- Laporan Kasus: Konstipasi Kronis, Kesulitan Makan, dan Berat Badan Rendah pada Anak Usia 4 Tahun dengan Dugaan Alergi Saluran Cerna Non-IgE
- dr Sandiaz Yudhasmara, Dr Widodo Judarwanto, pediatrician
Konstipasi kronis, kesulitan makan, dan berat badan rendah pada anak prasekolah merupakan masalah klinis yang memerlukan evaluasi menyeluruh terhadap status gizi, fungsi saluran cerna, pola makan, dan kemungkinan alergi makanan. Dilaporkan seorang anak usia 4 tahun dengan berat badan 12 kg, tampak kurus, mengalami kesulitan makan dan perilaku memilih makanan (picky eating), serta buang air besar tidak setiap hari dengan feses keras, berbentuk bulat-bulat menyerupai kotoran kambing, berbau tajam, dan dilaporkan berwarna hitam gelap. Keluhan lain meliputi kulit kering, kebiasaan bernapas melalui mulut, mendengkur ringan, aktivitas berlebihan, emosi tinggi, dan perilaku agresif. Setelah dilakukan intervensi berbasis evaluasi alergi makanan dan oral food challenge (OFC), dilaporkan perbaikan nafsu makan dalam 1–3 minggu dan kenaikan berat badan sekitar 200 gram per minggu, disertai perbaikan keluhan lainnya. Gambaran ini menimbulkan dugaan keterlibatan alergi saluran cerna yang diperantarai mekanisme non-imunoglobulin E (non-IgE). Namun, tanpa dokumentasi protokol OFC, jenis makanan yang diuji, respons spesifik terhadap pajanan, dan evaluasi penyebab lain, diagnosis alergi non-IgE belum dapat dinyatakan terkonfirmasi. Kasus ini menekankan pentingnya pendekatan multidisiplin dalam mengevaluasi konstipasi, gangguan makan, dan pertumbuhan anak.
Presentasi kasus
- Seorang anak berusia 4 tahun dengan berat badan 12 kg dibawa untuk evaluasi karena tubuh tampak kurus, kesulitan makan, dan kebiasaan memilih makanan. Anak tidak selalu buang air besar setiap hari, dengan konsistensi feses keras, berbentuk bulatan kecil menyerupai kotoran kambing, berbau tajam, dan berwarna hitam gelap. Keluhan tersebut mengarah pada konstipasi, tetapi durasi gejala, frekuensi buang air besar per minggu, nyeri saat defekasi, kebiasaan menahan BAB, dan riwayat penggunaan obat belum tersedia. Warna feses yang sangat gelap perlu diklarifikasi untuk membedakan perubahan warna akibat makanan atau suplemen zat besi dari melena, yaitu feses hitam akibat perdarahan saluran cerna. Pemeriksaan fisik, tinggi badan, kurva pertumbuhan, riwayat berat badan sebelumnya, dan hasil pemeriksaan laboratorium belum terdokumentasi sehingga derajat gangguan pertumbuhan dan status klinis keseluruhan belum dapat ditetapkan.
Manifestasi klinis di luar saluran cerna
- Selain gangguan pencernaan dan makan, anak dilaporkan memiliki kulit kering, sering membuka mulut atau bernapas melalui mulut, serta mendengkur ringan. Anak juga digambarkan sangat aktif, memiliki emosi yang tinggi, dan menunjukkan perilaku agresif. Gejala-gejala ini perlu dianalisis sebagai manifestasi klinis yang mungkin memiliki penyebab berbeda. Kulit kering dapat berkaitan dengan dermatitis atopik atau faktor lingkungan, sedangkan napas melalui mulut dan mendengkur dapat menunjukkan rinitis alergi, pembesaran adenoid, atau gangguan pernapasan saat tidur. Aktivitas tinggi dan disregulasi emosi juga dapat dipengaruhi oleh kualitas tidur, pola makan, faktor perkembangan, maupun lingkungan. Hubungan antara seluruh manifestasi tersebut dan alergi makanan tidak dapat diasumsikan tanpa bukti klinis yang memadai.
