ALERGI MAKANAN DAN GANGGUAN MAKAN PADA ANAK: HUBUNGAN PATOFISIOLOGIS, RESTRIKSI DIET, DAN PEDIATRIC FEEDING DISORDER
- Sandiaz Yudhasmara¹, Widodo Judarwanto², Audi Yudhasmara³
- ¹RSIA Bunda Jakarta, Jakarta, Indonesia
²Child Health, Rumah Sakit Bunda Jakarta, Jakarta, Indonesia
³Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Indonesia; Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia
ABSTRAK
- Alergi makanan pada anak tidak hanya menimbulkan manifestasi imunologis akut, tetapi juga dapat memengaruhi perilaku makan, keragaman diet, pertumbuhan, kualitas hidup, dan hubungan anak dengan makanan. Feeding difficulties semakin dikenal sebagai masalah klinis penting pada anak dengan alergi makanan, terutama pada penyakit gastrointestinal yang dimediasi imun. Laporan European Academy of Allergy and Clinical Immunology (EAACI) tahun 2024 menunjukkan bahwa prevalensi feeding difficulties yang dilaporkan pada anak dengan alergi makanan berkisar antara 13,6% hingga 40%, meskipun heterogenitas definisi dan instrumen penilaian membatasi perbandingan langsung antarpenelitian [1]. Systematic review Tomlin et al. yang diterbitkan pada Clinical & Experimental Allergy tahun 2026 secara khusus mengevaluasi feeding difficulties pada anak dengan non-IgE-mediated food allergy dan menunjukkan bahwa masalah makan terutama menonjol pada eosinophilic esophagitis (EoE), dengan keterbatasan bukti akibat heterogenitas definisi dan kurangnya alat skrining yang tervalidasi [2].
- Hubungan alergi makanan dan gangguan makan bersifat kompleks dan kemungkinan bidirectional. Inflamasi gastrointestinal, nyeri, muntah, konstipasi, disfagia, ketidaknyamanan setelah makan, serta pengalaman reaksi alergi dapat menyebabkan food refusal atau learned food aversion. Sebaliknya, eliminasi makanan yang luas, kecemasan keluarga terhadap alergi, dan berkurangnya kesempatan anak memperoleh pengalaman makan yang beragam dapat mempertahankan atau memperburuk feeding difficulties. Pediatric feeding disorder (PFD) memberikan kerangka konseptual yang lebih luas karena mencakup disfungsi medis, nutrisi, feeding skill, dan psikososial [3]. Pendekatan terhadap anak dengan alergi makanan dan gangguan makan karena itu perlu melampaui eliminasi alergen dan mencakup pemeliharaan kecukupan nutrisi, variasi diet, pertumbuhan, keterampilan makan, serta kualitas hidup.
- Kata kunci: food allergy, feeding difficulties, pediatric feeding disorder, non-IgE-mediated food allergy, eosinophilic esophagitis, food refusal, oral aversion, elimination diet.
PENDAHULUAN
- Alergi makanan pada masa kanak-kanak secara klasik dipahami sebagai penyakit imunologis yang menyebabkan manifestasi seperti urtikaria, muntah, mengi, anafilaksis, atau gejala gastrointestinal setelah konsumsi makanan tertentu. Namun, konsekuensi klinis alergi makanan tidak berhenti pada respons imun tersebut. Anak dapat mengalami perubahan pola makan, penghindaran makanan, penurunan variasi diet, waktu makan yang memanjang, food refusal, atau ketakutan terhadap makanan. Masalah ini dapat muncul akibat penyakit itu sendiri maupun sebagai konsekuensi pengalaman makan dan strategi pengelolaan penyakit [1,4].
- EAACI Task Force pada 2024 melakukan systematic review terhadap literatur mengenai feeding difficulties pada anak dengan alergi makanan. Dari penelitian yang memenuhi kriteria, prevalensi feeding difficulties yang dilaporkan berkisar 13,6% hingga 40%. Namun, terdapat 12 istilah berbeda untuk mendefinisikan feeding difficulties dan 11 alat diagnostik yang digunakan, sehingga heterogenitas metodologis menjadi keterbatasan utama dalam memperkirakan prevalensi yang sebenarnya [1].
- Bukti tersebut semakin berkembang. Tomlin et al. pada 2026 melakukan systematic review khusus pada anak dengan non-IgE-mediated food allergy. Review tersebut menemukan bahwa feeding difficulties merupakan masalah yang penting pada kelompok ini, dengan EoE menjadi fenotipe yang paling konsisten menunjukkan hubungan tersebut. Para penulis juga menekankan bahwa heterogenitas definisi dan kurangnya instrumen skrining yang tervalidasi masih menjadi hambatan penting dalam penelitian [2].
- Dengan demikian, pertanyaan klinis tidak lagi hanya “makanan apa yang menyebabkan alergi?”, tetapi juga “apa yang terjadi pada pola makan anak setelah makanan dianggap sebagai pencetus?”. Pertanyaan kedua penting karena diagnosis alergi yang tidak tepat dan eliminasi makanan yang tidak diperlukan dapat mempersempit diet dan berpotensi memperburuk hubungan anak dengan makanan [4].
DEFINISI FEEDING DIFFICULTIES DAN PEDIATRIC FEEDING DISORDER
- Feeding difficulties merupakan istilah payung yang mencakup berbagai masalah dalam proses makan, termasuk asupan yang tidak optimal, penolakan makanan, selektivitas makanan, makan sangat lambat, kesulitan menerima tekstur, gagging, atau pola makan yang tidak sesuai usia [1].
- Konsep Pediatric Feeding Disorder (PFD) memberikan kerangka yang lebih sistematis. Konsensus internasional mendefinisikan PFD sebagai gangguan asupan oral yang tidak sesuai usia dan berhubungan dengan disfungsi medis, nutrisi, feeding skill, dan/atau psikososial [3]. Definisi ini penting karena gangguan makan pada anak tidak dapat selalu dijelaskan sebagai masalah perilaku.
- Anak yang sesekali menolak sayuran tidak otomatis mengalami PFD. Sebaliknya, anak yang secara persisten hanya menerima sejumlah kecil makanan, mengalami kekurangan zat gizi, membutuhkan waktu makan yang sangat panjang, mengalami food fear, atau mempunyai gangguan keterampilan makan memerlukan evaluasi yang lebih komprehensif [3].
- Karena itu, istilah “susah makan” perlu diterjemahkan menjadi fenotipe klinis yang lebih spesifik.
MENGAPA ALERGI MAKANAN DAPAT MENYEBABKAN GANGGUAN MAKAN?
- Hubungan antara alergi makanan dan feeding difficulties kemungkinan bersifat multifaktorial. Salah satu mekanisme yang paling rasional adalah pengalaman gejala fisik yang berulang.
- Anak yang berulang kali mengalami muntah, nyeri abdomen, konstipasi, diare, refluks, distensi abdomen, atau nyeri saat menelan dapat membentuk asosiasi negatif antara makanan dan ketidaknyamanan. Anak kemudian dapat belajar bahwa makan berarti “sakit”. Penolakan makanan dalam situasi tersebut tidak selalu merupakan perilaku membangkang, tetapi dapat menjadi respons protektif yang dipelajari.
- Penelitian Chebar-Lozinsky et al. pada anak dengan non-IgE-mediated gastrointestinal food allergy menemukan feeding difficulties pada 53,5% dari 114 anak yang orang tuanya menyelesaikan penilaian. Masalah yang paling sering dilaporkan adalah penolakan makan secara teratur, waktu makan yang memanjang, dan gagging terhadap makanan bertekstur. Feeding difficulties juga berhubungan dengan frekuensi konstipasi dan muntah yang lebih tinggi [5].
- Temuan tersebut tidak membuktikan bahwa alergi merupakan satu-satunya penyebab feeding difficulties. Namun, penelitian tersebut mendukung hubungan klinis antara gejala gastrointestinal dan masalah makan pada kelompok anak dengan alergi gastrointestinal non-IgE-mediated [5].
NYERI, MUNTAH, DAN PENGALAMAN MAKAN YANG NEGATIF
- Makan merupakan pengalaman sensorik, motorik, biologis, dan psikososial. Anak belajar menghubungkan rasa lapar, makanan, rasa kenyang, tekstur, aroma, lingkungan makan, dan sensasi tubuh setelah makan.
- Ketika pengalaman makan berulang kali disertai nyeri atau muntah, proses pembelajaran tersebut dapat terganggu. Anak dapat mulai menolak makanan tertentu dan, pada sebagian anak, penolakan dapat meluas ke makanan dengan tekstur, aroma, atau karakteristik sensorik yang serupa.
- Pada kondisi tertentu, anak dapat menolak makanan bahkan sebelum makanan masuk ke mulut karena sudah mengantisipasi ketidaknyamanan.
- EAACI Task Force menyatakan bahwa feeding difficulties pada anak dengan alergi makanan dapat berhubungan dengan pengalaman negatif terhadap makanan, termasuk ketidaknyamanan dan reaksi alergi, yang kemudian dapat berkontribusi terhadap food aversion [1].
ALERGI NON-IgE-MEDIATED DAN GANGGUAN MAKAN
- Alergi makanan non-IgE-mediated memiliki karakteristik klinis yang berbeda dari alergi IgE-mediated. Gejala sering berkembang lebih lambat dan dapat didominasi manifestasi gastrointestinal.
- Food protein-induced allergic proctocolitis, food protein-induced enteropathy, food protein-induced enterocolitis syndrome (FPIES), serta EoE merupakan beberapa kondisi yang dapat menimbulkan gejala gastrointestinal terkait respons imun terhadap makanan, meskipun mekanisme imunologis masing-masing berbeda [2].
- Karena gejala dapat berlangsung lebih lama dan tidak selalu muncul segera setelah makan, hubungan antara makanan dan gejala dapat sulit dikenali. Anak dapat mengalami muntah, nyeri abdomen, konstipasi, disfagia, atau masalah makan selama periode yang panjang sebelum diagnosis ditegakkan.
- Perjalanan tersebut dapat memengaruhi pengalaman makan bahkan sebelum diagnosis alergi dibuat.
EOSINOPHILIC ESOPHAGITIS DAN FEEDING DIFFICULTIES
- EoE merupakan salah satu contoh paling jelas mengenai hubungan antara penyakit gastrointestinal imunologis dan gangguan makan.
- Pada anak usia lebih muda, EoE dapat muncul dengan feeding refusal, makan lambat, kesulitan menerima makanan padat atau bertekstur, gagging, muntah, dan gangguan pertumbuhan. Pada anak yang lebih besar, disfagia dan food impaction dapat menjadi manifestasi yang lebih menonjol.
- Systematic review EAACI tahun 2025 menganalisis 10 penelitian mengenai feeding difficulties pada anak dengan EoE. Prevalensi yang dilaporkan berkisar antara 13% hingga 75,3%. Review tersebut menemukan 18 istilah berbeda untuk menggambarkan feeding difficulties dan enam alat diagnostik yang digunakan, menunjukkan heterogenitas yang besar dalam definisi dan pengukuran [6].
- Angka 13% hingga 75,3% tidak boleh ditafsirkan sebagai prevalensi universal. Variasi yang sangat lebar tersebut justru menunjukkan bahwa definisi, usia, karakteristik populasi, dan instrumen penilaian dapat memengaruhi estimasi secara substansial [6].
RESTRIKSI DIET: KETIKA PENGOBATAN DAPAT MENJADI FAKTOR YANG MEMPERBURUK MASALAH MAKAN
- Eliminasi makanan merupakan komponen penting dalam pengelolaan beberapa penyakit alergi makanan. Namun, eliminasi yang terlalu luas atau berlangsung terlalu lama tanpa evaluasi dapat mempunyai konsekuensi nutrisi dan perilaku makan.
- Semakin banyak makanan yang dikeluarkan dari diet, semakin sedikit kesempatan anak memperoleh pengalaman terhadap rasa dan tekstur yang beragam. Pada masa perkembangan keterampilan makan, kondisi tersebut dapat menjadi faktor yang mempertahankan diet yang sangat terbatas [4].
- EAACI menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam pengelolaan diet alergi makanan. Diagnosis harus kuat sebelum dilakukan eliminasi dan anak perlu dievaluasi secara berkala untuk menentukan apakah suatu makanan dapat diperkenalkan kembali ketika toleransi telah berkembang [4].
- Dengan demikian, eliminasi bukanlah tujuan akhir. Tujuannya adalah menghindari makanan yang benar-benar berbahaya sambil mempertahankan diet yang seluas dan senutrisi mungkin.
DIAGNOSIS ALERGI YANG TIDAK TEPAT DAN RISIKO RESTRIKSI
- Masalah dapat menjadi lebih kompleks apabila diagnosis alergi makanan didasarkan terutama pada hasil pemeriksaan tanpa korelasi klinis.
- Skin prick test dan serum-specific IgE memberikan informasi mengenai sensitisasi IgE terhadap alergen tertentu, tetapi diagnosis alergi makanan memerlukan integrasi riwayat klinis dan bukti sensitisasi. EAACI menyatakan bahwa oral food challenge merupakan reference standard untuk diagnosis alergi makanan dan terutama dipertimbangkan pada kasus yang masih equivocal [7].
- Jika sensitisasi disalahartikan sebagai alergi klinis, anak dapat diberikan eliminasi makanan yang sebenarnya masih dapat ditoleransi. Pembatasan tersebut dapat mempersempit diet dan meningkatkan beban nutrisi serta psikososial [4,7].
- Karena itu, evaluasi alergi seharusnya tidak hanya menghasilkan daftar makanan yang harus dihindari, tetapi juga menentukan makanan mana yang aman untuk tetap dikonsumsi.
KECEMASAN ORANG TUA DAN LINGKUNGAN MAKAN
- Alergi makanan tidak hanya memengaruhi anak. Orang tua juga menghadapi kekhawatiran mengenai reaksi alergi, label makanan, kontaminasi silang, sekolah, restoran, dan keamanan makanan.
- Kewaspadaan tersebut penting, tetapi kecemasan yang sangat tinggi dapat membuat waktu makan menjadi penuh tekanan. Anak dapat menerima pesan bahwa makanan merupakan sesuatu yang berbahaya.
- Ketika anak menolak makanan, orang tua mungkin merespons dengan bujukan, tekanan, negosiasi, atau pemberian makanan alternatif secara berulang. Pada sebagian anak, pola interaksi tersebut dapat mempertahankan masalah makan.
- EAACI karena itu menempatkan aspek psikologis, sosial, nutrisi, dan kualitas hidup sebagai bagian penting dari pengelolaan alergi makanan, bukan sekadar aspek eliminasi alergen [4].
PFD BUKAN SEKADAR PICKY EATING
- Picky eating relatif sering ditemukan pada anak dan tidak selalu merupakan kondisi patologis.
- PFD mempunyai cakupan yang lebih luas. Berdasarkan konsensus, PFD mencakup gangguan asupan oral yang tidak sesuai usia dengan keterlibatan domain medis, nutrisi, feeding skill, dan/atau psikososial [3].
- Pada anak dengan alergi makanan, food refusal dapat terjadi karena nyeri gastrointestinal. Selective eating dapat dipengaruhi oleh eliminasi diet. Slow eating dapat berhubungan dengan EoE atau gangguan keterampilan makan. Food fear dapat berkembang setelah pengalaman muntah atau reaksi alergi.
- Dengan demikian, menyebut semua anak dengan alergi makanan yang sulit makan sebagai “picky eater” dapat menyebabkan kondisi medis atau PFD yang mendasari tidak dikenali.
TABEL. SPEKTRUM MASALAH MAKAN PADA ANAK DENGAN ALERGI MAKANAN
| Fenotipe | Gambaran klinis | Kemungkinan hubungan dengan alergi |
|---|---|---|
| Food refusal | Menolak sebagian atau banyak makanan | Dapat berkaitan dengan nyeri, muntah, atau pengalaman makan negatif [1,5] |
| Selective eating | Pilihan makanan sangat terbatas berdasarkan rasa, tekstur, warna, atau bentuk | Dapat diperberat oleh eliminasi diet [4] |
| Slow eating | Waktu makan sangat panjang | Dapat terlihat pada EoE atau gangguan feeding skill [6] |
| Gagging | Gag saat melihat atau mengonsumsi tekstur tertentu | Dilaporkan pada anak dengan non-IgE-mediated gastrointestinal food allergy [5] |
| Food fear/aversion | Takut atau menghindari makanan karena mengantisipasi gejala | Dapat berkembang setelah pengalaman nyeri, muntah, atau reaksi alergi [1] |
| PFD | Asupan oral tidak sesuai usia dengan gangguan medis, nutrisi, feeding skill, dan/atau psikososial | Merupakan kerangka klinis untuk masalah makan kompleks [3] |
| Gangguan nutrisi | Diet sangat terbatas, defisiensi zat gizi, atau pertumbuhan terganggu | Dapat berkaitan dengan penyakit maupun restriksi diet [3,4] |
ALERGI MAKANAN, GANGGUAN MAKAN, DAN PERTUMBUHAN
- Pertumbuhan merupakan indikator penting pada anak dengan alergi makanan dan feeding difficulties.
- Restriksi makanan dapat mengurangi asupan energi, protein, lemak, vitamin, mineral, atau zat gizi tertentu. Risiko meningkat ketika beberapa kelompok makanan dieliminasi sekaligus [4].
- Namun, gangguan pertumbuhan tidak selalu disebabkan oleh eliminasi. Penyakit gastrointestinal kronis dapat memengaruhi nafsu makan, asupan, absorpsi, dan kenyamanan saat makan.
- Karena itu, evaluasi pertumbuhan harus dilakukan secara longitudinal dengan memperhatikan berat badan, panjang atau tinggi badan, trajectory pertumbuhan, variasi makanan, serta gejala gastrointestinal.
HUBUNGAN BIDIRECTIONAL ANTARA ALERGI DAN GANGGUAN MAKAN
- Hubungan alergi makanan dan feeding difficulties tidak selalu bersifat satu arah.
- Alergi dapat menyebabkan gejala fisik dan restriksi makanan yang meningkatkan risiko feeding difficulties. Sebaliknya, feeding difficulties dapat menyebabkan diet semakin terbatas sehingga meningkatkan risiko kekurangan nutrisi dan membuat pengelolaan alergi menjadi lebih kompleks.
- Secara konseptual, hubungan tersebut dapat digambarkan sebagai:
- inflamasi/gejala → nyeri atau muntah → pengalaman makan negatif → food refusal → diet semakin sempit → risiko kekurangan nutrisi → kecemasan makan → feeding difficulty menetap.
- Tidak semua anak mengikuti jalur tersebut. Namun, model ini membantu menjelaskan mengapa sebagian anak tetap mengalami masalah makan walaupun penyakit alerginya telah mendapatkan terapi.
ALERGI MAKANAN DAN ARFID
- Pada sebagian anak, restriksi makan dapat berkembang menjadi pola yang lebih berat dan menyerupai avoidant/restrictive food intake disorder (ARFID).
- ARFID berbeda dari PFD, meskipun keduanya dapat mempunyai area klinis yang tumpang tindih. Pada ARFID, pembatasan atau penghindaran makanan dapat berkaitan dengan kurangnya minat terhadap makan, sensitivitas sensorik, atau kekhawatiran terhadap konsekuensi negatif makan.
- Literatur telah menggambarkan ARFID sebagai salah satu komplikasi yang dapat terjadi pada anak dengan alergi makanan, terutama setelah pengalaman reaksi alergi atau pembatasan makanan yang signifikan [8].
- Hal ini memperlihatkan pentingnya membedakan tiga kondisi yang sering tercampur: picky eating perkembangan, PFD, dan gangguan makan seperti ARFID. Ketiganya membutuhkan pendekatan yang berbeda.
PENDEKATAN DIAGNOSTIK
- Evaluasi anak dengan alergi makanan dan feeding difficulties sebaiknya dilakukan secara multidisiplin.
- Anamnesis perlu menggali makanan yang masih dapat diterima, makanan yang ditolak, tekstur yang sulit, durasi makan, frekuensi muntah atau nyeri, konstipasi, gagging, choking, disfagia, riwayat reaksi alergi, jumlah makanan yang dieliminasi, serta perubahan pola makan setelah eliminasi.
- Evaluasi medis perlu menentukan apakah penyakit dasarnya masih aktif. Pada anak dengan gejala gastrointestinal persisten, kondisi seperti EoE, FPIES, konstipasi, refluks, gangguan motilitas, atau penyakit gastrointestinal lainnya perlu dipertimbangkan sesuai konteks klinis.
- Evaluasi nutrisi menilai kecukupan energi dan zat gizi serta risiko defisiensi akibat diet eliminasi.
- Penilaian feeding skill dan aspek psikososial dapat melibatkan dokter anak, alergolog, gastroenterolog anak, dietisien, terapis feeding, speech-language pathologist, occupational therapist, psikolog, atau profesional lain sesuai kebutuhan.
- Pendekatan tersebut sesuai dengan konsep PFD yang menempatkan domain medis, nutrisi, feeding skill, dan psikososial sebagai bagian yang saling berkaitan [3].
PERAN ORAL FOOD CHALLENGE
- Oral food challenge mempunyai posisi penting ketika diagnosis alergi makanan masih belum pasti. Tujuannya adalah menentukan apakah konsumsi makanan tertentu benar-benar menghasilkan reaksi klinis.
- Pedoman EAACI mengenai diagnosis alergi makanan menyatakan bahwa oral food challenge merupakan reference standard dan dapat dilakukan pada kasus equivocal setelah mempertimbangkan risiko dan manfaat [7].
- Implikasinya terhadap feeding difficulties cukup besar. Jika seorang anak ternyata dapat mentoleransi makanan tertentu, pengenalan kembali makanan tersebut secara tepat dapat memperluas variasi diet dan mengurangi restriksi yang tidak diperlukan.
- Namun, oral food challenge bukan prosedur yang dilakukan secara bebas di rumah pada anak dengan risiko reaksi berat. Pelaksanaannya harus mengikuti indikasi dan protokol keselamatan yang sesuai [7].
PENATALAKSANAAN HARUS MELAMPAUI ELIMINASI MAKANAN
- Pada anak dengan alergi makanan dan feeding difficulties, tujuan terapi tidak hanya menghilangkan makanan pencetus.
- Tujuan klinis mencakup pengendalian penyakit dasar, kecukupan nutrisi, perluasan variasi makanan yang aman, perkembangan feeding skill, pengurangan food fear, pertumbuhan yang optimal, dan kualitas hidup [4].
- Diet eliminasi harus dilakukan secara terarah. Bila beberapa makanan harus dihindari, dietisien pediatrik dapat membantu memastikan penggantian makanan tetap memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi.
- Jika food refusal atau oral aversion menetap, intervensi feeding mungkin diperlukan. Pendekatan tersebut sebaiknya disesuaikan dengan penyebab dominan dan tidak hanya menggunakan strategi perilaku tanpa mengevaluasi kemungkinan penyakit aktif.
PENDEKATAN MULTIDISIPLIN
- Anak dengan alergi makanan dan gangguan makan berada pada pertemuan beberapa bidang klinis.
- Alergolog atau dokter anak berperan dalam diagnosis dan pengendalian alergi. Gastroenterolog anak diperlukan bila terdapat manifestasi gastrointestinal kronis atau kecurigaan EoE dan penyakit gastrointestinal imunologis lainnya. Dietisien membantu menjaga kecukupan nutrisi selama eliminasi. Terapis feeding membantu aspek keterampilan makan. Psikolog atau profesional kesehatan mental dapat berperan ketika terdapat kecemasan, food fear, atau masalah psikososial yang bermakna.
- Pendekatan multidisiplin sangat penting karena PFD sendiri merupakan kondisi multidomain [3], sedangkan pengelolaan diet alergi juga perlu mempertimbangkan aspek nutrisi, psikologis, sosial, dan kualitas hidup [4].
IMPLIKASI KLINIS
- Temuan penelitian terbaru membawa beberapa implikasi.
- Pertama, feeding difficulties perlu ditanyakan secara rutin pada anak dengan alergi makanan, terutama pada anak dengan non-IgE-mediated gastrointestinal food allergy, multiple food allergies, atau EoE [1,2,6].
- Kedua, feeding difficulty harus dibedakan dari picky eating biasa. Penolakan makanan persisten, diet yang sangat terbatas, waktu makan berkepanjangan, gagging, food fear, atau gangguan pertumbuhan memerlukan evaluasi lebih lanjut [3].
- Ketiga, eliminasi makanan harus mempunyai dasar klinis yang jelas. Semakin banyak makanan yang dieliminasi, semakin penting pemantauan nutrisi dan pertumbuhan [4].
- Keempat, perbaikan gejala alergi tidak selalu berarti feeding difficulty akan langsung menghilang. Anak dapat mempertahankan learned food aversion setelah pengalaman nyeri atau muntah sebelumnya [1,5].
- Kelima, diperlukan instrumen skrining yang lebih seragam. Dua systematic review EAACI menunjukkan heterogenitas istilah dan alat penilaian sebagai salah satu hambatan utama dalam penelitian feeding difficulties pada alergi makanan dan EoE [1,6].
KESIMPULAN
- Alergi makanan pada anak tidak hanya merupakan gangguan imunologis yang menghasilkan gejala setelah konsumsi makanan tertentu. Penyakit ini dapat memengaruhi hubungan anak dengan makanan melalui nyeri, muntah, gangguan gastrointestinal, disfagia, pengalaman reaksi alergi, eliminasi diet, dan kecemasan terhadap makanan [1,2,5].
- Bukti terbaru menunjukkan bahwa feeding difficulties merupakan masalah klinis yang relevan pada anak dengan alergi makanan, terutama pada non-IgE-mediated gastrointestinal food allergy dan EoE. Namun, prevalensi yang dilaporkan sangat bervariasi karena perbedaan definisi, populasi, dan instrumen penilaian [1,2,6].
- PFD memberikan kerangka yang lebih luas untuk memahami anak dengan gangguan asupan oral yang melibatkan domain medis, nutrisi, feeding skill, dan psikososial [3].
- Dalam praktik klinis, anak dengan alergi makanan yang mengalami food refusal, selektivitas berat, makan sangat lambat, gagging, food fear, diet yang semakin terbatas, atau gangguan pertumbuhan perlu dinilai secara menyeluruh.
- Pengendalian alergi tetap penting, tetapi tidak selalu cukup ketika gangguan makan telah berkembang. Pendekatan optimal adalah mempertahankan keseimbangan antara keamanan alergi, kecukupan nutrisi, variasi makanan, perkembangan feeding skill, pertumbuhan, dan kualitas hidup.
- Diagnosis alergi yang akurat, eliminasi makanan yang terarah, evaluasi nutrisi, oral food challenge bila diindikasikan, intervensi feeding, serta dukungan psikososial dapat menjadi bagian dari strategi multidisiplin untuk memutus hubungan timbal balik antara alergi makanan dan gangguan makan [4,7].
DAFTAR PUSTAKA
- 1. Hill SA, Nurmatov U, DunnGalvin A, Reese I, Vieira MC, Rommel N, et al. Feeding difficulties in children with food allergies: An EAACI Task Force Report. Pediatr Allergy Immunol. 2024;35(4):e14119. doi:10.1111/pai.14119. PMID: 38566436.
- 2. Tomlin ML, Bendall C, Loke P, Bennett CJ. Prevalence of Feeding Difficulties in Children With Non-IgE Mediated Food Allergies: A Systematic Review. Clin Exp Allergy. 2026;56(9):1117-1124. doi:10.1111/cea.70367. PMID: 42348246.
- 3. Goday PS, Huh SY, Silverman A, Lukens CT, Dodrill P, Cohen SS, et al. Pediatric Feeding Disorder: Consensus Definition and Conceptual Framework. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2019;68(1):124-129. doi:10.1097/MPG.0000000000002188. PMID: 30358739.
- 4. Skypala IJ, Reese I, Durban R, Hunter H, Podesta M, Chaddad MCC, et al. Food allergy-A holistic approach to dietary management. A joint EAACI Research & Outreach Committee and INDANA review. Pediatr Allergy Immunol. 2023;34(9):e14019. doi:10.1111/pai.14019. PMID: 37747742.
- 5. Chebar-Lozinsky A, De Koker C, Dziubak R, Rolnik DL, Godwin H, Dominguez-Ortega G, et al. Assessing Feeding Difficulties in Children Presenting with Non-IgE-Mediated Gastrointestinal Food Allergies-A Commonly Reported Problem. Nutrients. 2024;16(11):1563. doi:10.3390/nu16111563. PMID: 38892497.
- 6. Ruano-Zaragoza M, Hill SA, Nurmatov U, Reese I, Vieira MC, Dupont C, et al. Systematic review of feeding difficulties in children with eosinophilic esophagitis: An EAACI Task Force report. Pediatr Allergy Immunol. 2025;36(4):e70087. doi:10.1111/pai.70087. PMID: 40243038.
- 7. Santos AF, Riggioni C, Agache I, Akdis CA, Akdis M, Alvarez-Perea A, et al. EAACI guidelines on the diagnosis of IgE-mediated food allergy. Allergy. 2023;78(12):3057-3076. doi:10.1111/all.15902. PMID: 37815205.
- 8. Patrawala MM, Vickery BP, Proctor KB, Scahill L, Stubbs KH, Sharp WG. Avoidant-restrictive food intake disorder (ARFID): A treatable complication of food allergy. J Allergy Clin Immunol Pract. 2022;10(1):326-328.e2. doi:10.1016/j.jaip.2021.07.052. PMID: 34391962.
- 9. Meyer R, Vandenplas Y, Chebar Lozinsky A, Vieira MC, Berni Canani R, du Toit G, et al. Diagnosis and management of food allergy-induced constipation in young children-An EAACI position paper. Pediatr Allergy Immunol. 2024;35(6):e14163. doi:10.1111/pai.14163. PMID: 38825829.
- 10. EAACI guidelines on the management of IgE-mediated food allergy. Allergy. 2024/2025 guideline publication. PMID: 39473345.











Leave a Reply