Epidemiologi Pediatric Feeding Disorder (PFD)
Pediatric Feeding Disorder (PFD) merupakan salah satu gangguan makan yang semakin banyak dikenali sebagai masalah kesehatan anak di seluruh dunia. Gangguan ini tidak hanya memengaruhi kemampuan anak untuk mengonsumsi makanan sesuai usia, tetapi juga berdampak terhadap status gizi, pertumbuhan, perkembangan neurologis, kesehatan psikososial, dan kualitas hidup keluarga. Meskipun definisi PFD baru distandardisasi melalui konsensus internasional pada tahun 2019, berbagai penelitian menunjukkan bahwa gangguan makan pada anak merupakan masalah yang cukup sering dijumpai dalam praktik klinis, baik di layanan primer maupun rumah sakit.
Perbedaan definisi dan kriteria diagnosis pada masa lalu menyebabkan angka prevalensi PFD sangat bervariasi. Setelah adanya definisi yang baku, data epidemiologi menjadi lebih konsisten sehingga dapat menggambarkan besarnya beban penyakit dan kelompok anak yang memiliki risiko tinggi mengalami gangguan makan.
Prevalensi Pediatric Feeding Disorder
- Berdasarkan berbagai penelitian, diperkirakan sekitar 5–20% anak menunjukkan tanda dan gejala gangguan makan yang sesuai dengan konsep Pediatric Feeding Disorder. Variasi angka tersebut dipengaruhi oleh karakteristik populasi yang diteliti, rentang usia anak, serta metode diagnosis yang digunakan. Semakin komprehensif penilaian terhadap aspek medis, nutrisi, keterampilan makan, dan psikososial, semakin banyak kasus PFD yang dapat teridentifikasi.
- Sebuah penelitian berbasis populasi di Amerika Serikat melaporkan bahwa pada anak berusia ≤5 tahun, angka kejadian PFD mencapai sekitar 32–34 kasus per 1.000 child-years pada kelompok anak yang memperoleh asuransi kesehatan pemerintah (public insurance), sedangkan pada kelompok dengan asuransi swasta sekitar 21 kasus per 1.000 child-years. Perbedaan ini menunjukkan bahwa faktor sosial ekonomi dan akses terhadap pelayanan kesehatan kemungkinan turut memengaruhi risiko terjadinya PFD maupun peluang diagnosisnya.
Kelompok Anak Berisiko Tinggi
Tidak semua anak memiliki risiko yang sama untuk mengalami PFD. Beberapa kelompok memiliki prevalensi yang jauh lebih tinggi dibandingkan populasi umum.
Bayi prematur merupakan kelompok yang paling rentan karena koordinasi mengisap, menelan, dan bernapas belum berkembang sempurna. Selain itu, banyak bayi prematur memerlukan perawatan intensif neonatal, penggunaan selang makan, ventilasi mekanis, atau tindakan medis invasif yang dapat menghambat perkembangan kemampuan makan melalui mulut. Kebutuhan energi yang lebih tinggi akibat penyakit kronis juga semakin meningkatkan risiko gangguan makan.
Anak dengan berat badan lahir rendah (BBLR) juga lebih sering mengalami kesulitan makan. Gangguan pertumbuhan, keterlambatan perkembangan neurologis, dan gangguan koordinasi oral-motor menyebabkan proses makan menjadi kurang efektif sehingga berisiko mengalami malnutrisi.
Hubungan dengan Gangguan Perkembangan
Kelompok dengan prevalensi tertinggi adalah anak yang mengalami gangguan perkembangan (developmental disabilities), seperti cerebral palsy, autism spectrum disorder, sindrom genetik, dan keterlambatan perkembangan global. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa hingga 80% anak dalam kelompok ini mengalami feeding difficulties dengan derajat yang bervariasi.
