Klinik Picky Eaters

KLINIK KESULITAN MAKAN & GANGGUAN BERAT BADAN

Picky Eating pada Anak: Fase Perkembangan atau Masalah Kesehatan yang Tersembunyi?

 

Picky Eating pada Anak: Fase Perkembangan atau Masalah Kesehatan yang Tersembunyi?

Sandiaz Yudhasmara, Widodo Judarwanto

Picky eating (PE), food selectivity, atau perilaku makan pilih-pilih merupakan salah satu masalah makan yang paling sering dikeluhkan orang tua pada masa kanak-kanak. Namun, perilaku ini berada pada suatu spektrum yang luas: pada sebagian anak merupakan fase perkembangan yang bersifat sementara, sedangkan pada sebagian lainnya dapat menetap dan berhubungan dengan keterbatasan variasi makanan, masalah nutrisi, gangguan pertumbuhan, serta dampak psikososial. Tinjauan naratif Pjetraj dkk. yang diterbitkan dalam Nutrients pada 12 Desember 2025 menegaskan bahwa prevalensi PE yang dilaporkan sangat bervariasi, sekitar 13–50%, dengan kejadian yang paling sering ditemukan pada usia 2–6 tahun. (PubMed)

Picky Eating Tidak Selalu Sama dengan Gangguan Makan

Salah satu pesan penting penelitian tersebut adalah perlunya membedakan picky eating yang masih sesuai perkembangan dari kondisi yang membutuhkan evaluasi klinis. Anak dengan PE dapat menolak makanan tertentu, memiliki pilihan makanan yang sangat terbatas, atau sensitif terhadap rasa, tekstur, aroma, maupun penampilan makanan. Namun, PE tidak secara otomatis berarti anak mengalami gangguan makan. Penilaian perlu mempertimbangkan variasi makanan, kecukupan nutrisi, pola pertumbuhan, kondisi medis, perilaku saat makan, serta dampaknya terhadap kehidupan anak dan keluarga. (PubMed Central (PMC))

Perbedaan juga penting antara PE, food neophobia, pediatric feeding disorder (PFD), dan avoidant/restrictive food intake disorder (ARFID). Food neophobia terutama menggambarkan penolakan terhadap makanan yang belum dikenal, sedangkan PE dapat mencakup penolakan terhadap makanan baru maupun makanan yang sebelumnya pernah diterima. ARFID mempunyai konsekuensi klinis yang lebih serius, misalnya kekurangan nutrisi, gangguan pertumbuhan, ketergantungan terhadap suplementasi, atau gangguan fungsi psikososial. Oleh karena itu, istilah “picky eater” sebaiknya tidak digunakan sebagai diagnosis tunggal tanpa melihat keseluruhan kondisi anak.

Faktor yang Memengaruhi Picky Eating

Picky eating merupakan fenomena multifaktorial. Faktor yang dilaporkan meliputi predisposisi genetik, sensitivitas sensorik, temperamen, pengalaman makan, pola interaksi orang tua-anak, lingkungan keluarga, serta budaya dan kebiasaan makan. Persepsi orang tua juga berperan besar karena standar mengenai “anak makan sedikit” atau “anak makan terlalu pilih-pilih” dapat berbeda antar keluarga dan budaya. Dalam penelitian yang dirangkum Pjetraj dkk., tekanan makan, pemaksaan, ancaman, serta pola interaksi yang negatif dapat berkontribusi terhadap hubungan makan yang kurang sehat, sedangkan pendekatan yang responsif, terstruktur, dan memberikan kesempatan berulang untuk mengenal makanan baru lebih mendukung proses penerimaan makanan. (PubMed Central (PMC))

Pengalaman makan yang tidak menyenangkan juga perlu diperhatikan. Anak yang pernah mengalami pengalaman medis atau prosedur yang mengganggu proses makan dapat mengalami keengganan oral atau masalah makan yang lebih kompleks. Sebaliknya, cara pemberian makanan pada masa awal kehidupan tampaknya memiliki pengaruh yang lebih kompleks dan tidak selalu menunjukkan hubungan sebab-akibat yang kuat. Karena itu, pendekatan terhadap anak dengan masalah makan harus mempertimbangkan riwayat perkembangan, pengalaman makan, kondisi medis, kemampuan oral-motor, dan faktor sensorik secara individual.

Dampak terhadap Nutrisi dan Pertumbuhan

Sebagian besar anak dengan PE dapat berkembang dengan baik dan secara bertahap memperluas variasi makanannya. Namun, PE yang berat atau menetap dapat meningkatkan risiko pola makan yang kurang beragam. Anak dapat mengonsumsi lebih sedikit kelompok makanan tertentu, termasuk buah, sayuran, sumber protein, atau makanan yang mengandung mikronutrien tertentu. Sejumlah penelitian yang dirangkum dalam tinjauan tersebut menunjukkan adanya hubungan antara selektivitas makanan dengan asupan nutrisi yang lebih rendah pada sebagian anak, termasuk kemungkinan kekurangan zat besi, seng, magnesium, dan mikronutrien lainnya. (PubMed Central (PMC))

Karena itu, evaluasi anak dengan PE tidak seharusnya hanya berfokus pada jumlah makanan yang dimakan dalam satu kali makan. Yang lebih penting adalah melihat pola pertumbuhan dari waktu ke waktu, variasi makanan, kecukupan kelompok pangan, tanda kekurangan nutrisi, serta fungsi anak secara keseluruhan. Anak dengan berat badan dan pertumbuhan yang baik tetap dapat memiliki pola makan yang kurang beragam, sementara anak dengan PE disertai perlambatan pertumbuhan membutuhkan evaluasi yang lebih menyeluruh.

Dampak Psikososial dan Keluarga

Masalah makan tidak hanya berdampak pada anak, tetapi juga dapat memengaruhi hubungan orang tua dan anak. Waktu makan yang penuh tekanan, konflik berulang, pemaksaan, atau kecemasan orang tua dapat menciptakan pengalaman makan yang negatif. Sebaliknya, suasana makan yang terstruktur tetapi tidak penuh tekanan dapat membantu anak membangun hubungan yang lebih positif dengan makanan. Tinjauan tersebut menekankan pentingnya pendekatan family-centered, yaitu melibatkan keluarga dalam memahami penyebab, dampak, serta strategi penanganan masalah makan. (PubMed)

Pada kasus yang menetap, masalah makan juga dapat berhubungan dengan aspek psikologis, sensorik, sosial, dan perkembangan. Sebagian anak dapat mengalami kesulitan mengikuti kegiatan makan bersama, menolak makanan di sekolah, atau menghindari situasi sosial yang melibatkan makanan. Hal ini menunjukkan bahwa evaluasi masalah makan sebaiknya tidak hanya bertanya “anak mau makan apa”, tetapi juga “mengapa anak menolak makanan”, “apa yang terjadi saat makan”, dan “seberapa besar masalah tersebut mengganggu kehidupan anak”.

Prinsip Evaluasi Klinis

Evaluasi picky eating sebaiknya dilakukan secara bertahap dan individual. Riwayat makan perlu menggali jenis makanan yang diterima dan ditolak, tekstur yang dapat diterima, pola makan harian, durasi makan, perilaku saat makan, pengalaman tersedak atau muntah, serta kondisi medis yang mungkin memengaruhi makan. Penilaian pertumbuhan melalui berat badan, tinggi badan, dan pola pertumbuhan dari waktu ke waktu merupakan komponen penting. Bila terdapat kecurigaan kekurangan nutrisi atau gangguan medis, pemeriksaan lebih lanjut dapat dipertimbangkan sesuai indikasi klinis.

Instrumen laporan orang tua dapat membantu skrining, tetapi tidak seharusnya menggantikan penilaian klinis. Tinjauan Pjetraj dkk. menunjukkan bahwa terdapat banyak instrumen untuk menilai perilaku makan anak, tetapi belum terdapat keseragaman penuh dalam definisi dan pengukurannya. Perbedaan definisi, usia, budaya, dan metode penilaian merupakan salah satu alasan mengapa angka prevalensi PE antarpenelitian sangat beragam. (PubMed Central (PMC))

Penanganan: Tidak Semua Anak Membutuhkan Intervensi yang Sama

Pada PE ringan tanpa gangguan pertumbuhan atau kekurangan nutrisi, pendekatan dapat berfokus pada pendidikan orang tua, pola makan terstruktur, suasana makan yang positif, dan paparan berulang terhadap makanan baru tanpa tekanan berlebihan. Sebaliknya, PE yang berat atau menetap dengan gangguan pertumbuhan, kekurangan nutrisi, kesulitan oral-motor, gangguan sensorik, atau dampak psikososial yang bermakna memerlukan evaluasi lebih mendalam dan dapat membutuhkan tim multidisiplin. Tinjauan tersebut menyebutkan peran edukasi orang tua, responsive feeding, paparan berulang terhadap makanan, intervensi perilaku, terapi berbasis sensorik, serta rujukan multidisiplin pada kasus tertentu. (PubMed)

Suplementasi nutrisi juga tidak seharusnya diberikan secara otomatis kepada semua anak yang dianggap picky eater. Keputusan mengenai suplementasi sebaiknya didasarkan pada penilaian asupan, pertumbuhan, risiko kekurangan nutrisi, dan pertimbangan klinis. Tujuan utama bukan sekadar membuat anak mengonsumsi lebih banyak kalori, tetapi membangun pola makan yang cukup, beragam, aman, dan sesuai kebutuhan perkembangan anak.

Kesimpulan

Picky eating merupakan fenomena perkembangan yang umum, tetapi tidak selalu dapat dianggap sebagai fase sementara yang akan hilang dengan sendirinya. Sebagian besar anak mengalami perbaikan seiring bertambahnya usia, tetapi sebagian kecil dapat mengalami selektivitas yang menetap dengan konsekuensi nutrisi, pertumbuhan, psikososial, dan kualitas hidup. Oleh karena itu, pendekatan yang tepat bukanlah memberi label “anak susah makan” semata, melainkan membedakan PE perkembangan dari masalah makan yang membutuhkan evaluasi klinis. Bukti terbaru mendukung pendekatan yang dini, individual, berbasis pertumbuhan dan nutrisi, responsif terhadap kebutuhan anak, serta melibatkan keluarga dan tenaga kesehatan terkait bila diperlukan. (PubMed)

Daftar Pustaka 

  • Pjetraj D, Pjetraj A, Sayed D, Severini M, Falcioni L, Svarca LE, et al. Decoding picky eating in children: a temporary phase or a hidden health concern? Nutrients. 2025;17(24):3884. doi:10.3390/nu17243884. PMID:41470829; PMCID:PMC12736178. PubMed Full text gratis di PubMed Central
  • Kutbi HA. Picky eating in school-aged children: sociodemographic determinants and the associations with dietary intake. Nutrients. 2021;13(8):2518. doi:10.3390/nu13082518.
  • Yalçın S, Oflu A, Akturfan M, Yalçın SS. Characteristics of picky eater children in Turkey: a cross-sectional study. BMC Pediatr. 2022;22:431. doi:10.1186/s12887-022-03458-0.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *