Klinik Picky Eaters

KLINIK KESULITAN MAKAN & GANGGUAN BERAT BADAN

Faltering Growth pada Anak dengan Feeding Difficulty, Konstipasi, dan Dugaan Alergi Gastrointestinal: Membedakan Constitutional Growth dari Tuberkulosis

Faltering Growth pada Anak dengan Feeding Difficulty, Konstipasi, dan Dugaan Alergi Gastrointestinal: Membedakan Constitutional Growth dari Tuberkulosis

Faltering growth merupakan kondisi klinis yang membutuhkan evaluasi sistematis karena dapat mencerminkan ketidakcukupan asupan, gangguan makan, penyakit gastrointestinal, infeksi kronis, gangguan endokrin, atau variasi pertumbuhan individual. Pada anak dengan berat badan sulit meningkat sejak bayi, feeding difficulty, konstipasi, dan riwayat alergi, tuberkulosis sering menjadi salah satu diagnosis yang dikhawatirkan. Namun, berat badan rendah saja tidak cukup untuk menegakkan tuberkulosis. Pedoman American Academy of Pediatrics dan North American Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition tahun 2026 menekankan penggunaan z-score, evaluasi perjalanan pertumbuhan, anamnesis, pemeriksaan fisik, serta penilaian feeding sebagai dasar diagnosis faltering weight. (American Academy of Pediatrics) Pada anak dengan dugaan alergi gastrointestinal, hubungan temporal antara makanan dan gejala harus dievaluasi secara hati-hati. Pemeriksaan skin prick test dan serum-specific IgE mendeteksi sensitisasi, sedangkan oral food challenge dapat digunakan pada kasus yang diagnosisnya masih meragukan. (PubMed) Artikel ini membahas pendekatan klinis untuk membedakan faltering growth akibat masalah asupan dan gangguan gastrointestinal dari constitutional growth serta tuberkulosis, dengan perhatian khusus terhadap feeding difficulty, konstipasi, alergi makanan, dan peran oral food challenge.

Pertumbuhan merupakan proses dinamis yang dipengaruhi oleh genetik, asupan energi, kesehatan gastrointestinal, hormonal, penyakit kronis, kualitas tidur, aktivitas fisik, serta lingkungan psikososial. Karena itu, seorang anak yang memiliki berat badan rendah tidak dapat langsung dikategorikan mengalami penyakit tertentu hanya berdasarkan satu pengukuran. WHO menyediakan standar pertumbuhan untuk anak usia 0 sampai 5 tahun yang mencakup berat badan menurut usia, tinggi badan menurut usia, berat badan menurut tinggi badan, dan BMI menurut usia. (World Health Organization)

Istilah faltering growth atau faltering weight digunakan ketika pertumbuhan anak tidak mencapai pola yang diharapkan. Pedoman AAP dan NASPGHAN tahun 2026 menggunakan pendekatan berbasis z-score. Faltering weight dapat mencakup weight-for-length atau BMI-for-age kurang dari -1,65 z-score, penurunan weight, weight-for-length, atau BMI sebesar setidaknya 1 z-score, serta kriteria velocity tertentu pada anak berusia kurang dari 2 tahun. Pendekatan ini menekankan bahwa diagnosis tidak boleh hanya didasarkan pada angka berat badan absolut. (American Academy of Pediatrics)

Memahami berat badan 12,6 kg pada usia 4 tahun

Berat badan 12,6 kg pada anak usia 4 tahun memang perlu dinilai secara klinis, tetapi angka tersebut belum dapat menentukan diagnosis. Interpretasi harus menggunakan jenis kelamin, usia tepat dalam bulan, tinggi badan, BMI-for-age, weight-for-age, dan terutama perjalanan pertumbuhan sejak lahir. Dua anak dengan berat badan yang sama dapat memiliki kondisi yang berbeda apabila salah satunya terus mengikuti jalur pertumbuhan yang rendah tetapi stabil, sedangkan anak lainnya mengalami penurunan z-score secara progresif.

Karena itu, grafik pertumbuhan memiliki nilai diagnostik yang lebih tinggi daripada satu angka timbangan. WHO menyediakan kurva berat badan menurut usia dan tinggi badan menurut usia untuk anak usia 2 sampai 5 tahun. (World Health Organization) Pada anak dengan dugaan faltering growth, pengukuran berat dan tinggi harus dilakukan secara akurat dan serial. Pedoman AAP 2026 secara khusus menekankan pentingnya antropometri yang akurat dalam diagnosis dan pemantauan faltering weight. (American Academy of Pediatrics)

Constitutional growth sebagai diagnosis diferensial

  • Constitutional growth pattern perlu dipertimbangkan ketika anak memiliki tubuh relatif kecil tetapi tetap aktif, berkembang sesuai usia, tidak menunjukkan gejala sistemik, dan mempertahankan pola pertumbuhan yang konsisten. Riwayat keluarga dengan pola pertumbuhan serupa dapat menjadi informasi pendukung. Namun, riwayat orang tua yang dahulu bertubuh kecil atau sulit meningkatkan berat badan tidak cukup untuk memastikan bahwa anak mengalami constitutional growth.
  • Perbedaan utama terletak pada trajectory pertumbuhan. Anak dengan constitutional growth dapat berada pada jalur pertumbuhan yang lebih rendah tetapi relatif stabil. Sebaliknya, faltering growth patologis lebih mengkhawatirkan bila terjadi penurunan z-score secara progresif, gangguan tinggi badan, penurunan BMI, atau muncul gejala klinis yang menunjukkan penyakit. Karena itu, istilah constitutional growth sebaiknya digunakan setelah evaluasi klinis dan antropometri yang memadai, bukan sebagai cara untuk mengabaikan berat badan yang sulit naik.

Feeding difficulty dan faltering growth

  • Feeding difficulty merupakan salah satu komponen penting pada anak dengan berat badan sulit naik. Konsensus mengenai pediatric feeding disorder mendefinisikannya sebagai gangguan asupan oral yang tidak sesuai usia dan berkaitan dengan disfungsi medis, nutrisi, keterampilan makan, dan atau psikososial. (PubMed) Dengan demikian, anak yang sulit makan tidak cukup dinilai berdasarkan jumlah makanan yang dikonsumsi. Dokter juga perlu menilai kemampuan mengunyah, menelan, toleransi tekstur, variasi makanan, perilaku saat makan, durasi makan, penolakan makanan, dan pengalaman tidak nyaman setelah makan.
  • Pedoman AAP dan NASPGHAN 2026 menempatkan feeding disorder sebagai bagian penting dalam evaluasi faltering weight. Pada anak dengan feeding difficulty yang terdokumentasi, terapi feeding dapat dipertimbangkan dan idealnya melibatkan pendekatan multidisiplin sesuai kebutuhan. (American Academy of Pediatrics) Pendekatan ini dapat melibatkan dokter anak, ahli gizi, terapis okupasi atau terapis wicara dengan kompetensi feeding, serta tenaga kesehatan lain sesuai masalah yang ditemukan.
  • Konstipasi dan hubungan dengan asupan makanan
  • Konstipasi kronis dapat menciptakan lingkaran klinis yang menyebabkan asupan makanan semakin rendah. Retensi feses dapat menyebabkan distensi abdomen, nyeri, rasa cepat kenyang, dan pengalaman buang air besar yang tidak nyaman. Anak kemudian dapat mengurangi asupan makanan karena mengantisipasi rasa tidak nyaman. Bila kondisi tersebut berlangsung lama, kecukupan energi dapat terganggu.
  • Konstipasi juga perlu dipertimbangkan sebagai kemungkinan manifestasi penyakit gastrointestinal tertentu. Pedoman ESPGHAN dan NASPGHAN membedakan konstipasi fungsional dari kondisi organik berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan tanda bahaya. (ESPGHAN) Pada anak dengan faltering growth, konstipasi yang menetap perlu dievaluasi secara lebih serius karena pertumbuhan yang terganggu merupakan salah satu alasan untuk mencari penyebab yang mendasari.

Dugaan alergi gastrointestinal

  • Alergi makanan dapat melibatkan saluran gastrointestinal dan dapat berhubungan dengan muntah, nyeri abdomen, diare, konstipasi pada keadaan tertentu, feeding difficulty, serta gangguan pertumbuhan. Namun, hubungan tersebut tidak berarti setiap anak dengan konstipasi atau berat badan sulit naik mengalami alergi makanan.
  • Alergi makanan harus dibedakan dari intoleransi makanan, gangguan fungsional gastrointestinal, selective eating, feeding disorder, dan penyebab lain faltering growth. EAACI pada 2024 menerbitkan position paper khusus mengenai food allergy-induced constipation dan menekankan perlunya pendekatan diagnostik yang terarah ketika alergi makanan dicurigai sebagai penyebab konstipasi. (PubMed)
  • Pada anak dengan alergi makanan, feeding difficulty juga dapat muncul akibat pengalaman nyeri atau ketidaknyamanan setelah makan, pembatasan makanan yang terlalu luas, kecemasan terhadap reaksi alergi, serta kurangnya variasi makanan. Tinjauan sistematis EAACI menemukan prevalensi feeding difficulty pada anak dengan alergi makanan sekitar 13,6% sampai 40% dalam studi yang memenuhi kriteria, walaupun heterogenitas definisi dan instrumen membuat angka tersebut tidak dapat digeneralisasi untuk semua anak. (PubMed)
  • Pemeriksaan alergi dan risiko overdiagnosis
  • Diagnosis alergi makanan tidak sebaiknya didasarkan pada hasil satu pemeriksaan laboratorium. Pedoman EAACI menempatkan anamnesis alergi yang terarah sebagai tahap awal. Skin prick test dan serum-specific IgE digunakan untuk mencari sensitisasi IgE terhadap makanan yang dicurigai. Hasil positif menunjukkan sensitisasi, tetapi tidak selalu membuktikan bahwa makanan tersebut menyebabkan gejala klinis. (PubMed)
  • Pendekatan ini penting pada anak dengan faltering growth karena eliminasi makanan yang terlalu luas dapat menurunkan asupan energi dan zat gizi. Semakin banyak makanan yang dihindari tanpa diagnosis yang kuat, semakin besar kemungkinan diet menjadi tidak seimbang. Karena itu, setiap eliminasi harus mempunyai alasan klinis dan sebaiknya dievaluasi kembali secara berkala.

Peran oral food challenge

  • Oral food challenge atau OFC memiliki posisi penting ketika diagnosis alergi makanan masih tidak pasti. EAACI menyebut OFC sebagai reference standard untuk diagnosis alergi makanan dan merekomendasikan penggunaannya pada kasus yang masih equivocal. Open food challenge dapat digunakan dalam banyak situasi klinis dengan protokol yang sesuai. (PubMed)
  • Pembaruan AAAAI-EAACI PRACTALL tahun 2024 memberikan standar lebih rinci mengenai pelaksanaan food challenge, termasuk pemilihan pasien, peningkatan dosis bertahap, interval pemberian, kriteria penghentian, observasi, dan aspek keselamatan. Prosedur harus dilakukan dalam lingkungan klinis yang memiliki kemampuan menangani reaksi alergi akut. (PubMed) Pada kasus dugaan alergi gastrointestinal, interpretasi respons terhadap makanan juga perlu mempertimbangkan jenis reaksi dan waktu munculnya gejala.

Membedakan faltering growth dari tuberkulosis

  • Tuberkulosis merupakan diagnosis penting pada anak dengan gejala yang sesuai dan faktor risiko epidemiologis. Namun, berat badan rendah atau sulit naik saja tidak dapat digunakan untuk memastikan TB. Evaluasi TB perlu mempertimbangkan riwayat kontak dengan kasus TB, gejala respiratorik atau sistemik, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan diagnostik yang sesuai. WHO menyediakan pedoman diagnosis TB yang menekankan penggunaan metode diagnostik yang tepat sesuai kelompok pasien dan konteks klinis. (World Health Organization)
  • Pada anak yang tidak memiliki riwayat kontak erat dengan TB, tetap aktif, tidak menunjukkan gejala sistemik yang mengarah ke TB, serta memiliki riwayat berat badan sulit naik sejak bayi, dokter perlu mempertimbangkan diagnosis lain secara proporsional. Kondisi seperti feeding difficulty, konstipasi kronis, gangguan gastrointestinal, alergi makanan, dan constitutional growth dapat menjadi bagian dari differential diagnosis. Ini tidak berarti TB dapat langsung disingkirkan. TB tetap perlu diperiksa bila terdapat faktor risiko atau tanda klinis yang mendukung.

Tabel pendekatan klinis

Temuan Kemungkinan yang perlu dipertimbangkan Pendekatan
Berat badan rendah tetapi jalur pertumbuhan stabil Constitutional growth Evaluasi tinggi badan, BMI, perkembangan dan riwayat keluarga
Berat badan turun melintasi ≥1 z-score Faltering weight Evaluasi asupan, penyakit medis, feeding dan pertumbuhan
Sulit makan menetap Pediatric feeding disorder Evaluasi domain medis, nutrisi, feeding skill dan psikososial
Konstipasi kronis Konstipasi fungsional atau penyebab organik Anamnesis, pemeriksaan fisik dan evaluasi tanda bahaya
Gejala gastrointestinal setelah makanan tertentu Dugaan alergi makanan Riwayat terarah, SPT atau sIgE bila sesuai, eliminasi terarah
Diagnosis alergi masih tidak pasti Food allergy belum terkonfirmasi Pertimbangkan OFC dalam pengawasan medis
Kontak erat TB atau gejala sistemik Dugaan TB Evaluasi TB sesuai pedoman
Mulut terbuka dan mendengkur Obstruksi hidung atau gangguan jalan napas saat tidur Evaluasi THT dan tidur sesuai gejala

Strategi pemantauan pertumbuhan

  • Pemantauan sebaiknya menggunakan data serial. Berat badan, tinggi badan, BMI, pola makan, frekuensi buang air besar, konsistensi feses, gejala gastrointestinal, kualitas tidur, dan aktivitas anak dapat dicatat secara berkala. Target terapi bukan sekadar mengejar angka berat badan tertentu dalam waktu singkat. AAP 2026 menekankan intervensi yang meningkatkan kecukupan kalori dan menangani feeding difficulty bila ditemukan. (American Academy of Pediatrics)
  • Target kenaikan berat badan seperti 200 gram per minggu dapat digunakan sebagai target individual dalam program nutrisi tertentu, tetapi bukan standar universal untuk semua anak usia 4 tahun. Keberhasilan terapi lebih tepat dinilai berdasarkan perubahan trajectory pertumbuhan, peningkatan kecukupan energi, perbaikan feeding, berkurangnya gejala gastrointestinal, dan tercapainya pertumbuhan yang lebih sesuai dengan potensi anak.

Algoritme pendekatan klinis

  • Anak dengan berat badan sulit naik sebaiknya pertama-tama menjalani verifikasi antropometri dan plotting pertumbuhan. Tahap berikutnya adalah anamnesis menyeluruh mengenai pola makan, feeding difficulty, konstipasi, gejala gastrointestinal, infeksi berulang, tidur, aktivitas, riwayat penyakit, obat, serta riwayat keluarga. Pemeriksaan fisik kemudian menentukan apakah terdapat tanda yang mengarah pada penyakit tertentu. Pedoman AAP 2026 menganjurkan anamnesis, pemeriksaan fisik, evaluasi perkembangan, riwayat keluarga, serta penilaian pertumbuhan dan feeding sebagai bagian dari evaluasi awal. (American Academy of Pediatrics)
  • Pemeriksaan laboratorium atau pencitraan tidak perlu dilakukan secara luas pada setiap anak dengan faltering weight tanpa petunjuk klinis tertentu. AAP 2026 justru merekomendasikan agar pemeriksaan diagnostik rutin tidak dilakukan pada evaluasi awal bila tidak terdapat tanda atau gejala yang mengarahkan pada penyakit tertentu. Pendekatan ini membantu mengurangi pemeriksaan yang tidak diperlukan dan mengurangi risiko overdiagnosis. (American Academy of Pediatrics)
  • Kontribusi artikel terhadap literatur
  • Artikel ini berkontribusi terhadap literatur dengan menempatkan faltering growth sebagai masalah klinis multifaktorial yang membutuhkan integrasi antara pertumbuhan, feeding, gastrointestinal, alergi, dan faktor genetik keluarga. Berat badan rendah tidak seharusnya langsung dipersepsikan sebagai TB tanpa mempertimbangkan trajectory pertumbuhan dan faktor risiko epidemiologis. Pada anak dengan feeding difficulty dan konstipasi, evaluasi saluran cerna menjadi penting. Bila terdapat dugaan alergi makanan, diagnosis harus dikonfirmasi secara klinis dan tidak semata-mata berdasarkan sensitisasi. Oral food challenge memiliki peran penting ketika diagnosis masih meragukan dan dapat membantu menghindari eliminasi makanan yang tidak diperlukan. (PubMed)

Kesimpulan

  • Faltering growth pada anak dengan berat badan sulit naik sejak bayi, feeding difficulty, konstipasi, dan dugaan alergi gastrointestinal membutuhkan evaluasi yang terstruktur. Berat badan 12,6 kg pada usia 4 tahun tidak dapat digunakan sendirian untuk menentukan apakah anak mengalami penyakit. Interpretasi harus mempertimbangkan tinggi badan, BMI, z-score, dan trajectory pertumbuhan.
  • Constitutional growth dapat menjadi salah satu kemungkinan apabila anak aktif, berkembang sesuai usia, tidak menunjukkan gejala sistemik, dan mempertahankan pola pertumbuhan yang konsisten. Namun, diagnosis tersebut perlu dibedakan dari faltering growth patologis. TB harus dievaluasi berdasarkan faktor risiko dan gambaran klinis, terutama riwayat kontak dan gejala yang mendukung, bukan berdasarkan berat badan rendah semata. (World Health Organization)
  • Pada anak dengan feeding difficulty dan konstipasi, fokus evaluasi sebaiknya diarahkan pada kecukupan asupan, fungsi gastrointestinal, pola makan, dan kemungkinan pediatric feeding disorder. Bila alergi makanan dicurigai, eliminasi makanan harus dilakukan secara terarah dan dievaluasi kembali. OFC dapat menjadi metode penting untuk mengonfirmasi atau menyingkirkan alergi makanan pada kasus yang sesuai. (PubMed)
  • Pendekatan ini membantu menghindari dua kesalahan klinis, yaitu underdiagnosis penyakit yang membutuhkan terapi dan overdiagnosis TB atau alergi makanan yang menyebabkan pemeriksaan serta pembatasan diet yang tidak diperlukan. Tujuan akhirnya adalah memperbaiki asupan, fungsi gastrointestinal, pola makan, kualitas tidur, dan trajectory pertumbuhan anak secara berkelanjutan.

Daftar pustaka

  • Kersten HB, Goday PS, Abdelhadi R, et al. Clinical Practice Guideline for Diagnosis and Management of Faltering Weight. Pediatrics. 2026;157(4):e2025075764. doi:10.1542/peds.2025-075764. (American Academy of Pediatrics)
  • World Health Organization. WHO Child Growth Standards. Geneva: WHO. (World Health Organization)
  • World Health Organization. WHO consolidated guidelines on tuberculosis: module 3: diagnosis. 3rd ed. Geneva: WHO; 2024. (World Health Organization)
  • Santos AF, Riggioni C, Agache I, et al. EAACI guidelines on the diagnosis of IgE-mediated food allergy. Allergy. 2023;78:3057-3076. doi:10.1111/all.15902. (PubMed)
  • Sampson HA, Arasi S, Bahnson HT, et al. AAAAI-EAACI PRACTALL: Standardizing oral food challenges, 2024 Update. Pediatr Allergy Immunol. 2024;35(11):e14276. doi:10.1111/pai.14276. (PubMed)
  • Hill SA, Nurmatov U, DunnGalvin A, et al. Feeding difficulties in children with food allergies: An EAACI Task Force Report. Pediatr Allergy Immunol. 2024;35(4):e14119. doi:10.1111/pai.14119. (PubMed)
  • Meyer R, Vandenplas Y, Chebar Lozinsky A, et al. Diagnosis and management of food allergy-induced constipation in young children: An EAACI position paper. Pediatr Allergy Immunol. 2024;35(6):e14163. doi:10.1111/pai.14163. (PubMed)
  • Goday PS, Huh SY, Silverman A, et al. Pediatric Feeding Disorder: Consensus Definition and Conceptual Framework. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2019;68(1):124-129. doi:10.1097/MPG.0000000000002188. (PubMed)
  • Sampson HA, et al. Conducting an Oral Food Challenge: An Update to the 2009 Adverse Reactions to Foods Committee Work Group Report. J Allergy Clin Immunol Pract. 2020;8(1):75-90.e17. doi:10.1016/j.jaip.2019.09.029. (PubMed)
  • Ishibashi S, Yanagida N, Sato S, Ebisawa M. Management of food allergy based on oral food challenge. Curr Opin Allergy Clin Immunol. 2024;24(3):153-159. doi:10.1097/ACI.0000000000000980. (PubMed)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *