Klinik Picky Eaters

KLINIK KESULITAN MAKAN & GANGGUAN BERAT BADAN

KONSULTASI PICKY EATERS: Mengapa anak susah makan dan pilih-pilih makanan?

  • Mengapa anak susah makan dan pilih-pilih makanan? Apa tanda dan gejalanya, apakah dapat berkaitan dengan alergi makanan atau gangguan pencernaan, dan bagaimana penanganannya?
  • dr Widodo Judarwanto, pediatrician, dr Sandiaz Yudhasmara

Anak susah makan dan pilih-pilih makanan (picky eating) merupakan masalah yang cukup sering dijumpai pada masa pertumbuhan. Penyebabnya beragam, mulai dari fase perkembangan, perubahan nafsu makan, kebiasaan makan yang kurang tepat, hingga gangguan kesehatan yang membuat anak merasa tidak nyaman saat makan. Pada sebagian anak, kesulitan makan juga dapat berkaitan dengan alergi makanan yang melibatkan saluran pencernaan, terutama bila disertai keluhan mual, muntah, nyeri perut, refluks gastroesofageal (gastroesophageal reflux disease atau GERD), maupun gangguan buang air besar. Namun, tidak semua anak yang susah makan mengalami alergi makanan; penyebabnya perlu dinilai berdasarkan riwayat klinis, gejala, pola makan, dan pertumbuhan anak.

Tanda dan gejala anak susah makan dapat berupa menolak makanan, hanya mau mengonsumsi jenis atau tekstur makanan tertentu, makan dalam waktu sangat lama, mudah terdistraksi, menutup mulut, menangis atau marah ketika disuapi, serta hanya mau minum susu dan menolak makanan padat. Sebagian anak hanya mau makanan yang renyah, lembut, berkuah, atau memiliki warna dan rasa tertentu. Pada anak lain, masalahnya terlihat dari kebiasaan mengunyah terlalu lama, menyimpan makanan di dalam mulut, sering melepeh, tersedak, atau kesulitan menelan. Gejala-gejala tersebut perlu diperhatikan, terutama bila berlangsung lama dan mengganggu kecukupan asupan nutrisi.

Keluhan pencernaan dapat menjadi salah satu penyebab anak menolak makan. Anak yang mengalami mual, muntah, nyeri perut, kembung, cepat merasa kenyang, sembelit, atau diare dapat menghubungkan kegiatan makan dengan rasa tidak nyaman. Akibatnya, anak menjadi takut makan, menolak makanan tertentu, atau hanya bersedia mengonsumsi makanan yang dianggap lebih mudah ditelan dan tidak menimbulkan keluhan. Pada kondisi ini, memaksa anak menghabiskan makanan tanpa mencari penyebab ketidaknyamanannya dapat memperburuk pengalaman makan dan meningkatkan penolakan terhadap makanan.

Alergi makanan yang melibatkan saluran pencernaan juga perlu dipertimbangkan pada anak tertentu. Reaksi terhadap makanan dapat disertai muntah, nyeri perut, diare, atau gejala lain sesuai jenis reaksinya. Pada sebagian anak, keluhan yang berulang setelah mengonsumsi makanan tertentu dapat berkontribusi terhadap penolakan makan. Meski demikian, mual, muntah, dan GERD tidak otomatis menunjukkan alergi makanan. Refluks, konstipasi, infeksi, gangguan keterampilan makan, serta berbagai kondisi medis lain juga dapat menimbulkan gejala serupa sehingga perlu dibedakan melalui evaluasi klinis.

Hubungan antara alergi makanan dan kesulitan makan perlu dinilai secara cermat. Dokter akan menelusuri jenis makanan yang dikonsumsi, waktu munculnya gejala, konsistensi reaksi, riwayat alergi, kondisi kulit atau saluran pernapasan bila ada, serta dampaknya terhadap asupan dan pertumbuhan. Riwayat bahwa anak pernah mengalami alergi makanan dapat menjadi petunjuk, tetapi belum cukup untuk memastikan bahwa keluhan makan saat ini disebabkan oleh alergi yang sama. Pemeriksaan alergi yang terarah dilakukan sesuai dugaan klinis; hasil tes positif saja tidak selalu berarti anak mengalami alergi makanan yang menimbulkan gejala.

Diagnosis alergi makanan tidak sebaiknya ditentukan hanya berdasarkan daftar makanan yang dicurigai atau panel pemeriksaan yang luas. Pemeriksaan IgE spesifik dapat membantu bila dicurigai alergi yang diperantarai IgE, tetapi harus ditafsirkan bersama riwayat klinis. Pemeriksaan IgG makanan tidak direkomendasikan untuk mendiagnosis alergi makanan. Catatan makanan dan gejala dapat membantu mengenali pola, tetapi tidak dapat memastikan diagnosis secara mandiri. Menghindari banyak jenis makanan tanpa indikasi yang jelas berisiko menyebabkan kekurangan energi, protein, vitamin, dan mineral, terutama pada anak yang sejak awal sudah memiliki pilihan makanan terbatas.

Oral food challenge (OFC) atau uji provokasi makanan oral dapat digunakan untuk memastikan diagnosis pada kasus yang sesuai. Prosedur ini dilakukan dengan memberikan makanan yang dicurigai secara bertahap dan terkontrol, dengan pengawasan tenaga medis yang kompeten serta kesiapan menangani reaksi alergi. OFC bukan percobaan yang sebaiknya dilakukan sendiri di rumah, khususnya jika anak pernah mengalami reaksi berat, sesak napas, pembengkakan, atau reaksi cepat setelah makan. Tidak semua anak memerlukan OFC; keputusan melakukannya bergantung pada riwayat, jenis dugaan alergi, hasil pemeriksaan, dan pertimbangan keamanan.

Penanganan harus disesuaikan dengan penyebab yang terbukti atau paling mungkin. Jika ditemukan alergi makanan, dokter menentukan makanan yang perlu dihindari dan menyusun pengganti nutrisi yang memadai. Jika terdapat konstipasi, GERD, gangguan menelan, masalah oral-motor, atau kondisi medis lain, masalah tersebut perlu ditangani secara khusus. Pada saat yang sama, orang tua dapat menerapkan jadwal makan yang teratur, porsi kecil sesuai usia, suasana makan yang tenang, serta paparan berulang terhadap makanan tanpa paksaan. Susu dan camilan juga perlu diatur agar tidak mengurangi rasa lapar saat waktu makan utama. Konsultasi dengan dokter anak, ahli gizi, atau terapis makan dapat diperlukan sesuai hasil penilaian.

Evaluasi medis diperlukan bila kesulitan makan berlangsung menetap atau disertai tanda bahaya. Tanda tersebut meliputi berat badan sulit naik atau menurun, pertumbuhan terhambat, asupan sangat terbatas, muntah berulang, nyeri saat makan, sulit menelan, sering tersedak, dehidrasi, darah dalam muntah atau tinja, maupun anak tampak lemas. Sesak napas, pembengkakan lidah atau tenggorokan, atau reaksi alergi berat setelah makan merupakan keadaan darurat. Tujuan penanganan bukan sekadar membuat anak mau makan, melainkan menemukan dan menangani penyebabnya, memastikan kecukupan nutrisi dan pertumbuhan, serta membangun pengalaman makan yang aman dan positif.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *