LAPORAN KASUS: GROWTH FALTERING PADA ANAK 19 BULAN: SULIT MAKAN, ALERGI PENCERNAAN, DAN PERTIMBANGAN PEMASANGAN SONDE DITUNDA SETELAH PERBAIKAN
Subjudul: Analisis Kasus Klinik Picky Eaters Jakarta tentang Asupan Tidak Adekuat, Feeding Difficulty, Gangguan Pencernaan, Oral Food Challenge, dan Constitutional Growth
ANALISIS DAN DISKUSI KASUS – KLINIK PICKY EATERS JAKARTA
Kasus ini merupakan seorang anak perempuan usia 19 bulan dengan berat badan 8 kg, lahir cukup bulan pada usia kehamilan 39 minggu dengan berat lahir 2,5 kg. Sejak bayi pertambahan berat badan berlangsung lambat dan setelah usia sekitar 6 bulan berat badan cenderung tidak bertambah. Anak mengalami kesulitan makan dan nafsu makan rendah, disertai konstipasi dengan mengejan dan feses berbau tajam, mual, mudah muntah, serta gangguan tidur sejak kecil dengan posisi tidur sering menungging. Keluhan lain berupa mudah sakit, demam, batuk, sesak, dan episode diare. Pemeriksaan laboratorium dilaporkan normal. Sebelumnya anak dianjurkan pemasangan sonde dan penggantian susu dengan formula elemental Neocate karena didiagnosis alergi susu sapi. Orang tua menolak pemasangan sonde dan memilih melakukan second opinion. Secara klinis, kasus ini memerlukan pendekatan multidimensional karena growth faltering pada anak dapat disebabkan oleh asupan yang tidak mencukupi, kesulitan makan, gangguan gastrointestinal, penyakit kronis, maupun kombinasi berbagai faktor.
Dari aspek pertumbuhan, berat badan 8 kg pada usia 19 bulan merupakan angka yang rendah dan harus dinilai menggunakan kurva pertumbuhan WHO, terutama berat badan menurut umur dan berat badan menurut panjang badan, disertai pengukuran panjang badan secara akurat. Berat badan saja belum cukup untuk menentukan apakah anak mengalami wasting, stunting, atau hanya memiliki tubuh kecil secara konstitusional. WHO menyediakan standar pertumbuhan khusus anak perempuan untuk berat badan menurut umur dan berat badan menurut panjang badan sampai usia 2 tahun. Dalam kasus ini, riwayat berat badan yang stagnan setelah usia 6 bulan lebih penting daripada sekadar satu angka berat badan karena menunjukkan kemungkinan growth faltering yang berlangsung lama.
Masalah utama yang tampak adalah asupan tidak adekuat akibat nafsu makan terganggu dan feeding difficulty. Anak sulit makan bukan hanya persoalan “tidak mau makan”, tetapi dapat merupakan hasil interaksi antara nafsu makan rendah, pengalaman makan yang tidak menyenangkan, gangguan gastrointestinal, pola pemberian makan, respons orang tua terhadap penolakan makanan, serta kemungkinan gangguan fisik yang membuat makan tidak nyaman. Pedoman NICE menekankan pentingnya mengevaluasi riwayat makan secara rinci, jenis dan jumlah makanan, perilaku saat makan, food aversion, nafsu makan, dan faktor fisik yang memengaruhi proses makan pada anak dengan faltering growth.
Konstipasi menjadi bagian penting dalam memahami kasus ini. Anak sering mengejan, sulit BAB, mengalami nyeri atau rasa ingin BAB tetapi tidak jadi, dan kadang disertai mual. Konstipasi dapat menciptakan lingkaran masalah berupa perut tidak nyaman, cepat kenyang, nafsu makan menurun, penolakan makan, dan akhirnya asupan energi semakin rendah. Konstipasi pada anak umumnya bersifat fungsional, sehingga tidak boleh otomatis dianggap sebagai manifestasi alergi makanan. Namun, alergi makanan non-IgE memang dapat menjadi salah satu diagnosis banding pada sebagian kecil anak dengan konstipasi yang tidak membaik dengan tata laksana standar. EAACI secara khusus menekankan bahwa hubungan antara konstipasi dan alergi makanan masih memerlukan penilaian klinis yang hati-hati.
