PERTANYAAN
Anak Saya Usia 4 Tahun Sering Batuk Pilek, Sulit Makan, Kurus, dan Berat Badannya Sulit Naik. Awalnya Divonis Tuberkulosis, Tetapi Setelah Diperiksa Dokter Spesialis Paru Ternyata Bukan TB. Kemudian Dokter Lain Mengatakan Penyebabnya Adalah Alergi Makanan. Apakah Alergi Makanan Memang Bisa Menyebabkan Semua Keluhan Itu? Bagaimana Cara Mengetahui Makanan Penyebab Alerginya, Mengapa Anak dengan Alergi Makanan Lebih Mudah Sakit, dan Apa yang Harus Dilakukan Agar Berat Badannya Bisa Naik Kembali?
JAWABAN
Keluhan seperti ini cukup sering dialami anak usia prasekolah dan sering membuat orang tua bingung karena diagnosis yang diperoleh bisa berbeda-beda. Banyak anak datang dengan keluhan batuk pilek yang berulang hampir setiap bulan, sulit makan sejak lama, berat badan tidak kunjung naik, tubuh tampak lebih kurus dibandingkan teman seusianya, bahkan ada yang sudah mendapat berbagai macam vitamin, antibiotik, susu tinggi kalori, obat penambah nafsu makan, hingga sempat dicurigai menderita tuberkulosis. Padahal, setelah dilakukan evaluasi yang lebih lengkap oleh dokter spesialis anak atau dokter yang berpengalaman di bidang alergi, ternyata penyebab utamanya adalah alergi makanan. Hal ini dapat terjadi karena manifestasi alergi makanan tidak selalu berupa gatal atau ruam kulit. Pada sebagian anak, keluhan justru lebih banyak muncul pada saluran cerna, saluran napas, dan gangguan pertumbuhan sehingga sering menyerupai penyakit lain.
Alergi makanan merupakan reaksi sistem imun terhadap protein makanan tertentu. Saat makanan penyebab alergi dikonsumsi, tubuh akan melepaskan berbagai zat peradangan yang memengaruhi banyak organ sekaligus. Pada saluran cerna dapat muncul mual, muntah, refluks, nyeri perut, perut kembung, diare, konstipasi, atau peradangan usus ringan yang berlangsung lama. Anak menjadi tidak nyaman setiap kali makan sehingga nafsu makan menurun dan timbul feeding difficulties atau picky eating. Bila kondisi ini berlangsung berbulan-bulan, asupan energi dan zat gizi menjadi tidak mencukupi sehingga berat badan sulit naik. Selain itu, peradangan kronis pada usus juga dapat mengganggu penyerapan beberapa zat gizi penting seperti zat besi, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan untuk pertumbuhan.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa saluran cerna memiliki peran penting dalam sistem kekebalan tubuh. Ketika terjadi peradangan akibat alergi makanan, fungsi sawar usus dapat terganggu sehingga keseimbangan mikrobiota usus ikut berubah dan respons imun menjadi kurang optimal. Akibatnya, sebagian anak lebih mudah mengalami infeksi saluran napas atas seperti batuk, pilek, radang tenggorokan, atau infeksi telinga yang berulang. Namun, penting dipahami bahwa alergi makanan bukan penyebab langsung infeksi virus atau bakteri. Alergi menyebabkan peradangan dan gangguan fungsi saluran napas maupun saluran cerna yang dapat membuat anak lebih rentan mengalami gejala berulang atau pemulihan yang lebih lambat dibandingkan anak tanpa alergi. Oleh karena itu, setiap anak yang sering sakit tetap perlu dievaluasi secara menyeluruh agar tidak mengabaikan kemungkinan penyebab lain seperti gangguan kekebalan tubuh, penyakit paru, kelainan jantung, atau infeksi kronis.
Tidak semua anak dengan batuk pilek berulang memiliki alergi makanan. Dokter akan mempertimbangkan diagnosis tersebut bila terdapat petunjuk tertentu, misalnya riwayat eksim, biduran, asma, rinitis alergi, anggota keluarga dengan penyakit alergi, gangguan saluran cerna yang menetap, sulit makan, konstipasi kronis, refluks, muntah berulang, atau berat badan yang sulit naik tanpa penyebab yang jelas. Pemeriksaan juga mencakup penilaian kurva pertumbuhan, riwayat makan sejak bayi, pemeriksaan fisik lengkap, serta bila diperlukan pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan penunjang lainnya. Diagnosis tidak boleh ditegakkan hanya berdasarkan satu gejala atau satu hasil pemeriksaan saja karena banyak penyakit lain yang dapat memberikan keluhan yang hampir sama.
Untuk mencari makanan penyebab alergi, langkah pertama adalah menyusun riwayat yang sangat rinci mengenai hubungan antara makanan dan munculnya gejala. Orang tua biasanya diminta mencatat makanan yang dikonsumsi anak, waktu munculnya keluhan, jenis gejala, serta pola yang berulang. Bila diperlukan, dokter dapat melakukan pemeriksaan seperti skin prick test atau pemeriksaan IgE spesifik pada kondisi yang sesuai. Namun, kedua pemeriksaan tersebut tidak dapat berdiri sendiri karena hasil positif hanya menunjukkan adanya sensitisasi dan belum tentu berarti makanan tersebut benar-benar menyebabkan gejala klinis. Sebaliknya, hasil negatif juga tidak sepenuhnya menyingkirkan semua jenis alergi makanan, terutama pada alergi non-IgE. Karena itu, hasil pemeriksaan selalu harus diinterpretasikan bersama riwayat klinis dan pemeriksaan dokter.
Apabila setelah evaluasi dokter terdapat dugaan kuat terhadap makanan tertentu, dokter dapat menyarankan diet eliminasi yang terarah selama periode tertentu untuk melihat apakah gejala membaik. Setelah itu, pada kondisi yang sesuai dan dilakukan di bawah pengawasan tenaga kesehatan, dapat dipertimbangkan uji provokasi makanan atau oral food challenge. Pemeriksaan ini hingga saat ini masih dianggap sebagai baku emas untuk memastikan apakah suatu makanan benar-benar menjadi penyebab alergi. Tujuannya bukan untuk membatasi sebanyak mungkin makanan, tetapi justru untuk memastikan makanan mana yang benar-benar harus dihindari dan makanan mana yang sebenarnya aman sehingga anak tetap memperoleh nutrisi yang cukup untuk tumbuh dan berkembang.
Penanganan anak dengan alergi makanan tidak hanya berfokus pada menghindari makanan penyebab alergi. Dokter juga akan memperbaiki status gizi, mengatasi gangguan saluran cerna seperti refluks atau konstipasi bila ada, menangani infeksi yang menyertai, serta membantu anak kembali memiliki pengalaman makan yang menyenangkan. Pemantauan berat badan, tinggi badan, dan perkembangan anak dilakukan secara berkala untuk memastikan pertumbuhan kembali sesuai dengan kurva usianya. Dengan diagnosis yang tepat, eliminasi makanan yang benar-benar diperlukan, serta pemenuhan kebutuhan nutrisi yang adekuat, banyak anak menunjukkan perbaikan nafsu makan, frekuensi infeksi berulang berkurang, kualitas tidur membaik, aktivitas meningkat, dan berat badan kembali bertambah sesuai dengan potensi pertumbuhannya.










Leave a Reply