Pertanyaan
Dok, anak saya berusia 3 tahun dan mengalami kesulitan makan sejak usia 1 tahun. Ia hanya mau makan beberapa jenis makanan, sangat menolak makanan baru, dan sering menangis atau muntah saat dipaksa makan. Waktu makan bisa berlangsung lebih dari satu jam dan hampir setiap hari menjadi sumber stres bagi seluruh keluarga. Berat badannya sulit bertambah, dokter mengatakan pertumbuhannya mulai melambat, dan hasil pemeriksaan tidak menunjukkan adanya infeksi akut. Saya sering mendengar istilah picky eater dan Pediatric Feeding Disorder atau PFD. Bagaimana cara membedakan keduanya? Kapan anak yang sulit makan sudah dapat disebut mengalami Pediatric Feeding Disorder, apa penyebabnya, bagaimana diagnosis ditegakkan, dan apa penanganan yang paling tepat?
Jawaban
Pediatric Feeding Disorder (PFD) adalah gangguan makan pada anak yang ditandai oleh ketidakmampuan mengonsumsi makanan atau minuman sesuai usia sehingga mengganggu status gizi, pertumbuhan, kesehatan, kemampuan makan, atau fungsi psikososial anak dan keluarganya. Pada tahun 2019, para ahli dari berbagai organisasi internasional memperkenalkan definisi PFD untuk menggantikan istilah yang sebelumnya digunakan secara terpisah, sehingga pendekatan diagnosis dan terapi menjadi lebih komprehensif. Berbeda dengan picky eater yang umumnya merupakan variasi perkembangan normal, PFD merupakan suatu kondisi medis yang memerlukan evaluasi dan penanganan secara multidisiplin.
Menurut konsensus internasional, diagnosis PFD dipertimbangkan bila gangguan makan berlangsung sedikitnya dua minggu dan disertai gangguan pada satu atau lebih dari empat domain utama, yaitu domain medis, nutrisi, keterampilan makan, dan psikososial. Domain medis meliputi penyakit yang menyebabkan anak sulit makan, seperti refluks gastroesofageal, alergi makanan, penyakit saluran cerna, atau gangguan neurologis. Domain nutrisi ditandai oleh asupan yang tidak mencukupi, kekurangan zat gizi, atau gangguan pertumbuhan. Domain keterampilan makan mencakup kesulitan mengunyah, menelan, atau gangguan oral motor. Domain psikososial meliputi konflik saat makan, ketergantungan pada distraksi, atau gangguan interaksi antara anak dan pengasuh selama waktu makan.
PFD memiliki penyebab yang sangat beragam dan sering kali lebih dari satu faktor berperan secara bersamaan. Pada sebagian anak, penyebab utamanya adalah penyakit organik seperti alergi makanan, refluks gastroesofageal, esofagitis eosinofilik, konstipasi kronis, penyakit celiac, atau kelainan neurologis. Pada anak lain, gangguan sensorik terhadap tekstur, rasa, aroma, atau suhu makanan menjadi faktor dominan. Pengalaman makan yang menimbulkan rasa nyeri, tersedak, atau muntah juga dapat menyebabkan anak mengembangkan ketakutan terhadap makanan sehingga gangguan makan semakin berat.
PFD perlu dicurigai bila anak menunjukkan tanda bahaya seperti berat badan tidak bertambah selama dua sampai tiga bulan, penurunan kurva pertumbuhan, hanya mau mengonsumsi sedikit jenis makanan, membutuhkan waktu makan lebih dari 30 sampai 45 menit, sering muntah atau tersedak saat makan, mengalami kekurangan zat gizi, atau setiap waktu makan selalu disertai tangisan dan konflik. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa gangguan makan telah memengaruhi kesehatan anak dan tidak lagi dapat dianggap sebagai picky eater biasa.
Diagnosis PFD ditegakkan berdasarkan anamnesis yang lengkap, pemeriksaan fisik, evaluasi kurva pertumbuhan, serta penilaian terhadap keempat domain PFD. Dokter akan menanyakan pola makan, jumlah makanan yang dikonsumsi, lama waktu makan, konsumsi susu, riwayat alergi, gangguan saluran cerna, perkembangan anak, serta dampak gangguan makan terhadap kehidupan keluarga. Pemeriksaan laboratorium dan penunjang dilakukan sesuai indikasi klinis untuk mencari penyakit yang mendasari, bukan sebagai pemeriksaan rutin pada semua anak.
Penanganan PFD harus disesuaikan dengan penyebab yang mendasari. Bila ditemukan penyakit seperti alergi makanan, refluks, konstipasi, atau gangguan penyerapan nutrisi, penyakit tersebut harus diobati terlebih dahulu. Pada saat yang sama dilakukan terapi nutrisi untuk memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi, serta terapi makan untuk meningkatkan kemampuan makan dan memperluas variasi makanan yang dapat diterima anak. Pendekatan ini sering melibatkan dokter spesialis anak, ahli gizi, psikolog, terapis okupasi, dan terapis wicara sesuai kebutuhan masing-masing anak.
Orang tua memiliki peran penting dalam keberhasilan terapi. Jadwal makan yang teratur, penerapan responsive feeding, pengenalan makanan baru secara bertahap, serta suasana makan yang tenang merupakan bagian penting dari penanganan. Orang tua dianjurkan menghindari pemaksaan makan, ancaman, hukuman, atau penggunaan gawai sebagai alat agar anak mau makan karena strategi tersebut dapat memperkuat perilaku penolakan makan. Keberhasilan terapi biasanya memerlukan waktu, konsistensi, dan kerja sama antara keluarga serta tim kesehatan.
Kesimpulannya, tidak semua anak yang sulit makan mengalami Pediatric Feeding Disorder. Namun, apabila kesulitan makan telah menyebabkan gangguan pertumbuhan, kekurangan gizi, gangguan kemampuan makan, atau dampak psikososial pada anak dan keluarga, maka PFD harus dipertimbangkan. Diagnosis yang ditegakkan secara dini memungkinkan penanganan yang lebih tepat sehingga status gizi, pertumbuhan, perkembangan, dan kualitas hidup anak dapat kembali optimal.
Bila disusun menjadi seri artikel, topik berikutnya yang paling sesuai adalah “Dok, Anak Sulit Makan, Apakah Perlu Diperiksa Alergi Makanan?” karena alergi makanan merupakan salah satu penyebab medis yang paling sering dievaluasi pada anak dengan Pediatric Feeding Disorder.













Leave a Reply