Klinik Picky Eaters

KLINIK KESULITAN MAKAN & GANGGUAN BERAT BADAN

Anak Susah Makan, Jangan Selalu Disebut Picky Eater: Waspadai Eosinophilic Esophagitis

 

Anak Susah Makan, Jangan Selalu Disebut Picky Eater: Waspadai Eosinophilic Esophagitis

Anak yang susah makan sering kali langsung disebut picky eater. Padahal, tidak semua masalah makan berasal dari kebiasaan atau perilaku anak. Pada sebagian anak, kesulitan makan dapat menjadi tanda adanya masalah medis, termasuk eosinophilic esophagitis atau EoE. EoE adalah penyakit peradangan kronis pada kerongkongan yang berkaitan dengan sistem imun. Pada anak, gejalanya tidak selalu berupa keluhan “sulit menelan”. Anak dapat menunjukkan tanda yang lebih samar, seperti menolak makanan, makan sangat lama, memilih makanan lunak, menghindari tekstur tertentu, sering minum saat makan, atau tampak tidak nyaman ketika makanan masuk.

Hubungan antara EoE dan masalah makan mendapat perhatian khusus dalam laporan EAACI Task Force yang diterbitkan di jurnal Pediatric Allergy and Immunology pada 2025. Ruano-Zaragoza dan kolega melakukan systematic review terhadap penelitian mengenai feeding difficulties pada anak dengan EoE. Dari 3442 abstrak yang ditemukan, 29 artikel dinilai secara lengkap dan 10 penelitian memenuhi kriteria untuk dianalisis. Seluruh penelitian tersebut melaporkan data kuantitatif mengenai feeding difficulties. Prevalensinya berkisar antara 13% sampai 75,3%. Angka yang sangat lebar ini menunjukkan bahwa masalah makan cukup penting pada EoE, tetapi tidak berarti 13% sampai 75,3% semua anak dengan EoE pasti mengalami gangguan makan.

Mengapa hasilnya begitu berbeda? Salah satu jawabannya adalah definisi “feeding difficulties” yang belum seragam. Dalam 10 penelitian tersebut ditemukan 18 istilah berbeda dan enam alat ukur yang digunakan untuk menilai masalah makan. Ada penelitian yang memasukkan food refusal, selective eating, fussy eating, makan lambat, gagging, coughing saat makan, atau kesulitan menerima makanan dengan tekstur tertentu. Perbedaan cara mendefinisikan dan mengukur masalah makan tentu dapat menghasilkan angka prevalensi yang berbeda. EAACI menilai heterogenitas ini sebagai salah satu hambatan utama untuk menarik kesimpulan yang lebih pasti.

EoE dapat memengaruhi proses makan karena kerongkongan memiliki peran penting dalam membawa makanan dari mulut menuju lambung. Peradangan dapat menyebabkan rasa nyeri atau tidak nyaman. Pada sebagian anak terjadi gangguan motilitas dan pada penyakit yang lebih lama dapat terbentuk penyempitan esofagus. Makanan padat menjadi lebih sulit dilewatkan. Anak kemudian dapat mengembangkan cara makan tertentu untuk menghindari rasa tidak nyaman. Ia mungkin mengunyah makanan sangat lama, memilih makanan lunak, memotong makanan menjadi sangat kecil, minum berkali-kali ketika makan, atau menghindari makanan yang dianggap sulit ditelan.

Di sinilah masalah medis dapat berubah menjadi masalah perilaku makan. Bayangkan seorang anak yang beberapa kali merasa sakit ketika menelan makanan. Anak tersebut kemudian belajar bahwa makanan tertentu membuatnya tidak nyaman. Ia mulai menghindarinya. Orang tua mungkin melihat anak semakin pilih-pilih dan mencoba membujuk agar makan. Anak semakin menolak. Waktu makan menjadi lebih lama dan penuh tekanan. Pada akhirnya, perilaku menghindari makanan dapat tetap bertahan meskipun penyebab awalnya sudah tidak terlalu terasa. Karena itu, feeding difficulties pada EoE tidak tepat selalu dianggap sebagai anak yang keras kepala atau sekadar mencari perhatian.

Berikut tabel praktis yang membedakan tanda makan yang dapat menjadi petunjuk EoE dari sekadar picky eating.

No. Tanda saat makan Mengapa perlu dicurigai EoE? Yang perlu diperhatikan
1 Makan sangat lama Anak dapat memperlambat makan untuk mengatasi kesulitan atau rasa tidak nyaman saat makanan melewati esofagus. Waktu makan konsisten jauh lebih lama dibanding anak seusianya.
2 Hanya mau makanan lunak Makanan padat dan bertekstur lebih sulit ditelan bila terdapat inflamasi atau penyempitan esofagus. Menolak daging, roti, nasi kering, atau makanan padat tetapi menerima bubur atau makanan berkuah.
3 Sering minum saat makan Anak dapat menggunakan cairan untuk membantu makanan melewati esofagus. Hampir setiap suapan harus disertai minum.
4 Mengunyah makanan sangat lama Dapat menjadi strategi kompensasi agar makanan lebih mudah ditelan. Mengunyah berulang kali sebelum akhirnya menelan.
5 Gagging atau seperti ingin muntah saat makan Dapat berkaitan dengan kesulitan menelan atau pengalaman makan yang tidak nyaman. Terutama bila terjadi berulang pada makanan bertekstur tertentu.
6 Batuk atau tersedak ketika makan Dapat menunjukkan gangguan proses menelan, meskipun tidak spesifik untuk EoE. Perlu dibedakan dari infeksi saluran napas atau gangguan menelan lainnya.
7 Menolak atau menghindari makanan tertentu Anak dapat belajar menghindari makanan yang sebelumnya menyebabkan nyeri atau sulit ditelan. Perhatikan apakah makanan yang dihindari terutama makanan padat atau bertekstur.
8 Makanan seperti tersangkut di dada atau tenggorokan Ini merupakan petunjuk penting adanya disfagia esofagus dan dapat terjadi pada EoE. Anak yang lebih besar mungkin mengatakan makanan “nyangkut”.
9 Makan sedikit lalu berhenti atau menolak melanjutkan Rasa tidak nyaman ketika makan dapat membuat anak membatasi jumlah makanan. Terutama bila disertai makan lama, muntah, atau penurunan variasi makanan.
10 Pola makan semakin selektif disertai gangguan pertumbuhan Pembatasan makanan akibat gejala EoE atau diet eliminasi dapat mengurangi asupan energi dan zat gizi. Pantau berat badan, tinggi badan, kurva pertumbuhan, dan variasi makanan.

Catatan penting: Tidak satu pun tanda di atas dapat mendiagnosis EoE secara sendiri. Kecurigaan menjadi lebih bermakna bila beberapa tanda muncul bersamaan, berlangsung menetap, terutama bila terdapat disfagia, makanan tersangkut, nyeri saat makan, muntah, atau riwayat impaksi makanan. Pada anak kecil, EoE justru dapat tampil sebagai pola makan yang tidak lazim daripada keluhan “sulit menelan”. Temuan systematic review EAACI 2025 menunjukkan bahwa feeding difficulties pada anak dengan EoE cukup sering dilaporkan, tetapi definisi dan alat ukurnya sangat beragam sehingga prevalensinya dalam penelitian berkisar 13% hingga 75,3%.

Diet eliminasi juga perlu diperhatikan. Sebagian anak dengan EoE menjalani penghindaran makanan tertentu sebagai bagian dari terapi. Tujuannya adalah mengendalikan penyakit. Namun, semakin banyak makanan yang dihindari, semakin sedikit pula pilihan makanan anak. Anak dapat kehilangan kesempatan untuk mengenal berbagai rasa dan tekstur. Risiko kekurangan zat gizi juga dapat meningkat jika diet tidak direncanakan dengan baik. Hal ini tidak berarti diet eliminasi pasti menyebabkan feeding difficulties. Bukti yang tersedia belum dapat membuktikan hubungan sebab-akibat. Namun, pembatasan makanan merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan ketika anak dengan EoE mulai semakin selektif.

Menariknya, alergi atau sensitisasi makanan yang diperantarai IgE juga cukup sering ditemukan pada anak dalam penelitian tersebut. Angkanya berkisar antara 26,2% hingga 88%. Namun, temuan ini tidak boleh diterjemahkan bahwa alergi makanan IgE merupakan penyebab feeding difficulties. Review EAACI menyatakan bahwa dampak alergi makanan IgE terhadap terjadinya masalah makan masih belum jelas. Anak dengan EoE dapat memiliki alergi makanan, tetapi hubungan antara alergi, EoE, diet eliminasi, dan feeding difficulties sangat kompleks dan tidak dapat disimpulkan hanya dari hasil tes alergi.

Orang tua juga perlu mengenali tanda yang lebih spesifik. Anak yang makan sangat lama, hanya mau makanan lunak, menghindari daging atau makanan padat, sering gagging, batuk ketika makan, membutuhkan banyak minum agar makanan dapat tertelan, atau tampak takut terhadap makanan perlu diperhatikan. Demikian pula anak yang pernah mengalami makanan tersangkut atau mengeluh makanan seperti berhenti di dada. Gejala tersebut tidak otomatis berarti EoE, tetapi perlu dievaluasi secara medis, terutama bila terjadi berulang.

Feeding difficulties tidak sama dengan dysphagia. Dysphagia berarti adanya gangguan dalam proses menelan. Feeding difficulties mempunyai cakupan yang lebih luas. Anak dapat mengalami dysphagia karena EoE kemudian mengembangkan penolakan makanan. Namun, masalah makan juga dapat menetap setelah kondisi esofagus membaik. Karena itu, pengobatan EoE saja belum tentu langsung mengembalikan pola makan anak. Sebagian anak memerlukan bantuan untuk kembali menerima makanan, tekstur, dan pengalaman makan secara bertahap.

Masalah ini juga tidak boleh langsung diberi label ARFID. Avoidant/restrictive food intake disorder merupakan diagnosis dengan kriteria khusus. Anak dengan EoE yang menghindari makanan karena nyeri atau kesulitan menelan tidak otomatis mengalami ARFID. Begitu pula anak yang memilih makanan tertentu tidak otomatis mengalami pediatric feeding disorder. Dokter perlu mencari terlebih dahulu apakah terdapat penyebab medis, gangguan menelan, masalah nutrisi, gangguan keterampilan makan, faktor sensorik, atau masalah psikososial.

Dampaknya dapat terlihat pada pertumbuhan. Anak yang semakin sedikit makan mungkin tidak mendapatkan energi dan protein yang cukup. Bila ditambah diet eliminasi, sumber kalsium, vitamin D, zat besi, seng, yodium, atau zat gizi lainnya juga dapat berkurang tergantung makanan yang dihindari. Karena itu, evaluasi anak dengan EoE dan feeding difficulties tidak cukup hanya melihat berat badan. Pola pertumbuhan, tinggi badan, variasi makanan, kecukupan energi dan protein, serta kualitas diet perlu dipantau secara berkala.

Masalah makan juga dapat memengaruhi seluruh keluarga. Waktu makan menjadi panjang. Orang tua harus membujuk, menyiapkan makanan khusus, membaca label makanan, dan memastikan anak tidak terpapar makanan yang harus dihindari. Anak dapat semakin mengasosiasikan waktu makan dengan tekanan. Karena itu, kalimat “anaknya jangan pilih-pilih” tidak selalu menyelesaikan masalah. Bila terdapat penyakit medis, penyakit tersebut harus dikendalikan. Bila sudah muncul gangguan pola makan, keterampilan makan, atau kecemasan terhadap makanan, masalah tersebut juga perlu ditangani.

Temuan EAACI 2025 menunjukkan bahwa feeding difficulties bukan masalah kecil pada anak dengan EoE. Namun, penelitian yang tersedia masih terbatas. Dari 10 studi yang dianalisis, sebagian besar merupakan penelitian retrospektif dan kualitas metodologinya bervariasi. Tidak ada satu definisi universal dan belum ada satu alat skrining yang disepakati khusus untuk anak dengan EoE. Karena itu, angka 13% sampai 75,3% harus dipahami sebagai rentang hasil penelitian, bukan sebagai risiko pasti bagi setiap anak dengan EoE.

Pendekatan terbaik adalah melihat anak secara menyeluruh. Dokter perlu menilai kontrol EoE dan kemungkinan gangguan menelan. Ahli gizi menilai kecukupan diet, terutama bila terdapat eliminasi beberapa makanan. Terapis feeding dapat mengevaluasi keterampilan makan, penerimaan tekstur, dan aspek sensorik. Psikolog atau tenaga kesehatan mental dapat dilibatkan bila terdapat kecemasan makan atau food avoidance yang berat. Tujuannya bukan sekadar membuat anak mau makan lebih banyak, tetapi membuat anak dapat makan dengan aman, nyaman, cukup, dan semakin beragam.

Pesan penting dari systematic review EAACI ini sederhana. Anak dengan EoE yang sulit makan jangan langsung dicap sebagai picky eater. Di balik perilaku menolak makanan dapat terdapat pengalaman nyeri, kesulitan menelan, gangguan fungsi esofagus, pembatasan diet, atau kombinasi beberapa faktor. Sebaliknya, tidak semua anak susah makan berarti mengalami EoE. Kuncinya adalah mengenali pola gejala, mencari penyebab medis yang tepat, memantau pertumbuhan dan nutrisi, serta memberikan intervensi feeding bila diperlukan. Dengan pendekatan tersebut, masalah makan dapat dikenali lebih dini sebelum berkembang menjadi masalah nutrisi, pertumbuhan, dan kualitas hidup anak serta keluarganya.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *