Benarkah Anak Sulit Makan Pasti Hanya Sedang Memilih-Milih Makanan?
Pertanyaan
Benarkah anak yang sulit makan hanya sedang memilih-milih makanan atau picky eater sehingga orang tua tidak perlu khawatir? Anak saya hanya mau makan beberapa jenis makanan, sering menolak nasi, sayur, atau lauk tertentu, makan sangat lama, kadang muntah saat dipaksa makan, berat badannya sulit naik, dan sering mengalami sembelit atau sakit perut. Banyak orang mengatakan kondisi ini akan membaik sendiri seiring bertambahnya usia. Apakah benar semua anak yang sulit makan hanya mengalami fase perkembangan yang normal, atau kondisi tersebut dapat menjadi tanda adanya penyakit tertentu yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut?
Jawaban
Tidak benar. Meskipun picky eater merupakan kondisi yang cukup sering terjadi pada anak usia balita dan sebagian besar akan membaik secara bertahap, tidak semua anak yang sulit makan hanya mengalami perilaku memilih makanan. Kesulitan makan merupakan gejala yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari kebiasaan makan yang normal sesuai tahap perkembangan hingga penyakit yang memerlukan penanganan khusus. Oleh karena itu, penting untuk membedakan antara picky eater fisiologis dengan feeding difficulties atau Pediatric Feeding Disorder yang dapat berdampak pada pertumbuhan dan kesehatan anak.
Pada sebagian anak, kesulitan makan terjadi karena adanya gangguan medis yang membuat proses makan menjadi tidak nyaman. Alergi makanan dapat menyebabkan nyeri perut, muntah, refluks, diare, atau konstipasi sehingga anak mulai menghindari makanan tertentu. Refluks gastroesofageal dapat menimbulkan rasa terbakar atau nyeri setelah makan. Eosinophilic esophagitis dapat menyebabkan nyeri saat menelan atau makanan terasa tersangkut. Anemia defisiensi besi dapat menurunkan nafsu makan, sedangkan konstipasi kronis sering menyebabkan anak cepat kenyang dan enggan makan. Pada kondisi tersebut, perilaku menolak makan merupakan akibat dari penyakit yang mendasari, bukan sekadar kebiasaan memilih makanan.
Gangguan perkembangan kemampuan makan juga perlu dipertimbangkan. Sebagian anak mengalami gangguan oral motor sehingga kesulitan mengunyah atau menelan makanan dengan tekstur tertentu. Ada pula anak yang memiliki gangguan sensorik sehingga sangat sensitif terhadap rasa, tekstur, suhu, atau aroma makanan. Pada anak dengan gangguan perkembangan seperti autism spectrum disorder, selective eating dapat berlangsung lebih berat dan menetap. Selain itu, pengalaman makan yang menyakitkan akibat tersedak, muntah berulang, atau prosedur medis juga dapat menimbulkan ketakutan terhadap makanan sehingga anak semakin menolak makan.
Dokter akan menilai kondisi anak secara menyeluruh sebelum menyimpulkan penyebabnya. Evaluasi meliputi riwayat pola makan sejak bayi, variasi makanan yang dikonsumsi, lama waktu makan, riwayat tersedak atau muntah, keluhan saluran cerna, riwayat alergi, pertumbuhan berat dan tinggi badan, perkembangan sesuai usia, serta pemeriksaan fisik. Bila terdapat indikasi, dokter dapat melakukan pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan penunjang lainnya untuk mencari penyebab yang mendasari. Pendekatan ini bertujuan agar terapi diberikan sesuai penyebab, bukan hanya mengatasi gejalanya.
Orang tua perlu segera berkonsultasi apabila anak sulit makan disertai berat badan yang tidak naik sesuai kurva pertumbuhan, penurunan berat badan, muntah berulang, sering tersedak, hanya mau mengonsumsi sedikit jenis makanan, diare atau konstipasi kronis, nyeri saat makan, atau gejala alergi seperti ruam, batuk berulang, dan sesak setelah mengonsumsi makanan tertentu. Semakin dini penyebab kesulitan makan dikenali, semakin besar peluang memperbaiki status gizi, pertumbuhan, perkembangan kemampuan makan, dan kualitas hidup anak serta keluarganya.









Leave a Reply