Kesulitan makan merupakan salah satu persoalan yang sering ditemukan pada anak dengan autism spectrum disorder (ASD). Salah satu bentuk yang paling banyak dilaporkan adalah food selectivity, yaitu kondisi ketika anak hanya mau mengonsumsi jenis makanan yang sangat terbatas. Kondisi ini tidak sekadar berkaitan dengan pilihan makanan, tetapi dapat memengaruhi kecukupan gizi, pola makan, serta kehidupan sehari-hari anak dan keluarganya.
Temuan tersebut menjadi perhatian dalam penelitian Shayleigh Dickson Page dan rekan-rekan yang diterbitkan dalam Journal of Autism and Developmental Disorders pada tahun 2022. Penelitian berjudul “Correlates of Feeding Difficulties Among Children with Autism Spectrum Disorder: A Systematic Review” tersebut bertujuan mengidentifikasi berbagai faktor yang berkaitan dengan kesulitan makan pada anak dengan ASD.
Para peneliti melakukan pencarian sistematis terhadap penelitian yang tersedia dalam empat basis data ilmiah, yaitu PubMed, Embase, PsycInfo, dan CINAHL. Dari proses tersebut, sebanyak 29 penelitian memenuhi kriteria untuk ditinjau. Peneliti kemudian mengelompokkan faktor yang diteliti ke dalam delapan kategori, yaitu usia, gejala dan tingkat keparahan ASD, kemampuan kognitif dan adaptif, pemrosesan serta persepsi sensorik, perilaku menantang, status berat badan, gejala gastrointestinal, dan stres orang tua.
Hasil tinjauan menunjukkan bahwa hubungan yang paling konsisten ditemukan antara kesulitan makan dan gangguan pada pemrosesan atau persepsi sensorik. Anak dengan ASD dapat mengalami respons sensorik yang berbeda terhadap rasa, tekstur, aroma, suhu, maupun tampilan makanan. Perbedaan tersebut dapat membuat makanan tertentu terasa tidak nyaman sehingga anak cenderung menolak atau menghindarinya.
Selain faktor sensorik, kesulitan makan juga cenderung berkaitan dengan rigiditas atau perilaku yang kaku. Anak yang memiliki kebutuhan kuat terhadap rutinitas dan kesulitan menerima perubahan dapat menunjukkan preferensi makanan yang sangat spesifik. Misalnya, anak hanya menerima makanan dengan merek, warna, bentuk, tekstur, atau cara penyajian tertentu.
Penelitian tersebut juga menemukan kecenderungan hubungan antara kesulitan makan dan challenging behavior atau perilaku menantang. Penolakan makanan, tantrum, atau perilaku lain dapat muncul dalam situasi makan. Namun, hubungan tersebut perlu dipahami secara hati-hati karena perilaku dan kesulitan makan dapat saling berkaitan, sementara penelitian yang ditinjau memiliki perbedaan dalam metode dan definisi yang digunakan.
Hal penting lainnya adalah temuan bahwa kesulitan makan tidak selalu menghilang seiring bertambahnya usia. Dalam tinjauan tersebut, kesulitan makan berupa selektivitas makanan justru cenderung tetap bertahan pada anak yang semakin besar. Temuan ini menunjukkan bahwa masalah makan sebaiknya tidak dianggap sebagai fase singkat yang pasti akan hilang tanpa perhatian atau intervensi.
Sementara itu, beberapa faktor lain menunjukkan hasil penelitian yang tidak konsisten. Hubungan dengan usia, tingkat gejala ASD, kemampuan kognitif dan adaptif, status berat badan, gejala gastrointestinal, serta stres orang tua belum menunjukkan pola yang seragam di seluruh penelitian. Perbedaan hasil tersebut menunjukkan bahwa kesulitan makan pada anak dengan ASD kemungkinan merupakan kondisi yang kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Salah satu kelemahan utama penelitian yang ditinjau adalah tidak seragamnya istilah, definisi, dan alat ukur yang digunakan untuk menggambarkan kesulitan makan. Sebagian penelitian mungkin menggunakan istilah food selectivity, sementara penelitian lain menggunakan istilah yang berbeda atau mengukur aspek kesulitan makan dengan instrumen yang tidak sama. Perbedaan tersebut dapat menyulitkan perbandingan langsung antarpenelitian.
Pesan Penting
- Pesan penting dari tinjauan sistematis ini adalah bahwa kesulitan makan pada anak dengan ASD perlu dipandang sebagai masalah yang memiliki banyak dimensi. Faktor sensorik dan perilaku tampak memiliki keterkaitan yang kuat, sehingga perhatian terhadap pengalaman sensorik anak ketika makan menjadi penting. Anak tidak selalu menolak makanan karena “tidak mau”, tetapi dapat memiliki respons terhadap karakteristik sensorik makanan yang berbeda dari anak lain.
- Kesulitan makan juga perlu diperhatikan sejak dini karena masalah tersebut dapat menetap seiring pertambahan usia. Pemahaman terhadap pola makan anak, jenis makanan yang diterima dan ditolak, serta kondisi yang menyertai perilaku makan dapat membantu orang tua dan tenaga profesional menentukan pendekatan yang sesuai. Penanganan juga perlu mempertimbangkan kebutuhan individual anak, bukan hanya berfokus pada jumlah makanan yang dikonsumsi.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, tinjauan sistematis Dickson Page dan kolega menunjukkan bahwa food selectivity merupakan bentuk kesulitan makan yang umum dan memiliki hubungan yang konsisten dengan gangguan pemrosesan serta persepsi sensorik pada anak dengan ASD. Kesulitan tersebut juga cenderung berkaitan dengan rigiditas dan perilaku menantang serta dapat bertahan ketika anak bertambah usia. Namun, bukti mengenai faktor-faktor lain masih beragam. Oleh karena itu, penelitian lanjutan dengan definisi dan metode pengukuran yang lebih seragam diperlukan untuk memahami penyebab dan perkembangan kesulitan makan pada anak dengan ASD secara lebih mendalam.









Leave a Reply