Haruskah Ibu Menyusui Menghindari Semua Makanan Jika Bayinya Diduga Alergi?
Pertanyaan
“Dok, bayi saya sekarang berusia 11 bulan dan masih menyusu ASI. Sejak beberapa bulan terakhir kulitnya sering muncul ruam, kadang sembelit, sering gumoh, dan makannya mulai pilih-pilih sehingga berat badannya sulit naik. Tetangga dan keluarga menyarankan saya berhenti makan telur, susu, ikan, ayam, kacang, bahkan semua makanan yang katanya bisa menyebabkan alergi. Saya jadi bingung karena makanan saya semakin terbatas. Benarkah kalau bayi diduga alergi, ibu menyusui harus menghindari semua makanan?”
Jawaban, dr Widodo Judarwanto, pediatrican
Tidak. Ibu menyusui tidak perlu langsung menghindari semua jenis makanan hanya karena bayi diduga mengalami alergi. Sampai saat ini, tidak ada bukti ilmiah yang mendukung diet yang sangat ketat tanpa alasan yang jelas. Justru, pola makan yang terlalu banyak pantangan dapat membuat ibu kekurangan energi, protein, kalsium, zat besi, vitamin, dan zat gizi penting lainnya yang dibutuhkan selama menyusui.
Bila dokter mencurigai alergi makanan pada bayi, pendekatannya bukan dengan melarang semua makanan sekaligus. Dokter akan menilai riwayat gejala bayi secara lengkap, kapan keluhan muncul, hubungan dengan makanan tertentu, bagaimana pertumbuhan bayi, serta apakah ada gejala lain yang mendukung diagnosis alergi. Dari informasi tersebut, dokter akan menentukan apakah memang ada makanan tertentu yang layak dicurigai sebagai penyebab.
Jika memang diperlukan, diet eliminasi dilakukan secara terarah. Artinya, hanya makanan yang paling dicurigai yang dihentikan untuk sementara waktu, biasanya selama beberapa minggu, sambil memantau apakah gejala bayi membaik. Selama masa tersebut, ibu tetap dianjurkan mengonsumsi makanan lain yang bergizi agar kebutuhan nutrisi selama menyusui tetap terpenuhi.
Perlu diingat bahwa ruam kulit, gumoh, sembelit, susah makan, atau berat badan yang sulit naik tidak selalu disebabkan oleh alergi makanan. Keluhan tersebut juga dapat disebabkan oleh refluks, infeksi, gangguan saluran cerna, konstipasi fungsional, gangguan makan, atau penyebab lainnya. Karena itu, tidak tepat bila setiap bayi dengan gejala tersebut langsung dianggap alergi, lalu ibunya diminta menjalani pantangan makanan yang sangat ketat.
Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah overdiagnosis alergi makanan. Ada ibu yang akhirnya hanya makan nasi dan beberapa jenis lauk karena takut semua makanan akan memperburuk kondisi bayinya. Padahal, pembatasan makanan tanpa dasar yang kuat dapat menurunkan kualitas gizi ibu, memengaruhi kesehatan ibu, bahkan menimbulkan kecemasan yang tidak perlu. Pada beberapa kasus, bayi juga dapat berisiko mengalami kekurangan zat gizi bila pola makan ibu menjadi sangat terbatas.
Bila gejala bayi membaik setelah diet eliminasi, hal itu belum otomatis membuktikan bahwa penyebabnya adalah alergi terhadap makanan yang dihindari ibu. Perbaikan bisa saja terjadi karena perjalanan alami penyakit atau faktor lain. Oleh karena itu, bila kondisi bayi memungkinkan dan memang diindikasikan, diagnosis perlu dipastikan dengan Oral Food Challenge. Pemeriksaan ini merupakan baku emas untuk memastikan apakah suatu makanan benar-benar menyebabkan alergi sehingga tidak terjadi pantangan makanan yang tidak diperlukan.
Jadi, ibu menyusui tidak perlu panik dan langsung menghindari semua makanan ketika bayi diduga mengalami alergi. Yang paling penting adalah mencari penyebab keluhan secara tepat, melakukan diet eliminasi hanya bila memang ada indikasi, serta memastikan diagnosis dengan pendekatan yang benar. Dengan cara ini, kesehatan ibu tetap terjaga, kebutuhan gizi bayi tetap terpenuhi, dan pengobatan yang diberikan menjadi lebih tepat sasaran.








Leave a Reply