Klinik Picky Eaters

KLINIK KESULITAN MAKAN & GANGGUAN BERAT BADAN

Faltering Weight pada Anak: Tinjauan Ilmiah Berdasarkan Clinical Practice Guideline American Academy of Pediatrics 2026

Faltering Weight pada Anak: Tinjauan Ilmiah Berdasarkan Clinical Practice Guideline American Academy of Pediatrics 2026

Abstrak

Gangguan pertumbuhan berat badan pada anak merupakan salah satu alasan tersering kunjungan ke dokter anak dan sering menimbulkan variasi dalam diagnosis maupun penatalaksanaan. Selama beberapa dekade istilah failure to thrive (FTT) digunakan secara luas, tetapi definisi yang beragam menyebabkan perbedaan interpretasi klinis, pemeriksaan yang berlebihan, serta variasi terapi. Pada tahun 2026, American Academy of Pediatrics (AAP) bersama North American Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition (NASPGHAN) menerbitkan Clinical Practice Guideline terbaru yang mengganti istilah failure to thrive menjadi faltering weight. Pedoman ini juga memperkenalkan kriteria diagnosis berbasis z score, menggantikan penggunaan persentil yang selama ini dipakai. Diagnosis ditegakkan apabila ditemukan salah satu dari tiga kondisi, yaitu berat badan menurut panjang badan atau indeks massa tubuh menurut usia kurang dari minus 1,65 z score, kecepatan kenaikan berat badan pada anak usia kurang dari dua tahun kurang dari minus 2 z score, atau terjadi penurunan berat badan, berat badan menurut panjang badan, maupun indeks massa tubuh sebesar satu z score atau lebih. Pedoman ini menekankan bahwa pemeriksaan laboratorium maupun pencitraan tidak dilakukan secara rutin, tetapi hanya bila terdapat indikasi klinis tertentu. Tata laksana utama meliputi peningkatan asupan energi, suplementasi nutrisi oral bila diperlukan, serta terapi Pediatric Feeding Disorder pada anak dengan gangguan makan yang telah terdokumentasi. Pendekatan berbasis bukti ini diharapkan meningkatkan akurasi diagnosis, mengurangi pemeriksaan yang tidak diperlukan, serta memperbaiki luaran pertumbuhan anak.

Kata kunci: faltering weight, failure to thrive, pertumbuhan anak, Pediatric Feeding Disorder, AAP, NASPGHAN.

Pendahuluan

Gangguan kenaikan berat badan merupakan masalah kesehatan anak yang sering dijumpai di pelayanan primer maupun rumah sakit. Diperkirakan sekitar lima hingga sepuluh persen anak yang berobat ke pelayanan kesehatan primer mengalami gangguan pertumbuhan berat badan, sedangkan pada pelayanan rujukan prevalensinya mencapai tiga hingga lima persen. Kondisi ini berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan perkembangan otak, keterlambatan perkembangan motorik, gangguan kognitif, penurunan fungsi imun, serta meningkatnya angka morbiditas apabila tidak ditangani secara tepat.

Selama bertahun-tahun istilah failure to thrive digunakan untuk menggambarkan anak dengan berat badan yang tidak sesuai harapan. Namun istilah tersebut tidak pernah memiliki definisi universal. Berbagai organisasi menggunakan batas persentil yang berbeda sehingga menghasilkan variasi diagnosis yang cukup besar. Selain itu, istilah failure to thrive sering dianggap memberikan stigma negatif kepada orang tua karena seolah menunjukkan kegagalan dalam mengasuh anak.

Untuk mengatasi berbagai keterbatasan tersebut, American Academy of Pediatrics bersama NASPGHAN menerbitkan Clinical Practice Guideline tahun 2026 yang mengganti istilah failure to thrive menjadi faltering weight. Perubahan ini mengikuti pendekatan National Institute for Health and Care Excellence (NICE) Inggris yang telah lebih dahulu menggunakan istilah tersebut. Selain perubahan terminologi, pedoman baru ini juga memperkenalkan definisi yang lebih objektif menggunakan z score, memberikan rekomendasi diagnosis berbasis bukti, serta menyusun algoritma evaluasi dan tata laksana yang lebih rasional.

Mengapa Istilah Failure to Thrive Diganti?

Istilah failure to thrive dinilai kurang tepat karena hanya bersifat deskriptif dan tidak menjelaskan penyebab utama gangguan pertumbuhan. Selain itu, istilah tersebut memiliki konotasi negatif bagi keluarga. Istilah faltering weight dipilih karena lebih menggambarkan kondisi klinis berupa perlambatan atau penyimpangan pertumbuhan berat badan tanpa memberikan label penyebab tertentu. Pendekatan ini juga lebih sesuai dengan konsep bahwa gangguan pertumbuhan merupakan kondisi multifaktorial yang dapat dipengaruhi oleh faktor nutrisi, penyakit organik, gangguan makan, faktor perkembangan, maupun faktor sosial.

Selama bertahun-tahun istilah failure to thrive (FTT) digunakan untuk menggambarkan anak yang mengalami gangguan pertumbuhan berat badan. Namun, istilah ini dinilai memiliki beberapa kelemahan. FTT hanya merupakan istilah deskriptif yang menunjukkan adanya gangguan pertumbuhan tanpa menjelaskan penyebab yang mendasarinya. Selain itu, tidak pernah ada definisi yang benar-benar seragam sehingga berbagai penelitian dan pedoman menggunakan kriteria yang berbeda, seperti berat badan di bawah persentil tertentu, penurunan beberapa garis persentil, atau kecepatan pertumbuhan yang melambat. Perbedaan tersebut menyebabkan variasi dalam penegakan diagnosis, menyulitkan perbandingan hasil penelitian, dan meningkatkan risiko overdiagnosis maupun underdiagnosis. Dari sisi psikososial, istilah “failure” juga sering dianggap memberi kesan bahwa orang tua telah gagal merawat anaknya, sehingga dapat menimbulkan rasa bersalah, kecemasan, dan stigma yang tidak diperlukan.

Dalam Clinical Practice Guideline American Academy of Pediatrics (AAP) dan North American Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition (NASPGHAN) tahun 2026, istilah FTT resmi diganti menjadi faltering weight. Istilah baru ini dipilih karena lebih netral, lebih akurat secara klinis, dan menggambarkan adanya perlambatan atau penyimpangan pertumbuhan berat badan tanpa mengasumsikan penyebab tertentu. Perubahan ini juga sejalan dengan konsep bahwa gangguan pertumbuhan merupakan kondisi multifaktorial yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi, seperti asupan nutrisi yang tidak adekuat, penyakit organik, gangguan penyerapan, peningkatan kebutuhan metabolik, Pediatric Feeding Disorder, gangguan perkembangan, maupun faktor lingkungan dan sosial. Dengan menggunakan istilah faltering weight, perhatian klinisi diarahkan pada identifikasi penyebab yang mendasari melalui evaluasi yang sistematis, sehingga penatalaksanaan dapat lebih tepat sasaran dan berbasis bukti.

Definisi Faltering Weight Menurut AAP 2026

AAP menetapkan diagnosis faltering weight apabila ditemukan salah satu dari tiga kriteria berikut.

  1. Berat badan menurut panjang badan atau BMI menurut usia kurang dari minus 1,65 z score, setara dengan persentil kelima.
  2. Pada anak berusia kurang dari dua tahun, kecepatan kenaikan berat badan kurang dari minus 2 z score menurut usia.
  3. Terjadi penurunan berat badan, weight for length, atau BMI sebesar satu z score atau lebih dibandingkan kurva pertumbuhan sebelumnya.

Penggunaan z score memberikan keuntungan karena mampu menggambarkan perubahan pertumbuhan secara lebih akurat dibandingkan hanya menggunakan persentil.

Perubahan dari Persentil ke Z Score

Pedoman sebelumnya banyak menggunakan batas persentil, misalnya berat badan di bawah persentil kelima atau penurunan dua garis persentil.

AAP 2026 mengganti pendekatan tersebut dengan z score karena memiliki beberapa keuntungan.

  • • Lebih sensitif mendeteksi perubahan pertumbuhan.
  • • Dapat dibandingkan pada seluruh kelompok usia.
  • • Memiliki validitas statistik yang lebih baik.
  • • Lebih mudah diintegrasikan ke dalam rekam medis elektronik.

Pendekatan Diagnosis

Pedoman terbaru menekankan bahwa sebagian besar diagnosis dapat ditegakkan melalui evaluasi klinis yang komprehensif.

Evaluasi meliputi:

  • • Riwayat pertumbuhan.
  • • Riwayat kehamilan dan persalinan.
  • • Riwayat nutrisi.
  • • Riwayat menyusu.
  • • Riwayat makan.
  • • Riwayat penyakit kronis.
  • • Riwayat keluarga.
  • • Faktor psikososial.
  • • Pemeriksaan perkembangan.
  • • Pemeriksaan oral motor.
  • • Pemeriksaan fisik lengkap.

Pendekatan ini menjadi dasar sebelum mempertimbangkan pemeriksaan penunjang.

Pemeriksaan Laboratorium Tidak Dilakukan Secara Rutin

Salah satu perubahan paling penting pada pedoman AAP 2026 adalah rekomendasi kuat untuk tidak melakukan pemeriksaan laboratorium secara rutin pada seluruh anak dengan faltering weight.

Pemeriksaan hanya dianjurkan bila terdapat:

  • • malnutrisi berat,
  • • penurunan berat badan menetap,
  • • riwayat keluarga tertentu,
  • • tanda penyakit organik,
  • • gejala spesifik yang mengarah pada diagnosis tertentu.

Pendekatan ini bertujuan mengurangi pemeriksaan yang tidak memberikan manfaat klinis, menurunkan biaya pelayanan kesehatan, serta menghindari prosedur yang tidak diperlukan.

Peran Endoskopi

Pedoman AAP juga memberikan rekomendasi tegas mengenai penggunaan endoskopi.

Endoskopi tidak direkomendasikan sebagai pemeriksaan awal.

Endoskopi baru dipertimbangkan apabila:

  • • faltering weight menetap,
  • • terdapat kecurigaan penyakit saluran cerna,
  • • diagnosis tidak dapat ditegakkan tanpa biopsi.

Dengan demikian sebagian besar anak tidak memerlukan pemeriksaan invasif.

Tata Laksana Faltering Weight

1. Meningkatkan Asupan Energi

AAP memberikan rekomendasi kuat untuk meningkatkan asupan energi sebagai terapi utama.

Strategi meliputi:

  • • meningkatkan kepadatan kalori makanan,
  • • memperbaiki pola makan,
  • • memperbaiki jadwal makan,
  • • mengurangi distraksi saat makan,
  • • edukasi keluarga.

2. Suplementasi Nutrisi Oral

Pada anak yang belum mampu memenuhi kebutuhan energi melalui makanan biasa, dapat diberikan oral nutritional supplementation atau formula tinggi kalori sesuai indikasi.

Namun penggunaannya harus mempertimbangkan:

  • • biaya,
  • • akses,
  • • kemungkinan anak menjadi terlalu bergantung pada susu,
  • • risiko berkurangnya konsumsi makanan padat.

3. Terapi Pediatric Feeding Disorder

Bila terdapat gangguan makan yang telah terdokumentasi, AAP menyarankan terapi Pediatric Feeding Disorder oleh tim multidisiplin.

Tim dapat terdiri atas:

  • • dokter anak,
  • • ahli gizi,
  • • terapis okupasi,
  • • terapis wicara,
  • • psikolog,
  • • feeding therapist.

Pendekatan ini terbukti membantu memperbaiki perilaku makan dan meningkatkan asupan nutrisi.

Faktor Sosial Bukan Kriteria Diagnosis

AAP memberikan rekomendasi penting bahwa status sosial ekonomi tidak boleh digunakan sebagai dasar menegakkan diagnosis faltering weight.

Sebaliknya, dokter tetap harus melakukan skrining terhadap:

  • • ketahanan pangan,
  • • kemiskinan,
  • • akses pelayanan kesehatan,
  • • dukungan keluarga,
  • • program bantuan nutrisi.

Faktor-faktor tersebut lebih berperan dalam menentukan keberhasilan terapi daripada menentukan diagnosis.

Pengukuran Antropometri yang Akurat

  • Pedoman juga menekankan pentingnya teknik pengukuran yang benar.
  • Anak usia kurang dari dua tahun diukur menggunakan infantometer.
  • Anak usia dua tahun atau lebih menggunakan stadiometer.
  • Berat badan diukur dengan timbangan digital.
  • Kesalahan pengukuran dapat menyebabkan salah diagnosis sehingga kualitas antropometri menjadi bagian penting dalam evaluasi.

Implikasi Praktis bagi Dokter Anak

Pedoman AAP 2026 membawa beberapa perubahan penting dalam praktik sehari-hari.

  • • Menggunakan istilah faltering weight menggantikan failure to thrive.
  • • Menggunakan z score sebagai dasar diagnosis.
  • • Tidak melakukan pemeriksaan laboratorium secara rutin.
  • • Tidak melakukan endoskopi sebagai pemeriksaan awal.
  • • Fokus pada evaluasi klinis menyeluruh.
  • • Memberikan intervensi nutrisi lebih awal.
  • • Mengenali Pediatric Feeding Disorder sebagai penyebab penting.
  • • Menggunakan pendekatan multidisiplin.

Kesimpulan

Clinical Practice Guideline AAP 2026 memberikan perubahan mendasar dalam diagnosis dan tata laksana gangguan kenaikan berat badan pada anak. Pergantian istilah menjadi faltering weight menghilangkan stigma yang selama ini melekat pada failure to thrive sekaligus menghadirkan definisi yang lebih objektif menggunakan z score. Pedoman ini menekankan bahwa anamnesis, pemeriksaan fisik, evaluasi pertumbuhan, dan penilaian kemampuan makan merupakan dasar utama diagnosis. Pemeriksaan laboratorium, pencitraan, maupun endoskopi tidak dilakukan secara rutin, tetapi hanya berdasarkan indikasi klinis yang jelas. Penatalaksanaan berfokus pada optimalisasi asupan energi, penggunaan suplementasi nutrisi secara selektif, serta terapi Pediatric Feeding Disorder bila terdapat gangguan makan. Pendekatan berbasis bukti ini diharapkan meningkatkan akurasi diagnosis, mengurangi pemeriksaan yang tidak diperlukan, serta memperbaiki kualitas pertumbuhan dan perkembangan anak.

Daftar Pustaka

  1. Kersten HB, Goday PS, Abdelhadi R, et al. Clinical Practice Guideline for Diagnosis and Management of Faltering Weight. Pediatrics. 2026;157(4):e2025075764. doi:10.1542/peds.2025-075764.
  2. American Academy of Pediatrics, North American Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition. Clinical Practice Guideline for Diagnosis and Management of Faltering Weight. Pediatrics. 2026;157(4).
  3. National Institute for Health and Care Excellence. Faltering Growth: Recognition and Management of Faltering Growth in Children. NICE Guideline NG75. London: NICE; 2017.
  4. World Health Organization. WHO Child Growth Standards: Length, Height, Weight, Weight-for-Length, Weight-for-Height and Body Mass Index-for-Age. Geneva: WHO; 2006.
  5. Centers for Disease Control and Prevention. National Health and Nutrition Examination Survey Anthropometry Procedures Manual. Atlanta: CDC.

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *