- ANAK SULIT MAKAN DAN BERAT BADAN SULIT NAIK: APAKAH ADA GANGGUAN MEDIS YANG MENDASARI?
- Review Ilmiah Populer Berdasarkan Systematic Review Clinical & Experimental Allergy Tahun 2026
Anak sulit makan, menolak berbagai jenis makanan, hanya mau mengonsumsi makanan tertentu, atau mengalami kenaikan berat badan yang lambat sering dianggap sebagai anak yang terlalu pemilih (picky eater). Padahal, pada sebagian anak, masalah tersebut dapat berkaitan dengan gangguan medis, termasuk penyakit saluran cerna dan alergi makanan. Jika berlangsung lama, kesulitan makan dapat mengurangi asupan energi dan zat gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan, sehingga anak berisiko mengalami berat badan rendah atau pertumbuhan yang tidak optimal.
- Hubungan antara kesulitan makan dan alergi makanan menjadi perhatian dalam penelitian Marianne Louise Tomlin dan kolega yang diterbitkan dalam jurnal Clinical & Experimental Allergy pada 2026. Artikel berjudul Prevalence of Feeding Difficulties in Children With Non-IgE Mediated Food Allergies: A Systematic Review menelaah prevalensi kesulitan makan pada anak dengan alergi makanan non-IgE. Penelitian ini memberikan dasar ilmiah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan penyakit yang mendasari kesulitan makan, tanpa menganggap bahwa setiap anak yang sulit makan pasti mengalami alergi.
- Kesulitan Makan Bukan Sekadar Anak Tidak Mau Makan
- Kesulitan makan pada anak memiliki bentuk yang beragam. Sebagian anak hanya mau mengonsumsi beberapa jenis makanan, menolak tekstur tertentu, makan dalam waktu sangat lama, atau lebih memilih susu daripada makanan padat. Ada pula anak yang menunjukkan penolakan makan karena merasa tidak nyaman, mengalami muntah berulang, atau memiliki kesulitan mengunyah dan menelan.
- Dalam praktik klinis, kondisi tersebut perlu dibedakan antara perilaku memilih makanan, gangguan keterampilan makan, dan kesulitan makan yang berkaitan dengan penyakit medis. Anak yang menolak makanan karena nyeri saat menelan, misalnya, memerlukan pendekatan berbeda dari anak yang menolak sayuran karena preferensi rasa.
- Karena itu, kesulitan makan yang menetap perlu dinilai berdasarkan riwayat makan, variasi makanan yang dapat diterima, kemampuan mengunyah dan menelan, gejala saluran cerna, serta dampaknya terhadap pertumbuhan.
- Berat Badan Sulit Naik: Tanda yang Perlu Dievaluasi
- Berat badan yang sulit naik merupakan salah satu konsekuensi penting yang dapat menyertai masalah makan. Ketika asupan makanan tidak mencukupi kebutuhan tubuh, anak mungkin tidak memperoleh energi, protein, lemak, vitamin, dan mineral yang cukup untuk mendukung pertumbuhan.
- Namun, berat badan sulit naik tidak selalu disebabkan oleh sedikitnya makanan yang dikonsumsi. Penyakit kronis, gangguan penyerapan zat gizi, masalah saluran cerna, kesulitan menelan, dan faktor lainnya juga dapat berperan.
- Evaluasi harus mencakup pengukuran berat dan tinggi badan, penilaian kurva pertumbuhan dari waktu ke waktu, serta pemeriksaan pola makan dan gejala penyerta. Berat badan saja tidak cukup untuk menetapkan status gizi; interpretasinya perlu mempertimbangkan usia, jenis kelamin, tinggi badan, dan standar pertumbuhan anak.
- Apa Temuan Review Jurnal Tahun 2026?
- Tomlin dan kolega menelusuri empat basis data ilmiah hingga 17 September 2025. Dari 10.681 rekaman awal, 17 artikel memenuhi kriteria untuk dianalisis.
- Hasilnya menunjukkan bahwa prevalensi kesulitan makan pada anak dengan alergi makanan bervariasi antara 13,6% dan 86,2%. Pada penelitian yang secara khusus mengidentifikasi alergi makanan non-IgE, prevalensinya berkisar 22%–59,3%.
- Angka tersebut menunjukkan bahwa kesulitan makan merupakan masalah yang patut diperhatikan pada anak dengan alergi makanan. Namun, rentang yang luas mencerminkan perbedaan populasi, definisi kesulitan makan, dan metode pengukuran antarpenelitian. Angka tersebut bukan satu estimasi prevalensi yang berlaku untuk seluruh anak dengan alergi makanan.
- Salah satu kelompok yang menonjol dalam review adalah anak dengan eosinophilic esophagitis (EoE), yaitu penyakit inflamasi pada esofagus yang dapat berkaitan dengan respons imun terhadap antigen makanan. Pada kondisi ini, anak dapat mengalami kesulitan menelan, menolak makanan, makan sangat lambat, atau menghindari tekstur tertentu. Pada anak yang lebih kecil, masalah tersebut dapat tampak sebagai kesulitan makan dan gangguan pertumbuhan.
- Temuan ini mendukung pentingnya mencari penyebab medis pada anak dengan kesulitan makan, tetapi tidak membuktikan bahwa alergi makanan merupakan penyebab semua kasus picky eating atau berat badan sulit naik.
- Bagaimana Alergi Makanan Dapat Berkaitan dengan Kesulitan Makan?
- Pada sebagian anak, penyakit saluran cerna dapat menimbulkan nyeri, mual, muntah, atau ketidaknyamanan ketika makan. Pengalaman tersebut berpotensi membuat anak menghindari makanan tertentu atau semakin sulit menerima makanan baru.
- Jika penolakan makan berlangsung lama, asupan energi dapat berkurang dan pertumbuhan terganggu. Sebaliknya, pembatasan makanan yang berlebihan akibat dugaan alergi yang belum terkonfirmasi juga dapat mengurangi kecukupan nutrisi.
- Alergi makanan non-IgE perlu dipertimbangkan apabila riwayat klinis menunjukkan hubungan yang masuk akal antara makanan tertentu dan gejala. Diagnosis tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan anak sulit makan, konstipasi, kulit kering, atau berat badan yang tidak meningkat. Pemeriksaan dan prosedur konfirmasi harus disesuaikan dengan jenis alergi yang dicurigai.
- Kapan Anak Perlu Diperiksa Lebih Lanjut?
- Orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter apabila anak terus-menerus menolak makanan, hanya mau mengonsumsi jenis makanan yang sangat terbatas, bergantung pada susu sehingga asupan makanan padat tidak memadai, mengalami muntah atau nyeri perut berulang, atau berat badannya tidak mengikuti lintasan pertumbuhan yang diharapkan.
- Kesulitan mengunyah atau menelan, batuk dan tersedak saat makan, makanan terasa tersangkut, serta muntah berulang memerlukan evaluasi khusus. Dokter juga perlu menilai konstipasi menetap, diare kronis, darah pada feses, dan tanda gangguan penyerapan bila ditemukan.
- Penanganan sebaiknya dilakukan berdasarkan penyebab yang teridentifikasi. Anak dapat memerlukan terapi gangguan saluran cerna, dukungan nutrisi, evaluasi keterampilan makan, atau pemeriksaan alergi yang terarah. Apabila alergi makanan non-IgE dicurigai, dokter dapat mempertimbangkan eliminasi diagnostik dalam waktu terbatas dan pengenalan kembali makanan sesuai profil risiko. Diet eliminasi jangka panjang tanpa indikasi dan pengawasan dapat meningkatkan risiko kekurangan nutrisi.
- Kesimpulan
- Kesulitan makan dan berat badan sulit naik merupakan dua masalah yang perlu dinilai secara bersamaan. Anak yang terus-menerus menolak makanan tidak selalu sekadar pemilih; pada sebagian kasus, terdapat gangguan medis, nutrisi, atau keterampilan makan yang memerlukan penanganan khusus.
- Review sistematis Tomlin dan kolega tahun 2026 menunjukkan bahwa kesulitan makan sering dilaporkan pada anak dengan alergi makanan non-IgE. Temuan tersebut memperkuat pentingnya evaluasi menyeluruh, tetapi tidak membuktikan bahwa alergi merupakan penyebab utama seluruh masalah makan dan pertumbuhan.
Pesan utama bagi orang tua dan tenaga kesehatan: jangan hanya berfokus pada berapa banyak anak makan. Cari tahu mengapa anak sulit makan, apakah asupan gizinya mencukupi, dan apakah pertumbuhannya berlangsung sesuai harapan. Diagnosis yang tepat menjadi dasar penanganan yang aman dan efektif.
Referensi
- Tomlin ML, Bendall C, Loke P, Bennett CJ. Prevalence of Feeding Difficulties in Children With Non-IgE Mediated Food Allergies: A Systematic Review. Clinical & Experimental Allergy. 2026;56(9):1117–1124. doi: 10.1111/cea.70367.
- Tautan artikel: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/42348246/











Leave a Reply