Klinik Picky Eaters

KLINIK KESULITAN MAKAN & GANGGUAN BERAT BADAN

STUNTING DAN KESULITAN MAKAN PADA ANAK: JANGAN HANYA MENGEJAR TINGGI BADAN, TEMUKAN PENYEBABNYA!

  • STUNTING DAN KESULITAN MAKAN PADA ANAK: JANGAN HANYA MENGEJAR TINGGI BADAN, TEMUKAN PENYEBABNYA!
  • Edukasi gizi, picky eating, gangguan makan, dan strategi mencegah gangguan pertumbuhan sejak dini

Dr Sandiaz Yudhasmara, Dr Widodo Judarwanto, pediatrician

Stunting masih menjadi salah satu tantangan kesehatan anak di Indonesia. Pencegahannya membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada penyediaan makanan bergizi, tetapi juga memperhatikan kemampuan anak untuk makan, menerima berbagai jenis makanan, mengunyah, menelan, dan memenuhi kebutuhan gizi hariannya. Kesulitan makan pada anak, termasuk pilih-pilih makanan (picky eating), nafsu makan rendah, penolakan makanan, serta gangguan mengunyah dan menelan, dapat menghambat kecukupan asupan dan berkontribusi terhadap masalah pertumbuhan. Namun, kesulitan makan tidak selalu menyebabkan stunting, dan anak yang mengalami stunting belum tentu mempunyai gangguan makan. Artikel ini membahas hubungan stunting dengan kesulitan makan, faktor risiko, tanda bahaya, strategi edukasi gizi, serta langkah praktis bagi keluarga dan tenaga kesehatan untuk mendukung pertumbuhan anak secara optimal.

Mengapa anak sulit makan perlu diperhatikan?

  • Banyak orang tua merasa khawatir ketika anak sulit makan, menolak nasi, hanya mau minum susu, memilih makanan tertentu, atau menangis setiap kali disuapi. Sebagian anak hanya mau makan beberapa jenis makanan, sedangkan sebagian lainnya membutuhkan waktu sangat lama untuk menyelesaikan satu porsi makan.
  • Masalah ini sering dianggap sebagai fase biasa dalam tumbuh kembang. Memang, anak usia balita dapat mengalami perubahan nafsu makan dan mulai memilih makanan. Akan tetapi, kesulitan makan yang berlangsung lama, semakin berat, atau disertai gangguan pertumbuhan tidak boleh dianggap sepele.
  • Anak yang terus-menerus menolak makanan berisiko tidak memperoleh cukup energi, protein, zat besi, seng, dan zat gizi lain. Jika berlangsung berkepanjangan, kondisi tersebut dapat mengganggu kenaikan berat badan dan, pada sebagian anak, pertumbuhan tinggi badan.
  • Di sisi lain, tidak semua anak yang sulit makan mengalami kekurangan gizi. Ada anak yang tetap tumbuh baik meskipun pilih-pilih makanan, tetapi ada pula yang mengalami kekurangan zat gizi meskipun berat badannya tampak normal. Karena itu, penilaian perlu mempertimbangkan pola makan, riwayat pertumbuhan, kondisi kesehatan, dan kemampuan anak saat makan.
  • Pesan utama: anak tidak cukup hanya diberi makanan bergizi. Anak juga harus mampu dan bersedia mengonsumsi makanan tersebut dalam jumlah yang sesuai kebutuhannya.

Apa itu stunting?

  • Stunting adalah kondisi ketika panjang atau tinggi badan anak terlalu rendah dibandingkan usianya berdasarkan standar pertumbuhan WHO. Secara teknis, stunting ditetapkan ketika nilai tinggi badan menurut umur atau panjang badan menurut umur berada di bawah −2 standar deviasi dari median standar pertumbuhan WHO.
  • Stunting berkaitan dengan gangguan pertumbuhan yang berlangsung dalam waktu lama. Penyebabnya dapat meliputi kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, masalah kesehatan ibu dan janin, serta faktor sosial dan lingkungan.
  • Dampak stunting tidak terbatas pada tinggi badan. Pada sebagian anak, kondisi yang mendasarinya dapat berkaitan dengan hambatan perkembangan, kemampuan belajar, dan kesehatan jangka panjang. Namun, dampak setiap anak berbeda dan tidak dapat ditentukan hanya dari penampilan fisiknya.
  • Penting dipahami bahwa anak pendek belum tentu mengalami stunting akibat kekurangan gizi, dan diagnosis stunting tidak dapat ditegakkan hanya dengan melihat anak tampak kecil. Pengukuran yang benar dan penilaian sesuai umur diperlukan.

Hubungan stunting dengan kesulitan makan

  • Kesulitan makan dapat menjadi salah satu faktor yang menghambat pemenuhan gizi anak. Hubungannya dapat terjadi dalam beberapa bentuk.
    1. Pertama, anak yang hanya menerima sedikit jenis makanan mungkin tidak mendapatkan energi dan zat gizi yang cukup. Jika makanan yang diterima sangat terbatas, risiko kekurangan protein, zat besi, seng, dan zat gizi lainnya dapat meningkat.
    2. Kedua, anak yang makan dalam porsi sangat kecil atau membutuhkan waktu sangat lama untuk makan mungkin tidak mampu memenuhi kebutuhan hariannya. Kondisi ini dapat menjadi lebih bermakna apabila berlangsung terus-menerus.
    3. Ketiga, kesulitan mengunyah atau menelan dapat membuat anak menghindari makanan bertekstur. Anak mungkin hanya mau bubur halus, makanan lembek, atau susu. Bila kondisi ini menetap, anak membutuhkan penilaian kemampuan makan, bukan sekadar penambahan porsi.
    4. Keempat, penyakit tertentu dapat menimbulkan kesulitan makan sekaligus mengganggu pertumbuhan. Misalnya, masalah saluran cerna, nyeri saat makan, gangguan penyerapan zat gizi, atau kondisi medis lain yang memengaruhi nafsu makan.
  • Namun, hubungan tersebut tidak selalu berjalan satu arah. Anak yang sakit atau mengalami gangguan perkembangan juga dapat menjadi sulit makan. Oleh sebab itu, kesulitan makan bisa menjadi penyebab, akibat, atau masalah yang menyertai gangguan pertumbuhan.

Mengenali berbagai bentuk kesulitan makan pada anak

  • Kesulitan makan bukan hanya berarti anak menolak nasi atau tidak mau makan sayur. Bentuknya cukup beragam dan membutuhkan pendekatan yang berbeda.
    • A. Picky eating atau pilih-pilih makanan
      • Anak hanya mau makanan tertentu, menolak makanan baru, atau memilih berdasarkan warna, rasa, bau, bentuk, dan tekstur. Sebagian anak tetap tumbuh baik, tetapi penolakan yang sangat luas dapat membatasi kecukupan gizi.
    • B. Nafsu makan rendah
      • Anak hanya makan beberapa suap, cepat merasa kenyang, atau tidak menunjukkan minat terhadap makanan. Bila berlangsung lama, perlu dinilai apakah penyebabnya berkaitan dengan pola makan, terlalu banyak susu atau camilan, penyakit, maupun faktor lainnya.
    • C. Penolakan makan yang menetap
      • Anak menangis, marah, menutup mulut, melepeh makanan, atau mengalami ketegangan setiap kali waktu makan tiba. Tekanan dan paksaan berlebihan dapat memperburuk pengalaman makan dan membuat anak semakin menghindari makanan.
    • D. Kesulitan mengunyah dan menelan
      • Anak sulit mengolah makanan bertekstur, sering menyimpan makanan di dalam mulut, mudah tersedak, batuk ketika makan, atau muntah saat mencoba tekstur tertentu. Gejala seperti ini perlu diperhatikan karena dapat berkaitan dengan kemampuan oral-motor atau gangguan menelan.
    • E. Ketergantungan pada susu atau makanan cair
      • Sebagian anak lebih memilih susu daripada makanan padat. Jika susu diminum berlebihan atau terlalu dekat dengan waktu makan, anak dapat merasa kenyang dan semakin sedikit mengonsumsi makanan keluarga. Jumlah susu yang tepat perlu disesuaikan dengan usia dan kondisi anak.
    • F. Kesulitan makan yang berkaitan dengan masalah kesehatan
      • Anak dapat menolak makan karena nyeri, mual, muntah, konstipasi, refluks, atau masalah medis lainnya. Alergi makanan juga dapat berperan pada sebagian anak apabila didukung riwayat dan pemeriksaan yang sesuai. Akan tetapi, picky eating, konstipasi, atau gangguan perilaku tidak otomatis berarti anak memiliki alergi makanan.
  • Kesulitan makan yang berat dan menetap dapat memenuhi karakteristik pediatric feeding disorder atau gangguan makan pada anak, yaitu kondisi ketika asupan oral tidak sesuai dengan kebutuhan usia dan berkaitan dengan gangguan medis, gizi, keterampilan makan, atau faktor psikososial.

