KONSUL PICKY EATERS: Anak Usia 3 Tahun Berat Badan Sulit Naik, Susah Makan, Sering Batuk Pilek, Apakah Pasti Tuberkulosis?
Pertanyaan
Dok, anak saya berusia 3 tahun sudah hampir satu tahun sangat susah makan. Setiap kali makan hanya beberapa suap lalu menolak. Ia hanya mau minum susu dan makanan tertentu. Berat badannya sulit naik meskipun sudah diberikan vitamin, susu tinggi kalori, dan penambah nafsu makan. Selain itu, anak sering mengalami batuk pilek hampir setiap bulan sehingga banyak yang menyarankan kemungkinan tuberkulosis (TB). Bahkan ada yang mengatakan anak saya harus segera minum obat TB karena kurus, susah makan, dan sering batuk pilek. Saya menjadi bingung dan khawatir. Apakah benar semua anak dengan kondisi seperti ini pasti menderita TB? Apakah ada kemungkinan penyebab lain seperti picky eater, alergi makanan, konstipasi, refluks, atau gangguan pencernaan? Pemeriksaan apa yang sebaiknya dilakukan agar diagnosisnya tepat dan anak tidak mendapatkan pengobatan yang tidak diperlukan?
Jawaban
- Tidak. Anak yang susah makan, berat badan sulit naik, dan sering batuk pilek tidak selalu menderita tuberkulosis. Ketiga keluhan tersebut merupakan gejala yang tidak spesifik sehingga dapat disebabkan oleh banyak penyakit maupun kondisi yang bukan TB. Diagnosis tuberkulosis pada anak harus ditegakkan berdasarkan gabungan riwayat kontak erat dengan penderita TB, gejala klinis, pemeriksaan fisik, hasil uji tuberkulin atau IGRA bila diperlukan, pemeriksaan radiologi, serta penilaian dokter. Tidak ada satu gejala yang dapat memastikan diagnosis TB.
- Saat ini perlu diwaspadai terjadinya overdiagnosis tuberkulosis pada sebagian anak. Overdiagnosis berarti seorang anak didiagnosis sebagai TB padahal sebenarnya menderita penyakit lain. Kondisi ini dapat terjadi bila diagnosis hanya didasarkan pada berat badan sulit naik, susah makan, atau batuk pilek berulang tanpa evaluasi yang menyeluruh. Akibatnya, anak dapat memperoleh obat antituberkulosis selama berbulan-bulan tanpa manfaat karena penyebab sebenarnya belum teratasi. Sebaliknya, penyakit yang mendasari justru terlambat dikenali. Karena itu, setiap dugaan TB perlu dievaluasi secara cermat sesuai pedoman yang berlaku.
- Pada usia 1 hingga 5 tahun, penyebab tersering susah makan justru adalah picky eater atau feeding difficulties. Anak sedang berada pada fase perkembangan ketika mulai memilih makanan berdasarkan rasa, tekstur, warna, atau bentuk. Nafsu makan juga secara fisiologis menurun setelah usia satu tahun karena kecepatan pertumbuhan melambat. Namun, bila berat badan tidak bertambah, variasi makanan sangat terbatas, atau waktu makan selalu menjadi masalah, dokter perlu mencari penyebab lain yang mendasari.
- Gangguan saluran cerna merupakan penyebab yang sangat sering tetapi sering tidak disadari. Konstipasi kronis dapat membuat perut terasa penuh sehingga anak cepat kenyang dan menolak makan. Penyakit refluks gastroesofageal dapat menyebabkan nyeri atau rasa tidak nyaman setelah makan. Alergi makanan pada sebagian anak juga dapat menimbulkan nyeri perut, muntah, refluks, konstipasi, diare, atau perut kembung tanpa disertai bentol pada kulit. Kondisi tersebut dapat menyebabkan anak makan sedikit, berat badan sulit naik, dan pada sebagian kasus disertai batuk, pilek, atau gangguan saluran napas yang berulang sesuai penyakit yang mendasarinya.
- Batuk pilek berulang juga tidak identik dengan tuberkulosis. Anak usia prasekolah dapat mengalami infeksi virus saluran napas beberapa kali dalam setahun karena sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang. Selain itu, rinitis alergi, asma, pembesaran adenoid, paparan asap rokok, maupun penyakit saluran napas lainnya juga dapat menyebabkan batuk dan pilek berulang. Oleh sebab itu, penyebab infeksi berulang harus dinilai secara menyeluruh sebelum menyimpulkan bahwa seorang anak menderita TB.
- Evaluasi yang tepat meliputi penilaian kurva pertumbuhan, pola makan, riwayat kontak dengan penderita TB, riwayat alergi, gejala saluran cerna, pola buang air besar, perkembangan anak, serta pemeriksaan fisik lengkap. Pemeriksaan laboratorium, foto dada, uji tuberkulin, IGRA, maupun pemeriksaan lain dilakukan sesuai indikasi klinis. Dengan pendekatan yang sistematis, dokter dapat membedakan apakah keluhan disebabkan oleh tuberkulosis, picky eater, alergi makanan, konstipasi, refluks, atau penyakit lainnya. Diagnosis yang tepat akan menghasilkan terapi yang tepat sehingga peluang perbaikan nafsu makan, kenaikan berat badan, dan kualitas hidup anak menjadi lebih baik.



Leave a Reply