Anak Pernah Didiagnosis Tuberkulosis, tetapi Ternyata Bukan. Hasil Tes IgE Negatif, Apakah Alergi Makanan Masih Mungkin?
Pertanyaan
“Dok, anak saya sekarang berusia 7 tahun. Sejak usia balita ia sering batuk berkepanjangan, pilek hampir setiap bulan, dan beberapa kali mengalami bronkopneumonia sehingga harus dirawat di rumah sakit. Karena berat badannya sulit naik, dokter pernah mencurigai tuberkulosis dan anak sempat menjalani pengobatan, tetapi setelah dievaluasi ternyata bukan TB. Sampai sekarang anak masih sering sembelit, nafsu makannya kurang, dan berat badannya tetap sulit bertambah. Beberapa waktu lalu kami melakukan pemeriksaan panel IgE alergi makanan dan hasilnya semua negatif. Namun saya memperhatikan setiap kali anak makan udang, beberapa jam kemudian kulitnya terasa gatal, mengeluh nyeri perut, dan sembelitnya justru semakin berat. Saya menjadi bingung. Kalau hasil tes IgE negatif, apakah berarti anak saya pasti tidak mengalami alergi makanan? Mengapa keluhan tetap muncul setiap kali makan udang?”
Jawaban, dr Widodo Judarwanto, pediatrician
Belum tentu. Hasil pemeriksaan IgE spesifik atau panel IgE yang negatif tidak otomatis menyingkirkan kemungkinan alergi makanan. Pemeriksaan ini hanya dapat mendeteksi reaksi alergi yang diperantarai oleh antibodi IgE. Pada sebagian anak, terutama yang mengalami alergi makanan non-IgE atau alergi campuran IgE dan non-IgE, hasil pemeriksaan dapat tetap normal meskipun makanan tertentu memang memicu gejala. Kondisi ini dikenal sebagai hasil negatif palsu atau false negative. Karena itu, dokter tidak pernah menggunakan hasil laboratorium saja untuk memastikan ada atau tidaknya alergi makanan.
Pada kasus anak Anda, riwayat keluhan justru menjadi informasi yang sangat penting. Anak memang memiliki riwayat infeksi saluran napas berulang, pernah diduga menderita tuberkulosis karena berat badan sulit naik, serta mengalami sembelit dan gangguan makan. Namun yang lebih bermakna adalah adanya pola yang berulang, yaitu setiap kali mengonsumsi udang anak mengalami gatal pada kulit, nyeri perut, kemudian sembelit memburuk. Pola hubungan yang konsisten antara makanan tertentu dan timbulnya gejala sering kali lebih bernilai daripada hasil pemeriksaan laboratorium.
Keluhan seperti batuk berulang, berat badan sulit naik, sembelit, atau nyeri perut tidak selalu disebabkan oleh alergi makanan. Dokter juga harus mempertimbangkan kemungkinan lain seperti asma yang belum terkontrol, refluks gastroesofageal, konstipasi fungsional, gangguan makan, penyakit saluran cerna, gangguan penyerapan zat gizi, atau infeksi kronis. Oleh karena itu, evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh agar tidak terjadi salah diagnosis, baik menganggap semua keluhan sebagai alergi maupun mengabaikan kemungkinan alergi hanya karena hasil IgE negatif.
World Allergy Organization (WAO) menegaskan bahwa Skin Prick Test dan serum specific IgE merupakan pemeriksaan penunjang, bukan pemeriksaan yang dapat berdiri sendiri untuk menegakkan atau menyingkirkan diagnosis alergi makanan. Pemeriksaan tersebut sebaiknya dilakukan hanya bila terdapat dugaan klinis terhadap makanan tertentu. Hasil negatif tidak dapat menyingkirkan alergi non-IgE, sedangkan hasil positif juga belum tentu berarti seseorang benar-benar alergi karena hanya menunjukkan sensitisasi.
Rekomendasi serupa disampaikan oleh American Academy of Allergy, Asthma & Immunology (AAAAI), European Academy of Allergy and Clinical Immunology (EAACI), Australasian Society of Clinical Immunology and Allergy (ASCIA), serta Canadian Society of Allergy and Clinical Immunology (CSACI). Semua organisasi tersebut tidak menganjurkan penggunaan panel IgE terhadap banyak makanan sebagai pemeriksaan skrining. Pemeriksaan harus dipilih berdasarkan riwayat klinis yang mengarah pada makanan tertentu. Pendekatan ini mengurangi risiko salah diagnosis, overdiagnosis, maupun pembatasan makanan yang tidak diperlukan.
Bila dokter masih mencurigai alergi terhadap udang meskipun hasil IgE negatif, biasanya akan dilakukan evaluasi yang lebih rinci, termasuk pencatatan hubungan antara makanan dan gejala, pemeriksaan fisik, penilaian pertumbuhan, serta diet eliminasi yang terarah hanya terhadap udang. Bila selama eliminasi keluhan menghilang kemudian muncul kembali setelah udang dikonsumsi, dugaan alergi menjadi semakin kuat. Namun, perbaikan setelah eliminasi saja belum cukup untuk memastikan diagnosis karena gejala dapat membaik akibat faktor lain.
Apabila kondisi anak memungkinkan dan tidak ada riwayat reaksi alergi berat, dokter dapat mempertimbangkan Oral Food Challenge (OFC), yaitu pemberian kembali makanan yang dicurigai secara bertahap di bawah pengawasan tenaga medis. Hingga saat ini, OFC merupakan baku emas untuk memastikan apakah suatu makanan benar-benar menyebabkan alergi. Pendekatan berbasis bukti ini membantu memastikan diagnosis secara akurat, menghindari pantangan makanan yang tidak perlu, dan memastikan anak tetap memperoleh asupan gizi yang optimal.
Tabel 1. Mengapa Hasil IgE Bisa Negatif Padahal Alergi Makanan Masih Mungkin?
| Penyebab | Penjelasan |
|---|---|
| Alergi non-IgE | Reaksi alergi tidak dimediasi oleh IgE sehingga hasil pemeriksaan dapat tetap normal. |
| Alergi campuran IgE dan non-IgE | Sebagian mekanisme alergi tidak terdeteksi oleh pemeriksaan IgE. |
| Makanan penyebab tidak sesuai | Makanan yang menyebabkan gejala tidak termasuk dalam panel yang diperiksa atau komponen alergen yang relevan tidak diuji. |
| Sensitivitas pemeriksaan terbatas | Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang memiliki sensitivitas 100 persen. |
| Waktu pemeriksaan | Kadar IgE spesifik dapat berubah sesuai perjalanan penyakit. |
| Penyakit lain | Gejala dapat disebabkan oleh refluks, konstipasi, infeksi, atau gangguan saluran cerna lain yang perlu dievaluasi. |
Tabel 2. Peran Pemeriksaan dalam Diagnosis Alergi Makanan
| Pemeriksaan | Apa yang Dinilai | Dapat Memastikan Diagnosis? |
|---|---|---|
| Riwayat klinis | Hubungan makanan dengan munculnya gejala | Ya, merupakan dasar utama |
| Pemeriksaan fisik | Manifestasi alergi dan kemungkinan penyakit lain | Mendukung diagnosis |
| Skin Prick Test | Sensitisasi yang diperantarai IgE | Tidak bila digunakan sendiri |
| IgE spesifik | Antibodi IgE terhadap makanan tertentu | Tidak bila digunakan sendiri |
| Panel IgE makanan | Sensitisasi terhadap banyak makanan | Tidak dianjurkan sebagai skrining |
| Diet eliminasi terarah | Perubahan gejala setelah makanan dihentikan | Membantu evaluasi |
| Oral Food Challenge | Reaksi setelah makanan diberikan kembali di bawah pengawasan medis | Ya, merupakan baku emas diagnosis |
Tabel 3. Rekomendasi Organisasi Internasional Mengenai Pemeriksaan IgE
| Organisasi | Rekomendasi |
|---|---|
| WAO | Skin Prick Test dan serum specific IgE hanya digunakan untuk mendukung dugaan klinis, bukan sebagai pemeriksaan tunggal untuk diagnosis. |
| AAAAI | Tidak merekomendasikan panel IgE terhadap banyak makanan sebagai pemeriksaan skrining karena meningkatkan risiko overdiagnosis dan pembatasan makanan yang tidak perlu. |
| EAACI | Pemeriksaan IgE spesifik dilakukan hanya bila terdapat riwayat klinis yang sesuai. OFC tetap merupakan baku emas diagnosis. |
| ASCIA | Hasil IgE harus selalu diinterpretasikan bersama gejala klinis dan tidak digunakan sebagai skrining terhadap banyak makanan. |
| CSACI | Menentang penggunaan panel pemeriksaan makanan tanpa indikasi klinis karena berpotensi menyebabkan salah diagnosis, pembatasan makanan, dan dampak gizi. |
Referensi
- Ansotegui IJ, Melioli G, Canonica GW, et al. IgE allergy diagnostics and other relevant tests in allergy: A World Allergy Organization position paper. World Allergy Organ J. 2020;13(2):100080. doi:10.1016/j.waojou.2019.100080.
- Parrish CP. A review of food allergy panels and their consequences. Ann Allergy Asthma Immunol. 2023;131(4):421-426. doi:10.1016/j.anai.2023.04.011.
- Al Ghamdi A, Abrams EM, Carr S, et al. Canadian Society of Allergy and Clinical Immunology position statement: panel testing for food allergies. Allergy Asthma Clin Immunol. 2024;20:61. doi:10.1186/s13223-024-00937-0.
- Muraro A, Werfel T, Hoffmann-Sommergruber K, et al. EAACI Food Allergy and Anaphylaxis Guidelines: Diagnosis and Management of Food Allergy. Allergy. 2014;69(8):1008-1025. doi:10.1111/all.12429.
- Australasian Society of Clinical Immunology and Allergy. Skin Prick Testing for the Diagnosis of Allergic Disease. ASCIA Position Paper.









Leave a Reply