Klinik Picky Eaters

Eat Better Grow Better

Apakah Anak Picky Eater?

Apakah Anak Picky Eater?

Picky eater adalah perilaku makan ketika anak secara konsisten memilih makanan tertentu dan menolak makanan lain berdasarkan rasa, tekstur, warna, bau, atau bentuk makanan. Kondisi ini paling sering terjadi pada usia 1 hingga 6 tahun sebagai bagian dari perkembangan normal. Namun, apabila berlangsung lama, menyebabkan gangguan pertumbuhan, kekurangan gizi, atau sangat membatasi variasi makanan, kondisi tersebut perlu dievaluasi karena dapat merupakan tanda Pediatric Feeding Disorder atau penyakit yang mendasarinya.

Tanda dan Gejala

Gejala picky eater dapat bervariasi, antara lain:

• Hanya mau makan beberapa jenis makanan tertentu.
• Menolak mencoba makanan baru atau neofobia makanan.
• Sangat memilih tekstur, warna, atau aroma makanan.
• Waktu makan berlangsung lebih dari 30 hingga 45 menit.
• Mudah merasa kenyang meskipun makan sedikit.
• Lebih memilih minum susu daripada makan.
• Menolak sayur, buah, daging, atau makanan berprotein.
• Hanya mau makanan dengan merek tertentu.
• Menangis atau marah saat waktu makan.
• Menyemburkan atau menyimpan makanan di dalam mulut.
• Berat badan sulit naik pada sebagian anak.

Penyebab

Picky eater dapat disebabkan oleh satu atau beberapa faktor berikut.

1. Faktor perkembangan

• Penurunan kebutuhan energi setelah usia satu tahun.
• Fase neofobia makanan.
• Keinginan anak untuk mandiri memilih makanan.

2. Kebiasaan makan

• Jadwal makan tidak teratur.
• Terlalu banyak camilan.
• Minum susu berlebihan.
• Makan sambil bermain atau menggunakan gawai.
• Dipaksa makan.
• Suasana makan yang tidak menyenangkan.

3. Penyakit saluran cerna

• Konstipasi kronis.
• Penyakit refluks gastroesofageal.
• Nyeri perut berulang.
• Gangguan penyerapan makanan.
• Eosinophilic esophagitis.

4. Alergi makanan

• Nyeri perut setelah makan.
• Mual atau muntah.
• Konstipasi atau diare.
• Gatal pada mulut.
• Refluks.
• Perut kembung.

5. Gangguan oral motor

• Sulit mengunyah.
• Sulit menelan.
• Mudah tersedak.
• Hanya mau makanan lunak.

6. Gangguan sensorik

• Sangat sensitif terhadap tekstur makanan.
• Tidak tahan terhadap bau tertentu.
• Menolak makanan dengan warna tertentu.

7. Kekurangan zat gizi

• Defisiensi zat besi.
• Defisiensi seng.
• Defisiensi vitamin tertentu yang dapat memengaruhi nafsu makan.

8. Gangguan perkembangan

• Autism Spectrum Disorder.
• Attention Deficit Hyperactivity Disorder.
• Keterlambatan perkembangan.
• Penyakit neurologis.

Faktor Risiko

Beberapa faktor meningkatkan risiko anak menjadi picky eater.

• Usia 1 hingga 6 tahun.
• Riwayat picky eater sejak bayi.
• Pengenalan makanan pendamping ASI yang terlambat atau kurang bervariasi.
• Orang tua juga memiliki kebiasaan memilih makanan.
• Terlalu sering mengonsumsi susu atau camilan.
• Penggunaan gawai saat makan.
• Riwayat alergi makanan.
• Konstipasi kronis.
• Penyakit refluks gastroesofageal.
• Gangguan oral motor.
• Gangguan sensorik.
• Penyakit kronis.
• Pengalaman tersedak atau muntah saat makan.
• Lingkungan makan yang penuh tekanan atau paksaan.

Kapan Harus ke Dokter?

Anak perlu dievaluasi apabila ditemukan salah satu kondisi berikut.

• Berat badan tidak naik atau menurun.
• Tinggi badan tidak bertambah sesuai kurva pertumbuhan.
• Hanya mau makan sangat sedikit jenis makanan.
• Menolak hampir semua makanan.
• Sering tersedak atau muntah saat makan.
• Nyeri saat makan.
• Konstipasi kronis atau diare berkepanjangan.
• Diduga mengalami alergi makanan.
• Terdapat keterlambatan perkembangan.
• Kesulitan makan berlangsung lebih dari tiga bulan dan mengganggu status gizi atau aktivitas sehari-hari.

Sebagian besar picky eater bersifat sementara dan membaik seiring pertumbuhan. Namun, evaluasi yang menyeluruh penting untuk memastikan tidak ada penyakit yang mendasari, terutama bila disertai gangguan pertumbuhan, gejala saluran cerna, atau keterbatasan asupan makanan yang berat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *