- Pemasangan Sonde pada Bayi dan Anak dengan Berat Badan Sulit Naik dan Gangguan Makan
- Tinjauan klinis dan rekomendasi organisasi internasional: AAP, ESPGHAN, WHO, ASPEN, dan pedoman nutrisi pediatri
Pemasangan sonde atau selang makan pada bayi dan anak merupakan salah satu intervensi medis untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ketika asupan melalui mulut tidak mencukupi, pertumbuhan terganggu, atau proses makan tidak aman. Sonde bukan sekadar solusi bagi anak yang sulit makan, tetapi merupakan bagian dari tata laksana nutrisi yang harus didasarkan pada penilaian pertumbuhan, kecukupan asupan, kemampuan mengunyah dan menelan, kondisi medis, serta risiko malnutrisi.
- Pada anak dengan failure to thrive (pertumbuhan tidak optimal), growth faltering (perlambatan pertumbuhan), atau pediatric feeding disorder (gangguan makan pediatrik), prioritasnya adalah mencari penyebab dan memperbaiki masalah yang mendasari. Penyebabnya dapat meliputi asupan energi yang tidak memadai, kesulitan oral-motor, gangguan menelan, penyakit saluran cerna, peningkatan kebutuhan energi, atau gangguan penyerapan nutrisi.
- Prinsip utama: sonde dipertimbangkan apabila kebutuhan nutrisi tidak dapat dipenuhi secara aman dan memadai melalui mulut, bukan hanya karena anak pilih-pilih makanan atau berat badannya berada di bawah kurva normal. Keputusan harus dibuat oleh tim medis dengan melibatkan dokter anak dan, bila diperlukan, ahli gizi, terapis makan, serta spesialis terkait.
Rekomendasi organisasi internasional
- 1. American Academy of Pediatrics (AAP) dan NASPGHAN
- Pedoman AAP–NASPGHAN tahun 2026 tentang faltering weight menekankan pengukuran pertumbuhan yang akurat, anamnesis dan pemeriksaan fisik, evaluasi perkembangan dan kemampuan makan, peningkatan asupan energi, suplementasi nutrisi oral, serta terapi gangguan makan bila terindikasi. Pedoman ini tidak menetapkan bahwa setiap anak dengan berat badan sulit naik harus dipasang sonde
- 2. ESPGHAN
- Menjadi rujukan spesialis untuk nutrisi enteral anak, gangguan saluran cerna, dan pemilihan dukungan nutrisi berdasarkan kondisi klinis. Dalam praktik nutrisi pediatri, pemberian melalui saluran cerna dipertimbangkan bila asupan oral tidak mencukupi dan saluran cerna masih dapat digunakan.
- 3. World Health Organization (WHO) dan UNICEF
- Pedoman WHO mencakup penilaian dan penatalaksanaan wasting, malnutrisi akut, edema nutrisi, serta bayi di bawah enam bulan yang berisiko mengalami gangguan pertumbuhan. Anak dengan malnutrisi berat atau komplikasi memerlukan tata laksana sesuai tingkat keparahan, bukan sekadar menaikkan kalori di rumah.
- 4. ASPEN
- Pedoman praktik nutrisi enteral menekankan indikasi dan alasan pemberian, jenis formula, akses selang, lokasi ujung selang, volume dan jadwal pemberian, laju awal, peningkatan bertahap, serta pemantauan keselamatan.
Kapan sonde perlu dipertimbangkan?
Sonde nasogastrik (NGT) atau selang makan lainnya dapat dipertimbangkan setelah evaluasi klinis apabila terdapat satu atau lebih kondisi berikut.
| Kondisi klinis | Pertimbangan nutrisi |
|---|---|
| Asupan oral terus-menerus jauh di bawah kebutuhan | Mempertimbangkan dukungan nutrisi tambahan atau enteral |
| Berat badan menurun atau kurva pertumbuhan terus merosot | Evaluasi segera dan intervensi sesuai derajat gangguan |
| Malnutrisi sedang–berat atau tanda kekurangan nutrisi | Penilaian medis dan nutrisi terstruktur; mungkin memerlukan perawatan rumah sakit |
| Bayi tidak mampu mengisap atau minum secara efektif | Menilai kemampuan menyusu, koordinasi isap-telan-napas, dan kecukupan asupan |
| Gangguan menelan atau risiko aspirasi | Evaluasi keamanan menelan; rute pemberian ditentukan berdasarkan hasil evaluasi |
| Penyakit kronis atau kondisi neurologis yang membatasi asupan | Rencana nutrisi individual, termasuk kemungkinan pemberian enteral |
| Kebutuhan energi tinggi yang tidak terpenuhi melalui makan biasa | Menilai pengayaan makanan, formula, dan dukungan enteral |
Penting: tabel ini merupakan kerangka pengambilan keputusan klinis, bukan daftar indikasi otomatis atau ambang universal untuk memasang sonde. Keputusan mempertimbangkan berat dan panjang/tinggi badan, perubahan kurva, jumlah asupan, lama masalah, kondisi medis, dan keamanan makan. AAP secara khusus menganjurkan terapi gangguan makan pada anak yang memiliki masalah makan terdokumentasi.
Apakah anak yang hanya mau minum susu harus dipasang sonde?
Tidak selalu. Anak yang menolak makanan padat tetapi masih mau minum susu perlu dinilai berdasarkan jumlah asupan, kecukupan energi dan zat gizi, kemampuan makan, serta pertumbuhannya.
- Jika pertumbuhan relatif stabil dan asupan masih dapat diperbaiki
- Prioritaskan evaluasi pola makan, jadwal makan, pengayaan makanan yang sesuai usia, penilaian nutrisi, dan terapi makan. Suplementasi oral dapat dipertimbangkan berdasarkan penilaian klinis.
- Jika berat badan terus turun atau kebutuhan nutrisi tidak tercapai
- Dokter perlu menilai apakah strategi oral masih memadai atau dukungan enteral perlu dimulai. Jangan menunggu sampai anak mengalami malnutrisi berat bila pertumbuhan sudah memburuk.
- Jika makan atau minum tidak aman
- Batuk atau tersedak berulang saat minum, perubahan warna kulit, kesulitan bernapas, atau dugaan aspirasi membutuhkan evaluasi medis. Jangan memaksakan pemberian oral sebelum keamanan menelan dinilai.
AAP–NASPGHAN 2026 merekomendasikan peningkatan energi makanan dan mempertimbangkan suplementasi nutrisi oral serta terapi gangguan makan. Namun, rekomendasi tersebut tidak berarti bahwa intervensi oral harus dipaksakan pada anak yang tidak aman menelan atau mengalami malnutrisi berat.
Jenis sonde untuk bayi dan anak
- A. Sonde nasogastrik (NGT)
- Selang dimasukkan melalui hidung menuju lambung. Umumnya digunakan untuk dukungan nutrisi jangka pendek atau sebagai percobaan dukungan enteral ketika kebutuhan nutrisi tidak dapat dipenuhi melalui mulut. Penempatan dan verifikasi lokasi harus dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih.
- B. Sonde nasojejunal (NJ)
- Selang melewati lambung dan berujung di usus halus. Dipertimbangkan pada keadaan tertentu, misalnya intoleransi pemberian lambung atau risiko aspirasi tertentu, setelah evaluasi dokter spesialis. NJ tidak otomatis menghilangkan seluruh risiko aspirasi.
- C. Gastrostomi (G-tube/PEG)
- Selang masuk langsung ke lambung melalui dinding perut. Dipertimbangkan bila dukungan enteral diperkirakan diperlukan dalam jangka panjang atau NGT tidak sesuai. Pemasangannya merupakan tindakan medis invasif dan memerlukan evaluasi manfaat, risiko, serta kesiapan keluarga.
- Pemilihan jenis selang didasarkan pada lama kebutuhan nutrisi, fungsi saluran cerna, risiko aspirasi, kondisi anatomis, dan penyakit yang mendasari. Tidak ada satu jenis selang yang paling baik untuk semua anak.
Bagaimana prosedur pemasangan sonde yang aman?
- Pemasangan sonde pada bayi dan anak bukan tindakan yang sebaiknya dicoba sendiri oleh orang tua tanpa pelatihan dan pengawasan klinis.
- Penilaian sebelum pemasangan. Dokter mengevaluasi status hidrasi, kondisi pernapasan, pertumbuhan, kemampuan menelan, saluran cerna, dan kebutuhan nutrisi.
- Menentukan akses dan selang. Tenaga kesehatan memilih jenis dan ukuran selang berdasarkan usia, ukuran tubuh, indikasi, serta protokol rumah sakit.
- Pemasangan oleh tenaga terlatih. Prosedur dilakukan dengan memperhatikan kenyamanan, keselamatan jalan napas, dan risiko trauma.
- Memastikan posisi ujung selang. Untuk NGT, posisi harus diverifikasi sesuai protokol yang tervalidasi sebelum pemberian nutrisi atau obat. Metode dapat mencakup aspirasi dan pemeriksaan pH, serta radiografi bila diperlukan atau diwajibkan oleh protokol. Auskultasi suara setelah memasukkan udara saja tidak cukup untuk memastikan posisi yang benar.
- Menyusun resep nutrisi. Tim menentukan formula, volume, frekuensi, cara pemberian, kebutuhan cairan, dan peningkatan asupan berdasarkan kondisi anak.
- Memantau respons dan komplikasi. Pertumbuhan, toleransi pemberian, hidrasi, hasil pemeriksaan yang diperlukan, serta posisi selang dievaluasi secara berkala.
Berapa lama sonde digunakan?
- Tidak ada durasi universal. Lama pemakaian ditentukan oleh penyebab gangguan makan dan keberhasilan intervensi.
| Situasi | Pendekatan |
|---|---|
| Gangguan makan sementara akibat penyakit akut | Evaluasi kebutuhan setiap hari atau sesuai kondisi |
| Asupan oral belum memenuhi kebutuhan | Sonde dapat menjadi jembatan sambil memperbaiki asupan oral dan gangguan makan |
| Gangguan menelan atau penyakit kronis | Dukungan dapat lebih lama, dengan evaluasi berkala |
| Kebutuhan enteral jangka panjang | Pertimbangkan apakah gastrostomi lebih sesuai dibandingkan NGT |
| Anak mulai mampu makan dengan aman dan memenuhi kebutuhan | Kurangi dukungan enteral secara bertahap berdasarkan evaluasi klinis |
Tujuan akhirnya bukan mempertahankan sonde selama mungkin, melainkan memastikan nutrisi cukup, pertumbuhan membaik, dan kemampuan makan berkembang sesuai potensi anak. Namun, penghentian sonde tidak boleh dilakukan hanya karena berat badan mulai naik. Keamanan menelan dan kecukupan asupan oral juga harus dipastikan.
Risiko dan komplikasi yang harus dipahami
- Risiko berbeda menurut jenis selang dan kondisi pasien.
- Salah posisi atau pergeseran selang: nutrisi dapat masuk ke saluran napas jika selang berada di posisi yang salah.
- Aspirasi: isi lambung atau makanan dapat masuk ke paru, terutama pada anak dengan gangguan menelan, refluks, atau kondisi neurologis tertentu.
- Iritasi dan trauma: mimisan, iritasi hidung, luka pada mukosa, atau ketidaknyamanan.
- Gangguan saluran cerna: muntah, kembung, diare, atau konstipasi.
- Gangguan metabolik: perubahan elektrolit, gula darah, dan keseimbangan cairan pada pasien tertentu.
- Masalah jangka panjang: ketergantungan pada dukungan enteral tanpa program rehabilitasi makan yang memadai, serta komplikasi lokal pada gastrostomi.
- Bila anak yang memakai NGT tiba-tiba batuk hebat, sesak, membiru, muntah berulang, atau selangnya bergeser, hentikan pemberian nutrisi dan segera minta pertolongan medis. Jangan menggunakan selang yang posisinya belum dipastikan.
Nutrisi enteral dan risiko refeeding syndrome
- Anak yang mengalami malnutrisi berat atau asupan yang sangat rendah dalam waktu lama dapat berisiko mengalami refeeding syndrome, yaitu gangguan metabolik saat pemberian nutrisi ditingkatkan kembali. Perubahan fosfat, kalium, magnesium, cairan, dan tiamin dapat menimbulkan komplikasi serius.
- Pada anak berisiko tinggi, pemberian nutrisi harus direncanakan secara bertahap dengan pemantauan klinis dan laboratorium sesuai kebutuhan. Jangan langsung memberikan kalori tinggi atau volume besar tanpa penilaian dokter.
- WHO memiliki panduan khusus untuk tata laksana wasting dan edema nutrisi, termasuk pemilahan pasien yang dapat ditangani rawat jalan dan pasien yang memerlukan perawatan rawat inap.
Evaluasi penyebab sulit makan dan berat badan tidak naik
- Sonde memenuhi kebutuhan nutrisi, tetapi tidak dengan sendirinya mengobati penyebab gangguan makan.
- A. Domain medis
- Refluks yang bermakna, penyakit saluran cerna, gangguan penyerapan, penyakit kronis, gangguan pernapasan, nyeri saat makan, atau masalah lain yang terbukti secara klinis.
- B. Domain nutrisi
- Jumlah energi dan protein, kecukupan mikronutrien, volume susu atau makanan, pola pemberian, hidrasi, serta kebutuhan energi individual.
- C. Domain keterampilan makan
- Kemampuan mengisap, mengunyah, menelan, mengatur tekstur makanan, dan koordinasi isap-telan-napas pada bayi.
- D. Domain perilaku dan lingkungan makan
- Penolakan makanan, selektivitas berat, pengalaman makan yang tidak menyenangkan, tekanan saat makan, serta interaksi anak dan pengasuh.
- Kerangka ini sejalan dengan konsep pediatric feeding disorder, yang mencakup aspek medis, nutrisi, keterampilan makan, dan psikososial. Penanganan multidisiplin dapat diperlukan bila masalahnya kompleks.
- A. Domain medis
Data klinis yang perlu disiapkan sebelum memutuskan pemasangan sonde
- Agar keputusan tidak hanya berdasarkan berat badan saat ini, dokter perlu memperoleh:
- Usia anak dan usia gestasi saat lahir.
- Berat badan sekarang, panjang/tinggi badan, serta hasil pengukuran sebelumnya.
- Kurva pertumbuhan dan kecepatan kenaikan berat badan.
- Catatan asupan 24 jam: ASI, susu formula, makanan, dan cairan.
- Lama waktu makan, penolakan makanan, muntah, diare, konstipasi, dan nyeri saat makan.
- Gejala batuk atau tersedak ketika makan/minum dan dugaan gangguan menelan.
- Riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, obat-obatan, serta pemeriksaan penunjang yang memang memiliki indikasi.
Pedoman AAP–NASPGHAN 2026 menggunakan kriteria faltering weight yang mencakup berat menurut panjang badan atau IMT menurut usia di bawah −1,65 z-score, kecepatan kenaikan berat badan pada anak di bawah dua tahun di bawah −2 z-score, atau penurunan setidaknya 1 z-score pada indikator pertumbuhan tertentu. Kriteria tersebut membantu mengenali gangguan pertumbuhan, tetapi bukan ambang otomatis untuk pemasangan sonde.
Penderita Alergi Pencernaan
- Pada bayi dan anak dengan alergi makanan atau dugaan alergi saluran cerna, gangguan makan dan berat badan sulit naik perlu dievaluasi secara menyeluruh sebelum memutuskan pemasangan sonde. Gejala seperti muntah berulang, diare, konstipasi, nyeri perut, penolakan makan, atau gangguan pertumbuhan dapat berkaitan dengan alergi makanan, tetapi juga dapat disebabkan oleh kondisi medis dan gangguan makan lainnya. Karena itu, jangan terburu-buru memasang sonde hanya berdasarkan berat badan yang sulit naik atau penolakan makanan. Prioritaskan evaluasi penyebab, kecukupan asupan, status nutrisi, serta kemampuan dan keamanan menelan. Bila alergi makanan dicurigai, diagnosis harus berdasarkan riwayat klinis dan pemeriksaan terarah; oral food challenge (OFC) merupakan metode konfirmasi penting bila diindikasikan, dilakukan di bawah pengawasan tenaga medis dengan kesiapan menangani reaksi alergi. OFC tidak boleh dilakukan sendiri di rumah, terutama pada anak dengan riwayat reaksi berat.
- Setelah alergi makanan yang relevan teridentifikasi, tata laksana diarahkan pada penghindaran makanan pemicu yang benar-benar terbukti, penggantian nutrisi yang sesuai, dan perbaikan kecukupan energi serta protein tanpa pembatasan makanan yang tidak perlu. Pada sebagian anak, perbaikan gejala pencernaan, kenyamanan saat makan, dan kecukupan asupan dapat diikuti kenaikan berat badan dalam 1–3 minggu. Namun, kenaikan sekitar 200–250 gram per minggu bukan target universal untuk semua usia dan kondisi; interpretasinya harus disesuaikan dengan usia, berat awal, derajat malnutrisi, hidrasi, dan kurva pertumbuhan. Respons awal ini dapat menjadi alasan untuk mengevaluasi kembali kebutuhan dukungan nutrisi, tetapi tidak membuktikan alergi makanan dengan sendirinya.
- Pemasangan sonde dapat ditunda atau dihindari apabila evaluasi menunjukkan bahwa anak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi secara oral dengan aman, asupan membaik, dan pertumbuhan menunjukkan respons yang memadai di bawah pemantauan klinis. Sebaliknya, bila asupan tetap tidak mencukupi, berat badan terus menurun, terdapat malnutrisi bermakna, atau makan tidak aman akibat gangguan menelan, dukungan nutrisi enteral tidak boleh ditunda hanya untuk menunggu respons eliminasi makanan atau OFC. Prinsipnya adalah mengidentifikasi dan mengobati penyebab yang mendasari, memantau pertumbuhan secara terukur, dan memilih intervensi paling aman bagi setiap anak—bukan memasang sonde secara otomatis, tetapi juga bukan menunda sonde ketika dukungan nutrisi memang diperlukan.
Kesimpulan klinis
- Pemasangan sonde merupakan pilihan penting ketika bayi atau anak tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi melalui mulut secara aman dan memadai. Keputusan harus menggabungkan evaluasi pertumbuhan, asupan, keterampilan makan, kondisi medis, dan risiko malnutrisi.
- AAP–NASPGHAN 2026 menekankan peningkatan energi, suplementasi oral bila sesuai, dan terapi gangguan makan yang terdokumentasi. WHO memberikan kerangka penanganan malnutrisi berdasarkan tingkat keparahan, sedangkan prinsip praktik nutrisi enteral ASPEN menekankan perencanaan pemberian dan keselamatan. Tidak satu pun dari prinsip tersebut membenarkan pemasangan sonde secara otomatis hanya karena anak sulit makan.
Referensi utama yang dapat ditelusuri
- Kersten HB, et al. Clinical Practice Guideline for Diagnosis and Management of Faltering Weight. Pediatrics. 2026;157(4):e2025075764. DOI: 10.1542/peds.2025-075764.
- American Academy of Pediatrics. Nonoral Feeding for Children and Youth With Developmental or Acquired Disabilities. Pediatrics. 2014;134(6):e1745–e1762. DOI: 10.1542/peds.2014-2829. Laporan klinis ini ditegaskan kembali pada 2025.
- World Health Organization. Implementation Guidance on the Management of Wasting and Nutritional Oedema in Infants and Children Aged Under 5 Years in Inpatient and Outpatient Settings. WHO/UNICEF, 2026. Dokumen resmi WHO.
- Boullata JI, et al. ASPEN Safe Practices for Enteral Nutrition Therapy. Journal of Parenteral and Enteral Nutrition. 2017. DOI: 10.1177/0148607116673053.
- Untuk menerapkan panduan ini pada pasien tertentu: berapa usia anak, berat badan sekarang, dan apakah anak sama sekali tidak mau makan atau masih bisa minum susu/ASI? Ketiga informasi ini membantu menentukan apakah yang perlu diprioritaskan adalah evaluasi pertumbuhan, terapi makan, suplementasi oral, atau penilaian kebutuhan sonde.









Leave a Reply