- ANAK SULIT MAKAN, SERING SEMBELIT DAN MUNTAH: APAKAH BISA BERKAITAN DENGAN ALERGI MAKANAN?
- Penelitian terbaru mengungkap bahwa masalah makan pada anak tidak selalu sekadar kebiasaan pilih-pilih makanan. Gangguan pencernaan dan kemungkinan alergi makanan juga perlu diperhatikan.
Anak sulit makan, jangan langsung dianggap manja
- Anak yang menolak makan, hanya mau makanan tertentu, makan sangat lama, atau mudah muntah ketika makan sering membuat orang tua khawatir. Tidak sedikit orang tua yang menganggap anak hanya pemilih makanan, kurang disiplin, atau terlalu terbiasa minum susu.
- Padahal, pada sebagian anak, masalah makan dapat terjadi bersamaan dengan gangguan pencernaan. Anak mungkin merasa tidak nyaman saat makan, mengalami sembelit, muntah, atau kesulitan menerima tekstur makanan tertentu.
- Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Nutrients pada tahun 2024 menyoroti hubungan antara kesulitan makan dan dugaan alergi makanan yang menyerang saluran pencernaan.
Lebih dari separuh anak dalam penelitian mengalami kesulitan makan
- Penelitian yang dilakukan oleh Chebar-Lozinsky dan rekan-rekannya di rumah sakit rujukan anak di London melibatkan 131 anak yang sedang menjalani evaluasi karena dugaan alergi makanan pada saluran pencernaan. Sebanyak 114 orang tua mengisi kuesioner tentang kebiasaan makan anak mereka.
- Hasilnya, 61 dari 114 anak atau sekitar 54% dilaporkan mengalami kesulitan makan.
- Masalah yang sering ditemukan antara lain:
- Anak sering menolak makanan.
- Waktu makan berlangsung sangat lama.
- Anak sulit menerima makanan dengan tekstur tertentu atau mengalami refleks muntah ketika mencobanya.
- Temuan ini menunjukkan bahwa masalah makan dapat memiliki berbagai bentuk. Anak yang sulit makan bukan selalu anak yang tidak mau makan karena perilaku atau kebiasaan semata.
- Namun, angka tersebut berasal dari kelompok anak yang sedang diperiksa di rumah sakit karena dugaan alergi makanan. Angka ini tidak berarti bahwa separuh dari semua anak yang sulit makan pasti mengalami alergi.
Mengapa sembelit dan muntah perlu diperhatikan?
-
- Penelitian tersebut menemukan bahwa sembelit dan muntah lebih sering dilaporkan pada anak yang juga mengalami kesulitan makan.
- Pada kelompok anak yang sulit makan, sekitar 61% mengalami sembelit, sedangkan pada anak tanpa kesulitan makan sekitar 36%. Muntah dilaporkan pada sekitar 64% kelompok yang sulit makan, dibandingkan sekitar 42% kelompok yang tidak mengalami kesulitan makan.
- Apa artinya bagi orang tua?
- Bayangkan seorang anak yang setiap kali makan merasa perutnya sakit, mengalami sembelit, atau muntah. Pengalaman yang berulang dan tidak menyenangkan dapat membuat anak menjadi takut, enggan, atau semakin menolak makanan.
- Kemungkinan ini masuk akal secara klinis, tetapi penelitian tersebut belum membuktikan bahwa sembelit dan muntah selalu menyebabkan kesulitan makan. Begitu pula, hasil penelitian tidak membuktikan bahwa semua keluhan tersebut disebabkan oleh alergi makanan.
- Sembelit dan muntah dapat disebabkan oleh berbagai kondisi. Karena itu, penyebabnya perlu diperiksa, bukan langsung menyimpulkan bahwa anak alergi terhadap makanan tertentu.
- Apakah anak sulit makan berisiko mengalami gangguan pertumbuhan?
- Penelitian ini menemukan bahwa anak dengan kesulitan makan memiliki ukuran tinggi badan menurut umur yang cenderung lebih rendah secara statistik. Namun, beberapa ukuran lain, termasuk berat badan dan indeks massa tubuh, tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna.
- Artinya, penelitian ini memberikan alasan untuk lebih memperhatikan pertumbuhan anak yang mengalami masalah makan, tetapi tidak membuktikan bahwa kesulitan makan atau alergi menjadi penyebab langsung pertumbuhan yang terhambat.
- Orang tua sebaiknya memantau berat dan tinggi badan anak secara berkala. Jika anak terus menolak makanan, berat badan sulit naik, atau tinggi badan tidak bertambah sesuai pola pertumbuhan, konsultasi dengan dokter diperlukan.
- Apa itu alergi makanan non-IgE?
- Sebagian orang mengenal alergi makanan sebagai reaksi yang muncul cepat setelah makan, misalnya biduran, bengkak, atau sesak napas. Reaksi semacam ini dapat melibatkan antibodi yang disebut IgE.
- Namun, ada pula reaksi alergi makanan yang tidak terutama diperantarai IgE. Pada jenis ini, gejala dapat muncul lebih lambat dan bisa melibatkan saluran pencernaan.
- Masalahnya, keluhan seperti sembelit, muntah, nyeri perut, dan sulit makan juga dapat terjadi pada anak yang tidak memiliki alergi makanan. Karena itu, gejala saja belum cukup untuk memastikan diagnosis.
- Pemeriksaan alergi harus disesuaikan dengan riwayat dan gejala anak. Hasil tes alergi yang positif pun tidak selalu berarti bahwa makanan tersebut benar-benar menimbulkan reaksi ketika dikonsumsi.
- Apa yang sebaiknya dilakukan orang tua?
- Jika anak sulit makan dan sering mengalami gangguan pencernaan, jangan terburu-buru menyalahkan perilaku anak. Namun, jangan pula langsung menghilangkan susu, telur, gandum, atau berbagai makanan lain tanpa alasan yang jelas.
- Langkah yang lebih tepat adalah:
-
-
- Amati pola makan dan gejala. Catat makanan yang dikonsumsi, keluhan yang muncul, waktu terjadinya gejala, dan pola buang air besar.
- Periksa kemungkinan gangguan pencernaan. Sembelit, muntah berulang, nyeri perut, atau diare perlu dinilai sesuai kondisi anak.
- Pantau pertumbuhan. Perhatikan perubahan berat badan, tinggi badan, dan variasi makanan yang dapat diterima anak.
- Evaluasi kemampuan makan. Sebagian anak memerlukan penilaian terhadap kemampuan mengunyah, menelan, atau menerima tekstur makanan.
- Pastikan alergi berdasarkan bukti klinis. Jika dicurigai alergi makanan, dokter dapat menentukan apakah diperlukan eliminasi makanan secara terencana dan pengenalan kembali makanan atau uji tantangan makanan di bawah pengawasan medis.
-
-
- Menghindari terlalu banyak makanan tanpa pengawasan justru dapat membuat pilihan makanan semakin terbatas dan meningkatkan risiko kekurangan zat gizi, terutama pada anak yang sejak awal sudah sulit makan.
- Apa kelemahan penelitian ini?
- Penelitian ini penting untuk meningkatkan perhatian terhadap masalah makan pada anak dengan dugaan alergi makanan. Namun, penelitian dilakukan di rumah sakit rujukan, dan penilaian kesulitan makan berdasarkan laporan orang tua menggunakan kuesioner yang belum tervalidasi.
- Penelitian ini juga hanya menunjukkan hubungan antara sejumlah gejala, bukan membuktikan sebab-akibat. Oleh karena itu, hasilnya tidak dapat digunakan untuk menyatakan bahwa semua anak yang sulit makan, sembelit, muntah, atau sulit naik berat badan pasti mengalami alergi makanan.
- Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengetahui anak mana yang benar-benar memiliki alergi makanan dan bagaimana kondisi tersebut berhubungan dengan kesulitan makan.
- Kesimpulan: cari penyebabnya, bukan sekadar memaksa anak makan
- Penelitian ini memberikan pesan penting: kesulitan makan pada anak perlu dipahami secara menyeluruh. Pada sebagian anak, masalah makan dapat ditemukan bersamaan dengan sembelit, muntah, atau dugaan alergi makanan. Karena itu, penanganan tidak selalu cukup dengan menyuruh anak makan, memarahi, atau mengganti menu berulang kali.
- Orang tua perlu memperhatikan gejala pencernaan, kebiasaan makan, kemampuan menerima makanan, dan pertumbuhan anak. Jika terdapat dugaan alergi, diagnosis harus dilakukan secara tepat agar anak tidak menjalani pantangan makanan yang tidak diperlukan.
- Tujuan akhirnya bukan membuat anak menghindari sebanyak mungkin makanan, melainkan menemukan masalah yang benar-benar ada, memperbaikinya, dan membantu anak makan dengan nyaman serta tumbuh optimal.
Sumber utama:
- Chebar-Lozinsky A, et al. Assessing Feeding Difficulties in Children Presenting with Non-IgE-Mediated Gastrointestinal Food Allergies—A Commonly Reported Problem. Nutrients. 2024;16(11):1563. https://doi.org/10.3390/nu16111563









Leave a Reply