Pertanyaan
Saya berusia 42 tahun. Selama hampir satu tahun terakhir saya semakin sulit makan, cepat kenyang, sering mengalami perut kembung, nyeri ulu hati, mual, kadang sembelit lalu berganti diare, dan berat badan terus menurun meskipun saya tidak sedang menjalani program diet. Dokter mengatakan kemungkinan saya mengalami GERD, kemudian ada yang menduga IBS, bahkan ada yang menyarankan pemeriksaan penyakit celiac. Saya sudah beberapa kali minum obat lambung, tetapi keluhan hanya membaik sementara lalu kambuh kembali. Kadang saya juga merasa makanan seperti tersangkut saat menelan dan keluhan tampak lebih berat setelah mengonsumsi makanan tertentu. Apakah mungkin semua keluhan tersebut sebenarnya berhubungan dengan alergi makanan? Mengapa alergi makanan pada orang dewasa sering sulit dikenali? Bagaimana membedakannya dengan GERD, IBS, penyakit celiac, eosinophilic esophagitis, atau gangguan pencernaan lainnya? Benarkah Oral Food Challenge merupakan pemeriksaan terbaik untuk memastikan alergi makanan pada dewasa, dan bagaimana penanganan yang tepat agar nafsu makan, status gizi, berat badan, serta kualitas hidup dapat kembali membaik?
Jawaban
Alergi makanan dapat terjadi pada semua kelompok usia, termasuk dewasa. Banyak orang menganggap alergi makanan hanya menyebabkan biduran, gatal, atau bengkak pada bibir dan wajah. Kenyataannya, pada sebagian orang dewasa gejala justru didominasi oleh gangguan saluran cerna. Keluhan dapat berupa nyeri ulu hati, GERD, mual, muntah, cepat kenyang, perut kembung, nyeri perut, diare, konstipasi, disfagia, hingga penurunan nafsu makan. Karena gejalanya sangat menyerupai penyakit saluran cerna lain, alergi makanan sering tidak dipertimbangkan sejak awal sehingga pasien menjalani berbagai pengobatan tanpa mengatasi penyebab yang sebenarnya.
Pada orang dewasa, alergi makanan dapat menetap sejak masa anak atau muncul pertama kali pada usia dewasa. Reaksi imun terhadap protein makanan memicu pelepasan berbagai mediator inflamasi yang menyebabkan peradangan pada saluran cerna. Peradangan tersebut dapat mengganggu motilitas lambung dan usus, meningkatkan sensitivitas saluran cerna, serta menimbulkan rasa tidak nyaman setiap kali makan. Akibatnya, penderita mulai mengurangi porsi makan, menghindari makanan tertentu, atau membatasi variasi makanan karena khawatir keluhan akan muncul kembali.
Diagnosis alergi makanan pada dewasa harus dibedakan dari berbagai penyakit saluran cerna yang memiliki gejala hampir sama. GERD umumnya ditandai nyeri ulu hati dan regurgitasi akibat refluks asam lambung. Irritable Bowel Syndrome atau IBS ditandai nyeri perut kronis yang berkaitan dengan perubahan pola buang air besar sesuai kriteria Rome IV. Penyakit celiac merupakan penyakit autoimun akibat gluten yang menyebabkan diare kronis, anemia, penurunan berat badan, dan gangguan penyerapan nutrisi. Eosinophilic esophagitis dapat menyebabkan disfagia dan makanan terasa tersangkut di kerongkongan. Dispepsia fungsional ditandai cepat kenyang dan nyeri ulu hati tanpa kelainan organik yang jelas. Dokter juga perlu mempertimbangkan intoleransi laktosa, penyakit radang usus, gangguan motilitas saluran cerna, infeksi kronis, maupun keganasan saluran cerna sesuai kondisi klinis pasien.
Penurunan berat badan pada orang dewasa tidak selalu terjadi karena asupan makanan yang berkurang. Inflamasi kronis akibat alergi makanan dapat mengganggu fungsi sawar usus, meningkatkan permeabilitas usus, mengubah keseimbangan mikrobiota saluran cerna, serta menurunkan penyerapan berbagai zat gizi penting. Pada saat yang sama, proses inflamasi meningkatkan kebutuhan energi tubuh. Kombinasi kedua mekanisme tersebut dapat menyebabkan berat badan sulit naik atau terus menurun, menurunkan massa otot, mengurangi kebugaran fisik, serta menurunkan produktivitas dan kualitas hidup.
Diagnosis alergi makanan tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan gejala, hasil skin prick test, atau pemeriksaan IgE spesifik. Sebagian orang dewasa memiliki hasil pemeriksaan yang positif tetapi tetap dapat mengonsumsi makanan tersebut tanpa mengalami reaksi alergi. Sebaliknya, pada alergi makanan non IgE, hasil pemeriksaan dapat tetap normal meskipun gejala klinis sangat khas. Oleh karena itu, dokter harus menggabungkan riwayat hubungan antara makanan dan timbulnya gejala, pemeriksaan fisik, evaluasi status gizi, pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi, serta pemeriksaan lain untuk menyingkirkan penyakit saluran cerna yang memiliki gambaran serupa.
Apabila setelah evaluasi menyeluruh masih terdapat dugaan kuat alergi makanan, Oral Food Challenge atau OFC merupakan baku emas untuk memastikan diagnosis. Pemeriksaan dilakukan dengan memberikan makanan yang dicurigai sebagai penyebab alergi secara bertahap dalam dosis kecil hingga dosis yang sesuai di bawah pengawasan dokter di fasilitas kesehatan yang mampu menangani reaksi alergi apabila terjadi. OFC membantu memastikan apakah suatu makanan benar-benar menjadi penyebab keluhan sekaligus mencegah overdiagnosis yang dapat menyebabkan diet eliminasi yang tidak diperlukan dan berisiko menimbulkan kekurangan zat gizi.
Penatalaksanaan harus dilakukan secara menyeluruh dan disesuaikan dengan penyebab yang ditemukan. Makanan yang telah terbukti menyebabkan alergi dihindari secara selektif, sedangkan makanan lain tetap dipertahankan agar kebutuhan energi, protein, vitamin, mineral, dan serat tetap terpenuhi. Penyakit penyerta seperti GERD, IBS, penyakit celiac, eosinophilic esophagitis, konstipasi, gangguan motilitas saluran cerna, maupun penyakit kronis lainnya juga harus ditangani sesuai penyebabnya. Pemantauan berat badan, indeks massa tubuh, status gizi, serta kualitas hidup perlu dilakukan secara berkala. Dengan diagnosis yang tepat dan penatalaksanaan yang komprehensif, banyak pasien dewasa mengalami perbaikan nafsu makan, berkurangnya gejala saluran cerna, peningkatan status gizi, stabilisasi berat badan, dan kualitas hidup yang lebih baik.












Leave a Reply