Riwayat mudah muntah, mual, gangguan tidur, posisi tidur menungging, serta keluhan saluran napas seperti batuk dan sesak juga perlu dipandang sebagai kemungkinan faktor yang memperburuk kualitas hidup dan proses makan. Gangguan saluran napas atas atau gastrointestinal dapat menyebabkan anak merasa tidak nyaman ketika makan maupun tidur. Karena itu, evaluasi sebaiknya tidak berhenti pada label picky eater atau alergi susu sapi, tetapi mempertimbangkan kemungkinan refluks, konstipasi, gangguan saluran napas, infeksi berulang, asma atau wheezing, serta penyebab lain sesuai temuan klinis.
ALERGI MAKANAN, GANGGUAN PENCERNAAN, SULIT MAKAN, DAN BERAT BADAN SULIT NAIK
Pada sebagian anak, alergi makanan dengan manifestasi gastrointestinal, termasuk alergi makanan non-IgE-mediated, dapat menimbulkan muntah, nyeri perut, diare atau konstipasi, kembung, dan rasa tidak nyaman setelah makan. Keluhan yang berulang dapat membuat anak memiliki pengalaman makan yang negatif sehingga muncul sulit makan, nafsu makan menurun, dan penolakan terhadap makanan. Bila berlangsung lama, asupan energi dan protein dapat tidak mencukupi sehingga terjadi growth faltering atau berat badan sulit naik. Namun, gejala tersebut tidak spesifik untuk alergi makanan sehingga perlu dibedakan dari konstipasi fungsional, refluks, infeksi, gangguan motilitas, intoleransi makanan, maupun penyebab medis lainnya.
Pada anak yang mengalami berat badan sulit naik disertai infeksi berulang, evaluasi harus lebih luas dan tidak langsung menyimpulkan bahwa semuanya disebabkan alergi makanan. Infeksi berulang dapat meningkatkan kebutuhan energi sekaligus menurunkan nafsu makan, sehingga memperburuk kondisi gizi dan menciptakan siklus infeksi → nafsu makan turun → asupan tidak adekuat → berat badan sulit naik → kerentanan terhadap penyakit. Karena itu, diperlukan evaluasi pertumbuhan, kecukupan asupan, fungsi pencernaan, pola dan keterampilan makan, kualitas tidur, serta kemungkinan gangguan imun atau penyakit kronis bila terdapat indikasi klinis. Jika alergi makanan dicurigai, diagnosis sebaiknya dikonfirmasi melalui evaluasi klinis yang tepat dan, bila sesuai, eliminasi terarah serta oral food challenge, sehingga anak tidak menjalani pembatasan makanan atau penggantian susu secara tidak perlu.
Diagnosis alergi susu sapi juga perlu ditinjau kembali secara kritis. Keluhan seperti sulit makan, berat badan sulit naik, muntah, konstipasi, atau diare memang dapat ditemukan pada alergi susu sapi, tetapi gejala tersebut tidak spesifik. Diagnosis alergi susu sapi non-IgE tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan gejala gastrointestinal atau berat badan rendah. ESPGHAN menyatakan bahwa pada dugaan alergi susu sapi non-IgE, eliminasi diagnostik biasanya dinilai dalam periode terbatas dan diagnosis perlu dikonfirmasi dengan food challenge; open oral food challenge dalam praktik klinis dapat digunakan untuk memastikan diagnosis dan menilai toleransi.
Karena itu, penggunaan formula elemental seperti Neocate tidak seharusnya otomatis menjadi keputusan jangka panjang hanya karena anak mengalami gangguan makan dan pertumbuhan. Formula amino-acid memang memiliki tempat pada kondisi tertentu, terutama alergi berat atau keadaan yang tidak merespons formula yang sesuai, tetapi pembatasan makanan harus mempunyai alasan klinis yang jelas. Diet eliminasi yang tidak diperlukan dapat mengurangi keragaman makanan, meningkatkan kecemasan keluarga, dan berpotensi memperburuk masalah makan. Prinsip pentingnya adalah jangan terburu-buru memvonis alergi susu sapi sebelum diagnosis benar-benar kuat. ESPGHAN juga menekankan pentingnya oral food challenge dalam konfirmasi diagnosis alergi susu sapi.
Dalam kasus ini, oral food challenge kemudian memberikan informasi klinis yang sangat penting. Setelah dilakukan tantangan makanan secara terencana dan susu sapi tetap dapat dikonsumsi, pada minggu berikutnya berat badan meningkat sekitar 200 gram per minggu, kesulitan makan membaik, konstipasi membaik, dan gangguan tidur juga mengalami perbaikan. Respons tersebut menunjukkan bahwa perbaikan kondisi anak tidak harus dicapai dengan menghilangkan susu sapi atau langsung menggunakan sonde. Namun, peningkatan berat badan setelah food challenge tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa anak sebelumnya tidak mempunyai alergi; interpretasinya harus dikaitkan dengan protokol challenge, hubungan waktu gejala, pemeriksaan klinis, dan pemantauan lanjutan.
Keputusan orang tua untuk mencari second opinion sebelum pemasangan sonde juga menjadi bagian penting dari perjalanan kasus. Sonde bukan tindakan yang salah pada anak dengan indikasi medis yang tepat, tetapi penggunaannya harus mempertimbangkan tingkat keparahan gangguan pertumbuhan, kecukupan asupan oral, kondisi medis, dan respons terhadap intervensi sebelumnya. NICE merekomendasikan enteral tube feeding pada faltering growth hanya ketika terdapat kekhawatiran serius terhadap pertambahan berat badan, evaluasi multidisiplin terhadap penyebab telah dilakukan, dan intervensi lain tidak memberikan perbaikan. Dalam kasus ini, karena kondisi klinis dan asupan membaik, kebutuhan sonde dapat dievaluasi kembali oleh tim yang merawat.
Perbaikan sekitar 200 gram per minggu pada fase awal merupakan respons yang menggembirakan, tetapi tidak boleh dijadikan target universal untuk semua anak. Yang lebih penting adalah melihat trajectory pertumbuhan secara serial, kecukupan asupan, panjang badan, perkembangan, dan kondisi klinis. Pemantauan berat badan harus dilakukan secara proporsional; NICE merekomendasikan pengukuran bulanan pada anak berusia lebih dari satu tahun ketika terdapat kekhawatiran pertumbuhan, dengan pemantauan panjang/tinggi badan secara berkala. Dengan demikian, keberhasilan terapi dinilai dari tren pertumbuhan dan perbaikan fungsi makan, bukan hanya perubahan berat badan dalam satu atau dua minggu.
Konsep constitutional growth juga layak dipertimbangkan sebagai diagnosis observasi, terutama bila terdapat pola tubuh kecil atau kurus dalam keluarga. Namun, constitutional growth tidak boleh digunakan sebagai penjelasan pertama sebelum masalah asupan, feeding difficulty, gangguan gastrointestinal, penyakit kronis, dan faktor lain dievaluasi. Riwayat orang tua yang dahulu kurus ketika kecil dapat menjadi petunjuk pola familial, tetapi bukan bukti bahwa berat badan rendah anak pasti bersifat konstitusional. Yang menentukan adalah pola pertumbuhan longitudinal: apakah anak tetap mengikuti lintasan pertumbuhannya, tumbuh linear dengan baik, berkembang sesuai usia, dan tidak menunjukkan tanda penyakit sistemik.
Riwayat TB juga harus ditempatkan secara proporsional. Faltering growth, demam, batuk, atau keluhan umum memang dapat ditemukan pada TB anak, sehingga TB harus dipertimbangkan bila terdapat faktor risiko dan gambaran klinis yang sesuai. CDC mencantumkan batuk, kelemahan atau penurunan aktivitas, penurunan berat badan/failure to thrive, demam, dan keringat malam sebagai gejala TB aktif pada anak. Namun, gejala-gejala tersebut tidak spesifik untuk TB. Dalam kasus ini, diagnosis TB tidak boleh dipertahankan hanya karena berat badan sulit naik; hasil evaluasi klinis dan pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter paru melalui second opinion harus menjadi bagian dari penilaian diagnostik.
Dari perspektif praktik Klinik Picky Eaters Jakarta, kasus ini menggambarkan bahwa picky eating, feeding difficulty, dan growth faltering harus dianalisis sebagai masalah multidimensional. Prioritas intervensi adalah memastikan kecukupan energi dan protein, memperbaiki konstipasi dan kenyamanan gastrointestinal, membangun pola makan yang teratur tanpa tekanan, mengoptimalkan kualitas tidur, mengevaluasi keluhan saluran napas, serta mengidentifikasi alergi makanan hanya bila terdapat dasar klinis yang kuat. NICE menganjurkan jadwal makan teratur, suasana makan yang positif, menghindari coercive feeding, serta optimalisasi kepadatan energi dan nutrisi sesuai kebutuhan anak.
Pada akhirnya, kasus ini menunjukkan pentingnya diagnosis berdasarkan bukti dan evaluasi respons secara serial, bukan berdasarkan satu gejala atau satu pemeriksaan. Anak mengalami growth faltering dengan dugaan utama berupa asupan tidak adekuat dan feeding difficulty yang diperberat gangguan gastrointestinal, sementara alergi makanan non-IgE merupakan diagnosis banding yang perlu dibuktikan, bukan langsung diasumsikan. Setelah intervensi dan oral food challenge, anak mengalami perbaikan berat badan, makan, konstipasi, dan tidur sehingga penggunaan sonde tidak dilanjutkan dan susu sapi UHT tetap dapat digunakan dalam pemantauan klinis. Diagnosis observasi saat ini meliputi growth faltering dengan feeding difficulty dan gangguan gastrointestinal, dengan constitutional growth sebagai kemungkinan pola pertumbuhan familial yang masih harus diamati. Pemantauan selanjutnya harus mencakup kurva pertumbuhan, panjang badan, asupan, perkembangan, pola BAB, tidur, serta munculnya kembali gejala setelah konsumsi makanan tertentu. Prinsip akhirnya adalah: jangan terlalu cepat memvonis alergi, jangan terlalu cepat memasang sonde, tetapi juga jangan meremehkan growth faltering—ikuti pertumbuhan anak, cari penyebabnya, dan buktikan diagnosis dengan evaluasi klinis yang tepat.
Daftar Pustaka
- Tomlin ML, Bendall C, Loke P, Bennett CJ. Prevalence of Feeding Difficulties in Children With Non-IgE Mediated Food Allergies: A Systematic Review. Clin Exp Allergy. 2026 Sep;56(9):1117-1124. doi: 10.1111/cea.70367. Epub 2026 Jun 25. PMID: 42348246; PMCID: PMC13532976.
- Chebar-Lozinsky A, De Koker C, Dziubak R, Rolnik DL, Godwin H, Dominguez-Ortega G, Skrapac AK, Gholmie Y, Reeve K, Shah N, Meyer R. Assessing Feeding Difficulties in Children Presenting with Non-IgE-Mediated Gastrointestinal Food Allergies-A Commonly Reported Problem. Nutrients. 2024 May 22;16(11):1563. doi: 10.3390/nu16111563. PMID: 38892497; PMCID: PMC11173616.
- Chehade M, Meyer R, Beauregard A. Feeding difficulties in children with non-IgE-mediated food allergic gastrointestinal disorders. Ann Allergy Asthma Immunol. 2019 Jun;122(6):603-609. doi: 10.1016/j.anai.2019.03.020. Epub 2019 Mar 26. PMID: 30922955; PMCID: PMC8237234.
- Aguilar D, Castano G. Constitutional Growth Delay. 2023 Jun 26. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2023 Jan–. PMID: 30969602.










Leave a Reply