Klinik Picky Eaters

KLINIK KESULITAN MAKAN & GANGGUAN BERAT BADAN

Penggunaan Selang Makan (NGT) Tingkatkan Risiko Gangguan Makan Saat Besar

Lama Penggunaan Selang Makan pada Bayi Prematur Tingkatkan Risiko Gangguan Makan Saat Besar

Reportase Ilmiah Berdasarkan Penelitian Frontiers in Pediatrics (2026)

Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Frontiers in Pediatrics menemukan bahwa penggunaan selang makan melalui hidung atau Nasogastric Tube (NGT) dalam waktu yang lama merupakan faktor risiko terkuat terjadinya gangguan makan pada anak yang lahir prematur. Temuan ini memberikan pemahaman baru bahwa pengalaman makan pada masa awal kehidupan dapat memengaruhi kemampuan makan anak hingga bertahun-tahun kemudian.

Bayi prematur sering kali belum mampu mengisap, menelan, dan bernapas secara terkoordinasi karena organ dan sistem sarafnya belum berkembang sempurna. Oleh sebab itu, banyak bayi prematur memerlukan bantuan Nasogastric Tube (NGT), yaitu selang kecil yang dimasukkan melalui hidung menuju lambung untuk memenuhi kebutuhan nutrisi selama bayi belum mampu menyusu atau makan secara mandiri.

Meskipun penggunaan NGT sering kali menjadi tindakan yang menyelamatkan nyawa, penelitian menunjukkan bahwa penggunaan dalam jangka waktu yang lama dapat menimbulkan dampak jangka panjang terhadap kemampuan makan anak. Dalam penelitian yang melibatkan 116 anak yang lahir prematur, para peneliti menemukan bahwa anak yang pernah menggunakan NGT dalam waktu lebih lama memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami Pediatric Feeding Disorder (PFD) atau gangguan makan pada masa kanak-kanak.

Analisis statistik menunjukkan bahwa lama penggunaan NGT merupakan faktor risiko independen paling kuat dibandingkan berbagai faktor lain yang diteliti. Setelah memperhitungkan pengaruh faktor-faktor lain, anak dengan riwayat penggunaan NGT berkepanjangan memiliki risiko lebih dari sebelas kali lipat mengalami gangguan makan dibandingkan anak yang tidak memerlukan penggunaan NGT dalam waktu lama (Odds Ratio 11,34).

Gangguan makan yang dialami anak tidak hanya berupa sulit makan atau nafsu makan yang rendah. Sebagian anak menjadi sangat pemilih terhadap makanan tertentu, menolak tekstur baru, membutuhkan waktu makan yang sangat lama, mudah muntah ketika makan, atau mengalami kecemasan saat waktu makan tiba. Pada beberapa kasus, kondisi ini dapat menyebabkan berat badan sulit bertambah, kebutuhan gizi tidak tercukupi, dan pertumbuhan menjadi kurang optimal.

Para peneliti menjelaskan bahwa paparan selang makan dalam waktu lama dapat mengurangi kesempatan bayi untuk belajar mengisap, mengunyah, dan menelan secara alami. Selain itu, berbagai tindakan medis di area mulut dan hidung selama masa perawatan dapat meningkatkan sensitivitas rongga mulut sehingga sebagian anak menjadi tidak nyaman ketika mulai belajar makan. Faktor-faktor tersebut diperkirakan berperan dalam munculnya gangguan makan yang menetap hingga usia sekolah.

Meskipun demikian, para ahli menegaskan bahwa hasil penelitian ini bukan berarti penggunaan NGT harus dihindari. Pada banyak bayi prematur, NGT merupakan terapi yang sangat penting untuk menjaga asupan nutrisi, mencegah kekurangan gizi, dan mendukung kelangsungan hidup. Yang menjadi perhatian adalah mengurangi lama penggunaan NGT apabila kondisi bayi sudah memungkinkan, sekaligus memberikan latihan makan secara bertahap sesuai kesiapan perkembangan bayi.

Penelitian ini juga memperkuat pentingnya program tindak lanjut setelah bayi prematur pulang dari rumah sakit. Bayi yang pernah menggunakan NGT dalam waktu lama memerlukan pemantauan kemampuan makan, pertumbuhan, status gizi, serta perkembangan oral-motor secara berkala. Bila ditemukan tanda-tanda kesulitan makan, intervensi dini oleh dokter anak, ahli gizi, terapis wicara, dan terapis okupasi dapat membantu memperbaiki kemampuan makan serta mencegah gangguan yang lebih berat di kemudian hari.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan perawatan bayi prematur tidak hanya diukur dari keberhasilan menyelamatkan nyawa pada masa neonatal, tetapi juga dari kualitas tumbuh kembangnya dalam jangka panjang. Dengan pemantauan yang berkesinambungan dan penanganan multidisiplin, risiko gangguan makan pada anak prematur dapat dikenali lebih awal sehingga peluang anak untuk tumbuh sehat dan berkembang optimal menjadi semakin besar.

Daftar Pustaka

  • Baldassarre ME, Mileto V, Di Mauro A, Cirrottola S, Mazzarelli MP, Graziano G, Pennetta F, Grosso F, Rizzo V, Capozza M, Pellicani S, Laforgia N. Feeding difficulties in preterm-born children aged 0–7 years: an observational cohort study. Frontiers in Pediatrics. 2026;14:1827238. doi:10.3389/fped.2026.1827238. PMID: 42255915.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *