Tanya Jawab Stunting
Pertanyaan
Dokter, anak saya usia 3 tahun. Berat badannya sulit naik sejak usia 1 tahun dan tinggi badannya terlihat lebih pendek dibandingkan teman seusianya. Anak saya juga susah makan, hanya mau beberapa jenis makanan, sering batuk pilek berulang, kadang mengalami konstipasi, tidurnya kurang nyenyak, dan tampak kurang aktif dibandingkan anak lain. Apakah anak saya mengalami stunting atau masih termasuk normal? Pemeriksaan apa saja yang perlu dilakukan dan apakah kondisi ini masih dapat diperbaiki?
Jawaban, dr Widiodo Judarwanto, pediatrician
Stunting tidak dapat ditentukan hanya dengan melihat tinggi badan anak atau membandingkannya dengan teman sebaya. Menurut rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), stunting adalah gangguan pertumbuhan kronis yang ditetapkan apabila panjang atau tinggi badan menurut umur berada di bawah minus dua standar deviasi pada kurva pertumbuhan WHO. Oleh karena itu, langkah pertama adalah mengukur tinggi badan, berat badan, dan menghitung usia anak secara tepat, kemudian memplot hasilnya pada kurva pertumbuhan WHO. Anak yang tampak lebih pendek belum tentu mengalami stunting, sedangkan anak yang terlihat normal dapat mengalami gangguan pertumbuhan apabila pengukuran menunjukkan tinggi badan berada di bawah batas tersebut.
Keluhan berat badan yang sulit naik, nafsu makan rendah, hanya mau beberapa jenis makanan, batuk pilek berulang, konstipasi, dan tidur yang kurang nyenyak memang sering ditemukan pada anak dengan stunting. Namun, keluhan tersebut bukan penyebab langsung stunting, melainkan dapat menjadi petunjuk adanya masalah kesehatan yang mendasari. Banyak anak dengan gangguan pertumbuhan ternyata mengalami asupan nutrisi yang tidak mencukupi, feeding difficulties, Pediatric Feeding Disorder, alergi makanan, gastroesophageal reflux disease (GERD), konstipasi kronis, anemia defisiensi besi, penyakit celiac, gangguan hormon, atau infeksi berulang yang menyebabkan kebutuhan energi meningkat dan pertumbuhan terhambat.
Riwayat pertumbuhan sejak lahir sangat penting untuk dievaluasi. Dokter akan menilai berat badan lahir, panjang badan lahir, riwayat prematuritas, pola kenaikan berat badan setiap bulan, pertumbuhan tinggi badan, pola makan sejak bayi, riwayat ASI dan makanan pendamping ASI, frekuensi sakit, riwayat alergi, perkembangan motorik, serta riwayat penyakit dalam keluarga. Dari informasi tersebut dapat diketahui apakah gangguan pertumbuhan sudah berlangsung lama atau baru terjadi dalam beberapa bulan terakhir, sehingga penyebabnya dapat ditelusuri dengan lebih tepat.
Pemeriksaan fisik juga memegang peranan penting. Selain mengukur berat badan dan tinggi badan, dokter akan menghitung indeks massa tubuh menurut usia, menilai status gizi, mengukur lingkar kepala bila diperlukan, mencari tanda kekurangan zat besi atau vitamin, memeriksa rongga mulut, pembesaran amandel, pembesaran kelenjar getah bening, kelainan jantung atau paru, pembesaran hati dan limpa, serta menilai perkembangan neurologis. Pemeriksaan pertumbuhan menggunakan kurva WHO jauh lebih akurat dibandingkan hanya melihat penampilan fisik anak.
Apabila dari hasil wawancara dan pemeriksaan terdapat kecurigaan terhadap penyakit tertentu, dokter dapat menyarankan pemeriksaan penunjang sesuai indikasi. Pemeriksaan tersebut dapat berupa darah lengkap untuk menilai anemia, pemeriksaan status besi dan vitamin D, pemeriksaan fungsi tiroid bila dicurigai gangguan hormon, pemeriksaan alergi atau oral food challenge bila terdapat dugaan alergi makanan, pemeriksaan penyakit celiac, pemeriksaan feses bila dicurigai gangguan penyerapan, hingga pemeriksaan endoskopi atau evaluasi hormon pertumbuhan pada kasus tertentu. Tidak semua anak memerlukan seluruh pemeriksaan tersebut karena jenis pemeriksaan disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Kabar baiknya, sebagian besar penyebab gangguan pertumbuhan pada anak usia 3 tahun masih dapat diperbaiki apabila ditemukan sejak dini. Penanganan tidak hanya berfokus pada pemberian susu atau vitamin, tetapi juga mengatasi penyebab utama, memperbaiki pola makan, memenuhi kebutuhan energi dan protein, mengoreksi kekurangan mikronutrien, mengobati penyakit yang mendasari, meningkatkan kualitas tidur, memberikan stimulasi perkembangan, serta memantau pertumbuhan secara berkala. Pada sebagian anak, setelah penyebab gangguan makan atau penyakit medis berhasil diatasi, nafsu makan membaik, berat badan meningkat, dan kecepatan pertumbuhan tinggi badan dapat kembali mendekati normal.
Karena itu, jawaban atas pertanyaan apakah anak berusia 3 tahun tersebut mengalami stunting atau masih normal tidak dapat diberikan hanya berdasarkan keluhan. Diagnosis harus ditegakkan melalui pengukuran tinggi badan menurut umur menggunakan standar WHO dan evaluasi medis yang menyeluruh. Apabila anak memang mengalami stunting, penyebabnya perlu dicari secara sistematis agar terapi yang diberikan tepat sasaran. Semakin cepat penyebab gangguan pertumbuhan dikenali dan ditangani, semakin besar peluang anak untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.












Leave a Reply