Tabel 1. Kesulitan makan dan risiko terhadap pertumbuhan anak

Masalah yang terlihat Risiko yang perlu dipertimbangkan Langkah yang dianjurkan
Hanya mau beberapa jenis makanan Keragaman zat gizi tidak mencukupi Evaluasi variasi makanan dan perluasan menu secara bertahap
Makan hanya beberapa suap Asupan energi harian kurang Tinjau jadwal makan, susu, camilan, dan kondisi kesehatan
Hanya mau minum susu Makanan padat kurang dikonsumsi Atur pola pemberian susu sesuai usia dan evaluasi kemampuan makan
Menolak makanan bertekstur Keterampilan mengunyah atau toleransi tekstur mungkin bermasalah Penilaian keterampilan makan dan pendampingan sesuai kebutuhan
Sering muntah atau mengeluh sakit saat makan Kemungkinan masalah medis Pemeriksaan dokter untuk mencari penyebab
Berat badan sulit naik Asupan tidak cukup atau ada penyakit yang mendasari Evaluasi pertumbuhan dan pemeriksaan klinis
Batuk atau tersedak saat makan Kemungkinan gangguan menelan dan risiko aspirasi Hentikan pemberian makanan yang memicu gejala dan segera minta penilaian medis
Waktu makan selalu penuh tangisan dan konflik Pengalaman makan menjadi negatif Kurangi tekanan dan cari penyebab penolakan

Gejala di atas tidak dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis sendiri. Penilaian perlu mempertimbangkan usia, durasi keluhan, pertumbuhan, dan keadaan kesehatan anak.

Mengapa anak mengalami kesulitan makan?

  • Penyebab kesulitan makan sering kali tidak tunggal. Beberapa faktor dapat terjadi bersamaan.
    • Faktor pola makan dan pengasuhan. Jadwal makan tidak teratur, terlalu banyak camilan, minum susu mendekati waktu makan, distraksi layar, atau kebiasaan memaksa anak dapat mengganggu pembentukan kebiasaan makan yang sehat.
    • Faktor sensorik dan keterampilan makan. Sebagian anak sangat sensitif terhadap tekstur, bau, suhu, atau tampilan makanan. Anak lain mungkin belum memiliki keterampilan mengunyah dan mengelola makanan sesuai usia.
    • Faktor medis. Nyeri saat makan, konstipasi, mual, muntah, refluks, gangguan saluran cerna, masalah gigi dan mulut, atau penyakit lain dapat mengurangi minat anak untuk makan.
    • Faktor perkembangan dan perilaku. Kesulitan makan lebih sering ditemukan pada sebagian anak dengan gangguan perkembangan atau kondisi neurodevelopmental. Namun, hal tersebut tidak berarti semua anak dengan autisme, ADHD, atau keterlambatan perkembangan pasti mengalami gangguan makan.
    • Faktor ekonomi dan lingkungan. Keterbatasan akses terhadap pangan bergizi, kurangnya dukungan pengasuhan, dan minimnya pengetahuan mengenai MPASI dapat membuat kebutuhan gizi anak sulit terpenuhi.
    • Faktor alergi makanan. Alergi makanan dapat menyebabkan gejala tertentu pada sebagian anak, termasuk gejala kulit, saluran cerna, atau pernapasan. Namun, alergi tidak boleh langsung disimpulkan hanya karena anak sulit makan, perut kembung, atau mengalami perubahan perilaku. Diagnosis harus berdasarkan riwayat klinis dan pemeriksaan yang terarah.

Periode penting: 1.000 Hari Pertama Kehidupan

  • Pencegahan stunting dimulai sejak sebelum kehamilan, berlanjut selama kehamilan, dan diteruskan pada dua tahun pertama kehidupan anak.
  • Ibu perlu menjaga status gizi, memeriksakan kehamilan, serta mendapatkan penanganan anemia dan masalah kesehatan sesuai kebutuhan. Setelah lahir, ASI eksklusif dianjurkan selama enam bulan pertama jika memungkinkan. MPASI mulai diberikan sekitar usia enam bulan dan dilanjutkan bersama ASI sesuai rekomendasi.
  • Pada periode MPASI, anak belajar mengenal rasa, tekstur, dan keterampilan makan. Orang tua perlu memberikan makanan yang cukup, aman, beragam, dan sesuai tahap perkembangan. Pengenalan tekstur dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan anak, bukan mempertahankan makanan yang selalu sangat halus tanpa evaluasi ketika anak sudah siap berkembang.
  • Jika anak terus menolak makanan, tidak menunjukkan kemajuan keterampilan makan, atau mengalami masalah pertumbuhan, konsultasi lebih awal dapat membantu mencegah masalah menjadi semakin berat.

Strategi mengatasi kesulitan makan di rumah

  • 1. Buat jadwal makan yang konsisten
    • Atur waktu makan utama dan camilan secara teratur sesuai usia. Berikan kesempatan anak merasa lapar secara wajar di antara waktu makan, tanpa membiarkannya kelaparan atau membatasi makanan secara berlebihan.
  • 2. Ciptakan suasana makan yang nyaman
    • Dampingi anak saat makan dan kurangi distraksi seperti televisi atau gawai. Hindari ancaman, bentakan, atau memaksa anak menghabiskan porsi tertentu. Orang tua menyediakan makanan yang sesuai; anak didampingi untuk belajar mengenali rasa lapar dan kenyang.
  • 3. Kenalkan makanan baru secara bertahap
    • Anak mungkin perlu melihat, menyentuh, mencium, dan mencoba makanan berkali-kali sebelum menerimanya. Berikan porsi kecil, gabungkan makanan baru dengan makanan yang sudah disukai, dan berikan contoh melalui kebiasaan makan keluarga.
  • 4. Sesuaikan tekstur dengan kemampuan anak
    • Makanan harus aman sesuai usia dan keterampilan makan. Bila anak kesulitan mengunyah, sering menyimpan makanan di mulut, atau tersedak, jangan memaksakan peningkatan tekstur tanpa penilaian yang sesuai.
  • 5. Evaluasi konsumsi susu dan camilan
    • Susu merupakan bagian dari pola makan pada usia tertentu, tetapi tidak seharusnya menggantikan seluruh makanan padat pada anak yang sudah memerlukan MPASI atau makanan keluarga. Tinjau jumlah, jenis, dan waktu pemberiannya bersama tenaga kesehatan jika asupan makanan utama sangat rendah.

6. Jangan langsung memberikan banyak suplemen

  • Vitamin atau suplemen tidak menggantikan makanan yang cukup dan beragam. Pemberian perlu disesuaikan dengan usia, risiko kekurangan zat gizi, hasil pemeriksaan, serta rekomendasi tenaga kesehatan.

7. Cari penyebab bila masalah menetap

  • Jika anak terus menolak makan, berat badan sulit naik, muntah berulang, mengalami nyeri saat makan, atau memiliki kemampuan mengunyah dan menelan yang tidak sesuai usia, pemeriksaan medis diperlukan. Sebagian anak juga membutuhkan dukungan ahli gizi atau terapis yang kompeten dalam keterampilan makan dan menelan.

9. Tabel 2. Strategi terpadu untuk mencegah stunting dan menangani kesulitan makan

Pihak yang terlibat Strategi utama Hasil yang diharapkan
Orang tua dan keluarga Pola makan teratur, menu beragam, suasana makan positif Asupan lebih memadai dan pengalaman makan lebih baik
Posyandu Pengukuran berat dan tinggi badan secara benar Gangguan pertumbuhan terdeteksi lebih awal
Puskesmas dan dokter Evaluasi gizi, penyakit, dan penyebab kesulitan makan Penanganan sesuai kebutuhan anak
Ahli gizi Penilaian kecukupan asupan dan perencanaan menu Pemenuhan kebutuhan energi dan zat gizi
Tenaga terampil dalam makan dan menelan Penilaian keterampilan oral-motor dan menelan bila diperlukan Keamanan serta kemajuan keterampilan makan
Pemerintah daerah Edukasi, dukungan pangan, sanitasi, dan layanan kesehatan Faktor risiko di tingkat keluarga dan lingkungan berkurang
Kader dan komunitas Pendampingan keluarga serta tindak lanjut anak berisiko Keluarga lebih mudah mengakses bantuan

10. Kapan anak harus dibawa ke dokter?

  • Orang tua sebaiknya berkonsultasi bila anak mengalami kondisi berikut:
  • Berat badan tidak bertambah atau justru menurun.
  • Tinggi badan melambat berdasarkan pengukuran berkala.
  • Makanan yang diterima sangat terbatas atau penolakan makan berlangsung lama.
  • Anak sering muntah, mengalami nyeri saat makan, atau konstipasi berkepanjangan.
  • Anak mengalami kesulitan mengunyah, sering menyimpan makanan di mulut, atau tidak mampu menerima tekstur sesuai usia.
  • Anak tampak lemas, kurang aktif, atau memiliki tanda kekurangan gizi.
  • Segera cari pertolongan medis jika anak mengalami tersedak berat, kesulitan bernapas, tidak mampu menelan, atau tanda dehidrasi berat seperti sangat lemas dan berkurangnya urine secara nyata.
  • Pemeriksaan dapat mencakup riwayat pola makan, pengukuran pertumbuhan, pemeriksaan fisik, penilaian kemampuan makan, dan pemeriksaan tambahan sesuai indikasi. Tidak semua anak membutuhkan pemeriksaan laboratorium atau panel alergi yang luas.

11. Demak dan Kabupaten Semarang: pentingnya pendekatan lintas sektor

  • Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pada September 2026 menyampaikan rencana menjadikan Kabupaten Demak dan Kabupaten Semarang sebagai role model penanganan stunting. Inisiatif seperti ini dapat menjadi kesempatan untuk mempelajari praktik baik dalam pendampingan keluarga, edukasi gizi, penguatan Posyandu, dan koordinasi lintas sektor.
  • Namun, keberhasilan penurunan stunting harus diukur melalui data yang dapat dipercaya dan hasil yang benar-benar dirasakan anak. Selain melihat angka prevalensi, pemerintah perlu menilai apakah anak dengan kesulitan makan telah terdeteksi, apakah keluarga memperoleh konseling, apakah masalah kesehatan ditangani, dan apakah pertumbuhan anak membaik.
  • Kesulitan makan perlu masuk dalam edukasi gizi masyarakat. Penyuluhan yang hanya mengajarkan makanan apa yang bergizi belum tentu cukup bagi keluarga yang anaknya tidak mau makan, hanya menerima tekstur tertentu, atau mengalami gangguan menelan.
  • Program yang lebih menyeluruh harus menggabungkan edukasi gizi, pemantauan pertumbuhan, deteksi kesulitan makan, pemeriksaan medis, dan pendampingan keluarga.

12. Pesan penting bagi orang tua

  • Stunting bukan semata-mata akibat anak kurang makan, dan kesulitan makan bukan selalu akibat orang tua salah mengasuh. Masalah ini dapat melibatkan faktor medis, keterampilan makan, perkembangan, perilaku, lingkungan, serta kondisi ekonomi keluarga.
  • Jangan hanya berfokus pada menambah porsi atau mengganti susu. Cari tahu mengapa anak sulit makan, apakah asupannya cukup, apakah keterampilan makannya sesuai usia, dan apakah ada penyakit yang mendasari.
  • Jangan pula langsung menyimpulkan bahwa kesulitan makan disebabkan alergi makanan. Penghindaran makanan tanpa indikasi dapat mempersempit pilihan makanan dan meningkatkan risiko kekurangan gizi.
  • Anak yang sulit makan membutuhkan pemahaman, bukan sekadar paksaan. Anak yang pertumbuhannya melambat membutuhkan evaluasi, bukan hanya tambahan makanan.

Kesimpulan

  • Pencegahan stunting harus berjalan seiring dengan pengenalan dan penanganan kesulitan makan pada anak. Makanan bergizi hanya bermanfaat jika anak mampu mengonsumsi makanan tersebut dalam jumlah yang sesuai kebutuhan. Karena itu, upaya pencegahan perlu mencakup kesehatan ibu, pemberian makan sesuai usia, pola asuh yang mendukung, pemantauan pertumbuhan, serta penanganan gangguan makan dan penyakit yang mendasari.
  • Pemerintah, tenaga kesehatan, kader Posyandu, ahli gizi, dan keluarga harus bekerja bersama agar setiap anak tidak hanya memperoleh makanan, tetapi juga mampu makan dengan aman dan cukup.
  • Jangan tunggu anak menjadi sangat pendek atau berat badannya turun. Kenali kesulitan makan sejak dini, cari penyebabnya, dan dampingi pertumbuhan anak secara berkelanjutan.

Referensi utama

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *