Penyebab Dewasa Menjadi Picky Eater yang Sering Tidak Disadari
Tinjauan Ilmiah Mengenai Kebiasaan Makan, Alergi Makanan, Konstipasi, Refluks, Defisiensi Zat Besi, Gangguan Oral Motor, dan Penyakit yang Mendasari pada Dewasa
Picky eater tidak hanya terjadi pada anak, tetapi juga dapat ditemukan pada orang dewasa. Pada kelompok usia dewasa, perilaku memilih makanan umumnya bukan merupakan bagian dari perkembangan normal, melainkan berkaitan dengan penyakit saluran cerna, alergi makanan, gangguan menelan, penyakit kronis, gangguan psikologis, maupun kebiasaan makan yang telah berlangsung lama. Banyak pasien tidak menyadari bahwa penolakan terhadap makanan tertentu dapat dipicu oleh rasa tidak nyaman setelah makan, nyeri saat menelan, refluks gastroesofageal, konstipasi kronis, defisiensi zat besi, atau gangguan fungsi rongga mulut. Akibatnya, asupan makanan menjadi semakin terbatas sehingga meningkatkan risiko malnutrisi, penurunan berat badan, defisiensi mikronutrien, penurunan massa otot, dan kualitas hidup yang buruk. Artikel ini membahas penyebab, mekanisme, manifestasi klinis, diagnosis, dan penatalaksanaan picky eater pada dewasa berdasarkan Evidence-Based Medicine.
Perilaku picky eater pada orang dewasa lebih jarang dibandingkan pada anak, tetapi tetap memiliki dampak klinis yang penting. Sebagian merupakan kelanjutan dari kebiasaan makan sejak masa kanak-kanak, sedangkan sebagian lainnya muncul akibat penyakit saluran cerna, gangguan menelan, penyakit kronis, gangguan psikologis, atau pengalaman tidak menyenangkan saat makan.
Pada orang dewasa, kesulitan makan sering kali tidak hanya menyebabkan penurunan berat badan, tetapi juga dapat mengganggu produktivitas, aktivitas sehari-hari, kualitas hidup, serta meningkatkan risiko kekurangan zat gizi. Oleh karena itu, setiap pasien dengan perilaku memilih makanan yang berat atau berlangsung lama memerlukan evaluasi untuk mencari penyebab yang mendasarinya.
Penyebab yang Sering Tidak Disadari
1. Kebiasaan Makan yang Kurang Tepat
Pola makan yang berlangsung bertahun-tahun dapat menyebabkan variasi makanan semakin sempit.
Faktor yang sering ditemukan meliputi:
• Melewatkan sarapan.
• Konsumsi makanan cepat saji secara berlebihan.
• Jadwal makan tidak teratur.
• Konsumsi kopi atau minuman berkafein berlebihan.
• Diet ketat tanpa pengawasan tenaga kesehatan.
• Ketakutan mencoba makanan baru.
2. Alergi Makanan
Sebagian orang dewasa mengalami alergi makanan yang menyebabkan rasa tidak nyaman setiap kali mengonsumsi makanan tertentu.
Gejala meliputi:
• Nyeri perut.
• Mual.
• Muntah.
• Refluks.
• Diare.
• Konstipasi.
• Gatal pada mulut.
• Bibir atau lidah bengkak.
• Sesak napas pada reaksi yang berat.
Akibatnya pasien menghindari berbagai jenis makanan sehingga pilihan makanan menjadi sangat terbatas.
3. Konstipasi Kronis
Konstipasi kronis dapat menyebabkan:
• Perut terasa penuh.
• Cepat kenyang.
• Kembung.
• Nyeri perut.
• Nafsu makan menurun.
Perbaikan konstipasi sering diikuti oleh perbaikan nafsu makan.
4. Penyakit Refluks Gastroesofageal
Refluks gastroesofageal merupakan salah satu penyebab paling sering kesulitan makan pada dewasa.
Keluhan meliputi:
• Nyeri ulu hati.
• Rasa panas di dada.
• Mual setelah makan.
• Cepat kenyang.
• Batuk kronis.
• Regurgitasi.
• Menghindari makanan tertentu.
5. Defisiensi Zat Besi
Defisiensi zat besi dapat menurunkan nafsu makan serta menyebabkan:
• Mudah lelah.
• Pucat.
• Penurunan konsentrasi.
• Penurunan kemampuan bekerja.
• Rambut rontok.
• Kuku rapuh.
Pada sebagian pasien juga dapat ditemukan gangguan menelan akibat sindrom Plummer-Vinson.
6. Gangguan Oral Motor dan Gangguan Menelan
Gangguan fungsi rongga mulut maupun disfagia dapat menyebabkan pasien menghindari makanan tertentu.
Gejala meliputi:
• Sulit mengunyah.
• Nyeri saat menelan.
• Makanan sering tersangkut.
• Mudah tersedak.
• Waktu makan menjadi lama.
Penyebabnya dapat berupa penyakit neurologis, gangguan otot, kelainan rongga mulut, atau penyakit kerongkongan.
7. Faktor Psikologis dan Penyakit Kronis
Pada orang dewasa, picky eater juga dapat dipengaruhi oleh:
• Gangguan kecemasan.
• Depresi.
• Gangguan makan seperti Avoidant Restrictive Food Intake Disorder.
• Diabetes melitus.
• Penyakit ginjal kronis.
• Penyakit hati kronis.
• Kanker.
• Efek samping obat-obatan.
Dampak Picky Eater yang Berkepanjangan
Apabila tidak ditangani, pasien berisiko mengalami:
• Penurunan berat badan.
• Malnutrisi.
• Defisiensi vitamin dan mineral.
• Anemia.
• Penurunan massa otot.
• Penurunan daya tahan tubuh.
• Penurunan produktivitas.
• Penurunan kualitas hidup.
Pendekatan Diagnosis
Evaluasi dilakukan secara menyeluruh meliputi:
• Riwayat pola makan.
• Riwayat penurunan berat badan.
• Riwayat alergi.
• Gejala saluran cerna.
• Pola buang air besar.
• Riwayat penyakit kronis.
• Pemeriksaan rongga mulut.
• Penilaian fungsi mengunyah dan menelan.
• Pemeriksaan status gizi.
• Pemeriksaan laboratorium dan penunjang sesuai indikasi klinis.
Pendekatan multidisiplin diperlukan pada kasus yang kompleks.
Penatalaksanaan
Terapi disesuaikan dengan penyebab yang mendasari.
- Perbaikan pola makan dilakukan melalui edukasi nutrisi dan penyusunan pola makan yang seimbang.
- Konstipasi, refluks, maupun penyakit saluran cerna lainnya ditangani sesuai pedoman klinis.
- Defisiensi zat besi harus dikonfirmasi sebelum diberikan terapi.
- Gangguan menelan memerlukan evaluasi dan rehabilitasi yang sesuai.
- Apabila dicurigai alergi makanan, evaluasi dilakukan berdasarkan pedoman ilmiah terkini. Diet eliminasi hanya diberikan bila terdapat indikasi yang jelas. Oral Food Challenge tetap merupakan baku emas untuk menegakkan diagnosis alergi makanan pada pasien yang memenuhi kriteria dan dilakukan di fasilitas kesehatan dengan pengawasan dokter.
Kesimpulan
Picky eater pada orang dewasa bukan sekadar kebiasaan memilih makanan, tetapi dapat menjadi manifestasi penyakit saluran cerna, alergi makanan, konstipasi, refluks gastroesofageal, defisiensi zat besi, gangguan oral motor, gangguan menelan, penyakit kronis, maupun gangguan psikologis. Evaluasi yang komprehensif diperlukan untuk menemukan penyebab yang mendasari sehingga terapi dapat diberikan secara tepat. Pendekatan berbasis Evidence-Based Medicine membantu memperbaiki status gizi, mengatasi keluhan yang mendasari, meningkatkan kualitas hidup, dan mencegah komplikasi jangka panjang.




Leave a Reply