Perbedaan Stunting, Constitutional Growth Delay, dan Familial Short Stature pada Anak: Tinjauan Berdasarkan WHO dan American Academy of Pediatrics 2026
Sandiaz Yudhasmara, Widodo Judarwanto
Abstrak
Anak dengan tinggi badan pendek merupakan salah satu alasan tersering untuk berkonsultasi ke dokter anak dan dokter endokrin anak. Namun, tidak semua anak pendek mengalami stunting. Stunting, Constitutional Growth Delay (CGD), dan Familial Short Stature (FSS) merupakan tiga kondisi yang sama-sama ditandai oleh tinggi badan di bawah rata-rata, tetapi memiliki etiologi, patofisiologi, perjalanan penyakit, prognosis, dan tata laksana yang berbeda. World Health Organization (WHO) mendefinisikan stunting berdasarkan tinggi badan menurut umur (Height-for-Age Z-score, HAZ) kurang dari −2 standar deviasi sebagai indikator gangguan pertumbuhan linear kronis pada populasi. Sebaliknya, American Academy of Pediatrics (AAP) tahun 2026 menekankan bahwa evaluasi anak pendek harus mencari penyebab yang mendasari dan membedakan antara variasi pertumbuhan normal, gangguan endokrin, penyakit kronis, kelainan genetik, dan stunting akibat malnutrisi. Artikel ini membahas perbedaan ketiga kondisi tersebut berdasarkan bukti ilmiah terkini.
Kata kunci: stunting, constitutional growth delay, familial short stature, short stature, growth disorders.
Short stature atau perawakan pendek merupakan kondisi ketika tinggi badan anak berada di bawah persentil ke-3 atau kurang dari −2 standar deviasi dibandingkan anak dengan umur dan jenis kelamin yang sama. Perawakan pendek bukan merupakan diagnosis, melainkan tanda klinis yang memiliki berbagai penyebab. Sebagian besar anak pendek merupakan variasi normal pertumbuhan, sedangkan sebagian lainnya disebabkan oleh penyakit kronis, gangguan hormonal, kelainan genetik, atau malnutrisi kronis.
Dalam praktik sehari-hari, stunting sering disamakan dengan semua anak pendek. Anggapan ini kurang tepat karena stunting merupakan salah satu penyebab perawakan pendek, bukan sinonim dari perawakan pendek itu sendiri. Anak dengan Constitutional Growth Delay maupun Familial Short Stature dapat memiliki tinggi badan di bawah −2 SD, tetapi tidak mengalami malnutrisi maupun gangguan pertumbuhan patologis.
WHO menggunakan stunting sebagai indikator kesehatan masyarakat untuk menggambarkan gangguan pertumbuhan linear akibat malnutrisi kronis, infeksi berulang, dan faktor lingkungan. Sebaliknya, AAP 2026 menekankan pendekatan diagnostik individual dengan mengevaluasi pola pertumbuhan, kecepatan pertumbuhan, usia tulang, tinggi badan orang tua, status pubertas, serta kemungkinan penyakit yang mendasari.
Definisi Menurut WHO dan AAP 2026
- WHO mendefinisikan stunting sebagai tinggi badan menurut umur (Height-for-Age Z-score, HAZ) kurang dari −2 SD berdasarkan WHO Child Growth Standards. Definisi ini digunakan untuk mengidentifikasi gangguan pertumbuhan linear kronis pada tingkat populasi dan mencerminkan paparan malnutrisi, infeksi berulang, inflamasi, serta faktor lingkungan sejak masa prenatal hingga awal kehidupan. WHO tidak menggunakan istilah Constitutional Growth Delay maupun Familial Short Stature sebagai kategori status gizi karena keduanya merupakan variasi pertumbuhan normal dalam bidang endokrinologi anak.
- AAP 2026 mendefinisikan short stature sebagai tinggi badan kurang dari −2 SD atau di bawah persentil ke-3 untuk umur dan jenis kelamin. Setelah short stature teridentifikasi, evaluasi dilakukan untuk menentukan apakah penyebabnya merupakan variasi normal pertumbuhan, seperti Constitutional Growth Delay dan Familial Short Stature, atau merupakan kondisi patologis seperti stunting, defisiensi hormon pertumbuhan, hipotiroidisme, penyakit kronis, atau kelainan genetik.
- Constitutional Growth Delay (CGD) merupakan variasi normal pertumbuhan yang ditandai oleh perlambatan pertumbuhan pada masa kanak-kanak, usia tulang yang terlambat, pubertas yang terlambat, tetapi kecepatan pertumbuhan tetap normal dan tinggi badan dewasa umumnya sesuai potensi genetik. Kondisi ini sering memiliki riwayat keluarga dengan pubertas terlambat.
- Familial Short Stature (FSS) adalah variasi normal pertumbuhan yang terjadi pada anak dengan orang tua bertubuh pendek. Anak memiliki kecepatan pertumbuhan normal, usia tulang sesuai umur kronologis, pubertas normal, dan tinggi badan akhir sesuai target genetik keluarga.
Perbedaan Patofisiologi
- Stunting merupakan gangguan pertumbuhan linear kronis akibat interaksi kompleks antara malnutrisi, infeksi berulang, inflamasi kronis, disfungsi enterik lingkungan, disbiosis mikrobiota usus, serta gangguan pada sumbu Growth Hormone–Insulin-like Growth Factor-1 (GH–IGF-1). Hambatan pertumbuhan terutama terjadi pada lempeng epifisis tulang panjang sehingga tinggi badan tidak mencapai potensi genetik. Selain memengaruhi tinggi badan, stunting juga berhubungan dengan gangguan perkembangan otak, fungsi imun, metabolisme, dan peningkatan risiko penyakit tidak menular pada usia dewasa.
- Pada Constitutional Growth Delay, mekanisme utama adalah keterlambatan maturasi biologis. Aktivasi sumbu hipotalamus-hipofisis-gonad terjadi lebih lambat dibandingkan anak seusianya sehingga usia tulang dan pubertas juga terlambat. Meskipun demikian, fungsi hormon pertumbuhan umumnya normal, kecepatan pertumbuhan tetap sesuai, dan anak mengalami percepatan pertumbuhan pada masa pubertas sehingga mencapai tinggi badan dewasa yang mendekati target genetik.
- Pada Familial Short Stature tidak ditemukan gangguan hormonal maupun gangguan nutrisi. Tinggi badan yang pendek terutama ditentukan oleh faktor genetik poligenik yang diwariskan dari orang tua. Usia tulang sesuai dengan umur kronologis, kecepatan pertumbuhan normal, dan pubertas berlangsung sesuai usia. Anak tetap sehat dan tidak mengalami gangguan perkembangan organ maupun metabolisme.
Tabel 1. Perbedaan Stunting, Constitutional Growth Delay, dan Familial Short Stature
| Aspek | Stunting | Constitutional Growth Delay | Familial Short Stature |
|---|---|---|---|
| Penyebab utama | Malnutrisi kronis, infeksi, faktor lingkungan | Keterlambatan maturasi biologis | Faktor genetik |
| Status penyakit | Patologis | Variasi normal | Variasi normal |
| Tinggi badan | < −2 SD | Pendek | Pendek |
| Kecepatan pertumbuhan | Menurun | Normal | Normal |
| Usia tulang | Dapat terlambat | Terlambat | Normal |
| Pubertas | Dapat normal atau terlambat | Terlambat | Normal |
| Tinggi badan orang tua | Dapat normal | Biasanya normal | Pendek |
| Tinggi dewasa | Dapat tetap pendek | Sesuai target genetik | Sesuai target genetik |
| Gangguan nutrisi | Sering ada | Tidak | Tidak |
| Gangguan perkembangan | Dapat terjadi | Tidak | Tidak |
Diagnosis Banding
Evaluasi anak pendek harus dilakukan secara sistematis melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, kurva pertumbuhan, kecepatan pertumbuhan, target tinggi badan berdasarkan orang tua, usia tulang, dan pemeriksaan laboratorium bila diperlukan.
Tabel 2. Pemeriksaan Pembeda
| Pemeriksaan | Stunting | CGD | FSS |
|---|---|---|---|
| Kurva pertumbuhan | Menurun | Normal | Normal |
| Growth velocity | Menurun | Normal | Normal |
| Bone age | Normal atau sedikit terlambat | Jelas terlambat | Normal |
| Mid-parental height | Tidak selalu rendah | Normal | Rendah |
| Status gizi | Dapat terganggu | Normal | Normal |
| Penyakit kronis | Dapat ada | Tidak | Tidak |
| Pubertas | Dapat normal | Terlambat | Normal |
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium dilakukan bila dicurigai penyebab patologis.
- Darah lengkap.
- Ferritin.
- CRP atau LED.
- TSH dan Free T4.
- IGF-1 dan IGFBP-3 bila dicurigai defisiensi hormon pertumbuhan.
- Antibodi penyakit celiac.
- Fungsi hati dan ginjal.
- Analisis kromosom pada anak perempuan bila dicurigai sindrom Turner.
- Foto usia tulang tangan kiri.
Penatalaksanaan
- Stunting ditangani dengan memperbaiki status gizi, mengobati infeksi, meningkatkan sanitasi, memberikan stimulasi perkembangan, serta mengatasi penyakit penyerta. Terapi hormon pertumbuhan tidak direkomendasikan untuk stunting akibat malnutrisi apabila tidak terdapat defisiensi hormon pertumbuhan.
- Constitutional Growth Delay umumnya hanya memerlukan observasi, pemantauan pertumbuhan, dan edukasi keluarga. Pada kasus tertentu dengan dampak psikososial berat, terapi hormon seks dosis rendah dapat dipertimbangkan oleh dokter endokrin anak.
- Familial Short Stature tidak memerlukan terapi khusus karena merupakan variasi normal pertumbuhan. Edukasi dan pemantauan berkala biasanya sudah memadai. Terapi hormon pertumbuhan hanya diberikan pada indikasi yang telah disetujui dan bukan semata-mata karena tinggi badan pendek.
Kesimpulan
Stunting, Constitutional Growth Delay, dan Familial Short Stature sama-sama dapat menyebabkan anak bertubuh pendek, tetapi merupakan kondisi yang sangat berbeda. Stunting adalah gangguan pertumbuhan linear kronis akibat malnutrisi, infeksi, dan faktor lingkungan. Constitutional Growth Delay merupakan keterlambatan maturasi biologis dengan prognosis tinggi badan dewasa yang baik, sedangkan Familial Short Stature adalah variasi normal yang ditentukan oleh faktor genetik. WHO menggunakan stunting sebagai indikator kesehatan masyarakat, sedangkan AAP 2026 menekankan evaluasi komprehensif untuk membedakan variasi normal pertumbuhan dari penyakit yang memerlukan terapi.
Daftar Pustaka
- World Health Organization. WHO Child Growth Standards. Geneva: WHO; 2006. https://www.who.int/tools/child-growth-standards
- Kersten HB, Lee TM, Leu MG, et al. Clinical Practice Guideline for Diagnosis and Management of Faltering Weight. Pediatrics. 2026;157(4):e2025075764.
- Cohen P, Rogol AD, Deal CL, et al. Consensus Statement on the Diagnosis and Treatment of Children with Idiopathic Short Stature. Growth Hormone Research Society. J Clin Endocrinol Metab. 2008;93(11):4210-4217.
- Grimberg A, DiVall SA, Polychronakos C, et al. Guidelines for Growth Hormone and Insulin-Like Growth Factor-I Treatment in Children and Adolescents. Horm Res Paediatr. 2016;86:361-397.









Leave a Reply