Tanya Jawab Seputar Alergi Makanan pada Anak, Mengapa Sulit Makan, Berat Badan Sulit Naik, dan Gangguan Pencernaan Sering Tidak Dikenali?
Pertanyaan
Anak saya berusia 5 tahun. Sudah hampir satu tahun terakhir ia semakin sulit makan, hanya mau makanan tertentu, cepat kenyang, sering mengeluh sakit perut, perut kembung, mual, kadang muntah, sembelit yang bergantian dengan diare, dan berat badannya sangat sulit naik meskipun nafsu makannya kadang terlihat baik. Dokter pernah mengatakan kemungkinan hanya GERD, kemudian ada yang menduga Irritable Bowel Syndrome atau IBS, bahkan ada yang menyarankan pemeriksaan penyakit celiac karena keluhannya mirip. Obat lambung dan obat pencernaan sudah beberapa kali diberikan, tetapi keluhan hanya membaik sementara lalu muncul kembali. Kadang anak saya juga mengatakan makanan terasa sulit ditelan atau seperti tersangkut di tenggorokan, terutama setelah mengonsumsi makanan tertentu. Apakah semua keluhan tersebut mungkin sebenarnya disebabkan oleh alergi makanan? Mengapa alergi makanan pada anak sering sulit dikenali? Bagaimana membedakannya dengan GERD, IBS, penyakit celiac, eosinophilic esophagitis, atau gangguan pencernaan lainnya? Benarkah Oral Food Challenge merupakan pemeriksaan terbaik untuk memastikan diagnosis alergi makanan pada anak, dan bagaimana penanganan yang tepat agar nafsu makan, status gizi, berat badan, pertumbuhan, dan kualitas hidup anak dapat kembali membaik?
Jawaban
Alergi makanan merupakan salah satu penyebab yang sering terlewat pada anak dengan keluhan sulit makan dan gangguan saluran cerna kronis. Banyak orang tua mengira alergi makanan hanya menyebabkan biduran, gatal, atau ruam pada kulit. Padahal, pada sebagian anak, gejala justru didominasi oleh gangguan pencernaan seperti GERD, mual, muntah, cepat kenyang, nyeri perut, perut kembung, konstipasi, diare, disfagia, hingga penurunan nafsu makan. Karena keluhan tersebut sangat menyerupai penyakit saluran cerna lain, diagnosis alergi makanan sering terlambat sehingga anak menjalani berbagai pengobatan tanpa mengatasi penyebab utamanya.
Alergi makanan terjadi ketika sistem imun bereaksi terhadap protein makanan yang sebenarnya tidak berbahaya. Reaksi imun ini memicu pelepasan berbagai mediator inflamasi yang menyebabkan peradangan pada saluran cerna. Peradangan tersebut dapat mengganggu motilitas lambung dan usus, meningkatkan sensitivitas saluran cerna, serta menimbulkan rasa tidak nyaman setiap kali makan. Akibatnya anak mulai menolak makan, hanya mau makanan tertentu, makan dalam jumlah sedikit, atau membutuhkan waktu makan yang sangat lama. Bila kondisi ini berlangsung terus, anak dapat mengalami feeding difficulties bahkan berkembang menjadi Pediatric Feeding Disorder.
Diagnosis alergi makanan harus dibedakan dari berbagai penyakit saluran cerna yang mempunyai gejala serupa. GERD umumnya ditandai oleh refluks asam lambung, regurgitasi, dan nyeri ulu hati. IBS ditandai oleh nyeri perut kronis yang berhubungan dengan perubahan pola buang air besar sesuai kriteria Rome IV. Penyakit celiac merupakan penyakit autoimun akibat gluten yang menyebabkan kerusakan mukosa usus, diare kronis, anemia, gangguan penyerapan nutrisi, dan gangguan pertumbuhan. Eosinophilic esophagitis dapat menyebabkan makanan terasa tersangkut di kerongkongan, nyeri saat menelan, dan sulit makan. Dispepsia fungsional, intoleransi laktosa, konstipasi kronis, infeksi saluran cerna, gangguan oral motor, serta penyakit radang usus juga perlu dipertimbangkan sesuai gambaran klinis anak.
Berat badan yang sulit naik pada anak dengan alergi makanan tidak hanya disebabkan oleh berkurangnya jumlah makanan yang dikonsumsi. Peradangan kronis pada saluran cerna dapat mengganggu fungsi sawar usus, meningkatkan permeabilitas usus, mengubah keseimbangan mikrobiota, serta menurunkan penyerapan energi, protein, zat besi, kalsium, vitamin D, dan berbagai mikronutrien lainnya. Selain itu, proses inflamasi meningkatkan kebutuhan energi tubuh. Kombinasi penurunan asupan dan gangguan penyerapan tersebut dapat menyebabkan berat badan sulit naik, pertumbuhan melambat, gangguan status gizi, hingga gagal tumbuh bila tidak ditangani.
Diagnosis alergi makanan tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan gejala, hasil skin prick test, atau pemeriksaan IgE spesifik. Sebagian anak memiliki hasil pemeriksaan yang positif tetapi tetap dapat mengonsumsi makanan tersebut tanpa mengalami reaksi alergi. Sebaliknya, pada alergi makanan non IgE, hasil pemeriksaan dapat tetap normal meskipun gejala klinis sangat khas. Oleh karena itu, dokter harus menggabungkan riwayat hubungan antara makanan dan timbulnya gejala, pemeriksaan fisik, evaluasi status gizi, pemantauan kurva pertumbuhan, pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi, serta pemeriksaan lain untuk menyingkirkan penyakit saluran cerna yang memiliki gejala serupa.
Apabila setelah evaluasi menyeluruh masih terdapat dugaan kuat alergi makanan, Oral Food Challenge atau OFC merupakan baku emas untuk memastikan diagnosis. Pemeriksaan dilakukan dengan memberikan makanan yang dicurigai sebagai penyebab alergi secara bertahap mulai dari dosis kecil hingga mencapai porsi sesuai usia anak di bawah pengawasan dokter di fasilitas kesehatan yang mampu menangani reaksi alergi bila terjadi. OFC membantu memastikan apakah suatu makanan benar benar menjadi penyebab keluhan sekaligus mencegah overdiagnosis yang dapat menyebabkan diet eliminasi yang tidak diperlukan. Hal ini penting karena pembatasan makanan tanpa diagnosis yang pasti dapat meningkatkan risiko kekurangan zat gizi dan mengganggu pertumbuhan anak.
Penatalaksanaan harus dilakukan secara komprehensif. Makanan yang telah terbukti menyebabkan alergi dihindari secara selektif, sedangkan makanan lain yang aman tetap diberikan agar kebutuhan energi, protein, vitamin, mineral, dan serat tetap terpenuhi. Gangguan penyerta seperti GERD, IBS, penyakit celiac, eosinophilic esophagitis, konstipasi, diare, gangguan oral motor, maupun feeding difficulties juga harus ditangani sesuai penyebabnya. Pemantauan berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh, status gizi, serta kurva pertumbuhan perlu dilakukan secara berkala. Dengan diagnosis yang tepat dan penatalaksanaan yang menyeluruh, banyak anak mengalami perbaikan nafsu makan, berkurangnya keluhan saluran cerna, peningkatan status gizi, berat badan yang kembali naik sesuai kurva pertumbuhan, serta kualitas hidup yang lebih baik.











Leave a Reply