ARFID dan Gangguan Makan serta Kesulitan Makan Lain pada Anak: Pemetaan Klinis, Diagnosis Banding, dan Perbedaannya dengan Picky Eating serta Pediatric Feeding Disorder
Sandiaz Yudhasmara, Widodo Judarwanto
Gangguan makan dan kesulitan makan pada anak merupakan spektrum kondisi yang luas, mulai dari picky eating yang bersifat perkembangan hingga gangguan yang menimbulkan gangguan pertumbuhan, kekurangan zat gizi, ketergantungan terhadap nutrisi tambahan, atau gangguan fungsi psikososial. Perkembangan klasifikasi diagnostik sejak diterbitkannya DSM-5 pada 2013 memperkenalkan Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID) sebagai kategori tersendiri, di samping anorexia nervosa, bulimia nervosa, binge-eating disorder, pica, rumination disorder, Other Specified Feeding or Eating Disorder (OSFED), dan Unspecified Feeding or Eating Disorder (UFED). ARFID memiliki karakteristik utama berupa pembatasan asupan yang tidak didorong oleh kekhawatiran terhadap berat badan atau bentuk tubuh, tetapi dapat berkaitan dengan sensitivitas sensorik, ketakutan terhadap konsekuensi makan yang tidak menyenangkan, atau rendahnya minat terhadap makanan. Sementara itu, konsep Pediatric Feeding Disorder (PFD) memberikan kerangka yang lebih luas dengan mempertimbangkan aspek medis, nutrisi, keterampilan makan, dan psikososial. Artikel ini membahas perbedaan picky eating, ARFID, PFD, dan gangguan makan lainnya, termasuk karakteristik klinis, faktor risiko, konsekuensi, pendekatan diagnosis, serta prinsip penanganannya. Pemahaman terhadap spektrum tersebut penting agar perilaku makan yang masih sesuai perkembangan tidak didiagnosis secara berlebihan, tetapi anak dengan tanda bahaya tidak pula dianggap sekadar “pemilih makanan”.
Kesulitan makan pada anak merupakan masalah yang sering ditemukan dalam praktik pediatri, tetapi istilah yang digunakan tidak selalu memiliki arti diagnostik yang sama. Seorang anak dapat menolak makanan tertentu, hanya menerima tekstur tertentu, makan dalam jumlah sedikit, takut mencoba makanan baru, atau kehilangan minat terhadap makan tanpa selalu mengalami gangguan medis atau psikologis. Karena itu, penting membedakan perilaku makan selektif yang masih merupakan bagian dari perkembangan normal dari kondisi yang telah menyebabkan gangguan nutrisi, pertumbuhan, keterampilan makan, atau fungsi psikososial.
Pemahaman terhadap gangguan makan anak berkembang secara signifikan pada awal abad ke-21. DSM-5 yang diterbitkan pada 2013 memperkenalkan klasifikasi yang lebih luas terhadap gangguan makan dan makan, termasuk ARFID, binge-eating disorder, OSFED, dan UFED, di samping kondisi seperti anorexia nervosa, bulimia nervosa, pica, dan rumination disorder. ARFID menjadi sangat penting dalam pediatri karena dapat muncul sejak masa kanak-kanak dan dapat menyerupai picky eating berat, tetapi konsekuensinya jauh lebih besar.
Pada anak dengan ARFID, pembatasan makanan bukan terutama disebabkan keinginan untuk menurunkan berat badan atau ketakutan menjadi gemuk, sebagaimana karakteristik utama anoreksia nervosa. Pembatasan dapat muncul karena sensitivitas terhadap rasa, tekstur, aroma atau tampilan makanan; ketakutan terhadap konsekuensi yang dianggap tidak menyenangkan; atau rendahnya ketertarikan terhadap makan. Akibatnya dapat terjadi kekurangan zat gizi, gangguan pertumbuhan, ketergantungan terhadap suplemen atau nutrisi enteral, dan gangguan kehidupan sosial.
Dari Picky Eating Menuju Gangguan Makan
Picky eating atau food selectivity berada pada suatu spektrum. Sebagian besar anak yang mengalami picky eating masih dapat memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi serta mempertahankan pertumbuhan yang sesuai. Dalam keadaan tersebut, pendekatan utama biasanya berupa edukasi orang tua, pola makan responsif, pemberian kesempatan berulang terhadap makanan, dan pemantauan pertumbuhan.
Masalah muncul apabila pembatasan makanan menjadi semakin luas, berlangsung menetap, dan menyebabkan konsekuensi klinis. Anak dapat memiliki jumlah makanan yang sangat terbatas, menghindari kelompok makanan tertentu, menolak tekstur tertentu, membutuhkan makanan yang sangat spesifik, atau mengalami kecemasan berat ketika menghadapi makanan baru. Pada kondisi tersebut, evaluasi lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah terdapat PFD, ARFID, masalah medis yang mendasari, gangguan keterampilan makan, atau kombinasi beberapa kondisi.
Dengan demikian, istilah “anak susah makan” tidak seharusnya langsung dianggap sebagai diagnosis. Diagnosis memerlukan penilaian terhadap pola makan, pertumbuhan, status nutrisi, fungsi oral-motor, kondisi medis, respons sensorik, perilaku, serta dampak psikososial.
Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID)
ARFID adalah gangguan makan yang ditandai oleh pola asupan yang menghindari atau membatasi makanan sehingga menyebabkan konsekuensi klinis bermakna. Berbeda dengan anoreksia nervosa, ARFID tidak didasarkan pada gangguan persepsi terhadap bentuk atau berat badan.
Secara klinis, konsekuensi utama yang perlu diperhatikan meliputi:
- penurunan berat badan atau kegagalan mencapai pertambahan berat badan yang diharapkan;
- defisiensi nutrisi yang bermakna;
- ketergantungan terhadap nutrisi enteral atau suplemen nutrisi oral;
- gangguan fungsi psikososial yang bermakna.
Diagnosis ARFID tidak ditentukan hanya karena anak “sangat pilih-pilih makanan”. Harus terdapat konsekuensi klinis atau gangguan fungsi yang signifikan sesuai kerangka diagnostik.
Tiga Pola Utama ARFID
ARFID dapat muncul melalui beberapa mekanisme yang dapat berdiri sendiri maupun terjadi secara bersamaan.
| Pola ARFID | Karakteristik utama | Contoh perilaku | Risiko |
|---|---|---|---|
| Sensory sensitivity | Kepekaan tinggi terhadap karakteristik sensorik makanan | Menolak makanan berdasarkan tekstur, bau, warna atau rasa | Diet sangat terbatas dan kekurangan zat gizi |
| Fear of aversive consequences | Takut mengalami konsekuensi tidak menyenangkan setelah makan | Takut tersedak, muntah, nyeri, atau pengalaman makan yang buruk | Penghindaran makanan semakin luas |
| Lack of interest in eating | Minat atau motivasi makan rendah | Tidak merasa lapar, makan sangat sedikit, cepat berhenti makan | Asupan energi tidak mencukupi dan gangguan pertumbuhan |
| Kombinasi | Lebih dari satu mekanisme terjadi bersamaan | Misalnya sensitif tekstur sekaligus takut muntah | Risiko nutrisi dan psikososial lebih besar |
Ketiga pola tersebut bukan subtipe yang harus selalu berdiri sendiri. Seorang anak dapat mengalami lebih dari satu mekanisme secara bersamaan.
ARFID dan Autisme
- ARFID dapat ditemukan bersamaan dengan berbagai kondisi neurodevelopmental dan psikologis, termasuk gangguan spektrum autisme (ASD), kecemasan, serta masalah pemrosesan sensorik. Hubungan tersebut tidak berarti bahwa setiap anak dengan autisme pasti mengalami ARFID atau bahwa setiap anak dengan ARFID pasti memiliki autisme.
- Apabila pola makan sangat terbatas disertai karakteristik perkembangan lain yang mengarah pada ASD atau gangguan perkembangan, evaluasi perkembangan yang sesuai perlu dipertimbangkan. Demikian pula, anak yang telah memiliki diagnosis ARFID perlu dilihat secara menyeluruh, bukan hanya dari aspek jumlah makanan yang dikonsumsi.
Pediatric Feeding Disorder (PFD)
Konsep Pediatric Feeding Disorder memberikan perspektif yang lebih luas daripada sekadar klasifikasi gangguan makan psikiatrik. PFD mencakup gangguan makan yang berkaitan dengan empat domain utama:
- medical;
- nutritional;
- feeding skill;
- psychosocial.
Dengan kerangka tersebut, anak yang mengalami gangguan menelan, masalah oral-motor, penyakit gastrointestinal, kesulitan mempertahankan kecukupan nutrisi, atau masalah perilaku makan dapat dievaluasi secara terpadu.
PFD dan ARFID bukanlah istilah yang selalu saling menggantikan. Seorang anak dapat memenuhi karakteristik ARFID dan sekaligus memiliki PFD, sedangkan anak lainnya mungkin mengalami PFD tanpa memenuhi kriteria ARFID.
Perbedaan Picky Eating, ARFID, dan PFD
| Aspek | Picky Eating (PE) | ARFID | Pediatric Feeding Disorder (PFD) |
|---|---|---|---|
| Konsep dasar | Selektivitas makanan yang sering terjadi pada masa kanak-kanak | Gangguan makan dengan pembatasan asupan dan konsekuensi klinis | Gangguan fungsi makan yang mencakup domain medis, nutrisi, keterampilan makan, dan psikososial |
| Status diagnosis | Tidak selalu merupakan diagnosis psikiatrik | Diagnosis dalam DSM-5/DSM-5-TR | Kerangka diagnosis klinis multidomain |
| Penyebab utama | Perkembangan, preferensi, sensorik, lingkungan | Sensorik, takut konsekuensi makan, rendahnya minat makan | Dapat berasal dari faktor medis, nutrisi, keterampilan, perilaku dan psikososial |
| Jumlah makanan | Terbatas tetapi biasanya masih cukup | Dapat sangat terbatas | Bervariasi |
| Pertumbuhan | Umumnya tetap sesuai | Dapat terganggu | Dapat terganggu |
| Defisiensi nutrisi | Tidak selalu ada | Dapat signifikan | Dapat terjadi |
| Ketergantungan suplemen | Biasanya tidak | Dapat terjadi | Dapat terjadi |
| Gangguan psikososial | Biasanya ringan–sedang | Dapat berat | Dapat bermakna |
| Sensitivitas sensorik | Sering ditemukan | Sering menjadi mekanisme utama | Dapat menjadi salah satu faktor |
| Takut makan akibat pengalaman buruk | Dapat terjadi | Salah satu mekanisme utama | Dapat terjadi |
| Masalah oral-motor | Tidak khas | Bukan kriteria utama | Dapat menjadi komponen penting |
| Masalah medis | Biasanya tidak dominan | Perlu dievaluasi sebagai penyebab/komorbiditas | Merupakan salah satu domain utama |
| Durasi | Sering membaik seiring perkembangan | Persisten atau menimbulkan konsekuensi klinis | Gangguan fungsi makan yang menetap |
| Pendekatan | Edukasi dan feeding responsif | Multidisiplin sesuai kebutuhan | Multidisiplin |
| Prognosis | Sering membaik | Bergantung pada berat dan intervensi | Bergantung pada etiologi dan kompleksitas |
Perbandingan ARFID dengan Gangguan Makan Lain
| Gangguan | Ciri utama | Kekhawatiran terhadap berat/bentuk tubuh | Defisiensi nutrisi | Usia dapat muncul | Fokus utama |
|---|---|---|---|---|---|
| ARFID | Menghindari/membatasi makanan | Tidak menjadi pendorong utama | Dapat terjadi | Anak–remaja | Sensorik, takut konsekuensi, rendah minat |
| Anorexia nervosa | Restriksi makan | Ada | Sering | Remaja, dapat lebih dini | Berat/bentuk tubuh |
| Bulimia nervosa | Episode makan berlebihan disertai perilaku kompensasi | Ada | Dapat terjadi | Lebih sering remaja | Berat/bentuk tubuh dan kompensasi |
| Binge-eating disorder | Episode makan berlebihan berulang | Tidak selalu menjadi pendorong restriksi | Tidak khas | Lebih sering remaja/dewasa | Hilangnya kontrol saat makan |
| Pica | Mengonsumsi bahan nonmakanan | Tidak khas | Dapat terkait | Anak maupun kelompok lain | Konsumsi benda nonmakanan |
| Rumination disorder | Regurgitasi makanan berulang | Tidak khas | Dapat terjadi | Anak maupun kelompok lain | Regurgitasi |
| OSFED | Memenuhi sebagian pola gangguan makan tetapi tidak seluruh kriteria diagnosis tertentu | Bergantung kondisi | Bergantung | Bervariasi | Spektrum gangguan makan |
| UFED | Gejala bermakna tetapi informasi tidak cukup untuk klasifikasi spesifik | Bergantung | Bergantung | Bervariasi | Gejala gangguan makan yang belum terklasifikasi |
ARFID Berbeda dari Anoreksia Nervosa
- Perbedaan paling penting adalah alasan di balik pembatasan makanan. Pada ARFID, pembatasan tidak didorong oleh keinginan untuk menjadi lebih kurus atau ketakutan terhadap kenaikan berat badan. Sebaliknya, anak dapat menolak makanan karena tekstur, rasa, bau, pengalaman tersedak atau muntah, ketakutan terhadap konsekuensi tertentu, atau karena hampir tidak memiliki ketertarikan terhadap makan.
- Pada anoreksia nervosa, restriksi makanan berkaitan dengan gangguan psikologis mengenai berat badan dan bentuk tubuh. Oleh sebab itu, pemeriksaan klinis harus berusaha memahami mengapa anak tidak mau makan, bukan hanya berapa banyak makanan yang ditolak.
ARFID dan Picky Eating: Di Mana Batasnya?
Batas antara picky eating dan ARFID tidak ditentukan hanya berdasarkan banyaknya jenis makanan yang dapat dimakan. Dua anak dapat sama-sama hanya menyukai beberapa jenis makanan, tetapi memiliki kondisi klinis berbeda.
- Anak A memiliki pilihan makanan terbatas tetapi tetap tumbuh sesuai jalur pertumbuhan, memperoleh cukup energi dan zat gizi, serta dapat berpartisipasi dalam aktivitas sosial tanpa gangguan bermakna. Kondisi seperti ini lebih sesuai dengan picky eating perkembangan.
- Anak B memiliki pilihan makanan sangat terbatas, mengalami kekurangan zat gizi, pertumbuhan terganggu, membutuhkan suplemen nutrisi, atau mengalami gangguan sosial yang bermakna. Kondisi tersebut memerlukan evaluasi untuk kemungkinan ARFID atau PFD.
Dengan demikian, jumlah makanan yang ditolak bukan satu-satunya parameter diagnosis.
Tanda Bahaya yang Memerlukan Evaluasi Lebih Lanjut
| Tanda | Makna klinis yang perlu dipertimbangkan |
|---|---|
| Berat badan tidak bertambah sesuai pola pertumbuhan | Evaluasi asupan, penyakit medis, dan gangguan makan |
| Penurunan berat badan | Red flag |
| Pertumbuhan linear terganggu | Evaluasi nutrisi dan kondisi medis |
| Diet sangat terbatas | Risiko kekurangan zat gizi |
| Tidak mengonsumsi kelompok makanan tertentu secara luas | Evaluasi kecukupan nutrisi |
| Membutuhkan suplemen nutrisi untuk memenuhi kebutuhan | Perlu evaluasi lebih lanjut |
| Membutuhkan nutrisi enteral | Menunjukkan gangguan yang lebih berat |
| Takut makan karena pengalaman tersedak/muntah/nyeri | Kemungkinan pola fear-based avoidance |
| Menolak berdasarkan tekstur/bau/warna secara ekstrem | Pertimbangkan komponen sensorik |
| Hampir tidak menunjukkan rasa lapar | Pertimbangkan low-interest eating |
| Gangguan menelan atau mengunyah | Evaluasi feeding skill dan medis |
| Waktu makan sangat lama | Evaluasi PFD |
| Konflik makan berat | Evaluasi psikososial |
| Menghindari makan di sekolah atau acara sosial | Gangguan fungsi psikososial |
| Makan hanya dalam kondisi atau wadah tertentu | Dapat menunjukkan rigiditas/selectivity yang signifikan |
Pendekatan Diagnosis
- Diagnosis tidak sebaiknya dilakukan hanya berdasarkan satu kuesioner atau satu pemeriksaan laboratorium. Evaluasi perlu dimulai dengan anamnesis makan yang komprehensif, termasuk jenis makanan yang diterima dan ditolak, tekstur, jumlah, frekuensi makan, durasi makan, perilaku saat makan, pengalaman tidak menyenangkan terkait makanan, serta perubahan pola makan dari waktu ke waktu.
- Selanjutnya dilakukan evaluasi pertumbuhan dengan melihat berat badan, tinggi/panjang badan, indeks massa tubuh sesuai usia, dan pola pertumbuhan dari waktu ke waktu. Penilaian laboratorium dilakukan secara selektif berdasarkan temuan klinis dan dugaan defisiensi, bukan secara otomatis pada semua anak yang dianggap picky eater.
- Pemeriksaan juga perlu mempertimbangkan kemungkinan masalah medis, gastrointestinal, oral-motor, sensorik, perkembangan, psikologis, maupun lingkungan makan. Dengan demikian, diagnosis menjadi diagnosis klinis multidimensional, bukan sekadar diagnosis berdasarkan daftar makanan yang ditolak.
Instrumen yang Dapat Membantu
Beberapa instrumen telah digunakan untuk membantu mengidentifikasi ARFID dan gangguan makan terkait.
| Instrumen | Fungsi utama | Catatan |
|---|---|---|
| PARDI | Wawancara diagnostik ARFID | Membantu mengevaluasi pola dan mekanisme ARFID |
| NIAS | Skrining karakteristik ARFID | Bukan pengganti diagnosis klinis |
| Children’s Eating Behaviour Questionnaire | Menilai berbagai perilaku makan | Lebih bersifat penilaian perilaku |
| Food repertoire checklist | Menilai jumlah/variasi makanan | Membantu menggambarkan selektivitas |
| Food diary | Menggambarkan pola asupan | Dapat membantu penilaian nutrisi, tetapi bukan diagnosis tunggal |
| Growth chart | Memantau pertumbuhan | Sangat penting dalam evaluasi |
| Clinical feeding observation | Mengamati perilaku dan keterampilan makan | Penting pada dugaan PFD |
Pendekatan Multidisiplin
- Anak dengan ARFID atau PFD yang bermakna sering membutuhkan pendekatan multidisiplin. Tim dapat melibatkan dokter anak, ahli gizi/dietisien, psikolog atau psikiater anak, terapis okupasi, terapis wicara yang memiliki kompetensi feeding/swallowing, serta spesialis lain sesuai kondisi klinis.
- Tujuannya bukan hanya meningkatkan jumlah makanan yang dikonsumsi, tetapi juga mengidentifikasi penyebab, memastikan kecukupan nutrisi, mempertahankan pertumbuhan, meningkatkan keterampilan makan, mengurangi kecemasan atau penghindaran, dan memperbaiki fungsi sosial keluarga.
Prinsip Penanganan
- Penanganan harus disesuaikan dengan mekanisme dan tingkat keparahan masalah. Pada picky eating yang masih sesuai perkembangan, pendekatan responsive feeding dan edukasi orang tua dapat menjadi dasar. Anak diberikan kesempatan untuk makan tanpa tekanan berlebihan, sementara orang tua menyediakan pilihan makanan yang sesuai dan lingkungan makan yang teratur.
- Pada ARFID, intervensi dapat lebih kompleks. Anak mungkin memerlukan intervensi nutrisi, terapi perilaku atau psikologis, pendekatan terhadap sensitivitas sensorik, terapi feeding, serta penanganan kondisi medis yang menyertai. Pada kondisi berat, pemenuhan nutrisi dapat memerlukan dukungan nutrisi oral atau enteral sesuai indikasi klinis.
Prinsip Penting: Jangan Menganggap Semua Anak Sulit Makan sebagai ARFID
- Diagnosis berlebihan juga perlu dihindari. Picky eating cukup sering terjadi pada anak dan tidak otomatis merupakan gangguan. Anak dapat memiliki makanan favorit, menolak makanan baru, atau mengalami periode selektif tanpa mengalami defisiensi nutrisi ataupun gangguan pertumbuhan.
- Sebaliknya, menganggap semua kesulitan makan sebagai fase normal juga dapat berbahaya apabila terdapat penurunan berat badan, pertumbuhan yang tidak adekuat, defisiensi nutrisi, gangguan menelan, ketergantungan nutrisi tambahan, atau gangguan fungsi psikososial. Prinsip klinis yang paling penting adalah menilai dampak terhadap kesehatan dan fungsi anak, bukan hanya label “susah makan”.
Kerangka Praktis Pemetaan Klinis
| Tahap | Pertanyaan utama | Tujuan |
|---|---|---|
| 1. Identifikasi | Apa yang sebenarnya dimaksud “susah makan”? | Menentukan masalah utama |
| 2. Pola makan | Makanan apa yang diterima dan ditolak? | Menilai selektivitas |
| 3. Mekanisme | Sensorik, takut konsekuensi, atau rendah minat? | Mengidentifikasi kemungkinan mekanisme ARFID |
| 4. Pertumbuhan | Bagaimana berat dan tinggi berkembang? | Menilai dampak biologis |
| 5. Nutrisi | Apakah kebutuhan zat gizi terpenuhi? | Menilai risiko defisiensi |
| 6. Feeding skill | Apakah anak mampu mengunyah, menelan, dan menggunakan keterampilan makan sesuai usia? | Menilai PFD |
| 7. Medis | Apakah ada penyakit yang mengganggu makan? | Menyingkirkan/menangani penyebab medis |
| 8. Psikososial | Apakah makan mengganggu sekolah, keluarga, atau kehidupan sosial? | Menilai dampak fungsional |
| 9. Diagnosis banding | PE, ARFID, PFD atau gangguan lain? | Menentukan klasifikasi |
| 10. Intervensi | Apa penyebab dan kebutuhan anak? | Menentukan terapi individual |
Kesimpulan
- ARFID, picky eating, dan Pediatric Feeding Disorder bukanlah istilah yang dapat dipertukarkan begitu saja. Picky eating pada sebagian besar anak merupakan variasi perilaku makan yang dapat muncul dalam perkembangan, sedangkan ARFID merupakan gangguan makan dengan pembatasan asupan yang menimbulkan konsekuensi klinis seperti gangguan pertumbuhan, defisiensi nutrisi, ketergantungan nutrisi tambahan, atau gangguan psikososial. PFD memiliki cakupan lebih luas karena mencakup gangguan pada domain medis, nutrisi, keterampilan makan, dan psikososial. Ketiganya dapat saling beririsan, sehingga evaluasi anak harus dilakukan secara menyeluruh.
- Pendekatan modern terhadap anak dengan masalah makan sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan “berapa banyak makanan yang ditolak?”, tetapi beralih kepada pertanyaan yang lebih penting: mengapa anak membatasi makanan, apakah pertumbuhan dan nutrisinya terganggu, apakah terdapat masalah medis atau keterampilan makan, dan seberapa besar dampaknya terhadap kehidupan anak serta keluarga? Dengan pendekatan tersebut, anak yang hanya mengalami selektivitas perkembangan dapat terhindar dari pelabelan berlebihan, sementara anak dengan ARFID atau PFD dapat memperoleh identifikasi dan intervensi lebih dini.
Daftar Pustaka
- Pjetraj D, Pjetraj A, Sayed D, Severini M, Falcioni L, Svarca LE, Gatti S, Lionetti ME. Decoding Picky Eating in Children: A Temporary Phase or a Hidden Health Concern? Nutrients. 2025;17(24):3884. doi:10.3390/nu17243884. PubMed
- American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders. 5th ed. Washington, DC: American Psychiatric Association; 2013.
- Goday PS, Huh SY, Silverman A, et al. Pediatric Feeding Disorder: Consensus Definition and Conceptual Framework. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition. 2019;68(1):124–129.
- Bryant-Waugh R, Micali N, Cooke L, Lawson EA, Eddy KT, Thomas JJ. Development of the Pica, ARFID, and Rumination Disorder Interview, a multi-informant, semi-structured interview of feeding and eating disorders in children. International Journal of Eating Disorders. 2019;52(4):378–387.
- Murray HB, Thomas JJ, Hinz A, Menzel JE, Hofmeier SM, Eddy KT. A systematic review of the psychometric properties of measures of ARFID symptoms. International Journal of Eating Disorders. 2021.
- World Health Organization. International Classification of Diseases 11th Revision (ICD-11): Feeding or eating disorders. Geneva: WHO.
- Kerzner B, Milano K, MacLean WC Jr, Berall G, Stuart S, Chatoor I. A practical approach to classifying and managing feeding difficulties. Pediatrics. 2015;135(2):344–353.
- Silverman AH, Kirby M, Clifford LM, et al. Pediatric feeding disorder: Consensus definition and conceptual framework—update and clinical application. Literatur terkait konsensus multidisiplin PFD.










Leave a Reply