Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik pada Pediatric Feeding Disorder (PFD)
Anamnesis dan pemeriksaan fisik merupakan langkah paling penting dalam menegakkan diagnosis Pediatric Feeding Disorder (PFD). Karena PFD merupakan gangguan yang bersifat multifaktorial, evaluasi tidak cukup hanya menanyakan apakah anak sulit makan, tetapi harus menilai seluruh faktor yang memengaruhi kemampuan makan anak. Pendekatan yang komprehensif membantu membedakan antara kesulitan makan yang bersifat sementara dengan PFD yang memerlukan intervensi multidisiplin.
Pada sebagian pasien, diagnosis penyakit penyebab seperti cerebral palsy, prematuritas, penyakit jantung bawaan, atau alergi makanan telah diketahui sebelumnya. Dalam kondisi tersebut, anamnesis dan pemeriksaan fisik bertujuan mengevaluasi status fungsional anak saat ini, mengidentifikasi penyebab yang masih mengganggu proses makan, serta menentukan strategi terapi yang paling tepat. Sebaliknya, apabila penyebab belum diketahui, anamnesis dan pemeriksaan fisik menjadi dasar untuk menyusun diagnosis kerja, menentukan pemeriksaan penunjang yang diperlukan, dan merencanakan tata laksana selanjutnya.
Prinsip Evaluasi
Evaluasi PFD harus mencakup empat domain utama sesuai konsensus internasional, yaitu medis, nutrisi, keterampilan makan (feeding skills), dan psikososial. Keempat domain tersebut saling berhubungan sehingga seluruh aspek harus dievaluasi secara sistematis.
Anamnesis pada Bayi
Riwayat sejak masa kehamilan hingga setelah lahir mempunyai nilai diagnostik yang sangat penting. Dokter perlu menanyakan kondisi kesehatan ibu selama kehamilan, seperti diabetes, hipertensi, infeksi, penggunaan obat-obatan, maupun gangguan nutrisi. Riwayat persalinan meliputi usia kehamilan saat lahir, cara persalinan, asfiksia, kebutuhan resusitasi, perawatan di NICU, penggunaan ventilator, dan lama rawat inap.
Riwayat penyakit bawaan juga harus dievaluasi, termasuk kelainan jantung kongenital, gangguan paru kronis, kelainan neurologis, sindrom genetik, maupun kelainan anatomi saluran cerna dan saluran napas atas. Informasi mengenai penggunaan selang makan, nutrisi enteral, atau susu formula khusus sangat membantu dalam memahami perjalanan penyakit anak.
Riwayat Nutrisi
Penilaian nutrisi meliputi jenis makanan yang diberikan sejak lahir hingga saat pemeriksaan. Riwayat ASI eksklusif, penggunaan susu formula, waktu pemberian MPASI, jenis makanan, jumlah makanan, frekuensi makan, lama makan setiap kali, serta kemampuan anak menghabiskan makanan harus dievaluasi secara rinci.
Dokter juga perlu menanyakan adanya muntah, gumoh berlebihan, diare kronis, konstipasi, nyeri perut, refluks gastroesofagus, darah pada tinja, maupun dugaan alergi makanan. Diet eliminasi yang pernah dilakukan dan respons terhadap perubahan makanan juga perlu dicatat.
Riwayat Feeding Skills
Penilaian keterampilan makan bertujuan mengetahui apakah kemampuan makan anak sesuai dengan tahap perkembangan usianya. Riwayat yang perlu digali meliputi kemampuan mengisap sejak bayi, koordinasi mengisap-menelan-bernapas, usia mulai menerima MPASI, kemampuan berpindah dari makanan lumat ke makanan padat, kemampuan menggigit, mengunyah, menelan, minum menggunakan gelas, dan makan secara mandiri.
Dokter juga harus menanyakan apakah anak sering tersedak, batuk saat makan, muntah, makanan keluar kembali melalui hidung, membutuhkan waktu makan sangat lama, atau selalu menolak tekstur makanan tertentu. Riwayat tersebut dapat mengarah pada gangguan oral-motor, disfagia, kelainan anatomi, atau gangguan motilitas saluran cerna.
Riwayat Perilaku dan Psikososial
Interaksi antara anak dan pengasuh selama makan merupakan bagian penting dalam evaluasi PFD. Dokter perlu mengetahui bagaimana suasana makan di rumah, apakah anak sering menangis, mengamuk, menolak makan, membuang makanan, atau hanya mau makan sambil menonton gawai.
Riwayat pemaksaan makan, pengalaman tersedak, trauma saat makan, kecemasan orang tua, depresi pascapersalinan, maupun konflik keluarga perlu dievaluasi karena dapat memperburuk gangguan makan. Pada anak yang lebih besar juga perlu dinilai perilaku makan di sekolah, hubungan dengan teman sebaya, dan gangguan perilaku lainnya.
Pada remaja, anamnesis harus mencakup persepsi terhadap bentuk tubuh dan berat badan, kebiasaan diet berlebihan, olahraga yang berlebihan, binge eating, maupun pembatasan makanan untuk menyingkirkan kemungkinan gangguan makan seperti anoreksia nervosa atau bulimia.
Pemeriksaan Pertumbuhan
Pemeriksaan fisik dimulai dengan pengukuran antropometri yang meliputi berat badan, panjang atau tinggi badan, lingkar kepala pada bayi dan balita, serta indeks massa tubuh sesuai usia. Seluruh hasil harus diplot pada kurva pertumbuhan WHO atau CDC untuk menilai apakah terdapat gangguan pertumbuhan, gagal tumbuh (growth faltering), wasting, stunting, atau overweight.
Penilaian pertumbuhan serial lebih bermakna dibandingkan satu kali pengukuran karena dapat menunjukkan pola pertumbuhan anak dari waktu ke waktu.
Pemeriksaan Kepala dan Leher
Dokter harus mengevaluasi adanya kelainan bentuk wajah atau kelainan kraniofasial seperti celah bibir dan langit-langit, mikrognatia, wajah asimetris, maupun kelainan sindrom genetik. Rongga mulut diperiksa untuk menilai ukuran lidah, tonus lidah, frenulum, kondisi gigi, mukosa mulut, palatum, uvula, serta refleks oral.
Kemampuan menggerakkan bibir, lidah, rahang, dan koordinasi saat menelan perlu diamati secara langsung karena dapat memberikan petunjuk adanya gangguan oral-motor.
Pemeriksaan Status Gizi
Pemeriksaan fisik harus mencari tanda-tanda kekurangan nutrisi, seperti penurunan lemak subkutan, atrofi otot, edema, kulit kering, rambut tipis, stomatitis, glositis, pucat, maupun tanda defisiensi vitamin dan mineral. Sebaliknya, dokter juga perlu mengenali tanda kelebihan nutrisi pada anak dengan perilaku makan berlebihan.
Pemeriksaan Abdomen
Pemeriksaan abdomen bertujuan mendeteksi penyakit saluran cerna yang menjadi penyebab kesulitan makan. Dokter menilai adanya distensi abdomen, nyeri tekan, pembesaran organ, perubahan bising usus, maupun massa abdomen. Pada bayi, massa berbentuk seperti buah zaitun di daerah pilorus dapat mengarah pada stenosis pilorus hipertrofik.
Pemeriksaan Neurologis
Pemeriksaan neurologis meliputi penilaian tonus otot, kekuatan otot, refleks, koordinasi, keseimbangan, serta perkembangan motorik kasar dan halus. Gangguan pada pemeriksaan ini dapat menunjukkan adanya cerebral palsy, penyakit neuromuskular, atau gangguan neurologis lain yang memengaruhi kemampuan makan.
Integrasi Temuan Klinis
Informasi dari anamnesis dan pemeriksaan fisik harus diintegrasikan untuk menentukan domain yang paling dominan menyebabkan PFD. Pada sebagian anak ditemukan hanya satu penyebab, tetapi pada sebagian besar pasien terdapat kombinasi faktor medis, nutrisi, keterampilan makan, dan psikososial. Hasil evaluasi ini menjadi dasar dalam menentukan kebutuhan pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan laboratorium, uji alergi yang sesuai indikasi, evaluasi menelan (VFSS atau FEES), endoskopi saluran cerna, maupun konsultasi kepada ahli gizi, terapis wicara, terapis okupasi, psikolog, atau dokter spesialis lain.
Kesimpulan
Anamnesis dan pemeriksaan fisik merupakan fondasi utama dalam diagnosis Pediatric Feeding Disorder. Evaluasi yang komprehensif terhadap empat domain—medis, nutrisi, keterampilan makan, dan psikososial—memungkinkan klinisi mengidentifikasi penyebab yang mendasari kesulitan makan, menentukan pemeriksaan lanjutan secara tepat, serta menyusun terapi yang bersifat individual dan multidisiplin. Pendekatan yang sistematis akan meningkatkan keberhasilan terapi, memperbaiki status gizi, mendukung tumbuh kembang anak, dan mengurangi beban keluarga.
Referensi
- Daley SF, Riaz Y, Sergi C. Pediatric Feeding Disorders: Recognition, Diagnosis, and Management. StatPearls Publishing. Updated June 13, 2025.
- Goday PS, Huh SY, Silverman A, et al. Pediatric Feeding Disorder: Consensus Definition and Conceptual Framework. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition. 2019.










Leave a Reply