptying), pengosongan lambung berlangsung lambat sehingga anak cepat kenyang, mudah mual, muntah, dan tidak mampu menghabiskan porsi makan sesuai usianya.
Anak dengan eosinophilic esophagitis (EoE) mengalami peradangan kronis pada kerongkongan akibat respons imun terhadap makanan. Kondisi ini menyebabkan nyeri saat menelan, makanan terasa tersangkut, hingga anak hanya mau makanan lunak.
Penyakit lain yang dapat menyebabkan PFD antara lain:
– Penyakit celiac
– Duodenitis
– Penyakit Hirschsprung
– Gangguan motilitas usus
– Dilatasi segmental usus kongenital
B. Penyakit Neurologis
Gangguan sistem saraf sangat memengaruhi kemampuan makan.
Pada cerebral palsy, koordinasi mengunyah dan menelan terganggu sehingga anak mudah tersedak, batuk, atau mengalami aspirasi ketika makan.
Penyakit neuromuskular, cedera otak, epilepsi, dan stroke juga dapat menyebabkan kelemahan otot mulut serta gangguan koordinasi mengisap–menelan–bernapas.
C. Penyakit Jantung dan Paru
Bayi dengan penyakit jantung bawaan sering mengalami kelelahan saat menyusu karena kebutuhan energi meningkat. Demikian pula pada bronkopulmonari displasia dan fibrosis kistik, gangguan pernapasan menyebabkan bayi sulit mengoordinasikan proses makan dengan bernapas.
D. Kelainan Anatomi
Kelainan struktur seperti:
– celah bibir dan langit-langit,
– atresia esofagus,
– laringomalasia,
– atresia koana,
– mikrognatia,
dapat menyebabkan kesulitan mengisap, menelan, maupun mengunyah sejak bayi.
E. Prematuritas
Bayi prematur memiliki koordinasi mengisap–menelan–bernapas yang belum matang. Selain itu mereka sering memerlukan penggunaan selang makan dalam waktu lama sehingga keterampilan makan oral berkembang lebih lambat dibandingkan bayi cukup bulan.
2. Faktor Nutrisi (Nutritional Factors)
Gangguan nutrisi terjadi apabila makanan yang dikonsumsi tidak mampu memenuhi kebutuhan metabolisme anak.
A. Alergi Makanan
Alergi protein susu sapi maupun alergi makanan lainnya dapat menyebabkan muntah kronis, refluks, konstipasi, diare, kolik, enterokolitis, bahkan gangguan pertumbuhan. Karena setiap kali makan muncul rasa tidak nyaman, anak akhirnya menolak makan.
B. Intoleransi Makanan
Beberapa anak mengalami intoleransi laktosa atau intoleransi terhadap komponen makanan tertentu sehingga muncul kembung, nyeri perut, atau diare setelah makan.
C. Diet yang Terlalu Restriktif
Diet eliminasi yang tidak tepat, pembatasan makanan berlebihan, ataupun selektivitas makanan akibat gangguan sensorik dapat menyebabkan kekurangan energi, protein, zat besi, vitamin D, seng, dan berbagai mikronutrien lainnya.
D. Gangguan Penyerapan
Penyakit celiac dan fibrosis kistik mengganggu penyerapan nutrisi sehingga walaupun anak makan cukup, berat badan tetap sulit naik.
E. Kesalahan Pemberian Makan
Formula yang terlalu encer, volume makan yang terlalu sedikit, atau jadwal makan yang tidak sesuai juga dapat menyebabkan gangguan nutrisi dan memperburuk PFD.
3. Faktor Keterampilan Makan (Feeding Skill Factors)
Agar anak dapat makan dengan baik diperlukan keterampilan motorik oral yang berkembang sesuai usia.
A. Gangguan Oral-Motor
Kelemahan otot bibir, lidah, rahang, maupun pipi menyebabkan anak sulit mengisap, menggigit, mengunyah, dan memindahkan makanan ke belakang rongga mulut.
Gangguan ini sering dijumpai pada:
– cerebral palsy,
– penyakit neuromuskular,
– prematuritas,
– kelainan bawaan,
– cedera otak.
B. Disfagia
Disfagia merupakan gangguan menelan akibat kelainan neurologis atau anatomi. Anak dapat mengalami batuk, tersedak, suara basah setelah makan, bahkan aspirasi yang menyebabkan pneumonia berulang.
C. Keterlambatan Paparan Tekstur
Anak yang terlambat dikenalkan makanan lumat, cincang, atau makanan keluarga sering mengalami kesulitan menerima tekstur baru sehingga tetap bergantung pada makanan halus.
D. Penggunaan Botol Terlalu Lama
Penggunaan botol hingga usia yang lebih besar dapat menghambat perkembangan kemampuan mengunyah dan minum menggunakan gelas.
E. Gangguan Transisi
Sebagian anak menolak berpindah dari makanan bubur ke makanan padat walaupun kemampuan perkembangan sebenarnya sudah mencukupi. Kondisi ini sering ditemukan pada anak dengan gangguan perkembangan.
4. Faktor Psikososial (Psychosocial Factors)
Aspek psikososial memiliki peranan yang sangat besar dalam keberhasilan proses makan.
A. Autism Spectrum Disorder (ASD)
Anak dengan autisme sering menunjukkan selektivitas makanan yang ekstrem berdasarkan warna, tekstur, suhu, bau, atau bentuk makanan.
B. Avoidant Restrictive Food Intake Disorder (ARFID)
ARFID merupakan gangguan makan yang menyebabkan pembatasan makanan berat sehingga mengganggu status gizi tanpa disertai gangguan citra tubuh seperti anoreksia nervosa.
C. Trauma Saat Makan
Pengalaman tersedak, muntah hebat, pemasangan selang makan, atau dipaksa makan dapat menimbulkan ketakutan sehingga anak menghindari makan.
D. Gangguan Pengasuhan
Depresi pascapersalinan, kecemasan orang tua, konflik saat makan, tekanan agar anak menghabiskan makanan, maupun hubungan orang tua-anak yang kurang baik dapat memperburuk feeding difficulties.
E. Faktor Lingkungan
Rutinitas makan yang tidak teratur, penggunaan gawai saat makan, kurangnya interaksi keluarga, serta keterbatasan akses terhadap makanan bergizi juga merupakan faktor yang dapat mempertahankan PFD.
Interaksi Antar Domain
Konsensus PFD menegaskan bahwa penyebab kesulitan makan hampir tidak pernah berdiri sendiri. Seorang anak dapat mengalami GERD yang menyebabkan nyeri saat makan (domain medis), kemudian menjadi takut makan (domain psikososial), mengalami keterlambatan mengunyah karena kurang latihan (feeding skills), dan akhirnya mengalami gangguan pertumbuhan akibat asupan yang tidak mencukupi (domain nutrisi). Oleh karena itu, keberhasilan terapi sangat bergantung pada kemampuan tenaga kesehatan mengenali seluruh faktor yang berkontribusi, bukan hanya menangani satu gejala saja.
Kesimpulan
Pediatric Feeding Disorder merupakan gangguan makan yang bersifat multifaktorial dengan empat domain utama, yaitu medis, nutrisi, keterampilan makan, dan psikososial. Berbagai penyakit saluran cerna, neurologis, kelainan anatomi, prematuritas, alergi makanan, gangguan oral-motor, disfagia, autisme, trauma makan, hingga stres pengasuh dapat menjadi penyebab kesulitan makan pada anak. Karena sebagian besar anak memiliki lebih dari satu faktor penyebab, evaluasi dan penatalaksanaan harus dilakukan secara multidisiplin agar penyebab utama dapat diidentifikasi dan ditangani secara menyeluruh. Pendekatan ini terbukti meningkatkan keberhasilan terapi, memperbaiki status gizi, mendukung tumbuh kembang, serta mengurangi beban psikologis keluarga.
Referensi
1. Goday PS, et al. Pediatric Feeding Disorder: Consensus Definition and Conceptual Framework. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition. 2019.
2. Daley SF, Riaz Y, Sergi C. Pediatric Feeding Disorders: Recognition, Diagnosis, and Management. StatPearls Publishing. Updated June 13, 2025.










Leave a Reply