- Gangguan Pertumbuhan dan Kesulitan Makan pada Anak: Waspada Overdiagnosis Tuberkulosis, Alergi Makanan, dan Penyakit Kronis
- dr Sandiaz Yudhasmara, Dr Widodo Judarwanto, pediatrician
Gangguan pertumbuhan dan kesulitan makan merupakan masalah klinis penting pada bayi dan anak. Berat badan sulit naik, nafsu makan rendah, penolakan makanan, dan pertumbuhan yang menyimpang dari kurva dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, mulai dari asupan energi yang tidak memadai, gangguan perilaku makan, penyakit saluran cerna, alergi makanan, hingga infeksi kronis seperti tuberkulosis (TB). Tantangan diagnostik muncul karena beberapa gejala tersebut tidak spesifik dan dapat mendorong penetapan diagnosis berdasarkan dugaan awal tanpa evaluasi yang cukup. TB perlu dipertimbangkan berdasarkan riwayat kontak, gejala klinis, pemeriksaan fisik, pencitraan, dan pemeriksaan mikrobiologis atau molekuler bila memungkinkan. Pada saat yang sama, dokter perlu menilai pola makan, kurva pertumbuhan, gejala gastrointestinal, serta manifestasi alergi yang mungkin berkaitan dengan makanan. Pada anak dengan dugaan alergi makanan, eliminasi terarah dan oral food challenge (OFC) di bawah pengawasan tenaga medis dapat membantu mengevaluasi hubungan antara makanan dan gejala. Perbaikan nafsu makan, keluhan pencernaan, dan kecepatan kenaikan berat badan setelah intervensi dapat memberikan informasi diagnostik, tetapi tidak dapat digunakan sendiri untuk menyingkirkan TB atau penyakit kronis lainnya. Artikel ini membahas pendekatan berbasis bukti untuk mengevaluasi gangguan pertumbuhan dan kesulitan makan, mengurangi risiko salah diagnosis, serta memastikan penanganan sesuai penyebab yang mendasari.
Pertumbuhan merupakan salah satu indikator penting untuk menilai kesehatan dan kecukupan nutrisi anak. Berat badan yang sulit naik, penurunan berat badan, atau penyimpangan dari kurva pertumbuhan dapat menjadi tanda bahwa asupan nutrisi tidak mencukupi atau terdapat penyakit yang memengaruhi kebutuhan energi, pencernaan, penyerapan, maupun metabolisme tubuh. Kesulitan makan juga dapat memperburuk keadaan karena anak tidak mampu memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi untuk pertumbuhan.
Dalam praktik klinis, anak dengan berat badan sulit naik dan kesulitan makan sering menjalani pemeriksaan untuk mencari penyakit kronis, termasuk tuberkulosis. Namun, gejala tersebut tidak spesifik untuk TB. Gangguan saluran cerna, alergi makanan, konstipasi kronis, penyakit saluran napas, gangguan menelan, masalah sensorik, dan gangguan interaksi saat makan juga dapat menyebabkan pola pertumbuhan yang serupa. Oleh karena itu, dokter perlu menghindari kecenderungan menetapkan satu diagnosis hanya berdasarkan gejala umum atau satu hasil pemeriksaan penunjang.
Singini dan kolega, dalam artikel Clinical diagnosis of TB: lessons on misdiagnosis and overdiagnosis yang diterbitkan pada 2025, membahas pentingnya kewaspadaan terhadap kesalahan diagnosis TB. Harries kemudian mengangkat kembali persoalan diagnosis TB yang terlalu berlebihan maupun terlewat. Kedua publikasi tersebut menegaskan relevansi evaluasi klinis yang cermat, meskipun tidak secara khusus membuktikan bahwa alergi makanan merupakan penyebab utama salah diagnosis TB pada anak.
Pendekatan yang tepat perlu menempatkan gangguan pertumbuhan dan kesulitan makan sebagai masalah utama yang harus dijelaskan penyebabnya. Diagnosis TB, alergi makanan, atau penyakit lain harus mengikuti bukti klinis yang tersedia, bukan ditentukan terlebih dahulu lalu digunakan untuk menjelaskan seluruh gejala anak.
Gangguan berat badan sebagai manifestasi berbagai penyakit
- Berat badan sulit naik atau growth faltering menggambarkan kondisi ketika pertambahan berat badan anak tidak sesuai dengan pola pertumbuhan yang diharapkan. Penilaian harus menggunakan pengukuran serial dan kurva pertumbuhan yang sesuai usia dan jenis kelamin. Satu kali pengukuran berat badan tidak cukup untuk menentukan adanya gangguan pertumbuhan.
Beberapa mekanisme utama dapat menyebabkan kondisi tersebut.
- Asupan energi yang tidak mencukupi. Anak mungkin makan dalam jumlah sedikit, menolak makanan, cepat kenyang, atau mengalami kesulitan mengunyah dan menelan. Pada sebagian anak, konstipasi dan nyeri perut dapat menurunkan nafsu makan sehingga asupan energi harian tidak memenuhi kebutuhan pertumbuhan.
- Gangguan pencernaan dan penyerapan. Muntah berulang, diare kronis, penyakit seliak, penyakit usus inflamasi, serta kondisi gastrointestinal lainnya dapat mengganggu pemenuhan atau pemanfaatan nutrisi. Penyebabnya perlu ditentukan berdasarkan riwayat, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang sesuai.
- Peningkatan kebutuhan energi. Infeksi kronis, penyakit jantung, penyakit paru, dan sejumlah kondisi sistemik dapat meningkatkan kebutuhan energi atau mengganggu pertumbuhan. TB termasuk salah satu diagnosis banding, terutama jika terdapat faktor risiko dan temuan klinis yang mendukung.
- Gangguan pemberian makan. Interaksi makan yang penuh tekanan, keterampilan makan yang belum berkembang, sensitivitas sensorik, serta gangguan perilaku makan dapat menyebabkan asupan yang tidak memadai. Kondisi ini dapat berdiri sendiri atau muncul bersama penyakit medis.
- Dengan demikian, gangguan pertumbuhan bukanlah diagnosis akhir. Dokter perlu mengidentifikasi mekanisme yang paling mungkin dan menentukan apakah terdapat satu atau beberapa penyebab sekaligus.
Hubungan kesulitan makan dengan gangguan pertumbuhan
- Kesulitan makan dan berat badan sulit naik dapat membentuk siklus yang saling memperburuk. Anak yang mengalami nyeri perut, mual, muntah, atau konstipasi dapat mengurangi asupan makanan. Asupan yang rendah kemudian menghambat pertambahan berat badan dan dapat memperburuk kondisi gizi.
- Pada sebagian anak, penolakan makan juga berkembang setelah pengalaman makan yang tidak menyenangkan. Anak dapat menghindari makanan tertentu karena tekstur, aroma, sensasi di mulut, atau pengalaman muntah dan nyeri sebelumnya. Karena itu, dokter perlu membedakan penolakan makan yang terutama berkaitan dengan perilaku dari penolakan makan yang dipicu oleh masalah medis.
Evaluasi sebaiknya mencakup:
- Jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi dalam sehari.
- Durasi makan, kemampuan mengunyah, dan keterampilan menelan.
- Riwayat konstipasi, diare, muntah, nyeri perut, atau cepat kenyang.
- Hubungan gejala dengan makanan tertentu.
- Riwayat batuk, mengi, rinitis, atau keluhan kulit.
- Perubahan berat badan, tinggi badan, dan kecepatan pertumbuhan.
- Respons terhadap intervensi nutrisi dan penanganan penyakit yang telah dilakukan
- Pemeriksaan ini membantu menentukan apakah masalah utama terletak pada asupan, fungsi saluran cerna, penyakit sistemik, atau kombinasi beberapa faktor.
Alergi makanan sebagai diagnosis banding
- Alergi makanan merupakan respons imun terhadap protein makanan tertentu. Manifestasinya dapat melibatkan kulit, saluran cerna, dan sistem pernapasan. Pada sebagian anak, gejala gastrointestinal dapat memengaruhi kemampuan makan dan status gizi.
- Keluhan yang perlu dievaluasi antara lain muntah berulang, diare, nyeri perut, serta gejala kulit atau reaksi alergi lain yang memiliki hubungan waktu dengan konsumsi makanan tertentu. Konstipasi juga dilaporkan berkaitan dengan alergi makanan pada sebagian anak, terutama dalam konteks alergi susu sapi, tetapi konstipasi jauh lebih sering memiliki penyebab lain. Karena itu, konstipasi saja tidak cukup untuk mendiagnosis alergi makanan.
- Alergi makanan dapat melibatkan mekanisme IgE, non-IgE, atau mekanisme campuran. Pemeriksaan skin prick test dan IgE spesifik membantu menilai sensitisasi pada alergi yang dimediasi IgE, tetapi hasil positif tidak otomatis membuktikan bahwa makanan tersebut menimbulkan gejala klinis. Sebaliknya, hasil negatif tidak menyingkirkan semua bentuk alergi makanan non-IgE.
- Pada anak dengan dugaan alergi makanan, dokter dapat mempertimbangkan eliminasi makanan yang dicurigai secara terarah dan untuk waktu terbatas. Jika gejala membaik, oral food challenge dapat dipertimbangkan untuk menilai apakah konsumsi kembali makanan tersebut memicu gejala. Prosedur ini harus disesuaikan dengan jenis reaksi dan tingkat risikonya. Pada dugaan alergi berat, tantangan makanan tidak boleh dilakukan sendiri di rumah.
- Perbaikan gejala setelah eliminasi merupakan petunjuk klinis, tetapi belum selalu membuktikan hubungan sebab-akibat. Perubahan pola makan, asupan energi, penggunaan obat, dan perjalanan alami penyakit juga dapat memengaruhi hasil.
Kemiripan gangguan pertumbuhan akibat TB dan alergi makanan
TB dan alergi makanan memiliki mekanisme penyakit yang berbeda, tetapi beberapa manifestasi klinisnya dapat tumpang tindih.
| Temuan klinis | Kemungkinan pada TB | Kemungkinan pada alergi atau gangguan makan |
|---|---|---|
| Berat badan sulit naik | Peradangan kronis dan penurunan nafsu makan | Asupan energi rendah, gejala gastrointestinal, atau penolakan makanan |
| Kesulitan makan | Dapat menyertai penyakit sistemik | Dapat dipicu nyeri perut, mual, muntah, atau pengalaman makan yang tidak menyenangkan |
| Batuk berulang | Dapat ditemukan pada TB paru | Dapat berkaitan dengan asma, rinitis, infeksi berulang, atau penyakit saluran napas lain |
| Pembesaran kelenjar getah bening | Dapat ditemukan pada TB kelenjar | Dapat terjadi pada infeksi lain atau kondisi inflamasi |
| Infiltrat pada foto toraks | Dapat mendukung kecurigaan TB sesuai pola dan konteks | Dapat disebabkan pneumonia atau penyakit paru lain |
| Konstipasi, diare, atau muntah | Bukan penanda spesifik TB paru | Dapat mengarahkan evaluasi pada gangguan gastrointestinal, termasuk kemungkinan alergi |
- Tabel tersebut menunjukkan bahwa gejala yang sama dapat muncul pada berbagai kondisi. Temuan radiologis berupa infiltrat tidak membuktikan TB dengan sendirinya. Demikian pula, batuk berulang tidak otomatis menunjukkan alergi.
- Tidak adanya riwayat kontak erat dengan pasien TB menular dapat memengaruhi tingkat kecurigaan, tetapi tidak menyingkirkan penyakit tersebut. Anak yang tetap aktif juga masih mungkin mengalami TB. Diagnosis perlu mempertimbangkan seluruh bukti, termasuk riwayat paparan, durasi gejala, pemeriksaan fisik, hasil pemeriksaan molekuler atau mikrobiologis, dan pencitraan.
Evaluasi TB pada anak dengan berat badan sulit naik
- Pada anak dengan gangguan pertumbuhan, pemeriksaan TB perlu diarahkan oleh faktor risiko dan temuan klinis. Dokter perlu menanyakan riwayat kontak dengan pasien TB menular, batuk berkepanjangan, demam yang menetap, penurunan berat badan, perubahan aktivitas, serta riwayat pengobatan sebelumnya.
- Pemeriksaan penunjang dapat mencakup foto toraks, tes cepat molekuler seperti Xpert MTB/RIF atau Xpert MTB/RIF Ultra, dan pemeriksaan mikrobiologis dari spesimen yang sesuai. Pada anak yang sulit mengeluarkan dahak, dokter dapat mempertimbangkan jenis spesimen lain sesuai usia dan fasilitas yang tersedia.
- Hasil bakteriologis negatif tidak selalu menyingkirkan TB pada anak. Jumlah kuman dapat rendah dan pengambilan spesimen dapat sulit. Dalam keadaan tertentu, diagnosis klinis tetap diperlukan berdasarkan keseluruhan temuan dan pedoman yang berlaku.
- Namun, bila diagnosis awal hanya didasarkan pada berat badan sulit naik atau foto toraks yang tidak spesifik, dokter perlu memastikan bahwa kemungkinan diagnosis lain telah dinilai. Jika perjalanan penyakit tidak sesuai dengan dugaan awal, evaluasi ulang menjadi penting. Tujuannya bukan menunda pengobatan TB yang diperlukan, melainkan mengurangi risiko terapi yang tidak tepat.
Menilai respons pertumbuhan setelah intervensi
- Respons terhadap intervensi nutrisi atau penanganan gangguan makan dapat membantu menjelaskan penyebab pertumbuhan yang buruk. Misalnya, peningkatan asupan energi, perbaikan konstipasi, atau pengendalian gejala gastrointestinal dapat diikuti kenaikan berat badan.
- Jika berat badan meningkat sekitar 200 sampai 250 gram per minggu, dokter perlu menilai hasil tersebut berdasarkan usia, berat badan awal, status gizi, asupan energi, hidrasi, dan pengukuran serial. Angka tersebut tidak berlaku sebagai target universal untuk semua anak.
- Pada anak yang menjalani eliminasi makanan karena dugaan alergi, pemantauan dapat meliputi frekuensi muntah, konsistensi dan frekuensi buang air besar, nafsu makan, jumlah makanan yang dikonsumsi, gejala kulit, serta kurva berat badan. Pencatatan terstruktur membantu menentukan apakah perubahan terjadi secara konsisten dan berkaitan dengan intervensi.
- Perbaikan dalam satu sampai tiga minggu dapat memberikan petunjuk awal, tetapi tidak membuktikan bahwa alergi merupakan satu-satunya penyebab. Respons tersebut juga tidak dapat digunakan untuk menyingkirkan TB atau menghentikan terapi TB yang telah diresepkan. Penilaian lanjutan tetap diperlukan sesuai kondisi klinis anak.
Strategi klinis untuk mengurangi kesalahan diagnosis
- Pendekatan yang berfokus pada pertumbuhan perlu dilakukan secara bertahap.
- Pertama, dokter memastikan bahwa gangguan pertumbuhan benar-benar terjadi melalui pengukuran berat badan dan tinggi badan serial. Kedua, dokter menilai asupan makanan, keterampilan makan, gejala gastrointestinal, dan kondisi psikososial yang memengaruhi pemberian makan. Ketiga, dokter mencari tanda penyakit kronis, termasuk infeksi, penyakit saluran napas, gangguan penyerapan, dan alergi makanan apabila pola gejalanya mendukung.
- Jika terdapat kecurigaan TB, pemeriksaan dilakukan sesuai pedoman tanpa menunggu seluruh diagnosis banding selesai. Pada saat yang sama, dokter tidak boleh mengabaikan gejala yang mengarah pada kondisi lain. Apabila hasil pemeriksaan tidak sesuai dengan diagnosis awal, dokter perlu menilai kembali interpretasi foto toraks, kualitas spesimen, hasil laboratorium, serta kemungkinan diagnosis alternatif.
- Pendekatan ini mencegah dua kesalahan yang berlawanan, yaitu overdiagnosis TB yang berujung pada terapi tidak perlu dan underdiagnosis TB yang menyebabkan pengobatan terlambat.
Kesimpulan
- Gangguan berat badan dan kesulitan makan pada anak membutuhkan evaluasi yang berorientasi pada penyebab. Gejala tersebut dapat muncul akibat kekurangan asupan energi, gangguan perilaku makan, penyakit gastrointestinal, alergi makanan, infeksi kronis, termasuk TB, atau kombinasi beberapa kondisi.
- Alergi makanan layak dipertimbangkan apabila terdapat pola gejala yang sesuai, terutama hubungan dengan makanan dan manifestasi gastrointestinal atau alergi lain. Eliminasi terarah dan oral food challenge yang dilakukan dengan pengawasan medis dapat membantu mengevaluasi dugaan tersebut. Perbaikan gejala dan kenaikan berat badan merupakan informasi klinis yang penting, tetapi tidak dapat menjadi dasar tunggal untuk menyingkirkan TB.
- Dokter perlu mengintegrasikan kurva pertumbuhan, evaluasi asupan, pemeriksaan fisik, riwayat kontak TB, pencitraan, dan pemeriksaan mikrobiologis atau molekuler sesuai indikasi. Dengan pendekatan menyeluruh, anak dapat memperoleh diagnosis yang lebih tepat dan intervensi yang sesuai dengan penyebab gangguan pertumbuhannya.
Daftar pustaka
- 1. Singini DS, Sanjase N, Kagujje M, et al. Clinical diagnosis of TB: lessons on misdiagnosis and overdiagnosis. Public Health Action. 2025;15(2):93-95. doi:10.5588/pha.25.0012.
- 2. Harries AD. Clinical diagnosis of TB: further examples of under- and over-diagnosis. Public Health Action. 2025;15(3):140-141. doi:10.5588/pha.25.0023.
- 3. Neshati H, Sheybani F, Naderi H, et al. Diagnostic Errors in Tuberculous Patients: A Multicenter Study from a Developing Country. J Environ Public Health. 2018;2018:1975931. doi:10.1155/2018/1975931.
- 4. World Health Organization. WHO consolidated guidelines on tuberculosis. Module 3: diagnosis. Geneva: WHO. 2025.
- 5. Meyer R, et al. Diagnosis and management of non-IgE gastrointestinal allergies in breastfed infants and children. Referensi khusus perlu dipilih sesuai pedoman dan publikasi yang digunakan dalam naskah akhir.
- 6. World Allergy Organization. DRACMA guidelines for the diagnosis and management of cow’s milk allergy. World Allergy Organization Journal. Pedoman dan pembaruan perlu disesuaikan dengan jenis alergi serta kelompok usia yang dibahas.









Leave a Reply