Pada anak dengan gangguan perkembangan, penyebab PFD sering kali bersifat multifaktorial, meliputi gangguan oral-motor, disfagia, gangguan sensorik, perilaku makan yang khas, serta penyakit medis penyerta. Penelitian juga menunjukkan bahwa semakin berat gangguan intelektual yang dimiliki seorang anak, semakin tinggi pula risiko dan tingkat keparahan gangguan makan yang dialaminya.
Penyakit Kronis sebagai Faktor Risiko
Anak dengan penyakit kronis memiliki risiko lebih tinggi mengalami PFD dibandingkan anak sehat. Penyakit saluran cerna seperti gastroesophageal reflux disease (GERD), eosinophilic esophagitis, penyakit celiac, gangguan motilitas saluran cerna, dan alergi makanan dapat menyebabkan nyeri, muntah, atau ketidaknyamanan saat makan sehingga anak mengembangkan perilaku menolak makan.
Demikian pula, anak dengan gangguan neurologis seperti cerebral palsy, penyakit neuromuskular, epilepsi, maupun kelainan anatomi kepala dan leher sering mengalami gangguan koordinasi menelan dan peningkatan risiko aspirasi. Kondisi tersebut membuat proses makan menjadi tidak aman dan memerlukan penanganan multidisiplin.
Pengaruh Faktor Sosial Ekonomi
Selain faktor biologis, kondisi sosial ekonomi juga berperan penting dalam epidemiologi PFD. Anak yang berasal dari keluarga dengan status sosial ekonomi rendah cenderung memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan makan. Faktor-faktor yang berkontribusi meliputi keterbatasan akses terhadap pelayanan kesehatan, keterlambatan diagnosis, kurangnya edukasi mengenai pemberian makan yang tepat, keterbatasan memperoleh makanan bergizi, serta terbatasnya akses terhadap terapi seperti terapi wicara, terapi okupasi, maupun konseling nutrisi.
Faktor psikososial dalam keluarga, seperti stres pengasuh, depresi pascapersalinan, dan keterbatasan dukungan sosial, juga dapat memperburuk feeding difficulties serta memperlambat keberhasilan terapi.
Implikasi Klinis
Data epidemiologi menunjukkan bahwa Pediatric Feeding Disorder bukanlah kondisi yang jarang ditemukan. Sebaliknya, PFD merupakan masalah kesehatan anak yang cukup sering terjadi, terutama pada kelompok berisiko tinggi. Oleh karena itu, dokter anak, tenaga kesehatan primer, ahli gizi, terapis wicara, dan tenaga kesehatan lainnya perlu melakukan skrining dini terhadap anak yang memiliki faktor risiko, terutama bayi prematur, anak dengan gangguan perkembangan, penyakit kronis, maupun gangguan pertumbuhan.
Deteksi dan intervensi sejak dini terbukti dapat memperbaiki status gizi, meningkatkan kemampuan makan, mengurangi kebutuhan nutrisi enteral, memperbaiki tumbuh kembang, serta menurunkan beban psikologis dan ekonomi yang dialami keluarga.
Kesimpulan
Pediatric Feeding Disorder merupakan gangguan makan yang memiliki prevalensi cukup tinggi pada populasi anak. Diperkirakan 5–20% anak mengalami tanda dan gejala PFD, dengan angka yang jauh lebih tinggi pada bayi prematur, anak dengan berat badan lahir rendah, gangguan perkembangan, penyakit kronis, dan keluarga dengan kondisi sosial ekonomi rendah. Tingginya angka kejadian pada kelompok-kelompok tersebut menegaskan pentingnya skrining, diagnosis dini, dan pendekatan multidisiplin untuk mencegah komplikasi jangka pendek maupun jangka panjang.
Referensi
- Daley SF, Riaz Y, Sergi C. Pediatric Feeding Disorders: Recognition, Diagnosis, and Management. StatPearls Publishing. Updated June 13, 2025.
- Goday PS, Huh SY, Silverman A, et al. Pediatric Feeding Disorder: Consensus Definition and Conceptual Framework. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition. 2019.










Leave a Reply