- 4. Analisis status gizi dan diagnosis banding
- Berat badan 12 kg pada usia 4 tahun menimbulkan perhatian terhadap kemungkinan berat badan rendah, tetapi penetapan status gizi harus menggunakan jenis kelamin, usia yang tepat, tinggi badan, dan standar pertumbuhan WHO. Evaluasi perlu mencakup indeks berat badan menurut umur, tinggi badan menurut umur, serta berat badan menurut tinggi badan atau indeks massa tubuh menurut umur. Diagnosis banding meliputi konstipasi fungsional, asupan energi dan serat yang tidak memadai, pola makan selektif, retensi feses akibat nyeri saat BAB, serta kemungkinan penyakit organik apabila terdapat tanda bahaya. Pada anak dengan konstipasi yang menetap meskipun terapi standar telah diberikan, alergi protein susu sapi dapat dipertimbangkan pada kasus terpilih. Posisi ESPGHAN menyatakan bahwa eliminasi diagnostik selama 2–4 minggu yang diikuti pengenalan kembali atau OFC dapat dipertimbangkan pada konstipasi refrakter dengan kecurigaan alergi susu sapi.
Intervensi dan evaluasi menggunakan oral food challenge
- Dalam laporan ini, intervensi yang dilakukan dilaporkan melibatkan oral food challenge (OFC), dengan pemantauan terhadap perubahan nafsu makan, berat badan, pola defekasi, dan keluhan lain. Untuk menjadikan prosedur ini dapat dinilai secara ilmiah, laporan perlu mencantumkan makanan atau protein yang diuji, riwayat pajanan sebelumnya, kemungkinan reaksi alergi segera, hasil pemeriksaan yang relevan, serta urutan eliminasi dan pengenalan kembali makanan. Pada dugaan alergi non-IgE, evaluasi diagnostik umumnya melibatkan eliminasi terarah selama 2–4 minggu dan reintroduksi untuk menilai apakah gejala muncul kembali. OFC formal di bawah pengawasan tenaga medis diperlukan sesuai profil risiko, terutama apabila terdapat dugaan alergi IgE, reaksi berat sebelumnya, atau kemungkinan food protein-induced enterocolitis syndrome (FPIES). Pada sebagian bentuk alergi non-IgE ringan, reintroduksi dapat dilakukan di rumah berdasarkan arahan dokter. OFC bukan sekadar pemberian makanan, melainkan prosedur diagnostik dengan kriteria pemantauan dan interpretasi yang jelas.
Hasil klinis setelah intervensi
- Menurut laporan klinis yang tersedia, dalam waktu 1–3 minggu setelah intervensi, nafsu makan anak membaik dan berat badan meningkat sekitar 200 gram per minggu. Perbaikan tersebut dilaporkan bersamaan dengan membaiknya keluhan lain. Temuan ini menunjukkan adanya hubungan temporal antara intervensi dan perbaikan klinis, serta memberikan alasan untuk mengevaluasi kembali kemungkinan faktor makanan yang berperan. Namun, belum tersedia pengukuran objektif mengenai frekuensi dan konsistensi BAB, perubahan warna feses, asupan kalori, tinggi badan, maupun hasil pengamatan gejala setelah pengenalan kembali makanan secara terkontrol. Kenaikan berat badan selama periode singkat juga dapat dipengaruhi oleh peningkatan asupan energi, hidrasi, perubahan isi saluran cerna, dan faktor lainnya. Oleh karena itu, perubahan tersebut harus dilaporkan sebagai hasil observasi kasus, bukan bukti kausal yang berdiri sendiri.
- 7. Diskusi: kemungkinan alergi saluran cerna non-IgE
- Alergi makanan non-IgE merupakan reaksi imunologis terhadap protein makanan yang tidak terutama dimediasi oleh antibodi IgE spesifik. Pada alergi protein susu sapi, manifestasi yang mungkin ditemukan meliputi muntah, diare, konstipasi, penolakan makanan, dan gangguan pertumbuhan; tetapi tidak satu pun gejala tersebut bersifat spesifik untuk alergi. Makalah posisi ESPGHAN tahun 2024 menekankan pentingnya diagnosis berdasarkan gambaran klinis, pembatasan makanan secara diagnostik dalam waktu terbatas, dan konfirmasi melalui pengenalan kembali makanan atau OFC yang sesuai.
- Pada kasus ini, kombinasi konstipasi, kesulitan makan, dan berat badan rendah mendukung perlunya menilai kemungkinan alergi makanan, tetapi belum cukup untuk memastikan diagnosis. Klaim bahwa seluruh keluhan kulit, pernapasan, tidur, dan perilaku membaik akibat pengendalian alergi pencernaan juga memerlukan dokumentasi terpisah. Bukti yang lebih kuat akan diperoleh apabila terdapat pola perbaikan saat eliminasi, kekambuhan gejala yang relevan saat pajanan ulang, dan perbaikan kembali setelah eliminasi yang terarah.
Diagnosis kerja dan penanganan
- Diagnosis kerja berdasarkan informasi yang tersedia adalah konstipasi kronis dengan kesulitan makan dan dugaan gangguan pertumbuhan, disertai kemungkinan alergi makanan non-IgE yang masih memerlukan konfirmasi. Penanganan perlu mencakup penilaian pertumbuhan menggunakan kurva WHO, pemeriksaan klinis, evaluasi asupan energi dan protein, hidrasi, serat, serta tata laksana konstipasi. Jika konstipasi fungsional terkonfirmasi, dokter dapat mempertimbangkan laksatif osmotik seperti polietilen glikol sesuai kebutuhan klinis, disertai pembiasaan duduk di toilet setelah makan dan pengaturan asupan cairan serta serat yang sesuai usia. Diet eliminasi tidak boleh dilakukan secara luas tanpa indikasi karena dapat memperburuk kekurangan nutrisi. Apabila kecurigaan alergi tetap kuat, lakukan eliminasi diagnostik terarah dan reintroduksi atau OFC sesuai penilaian risiko. Feses hitam pekat seperti ter, terutama bila lengket, disertai lemas, pucat, nyeri perut, atau muntah darah, memerlukan evaluasi medis segera dan tidak boleh dianggap sebagai tanda alergi semata. Napas melalui mulut dan mendengkur perlu dievaluasi tersendiri apabila menetap.
Kesimpulan
- Kasus anak usia 4 tahun dengan berat badan 12 kg, konstipasi berupa feses keras berbentuk bulatan kecil, kesulitan makan, dan beberapa keluhan di luar saluran cerna menggambarkan kompleksitas evaluasi gangguan pencernaan dan pertumbuhan pada anak. Perbaikan nafsu makan dalam 1–3 minggu dan kenaikan berat badan sekitar 200 gram per minggu setelah intervensi berbasis OFC merupakan temuan klinis yang patut didokumentasikan dan ditindaklanjuti. Meskipun demikian, data yang tersedia belum cukup untuk menyatakan alergi pencernaan non-IgE sebagai diagnosis terkonfirmasi, terlebih untuk menyimpulkan bahwa alergi tersebut menyebabkan seluruh manifestasi penyerta. Konfirmasi memerlukan riwayat klinis terstruktur, identifikasi makanan yang dicurigai, dokumentasi eliminasi dan reintroduksi atau OFC, serta penyingkiran diagnosis banding yang relevan. Pelaporan yang transparan mengenai keterbatasan data akan memperkuat nilai ilmiah kasus dan mencegah kesimpulan kausal yang melampaui bukti.
Referensi utama
- Tomlin ML, Bendall C, Loke P, Bennett CJ. Prevalence of Feeding Difficulties in Children With Non-IgE Mediated Food Allergies: A Systematic Review. Clin Exp Allergy. 2026 Sep;56(9):1117-1124. doi: 10.1111/cea.70367. Epub 2026 Jun 25. PMID: 42348246; PMCID: PMC13532976.
- Vandenplas Y, Broekaert I, Domellöf M, et al. An ESPGHAN Position Paper on the Diagnosis, Management, and Prevention of Cow’s Milk Allergy. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition. 2024;78(2). DOI artikel.
- Meyer R, et al. World Allergy Organization DRACMA Guideline update VII: Milk elimination and reintroduction in the diagnostic process of cow’s milk allergy. World Allergy Organization Journal. 2023;16:100785. DOI artikel.
- Gordon M, de Geus A, Banasiuk M, et al. ESPGHAN and NASPGHAN 2024 protocol for paediatric functional constipation treatment guidelines. BMJ Paediatrics Open. 2025;9:e003161. DOI artikel.









Leave a Reply