KONSULTASI PICKY EATERS: BB Sulit Naik, Sering Pilek , Sembelit, Divonis TB ternyata Bukan
Pertanyaan:
Anak saya usia 4 tahun, sejak bayi berat badannya sangat sulit naik meskipun sudah berusaha makan lebih banyak. Ia juga mengalami sembelit sejak kecil, sering bersin, pilek berulang, tidur ngorok, kulit sangat kering, dan nafsu makannya kurang. Beberapa waktu lalu sempat didiagnosis tuberkulosis (TB) sehingga mendapat pengobatan, tetapi setelah diperiksa dokter spesialis paru dinyatakan bukan TB dan lebih mengarah ke alergi. Kemudian diperiksa dokter spesialis gastroenterologi dan didiagnosis GERD serta diberi obat, namun sampai sekarang nafsu makan tetap kurang dan berat badannya masih sulit bertambah. Apa yang sebenarnya mungkin menjadi penyebab kondisi anak saya, dan pemeriksaan atau penanganan apa yang sebaiknya dilakukan?
Jawaban:
Pada anak dengan keluhan berat badan sulit naik sejak bayi yang disertai sembelit kronis, gangguan makan, GERD, rinitis alergi (sering bersin dan pilek), tidur ngorok, serta kulit kering, dokter perlu melihat kondisi tersebut secara menyeluruh, bukan sebagai penyakit yang berdiri sendiri. Gejala-gejala tersebut dapat saling berhubungan dan memerlukan evaluasi komprehensif terhadap saluran cerna, sistem imun, saluran napas, serta status gizi. Bila pertumbuhan sudah lama terganggu, perlu dipastikan apakah terdapat gangguan penyerapan nutrisi, penyakit kronis, gangguan endokrin, maupun kondisi lain yang menyebabkan kebutuhan energi meningkat atau asupan makanan menjadi tidak optimal.
Keluhan sembelit kronis dan GERD yang muncul bersamaan dapat menyebabkan anak cepat kenyang, mudah mual, menolak makan, dan akhirnya berat badan sulit meningkat. Pada sebagian anak, peradangan saluran cerna yang berlangsung lama juga dapat mengganggu kenyamanan saat makan dan mengurangi asupan kalori. Oleh karena itu, pengobatan GERD saja belum tentu cukup apabila masih terdapat faktor lain yang belum teridentifikasi sehingga keluhan pencernaan terus berlanjut.
Adanya riwayat sering bersin, pilek berulang, tidur ngorok, dan kulit kering menunjukkan kemungkinan adanya penyakit alergi seperti rinitis alergi dan dermatitis atopik. Pada sebagian anak, alergi tidak hanya mengenai hidung atau kulit, tetapi juga dapat memengaruhi saluran cerna sehingga menimbulkan keluhan seperti refluks, muntah, nyeri perut, sembelit, atau sulit makan. Namun, hubungan tersebut tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan gejala atau hasil tes alergi saja. Diagnosis alergi makanan harus ditegakkan melalui evaluasi dokter yang berpengalaman, dan bila diperlukan dikonfirmasi dengan Oral Food Challenge (OFC) sebagai baku emas diagnosis, sehingga anak tidak menjalani pembatasan makanan yang tidak diperlukan.
Riwayat pernah didiagnosis TB tetapi kemudian dinyatakan bukan TB oleh dokter paru menunjukkan pentingnya evaluasi diagnosis secara menyeluruh pada anak dengan berat badan sulit naik. Tidak semua anak dengan pertumbuhan kurang disebabkan oleh tuberkulosis. Infeksi berulang, alergi, gangguan pencernaan, penyakit celiac, gangguan hormon, kelainan metabolik, maupun penyakit kronis lainnya dapat memberikan gambaran yang serupa. Karena itu, apabila berat badan tetap tidak membaik meskipun telah mendapat terapi, diagnosis perlu ditinjau kembali dan dicari penyebab yang mendasarinya.
Selain penyakit, dokter juga perlu mempertimbangkan kemungkinan Constitutional Growth Delay (CGD) atau constitutional growth, yaitu variasi pertumbuhan normal di mana anak tumbuh lebih lambat dibanding teman sebayanya tetapi tetap sehat. Anak dengan CGD umumnya memiliki riwayat keluarga dengan pertumbuhan atau pubertas yang terlambat, namun kurva pertumbuhan tetap mengikuti jalurnya sendiri secara konsisten. Yang perlu dipahami, CGD biasanya menyebabkan tinggi badan lebih lambat, tetapi tidak disertai gejala kronis seperti sembelit menetap, GERD, rinitis alergi, pilek berulang, kulit kering, atau gangguan makan yang berat. Oleh karena itu, pada anak dengan banyak keluhan seperti pada kasus ini, diagnosis CGD tidak boleh langsung diberikan sebelum penyebab medis lain yang dapat menghambat pertumbuhan telah dievaluasi dan disingkirkan.
Penanganan terbaik adalah mencari penyebab utama, bukan hanya mengobati gejala satu per satu. Dokter akan menilai kurva berat badan dan tinggi badan sejak lahir, kecepatan pertumbuhan (growth velocity), status gizi, pola makan, kualitas tidur, fungsi saluran cerna, riwayat alergi, serta melakukan pemeriksaan penunjang bila memang diperlukan. Bila ditemukan pembesaran adenoid atau gangguan tidur akibat sumbatan jalan napas, kondisi tersebut juga perlu ditangani karena dapat memengaruhi kualitas tidur, sekresi hormon pertumbuhan, nafsu makan, dan pertumbuhan anak. Pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter anak, dokter alergi-imunologi anak, gastroenterologi anak, endokrinologi anak, serta dokter THT bila diperlukan umumnya memberikan hasil yang lebih baik dibanding hanya berfokus pada pemberian vitamin, penambah nafsu makan, atau obat GERD. Yang tidak kalah penting, orang tua sebaiknya tidak melakukan eliminasi makanan hanya berdasarkan dugaan, pengalaman sehari-hari, atau hasil tes alergi semata. Pembatasan makanan yang tidak tepat justru dapat memperburuk kekurangan gizi dan menghambat pertumbuhan anak. Dengan diagnosis yang akurat dan terapi yang ditujukan pada penyebab dasarnya, banyak anak mengalami perbaikan nafsu makan, gangguan pencernaan berkurang, pertumbuhan membaik, dan kualitas hidup meningkat.










Leave a Reply