Feeding Difficulties pada Anak dengan Alergi Makanan: Tinjauan Sistematis Berdasarkan EAACI Task Force Report 2024
Hill SA, Nurmatov U, DunnGalvin A, Reese I, Vieira MC, Rommel N, Dupont C, Venter C, Cianferoni A, Walsh J, dkk. Feeding difficulties in children with food allergies: An EAACI Task Force Report. Pediatr Allergy Immunol. 2024;35:e14119.
Feeding difficulties merupakan spektrum gangguan makan yang ditandai dengan asupan makanan yang tidak adekuat, penolakan makan, keterbatasan variasi makanan, atau perilaku makan yang tidak sesuai usia. Pada anak dengan alergi makanan, gangguan ini menjadi lebih kompleks karena dipengaruhi oleh interaksi antara gejala alergi, pembatasan diet eliminasi, pengalaman makan yang tidak menyenangkan, gangguan oral motor, serta faktor psikologis anak dan keluarga. European Academy of Allergy and Clinical Immunology (EAACI) melalui Task Force Report tahun 2024 melakukan tinjauan sistematis terhadap seluruh penelitian mengenai feeding difficulties pada anak dengan alergi makanan. Dari 2059 publikasi yang disaring, hanya 10 penelitian memenuhi kriteria inklusi. Prevalensi feeding difficulties pada anak dengan alergi makanan berkisar antara 13,6% hingga 40%, dengan angka tertinggi pada anak yang memiliki alergi terhadap beberapa jenis makanan. Kajian ini juga menunjukkan belum adanya keseragaman definisi maupun alat diagnosis sehingga interpretasi hasil penelitian masih terbatas. Artikel ini membahas hasil systematic review tersebut, mekanisme terjadinya feeding difficulties, faktor risiko, pendekatan diagnosis, serta implikasi klinis dalam praktik sehari-hari.
Feeding difficulties merupakan salah satu masalah yang paling sering ditemukan pada praktik pediatri. Diperkirakan sekitar seperempat hingga sepertiga anak sehat pernah mengalami kesulitan makan pada berbagai tahap perkembangan. Pada anak dengan penyakit kronis, prevalensinya dapat meningkat hingga lebih dari 70%.
Alergi makanan merupakan salah satu kondisi kronis yang paling sering dikaitkan dengan gangguan makan. Reaksi alergi terhadap makanan dapat menyebabkan nyeri saat makan, muntah, refluks, disfagia, diare, konstipasi, maupun rasa tidak nyaman pada saluran cerna. Pengalaman makan yang berulang kali menimbulkan rasa sakit dapat menyebabkan anak mengembangkan perilaku menghindari makanan sebagai mekanisme perlindungan.
Selain faktor biologis, pembatasan diet eliminasi yang ketat juga dapat mempersempit variasi makanan sehingga meningkatkan risiko picky eating, defisiensi nutrisi, gangguan pertumbuhan, serta konflik antara anak dan orang tua saat makan.
Meskipun hubungan antara alergi makanan dan feeding difficulties telah lama diduga, bukti ilmiah sebelumnya masih tersebar dan menggunakan definisi yang berbeda-beda. Oleh karena itu EAACI membentuk Task Force internasional untuk melakukan systematic review mengenai prevalensi feeding difficulties pada anak dengan alergi makanan.
Tujuan Systematic Review
Tujuan utama kajian ini adalah:
- Menentukan prevalensi feeding difficulties pada anak dengan alergi makanan.
- Mengevaluasi definisi feeding difficulties yang digunakan dalam penelitian.
- Menilai alat diagnosis yang tersedia.
- Mengidentifikasi faktor risiko feeding difficulties pada alergi makanan.
- Memberikan rekomendasi penelitian dan praktik klinis.
Metode Penelitian
- Desain Systematic Review.
Pedoman
- Dilakukan sesuai standar internasional systematic review.
Database yang digunakan
Peneliti menelusuri delapan database internasional hingga Juni 2022.
Meliputi:
- MEDLINE
- Embase
- CINAHL
- PsycINFO
- Web of Science
- Cochrane Library
- Scopus
- Database tambahan lainnya
Selain pencarian elektronik, para ahli internasional juga dihubungi untuk memperoleh penelitian yang belum dipublikasikan.
Proses Seleksi
Jumlah abstrak yang ditemukan: 2059 artikel
Setelah proses seleksi:
- 21 artikel dibaca lengkap.
- 10 penelitian memenuhi kriteria inklusi.
Karakteristik Penelitian
- Seluruh penelitian berasal dari berbagai negara dengan desain observasional.
- Subjek penelitian terdiri dari anak dengan diagnosis alergi makanan baik yang dimediasi IgE maupun non-IgE.
Sebagian besar penelitian melibatkan:
- alergi susu sapi
- alergi telur
- alergi kacang
- alergi gandum
- alergi multipel
Hasil Utama
Prevalensi Feeding Difficulties
Lima penelitian melaporkan angka prevalensi.
Tabel berikut merangkum hasilnya.
| Temuan | Hasil |
|---|---|
| Prevalensi terendah | 13,6% |
| Prevalensi tertinggi | 40% |
| Risiko meningkat | Alergi makanan multipel |
| Risiko lebih tinggi | Diet eliminasi luas |
Temuan ini menunjukkan bahwa sekitar satu dari tujuh hingga hampir setengah anak dengan alergi makanan mengalami feeding difficulties.
Tidak Ada Definisi yang Seragam
- Salah satu temuan terpenting adalah tidak adanya keseragaman istilah.
- Peneliti menemukan 12 istilah berbeda yang digunakan.
Contohnya:
- Feeding difficulties
- Feeding problems
- Feeding disorder
- Food refusal
- Selective eating
- Picky eating
- Feeding aversion
- Oral aversion
- Food selectivity
- Restrictive eating
- Mealtime difficulties
- Problematic feeding
Akibatnya, prevalensi antar penelitian menjadi sulit dibandingkan.
Berbagai Alat Diagnosis
Sebanyak 11 instrumen berbeda digunakan.
Contohnya:
- Montreal Children’s Hospital Feeding Scale
- Behavioral Pediatrics Feeding Assessment Scale
- Child Eating Behaviour Questionnaire
- Pediatric Eating Assessment Tool
- Food Neophobia Scale
- Feeding Behaviour Questionnaire
Belum ada satu instrumen yang menjadi standar internasional.
Mengapa Feeding Difficulties Lebih Sering Terjadi?
EAACI menjelaskan bahwa penyebabnya bersifat multifaktorial.
1. Pengalaman makan yang menyakitkan
Anak yang mengalami:
- nyeri
- muntah
- refluks
- disfagia
- eosinophilic esophagitis
akan mengasosiasikan makan dengan rasa tidak nyaman sehingga muncul penolakan makan.
2. Diet eliminasi
Semakin banyak makanan yang harus dihindari maka semakin sedikit variasi makanan yang tersedia.
Akibatnya:
- anak terbiasa hanya makan makanan tertentu
- muncul selective eating
- risiko kekurangan zat gizi meningkat
3. Sensitivitas sensorik
Banyak anak dengan alergi makanan memiliki sensitivitas terhadap:
- tekstur
- aroma
- suhu
- rasa
- warna makanan
4. Faktor psikologis
Orang tua sering mengalami kecemasan berlebihan terhadap kemungkinan reaksi alergi.
Kecemasan tersebut dapat menyebabkan:
- pembatasan makanan yang tidak perlu
- tekanan saat makan
- konflik orang tua dan anak
Semua faktor tersebut memperburuk feeding difficulties.
Hubungan dengan Multiple Food Allergy
Seluruh penelitian menunjukkan pola yang sama.
Semakin banyak makanan yang harus dieliminasi maka semakin besar kemungkinan terjadi:
- picky eating
- food refusal
- keterbatasan variasi makanan
- defisiensi nutrisi
- gangguan pertumbuhan
Anak dengan alergi terhadap tiga hingga lima jenis makanan memiliki risiko feeding difficulties yang lebih tinggi dibandingkan anak dengan satu jenis alergi.
Dampak Klinis
Feeding difficulties dapat menyebabkan:
Gangguan Nutrisi
- kekurangan energi
- kekurangan protein
- defisiensi zat besi
- defisiensi vitamin D
- defisiensi kalsium
Gangguan Pertumbuhan
- berat badan sulit naik
- gagal tumbuh
- stunting
- wasting
Gangguan Psikososial
- stres keluarga
- kecemasan orang tua
- konflik saat makan
- kualitas hidup menurun
Implikasi bagi Dokter Anak
Task Force EAACI menekankan bahwa evaluasi anak dengan alergi makanan tidak cukup hanya menilai:
- jenis alergi
- hasil uji IgE
- hasil skin prick test
Dokter juga perlu mengevaluasi:
- perilaku makan
- variasi makanan
- keterampilan oral motor
- durasi makan
- interaksi orang tua dan anak
- status nutrisi
- pertumbuhan
- kemungkinan Pediatric Feeding Disorder
Pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter anak, ahli alergi, ahli gizi, psikolog, dan terapis makan sering kali diperlukan pada kasus yang kompleks.
Keterbatasan Penelitian
EAACI mengidentifikasi beberapa keterbatasan penting.
- Jumlah penelitian masih sedikit.
- Ukuran sampel relatif kecil.
- Definisi feeding difficulties tidak seragam.
- Instrumen diagnosis berbeda-beda.
- Sebagian besar penelitian bersifat observasional.
- Tidak dapat dilakukan meta-analisis karena heterogenitas yang tinggi.
Rekomendasi EAACI
Task Force memberikan beberapa rekomendasi.
- Menyusun definisi internasional mengenai feeding difficulties pada anak dengan alergi makanan.
- Menetapkan alat skrining yang tervalidasi.
- Melakukan penelitian prospektif dengan jumlah sampel yang lebih besar.
- Mengembangkan pedoman diagnosis dan tata laksana feeding difficulties pada anak dengan alergi makanan.
- Mengintegrasikan penilaian perilaku makan ke dalam evaluasi rutin anak dengan alergi makanan.
Kesimpulan
Systematic review EAACI tahun 2024 menunjukkan bahwa feeding difficulties merupakan masalah yang sering ditemukan pada anak dengan alergi makanan, dengan prevalensi berkisar antara 13,6% hingga 40%. Risiko meningkat pada anak dengan alergi terhadap beberapa jenis makanan dan diet eliminasi yang lebih luas. Bukti yang ada masih dibatasi oleh beragam definisi dan instrumen penilaian, sehingga belum memungkinkan dilakukan meta-analisis. Temuan ini menegaskan bahwa evaluasi anak dengan alergi makanan perlu mencakup penilaian perilaku makan, status gizi, pertumbuhan, dan faktor psikososial secara komprehensif. Pengembangan pedoman internasional yang seragam diharapkan dapat meningkatkan deteksi dini, mencegah gangguan nutrisi dan pertumbuhan, serta memperbaiki kualitas hidup anak dan keluarganya.
Referensi
- Hill SA, Nurmatov U, DunnGalvin A, Reese I, Vieira MC, Rommel N, Dupont C, Venter C, Cianferoni A, Walsh J, dkk. Feeding difficulties in children with food allergies: An EAACI Task Force Report. Pediatr Allergy Immunol. 2024;35:e14119. doi:10.1111/pai.14119.




Leave a Reply