Klinik Picky Eaters

KLINIK KESULITAN MAKAN & GANGGUAN BERAT BADAN

ANAK ALERGI MAKANAN SERING MENGALAMI MASALAH MAKAN.

ANAK ALERGI MAKANAN SERING MENGALAMI MASALAH MAKAN. Studi di Great Ormond Street Hospital menemukan lebih dari separuh anak dengan alergi gastrointestinal non-IgE-mediated mengalami feeding difficulties

Anak yang memiliki alergi makanan dapat menghadapi persoalan yang lebih luas daripada sekadar menghindari makanan pencetus alergi. Sebagian anak kemudian mengalami masalah saat makan. Mereka menolak makanan, membutuhkan waktu makan sangat lama, sulit menerima tekstur makanan tertentu, atau bahkan mengalami gagging ketika mencoba makanan bertekstur. Kondisi ini disebut feeding difficulties.

Sebuah studi observasional yang diterbitkan dalam jurnal Nutrients pada 22 Mei 2024 meneliti masalah tersebut pada anak dengan alergi gastrointestinal non-IgE-mediated. Penelitian dilakukan oleh Chebar-Lozinsky dan kolega di Great Ormond Street Hospital for Children NHS Foundation Trust, London, Inggris. Dari 131 anak yang direkrut, sebanyak 114 orang tua menyelesaikan kuesioner mengenai perilaku makan anak. Hasilnya cukup mencolok. Sebanyak 61 dari 114 anak, atau 53,5%, dilaporkan mengalami setidaknya satu bentuk feeding difficulties.

Angka ini tidak berarti 53,5% seluruh anak dengan alergi makanan pasti mengalami gangguan makan. Penelitian hanya melibatkan populasi tertentu di sebuah rumah sakit rujukan tersier dan menggunakan kuesioner tertentu. Namun, temuan tersebut menunjukkan bahwa masalah makan cukup sering muncul pada kelompok anak dengan alergi gastrointestinal non-IgE-mediated dan layak ditanyakan secara rutin dalam konsultasi.

MASALAHNYA BUKAN SEKADAR “SUSAH MAKAN”

  • Tiga masalah makan yang paling sering ditemukan adalah penolakan makan secara teratur, waktu makan yang memanjang, dan gagging ketika menghadapi makanan bertekstur.
  • Penolakan makan secara teratur ditemukan pada 26,9% anak. Waktu makan yang memanjang ditemukan pada 26,7%. Gagging terhadap makanan bertekstur ditemukan pada 26,5%.
  • Masalah lainnya juga ditemukan. Sekitar 18,6% anak memiliki nafsu makan rendah. Sekitar 16,8% mengalami masalah yang berkaitan dengan menelan. Sebagian kecil mengalami kesulitan menyusu atau minum dari botol.
  • Yang menarik, masalah makan sering muncul dalam beberapa bentuk sekaligus. Dari 61 anak yang mengalami feeding difficulties, 40 anak memiliki sedikitnya dua jenis masalah makan. Delapan anak memiliki sedikitnya empat jenis masalah.
  • Artinya, seorang anak dapat menolak makanan sekaligus membutuhkan waktu makan lama dan mengalami gagging ketika diberikan makanan dengan tekstur tertentu.

MENGAPA ANAK ALERGI BISA MENJADI SULIT MAKAN?

  • Hubungannya dapat dipahami dari pengalaman anak saat makan.
  • Anak dengan alergi gastrointestinal non-IgE-mediated dapat mengalami muntah, konstipasi, diare, nyeri perut, atau berbagai keluhan gastrointestinal lainnya. Bila pengalaman tidak nyaman tersebut berulang, makan dapat diasosiasikan dengan rasa tidak nyaman.
  • Anak kemudian dapat mulai menghindari makanan tertentu. Pada sebagian anak, penolakan tersebut dapat bertahan meskipun gejala awal sudah membaik.
  • Namun, penelitian ini tidak membuktikan bahwa alergi menyebabkan feeding difficulties. Penelitian ini bersifat observasional. Para peneliti menemukan hubungan antara berbagai faktor, tetapi tidak dapat memastikan hubungan sebab akibat.

MUNTAH DAN KONSTIPASI LEBIH SERING DITEMUKAN

  • Salah satu temuan paling menarik adalah hubungan antara feeding difficulties dan gejala gastrointestinal tertentu.
  • Muntah ditemukan pada 63,9% anak dengan feeding difficulties. Pada kelompok tanpa feeding difficulties, angkanya 41,5%. Perbedaannya bermakna secara statistik dengan p=0,017.
  • Konstipasi juga lebih sering ditemukan. Sebanyak 60,7% anak dengan feeding difficulties mengalami konstipasi, dibandingkan 35,8% pada anak tanpa feeding difficulties. Perbedaannya bermakna dengan p=0,008.

Temuan ini memberikan pesan praktis. Ketika anak alergi makanan menjadi sulit makan, dokter perlu menanyakan gejala gastrointestinal secara lebih rinci.

  • Apakah anak sering muntah?
  • Apakah anak mengalami konstipasi?
  • Apakah anak merasa nyeri setelah makan?
  • Apakah anak menghindari makanan tertentu karena pernah mengalami gejala?

Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat membantu memahami masalah makan anak.

SEMAKIN BANYAK GEJALA, MASALAH MAKAN JUGA LEBIH SERING

  • Anak dengan feeding difficulties memiliki jumlah gejala gastrointestinal yang lebih banyak dibandingkan anak tanpa masalah makan.
  • Median jumlah gejala gastrointestinal mencapai enam pada kelompok dengan feeding difficulties, dibandingkan lima pada kelompok tanpa feeding difficulties. Perbedaannya bermakna secara statistik, p=0,007.
  • Skor gejala awal sebelum diet eliminasi juga lebih tinggi pada anak yang kemudian mengalami feeding difficulties. Median skor mencapai 22 dibandingkan 17 pada kelompok tanpa feeding difficulties, dengan p=0,002.
  • Temuan ini memberi petunjuk bahwa beban gejala gastrointestinal mungkin memiliki hubungan dengan masalah makan. Namun, tetap perlu diingat bahwa association tidak sama dengan causation.

DIET ELIMINASI JUGA PERLU DIAWASI

  • Anak dengan alergi makanan sering membutuhkan diet eliminasi. Makanan yang diduga atau terbukti menjadi pencetus dikeluarkan dari menu untuk mengendalikan gejala.
  • Diet eliminasi dapat menjadi bagian penting dari tata laksana alergi. Namun, semakin lama diet berlangsung, semakin penting evaluasi terhadap variasi dan kecukupan makanan.
  • Dalam penelitian ini, anak dengan feeding difficulties menjalani diet eliminasi lebih lama. Median durasinya 17,4 minggu, dibandingkan 10,3 minggu pada kelompok tanpa feeding difficulties. Perbedaannya bermakna secara statistik, p=0,021.
  • Namun, jumlah makanan yang dikeluarkan dari diet tidak menunjukkan hubungan independen yang bermakna dengan feeding difficulties setelah dilakukan analisis regresi logistik.
  • Temuan ini penting. Kita tidak dapat mengatakan bahwa semakin banyak makanan dieliminasi maka anak pasti semakin sulit makan. Hubungannya jauh lebih kompleks.

USIA DAN BERATNYA GEJALA IKUT BERPERAN

  • Analisis statistik penelitian menunjukkan bahwa usia anak dan skor gejala awal memiliki hubungan dengan feeding difficulties.
  • Jenis kelamin dan jumlah makanan yang dieliminasi tidak menunjukkan hubungan independen yang bermakna.
  • Temuan tersebut menunjukkan bahwa masalah makan pada anak dengan alergi tidak dapat dijelaskan oleh satu faktor saja. Usia perkembangan, pengalaman gejala, kondisi gastrointestinal, proses makan, dan faktor lain kemungkinan saling berinteraksi.

ANAK “PICKY EATER” BELUM TENTU MENGALAMI GANGGUAN MAKAN

Istilah feeding difficulties mencakup banyak kondisi.

Anak yang hanya tidak menyukai beberapa jenis sayuran berbeda dengan anak yang hanya mau makan lima jenis makanan. Anak yang menolak makanan baru berbeda dengan anak yang mengalami ketakutan makan karena pernah muntah setelah makan.

Karena itu, istilah “susah makan” perlu dijabarkan.

  • Apa yang sebenarnya ditolak?
  • Berapa banyak makanan yang masih dapat diterima?
  • Berapa lama waktu makan?
  • Apakah anak mengalami gagging?
  • Apakah anak mengalami kesulitan mengunyah atau menelan?
  • Apakah ada gejala setelah makan?
  • Apakah berat dan tinggi badan berkembang sesuai trajectory?
  • Apakah diet anak semakin sempit?

Pertanyaan tersebut jauh lebih informatif daripada sekadar bertanya apakah anak “susah makan”.

PERTUMBUHAN TETAP HARUS DIPANTAU

  • Feeding difficulties dapat mengurangi variasi dan jumlah makanan yang dikonsumsi. Pada anak dengan alergi makanan, masalah ini perlu mendapat perhatian karena diet eliminasi sendiri sudah membatasi pilihan makanan.
  • Dalam penelitian ini, sebagian besar parameter pertumbuhan tidak berbeda secara bermakna antara kelompok. Namun, height-for-age z-score lebih rendah pada kelompok dengan feeding difficulties.
  • Temuan ini belum membuktikan bahwa feeding difficulties menyebabkan pertumbuhan lebih pendek. Pertumbuhan anak dipengaruhi banyak faktor dan penelitian ini tidak dirancang untuk membuktikan hubungan sebab akibat.
  • Karena itu, pemantauan berat badan dan tinggi badan secara serial tetap menjadi bagian penting evaluasi.

ADA PESAN PENTING UNTUK ORANG TUA

  1. Ketika anak dengan alergi makanan mulai sulit makan, jangan langsung menganggap anak sekadar “pilih-pilih makanan”.
  2. Perhatikan pola masalahnya.
  3. Jika anak sering menolak makan, waktu makan semakin lama, hanya mau makanan dengan tekstur tertentu, sering gagging, atau jumlah makanan yang diterima semakin sedikit, kondisi tersebut layak dibicarakan dengan dokter.
  4. Perhatikan juga gejala gastrointestinal. Muntah dan konstipasi dalam penelitian ini lebih sering ditemukan pada anak yang mengalami feeding difficulties.
  5. Orang tua juga perlu mencatat makanan yang benar-benar dimakan anak selama beberapa hari. Catatan tersebut dapat membantu dokter dan ahli gizi melihat seberapa sempit variasi makanan dan apakah kebutuhan nutrisi masih terpenuhi.

JANGAN MEMPERLUAS ELIMINASI TANPA DASAR YANG JELAS

  • Salah satu risiko pada anak dengan masalah makan adalah diet menjadi semakin terbatas.
  • Awalnya hanya satu makanan yang dihindari. Kemudian beberapa makanan ikut dikeluarkan. Anak akhirnya hanya menerima beberapa jenis makanan yang dianggap aman.
  • Situasi tersebut perlu dievaluasi secara sistematis. Setiap makanan yang dieliminasi sebaiknya memiliki alasan klinis yang jelas.
  • Tujuan terapi alergi bukan membuat daftar makanan yang semakin panjang untuk dihindari. Tujuannya adalah menjaga keamanan anak sekaligus mempertahankan diet yang cukup dan sesuai kebutuhan pertumbuhan.

KAPAN PERLU MENCARI BANTUAN?

  • Evaluasi profesional semakin penting bila anak mengalami penolakan makan yang menetap, waktu makan sangat lama, gagging terhadap tekstur, kesulitan menelan, variasi makanan sangat terbatas, pertumbuhan tidak optimal, atau diet eliminasi semakin luas.
  • Dokter anak dapat mengevaluasi kondisi medis dan pertumbuhan. Ahli gizi dapat menilai kecukupan energi dan mikronutrien. Tenaga profesional yang memiliki kompetensi feeding dapat mengevaluasi keterampilan makan, sensorik, dan oral-motor. Bila terdapat kecemasan atau masalah psikososial yang bermakna, evaluasi psikologis dapat dipertimbangkan.

MASIH ADA CELAH BESAR DALAM PENELITIAN

  • Penelitian ini juga memperlihatkan satu masalah besar dalam ilmu feeding difficulties. Belum tersedia alat penilaian yang secara khusus dan luas tervalidasi untuk anak dengan alergi makanan.
  • Hal ini sejalan dengan laporan EAACI Task Force pada tahun yang sama. Systematic review EAACI menemukan 12 istilah berbeda dan 11 instrumen berbeda yang digunakan dalam penelitian feeding difficulties pada anak dengan alergi makanan.
  • Akibatnya, angka prevalensi antarpenelitian sulit dibandingkan.
  • Penelitian Chebar-Lozinsky et al. menemukan prevalensi 53,5% pada populasi yang ditelitinya. Sementara systematic review EAACI menemukan prevalensi 13,6% sampai 40% dalam lima penelitian yang menyediakan data prevalensi.
  • Perbedaan tersebut tidak otomatis berarti salah satu penelitian keliru. Populasi dan metode pengukurannya berbeda.
  • Karena itu, penelitian masa depan membutuhkan definisi yang lebih seragam, instrumen yang tervalidasi, dan studi longitudinal yang dapat mengikuti anak dari awal diagnosis sampai setelah diet eliminasi dan reintroduksi makanan.

PESAN UTAMA

Studi Nutrients 2024 memberikan pesan klinis yang sederhana tetapi penting.

  • Pada anak dengan alergi gastrointestinal non-IgE-mediated, masalah makan cukup sering ditemukan.
  • Dalam penelitian ini, 53,5% anak memiliki setidaknya satu feeding difficulty.
  • Masalah yang paling sering adalah penolakan makan, waktu makan yang memanjang, dan gagging terhadap makanan bertekstur.
  • Muntah dan konstipasi lebih sering ditemukan pada anak dengan feeding difficulties.
  • Usia dan skor gejala awal berhubungan dengan feeding difficulties.
  • Jumlah makanan yang dieliminasi tidak menjadi faktor independen yang bermakna dalam analisis regresi.
  • Data tersebut belum membuktikan hubungan sebab akibat. Namun, data tersebut cukup untuk mendukung satu langkah praktis: feeding difficulties perlu ditanyakan secara aktif ketika anak dengan alergi gastrointestinal datang berobat.
  • Pada anak dengan alergi makanan, keberhasilan terapi tidak cukup dinilai dari membaiknya gejala alergi. Kita juga perlu melihat apakah anak dapat makan dengan lebih nyaman, menerima variasi makanan yang sesuai usia, memperoleh nutrisi yang cukup, dan tumbuh dengan baik.

REFERENSI UTAMA

  • Chebar-Lozinsky A, De Koker C, Dziubak R, et al. Assessing Feeding Difficulties in Children Presenting with Non-IgE-Mediated Gastrointestinal Food Allergies-A Commonly Reported Problem. Nutrients. 2024;16(11):1563. doi:10.3390/nu16111563. PMID:38892497. PMCID:PMC11173616.
  • Hill SA, Nurmatov U, DunnGalvin A, et al. Feeding difficulties in children with food allergies: An EAACI Task Force Report. Pediatric Allergy and Immunology. 2024;35(4):e14119. doi:10.1111/pai.14119. PMID:38566436.
  • Sumber primer: PubMed, Chebar-Lozinsky et al. dan Full Text Nutrients.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *