Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID)
Tinjauan Ilmiah Mengenai Definisi, Epidemiologi, Diagnosis, Komplikasi, dan Penatalaksanaan Berbasis Bukti
Widodo Judarwanto, Sandiaz Yudhasmara
Abstrak
Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID) merupakan gangguan makan yang ditandai oleh pembatasan jumlah atau jenis makanan sehingga kebutuhan energi dan zat gizi tidak terpenuhi, tanpa disertai gangguan citra tubuh atau keinginan untuk menurunkan berat badan. ARFID pertama kali dimasukkan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Fifth Edition (DSM-5) pada tahun 2013 dan dipertahankan dalam DSM-5-TR tahun 2022. Gangguan ini dapat menyebabkan malnutrisi, faltering weight, defisiensi mikronutrien, ketergantungan pada suplemen nutrisi, serta gangguan fungsi psikososial. Penelitian menunjukkan bahwa ARFID memiliki prevalensi sekitar 0,5 hingga 5% pada populasi umum, sedangkan pada populasi klinik gangguan makan prevalensinya mencapai 5 hingga 23%. Diagnosis ditegakkan berdasarkan kriteria DSM-5-TR melalui evaluasi medis, nutrisi, perkembangan, dan psikologis untuk menyingkirkan penyebab organik lainnya. Penatalaksanaan memerlukan pendekatan multidisiplin yang mencakup rehabilitasi nutrisi, terapi perilaku, Cognitive Behavioral Therapy for ARFID (CBT-AR), terapi keluarga, serta tata laksana penyakit penyerta. Diagnosis dan intervensi dini terbukti memperbaiki status gizi, memperluas variasi makanan, dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Kata kunci: ARFID, feeding disorder, selective eating, picky eater, eating disorder, pediatric feeding disorder.
Pendahuluan
Gangguan makan pada anak tidak selalu disebabkan oleh penyakit organik maupun gangguan perilaku sederhana. Sebagian anak mengalami pembatasan makan yang menetap sehingga hanya mampu mengonsumsi sedikit jenis makanan atau menolak makan karena rasa takut terhadap konsekuensi tertentu, seperti tersedak atau muntah. Kondisi tersebut dikenal sebagai Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID), yaitu gangguan makan yang dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan, defisiensi nutrisi, dan gangguan fungsi psikososial.
ARFID berbeda dengan anoreksia nervosa maupun bulimia nervosa karena tidak didasari oleh ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh atau keinginan untuk menjadi kurus. Anak dengan ARFID menghindari makanan karena sensitivitas sensorik, kurangnya minat terhadap makan, atau ketakutan terhadap pengalaman makan yang tidak menyenangkan. Dalam satu dekade terakhir, jumlah penelitian mengenai ARFID meningkat pesat sehingga gangguan ini semakin dikenali sebagai salah satu penyebab penting malnutrisi dan gangguan tumbuh kembang pada anak.
Definisi
Menurut DSM-5-TR, ARFID adalah gangguan makan yang ditandai oleh pembatasan asupan makanan sehingga kebutuhan energi atau zat gizi tidak terpenuhi dan menyebabkan satu atau lebih kondisi berikut.
- Penurunan berat badan atau faltering weight.
- Defisiensi nutrisi yang bermakna.
- Ketergantungan pada nutrisi enteral atau suplemen oral.
- Gangguan fungsi psikososial yang nyata.
Diagnosis hanya dapat ditegakkan apabila pembatasan makan tersebut tidak disebabkan oleh keterbatasan akses makanan, praktik budaya, penyakit medis yang sepenuhnya menjelaskan gejala, maupun gangguan citra tubuh seperti anoreksia nervosa.
Epidemiologi
- ARFID ditemukan pada semua kelompok usia, tetapi paling sering didiagnosis pada anak dan remaja.
- Berbagai penelitian menunjukkan bahwa prevalensi ARFID pada populasi umum berkisar antara 0,5 hingga 5%, bergantung pada metode diagnosis dan karakteristik populasi yang diteliti. Meta-analisis terbaru melaporkan prevalensi gabungan sekitar 4,5% pada studi dengan kualitas metodologi tinggi. Pada klinik gangguan makan anak dan remaja, ARFID ditemukan pada sekitar 5 hingga 23% pasien yang menjalani evaluasi.
- Prevalensi ARFID jauh lebih tinggi pada anak dengan gangguan perkembangan, terutama autism spectrum disorder (ASD), attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD), gangguan kecemasan, prematuritas, serta penyakit kronis yang memengaruhi proses makan.
Tabel 1. Epidemiologi ARFID
| Populasi | Prevalensi |
|---|---|
| Populasi umum | 0,5 hingga 5% |
| Meta-analisis studi berkualitas tinggi | ±4,5% |
| Klinik gangguan makan | 5 hingga 23% |
| Autism spectrum disorder | Lebih tinggi dibanding populasi umum |
Etiologi dan Faktor Risiko
Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID) merupakan gangguan makan dengan etiologi multifaktorial yang melibatkan interaksi kompleks antara faktor biologis, perkembangan, sensorik, psikologis, perilaku, serta lingkungan. Tidak terdapat satu penyebab tunggal yang dapat menjelaskan seluruh kasus ARFID karena setiap anak dapat memiliki mekanisme dominan yang berbeda. Faktor sensorik berperan penting terutama pada anak yang memiliki sensitivitas berlebihan terhadap karakteristik makanan seperti tekstur, rasa, bau, warna, suhu, atau tampilan makanan sehingga menyebabkan penolakan terhadap berbagai jenis makanan. Faktor psikologis seperti gangguan kecemasan, obsessive compulsive disorder (OCD), atau temperamen cemas dapat meningkatkan kecenderungan menghindari makanan tertentu. Pengalaman makan yang negatif atau traumatik, seperti tersedak, muntah berulang, nyeri perut, refluks, atau rasa tidak nyaman setelah makan, dapat menyebabkan anak mengembangkan ketakutan terhadap makanan dan membatasi asupan secara menetap. Selain itu, faktor neurodevelopmental seperti autism spectrum disorder (ASD) dan attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD) sering berhubungan dengan ARFID karena adanya gangguan pemrosesan sensorik, regulasi perilaku, dan fleksibilitas terhadap perubahan makanan. Kondisi medis seperti gastroesophageal reflux disease (GERD), alergi makanan, eosinophilic esophagitis, penyakit gastrointestinal kronis, atau gangguan menelan juga dapat menjadi faktor pemicu karena menimbulkan rasa sakit atau ketidaknyamanan saat makan. Riwayat feeding difficulties sejak usia dini, termasuk picky eater berat yang menetap, keterlambatan transisi tekstur makanan, atau pengalaman makan yang tidak adekuat pada masa bayi, juga meningkatkan risiko berkembang menjadi ARFID.
Tabel 2. Etiologi dan Faktor Risiko ARFID
| Faktor Risiko | Contoh | Mekanisme yang Berperan |
|---|---|---|
| Faktor sensorik | Sensitif terhadap tekstur, rasa, bau, warna, suhu, atau tampilan makanan | Anak mengalami respons sensorik berlebihan sehingga menolak makanan tertentu atau hanya menerima makanan dengan karakteristik tertentu |
| Faktor psikologis | Gangguan kecemasan, obsessive compulsive disorder (OCD), kecemasan sosial | Meningkatkan rasa takut, kekhawatiran, atau perilaku menghindari makanan |
| Pengalaman makan traumatik | Tersedak, muntah, nyeri saat makan, refluks berat | Membentuk asosiasi negatif terhadap makanan sehingga anak menghindari makanan tertentu |
| Faktor neurodevelopmental | Autism spectrum disorder (ASD), attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD), gangguan perkembangan | Berhubungan dengan gangguan pemrosesan sensorik, fleksibilitas perilaku, dan regulasi respons terhadap makanan |
| Penyakit medis | GERD, alergi makanan, eosinophilic esophagitis, penyakit gastrointestinal kronis | Nyeri, inflamasi, mual, atau ketidaknyamanan saat makan menyebabkan penurunan penerimaan makanan |
| Gangguan oral-motor dan menelan | Kesulitan mengunyah, disfagia, koordinasi oral-motor buruk | Meningkatkan risiko takut makan dan pembatasan makanan karena kesulitan proses makan |
| Riwayat feeding difficulties | Picky eater berat, food neophobia, keterlambatan pengenalan tekstur makanan | Pola makan terbatas sejak dini dapat berkembang menjadi pembatasan makan menetap |
| Faktor keluarga dan lingkungan | Konflik saat makan, tekanan atau pemaksaan makan, pola makan keluarga | Dapat memperkuat perilaku menghindari makanan dan meningkatkan kecemasan saat makan |
| Faktor biologis | Riwayat prematuritas, gangguan regulasi nafsu makan, faktor genetik | Dapat memengaruhi perkembangan kemampuan makan, preferensi makanan, dan respons terhadap makanan |
Pemahaman terhadap etiologi dan faktor risiko ARFID penting karena membantu menentukan mekanisme utama yang mendasari gangguan makan pada setiap anak. Identifikasi faktor dominan memungkinkan pemilihan intervensi yang lebih spesifik, misalnya terapi sensorik pada anak dengan sensitivitas makanan, terapi psikologis pada anak dengan kecemasan makan, atau tata laksana medis pada anak dengan penyakit organik yang menyebabkan penolakan makan.
Fenotipe Klinis
ARFID memiliki tiga pola fenotipe klinis utama yang menggambarkan mekanisme berbeda dalam terjadinya pembatasan makan, yaitu sensory sensitivity, lack of interest in eating, dan fear of aversive consequences. Fenotipe sensory sensitivity ditandai oleh penolakan makanan akibat respons berlebihan terhadap karakteristik sensorik makanan, seperti tekstur, rasa, aroma, warna, suhu, atau tampilan makanan. Anak dengan pola ini sering kali hanya menerima makanan dengan karakteristik tertentu dan mengalami kesulitan memperluas variasi makanan meskipun tidak terdapat masalah medis yang jelas. Fenotipe lack of interest in eating ditandai oleh rendahnya motivasi atau ketertarikan terhadap aktivitas makan, nafsu makan yang rendah, cepat merasa kenyang, makan dalam jumlah sedikit, serta sering lupa atau tidak tertarik untuk makan. Anak dengan pola ini dapat mengalami asupan energi yang tidak mencukupi sehingga berisiko mengalami berat badan sulit naik atau faltering weight. Fenotipe fear of aversive consequences terjadi akibat rasa takut terhadap pengalaman negatif yang berhubungan dengan makan, seperti tersedak, muntah, nyeri perut, refluks, atau rasa tidak nyaman setelah mengonsumsi makanan tertentu. Anak dengan fenotipe ini dapat menghindari makanan tertentu atau bahkan seluruh kelompok makanan karena khawatir mengalami kejadian yang sama kembali. Ketiga pola tersebut dapat muncul secara terpisah maupun bersamaan pada satu anak, sehingga evaluasi klinis perlu mengidentifikasi mekanisme dominan yang menyebabkan pembatasan makan agar intervensi dapat diberikan secara tepat dan individual.
Tabel 3. Fenotipe Klinis ARFID
| Fenotipe | Karakteristik |
|---|---|
| Sensory sensitivity | Menolak makanan karena tekstur, warna, rasa, bau, atau suhu tertentu |
| Lack of interest | Tidak tertarik makan, cepat kenyang, nafsu makan rendah |
| Fear of aversive consequences | Takut makan karena pengalaman tersedak, muntah, nyeri, atau refluks |
Seorang anak dapat memiliki lebih dari satu fenotipe secara bersamaan.
Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID) sangat bervariasi sesuai dengan usia anak, mekanisme pembatasan makan, durasi penyakit, serta tingkat keparahan gangguan nutrisi yang terjadi. Pada aspek perilaku makan, anak dengan ARFID umumnya menunjukkan keterbatasan jumlah dan variasi makanan yang dikonsumsi, hanya menerima beberapa jenis makanan tertentu, menolak makanan baru, makan dalam waktu yang sangat lama, atau mengalami kecemasan ketika diperkenalkan dengan makanan yang belum familiar. Pada aspek nutrisi, pembatasan asupan yang menetap dapat menyebabkan berat badan sulit meningkat, faltering weight, gangguan pertumbuhan, hingga malnutrisi akibat kekurangan energi, protein, maupun mikronutrien tertentu. Gangguan gastrointestinal juga sering ditemukan, terutama pada anak dengan pola fear of aversive consequences, berupa cepat kenyang, nyeri perut, konstipasi kronis, refluks gastroesofageal, mual, atau muntah yang semakin memperkuat perilaku menghindari makanan. Kekurangan asupan zat gizi tertentu dapat menyebabkan komplikasi hematologi seperti defisiensi besi dan anemia, sedangkan pada kasus yang berlangsung lama dapat memengaruhi sistem endokrin berupa gangguan pertumbuhan linear, keterlambatan pubertas, atau gangguan maturasi tulang. Selain dampak fisik, ARFID juga memberikan dampak psikososial yang bermakna, seperti menghindari makan bersama keluarga atau teman, kesulitan mengikuti kegiatan sosial yang melibatkan makanan, meningkatnya kecemasan saat waktu makan, serta konflik antara anak dan orang tua. Oleh karena itu, evaluasi ARFID perlu mencakup aspek medis, nutrisi, perilaku, perkembangan, dan psikososial untuk menentukan tingkat keparahan serta kebutuhan intervensi yang sesuai.
Tabel 4. Manifestasi Klinis ARFID
| Sistem | Manifestasi |
|---|---|
| Perilaku makan | Hanya mau beberapa jenis makanan, makan sangat lama, menolak makanan baru |
| Nutrisi | Berat badan tidak naik, faltering weight, malnutrisi |
| Gastrointestinal | Cepat kenyang, konstipasi, refluks, muntah |
| Hematologi | Defisiensi besi, anemia |
| Endokrin | Gangguan pertumbuhan, pubertas terlambat |
| Psikososial | Menghindari makan bersama keluarga atau teman, kecemasan saat makan |
Diagnosis
Diagnosis Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID) ditegakkan berdasarkan kriteria Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Fifth Edition Text Revision (DSM-5-TR) dengan memastikan adanya pola pembatasan asupan makanan yang menyebabkan kegagalan memenuhi kebutuhan energi atau nutrisi serta menimbulkan dampak klinis yang bermakna. Evaluasi diagnosis memerlukan pendekatan multidisiplin karena ARFID merupakan gangguan kompleks yang melibatkan aspek medis, nutrisi, perkembangan, perilaku, dan psikososial. Anamnesis harus dilakukan secara menyeluruh meliputi riwayat pola makan sejak bayi, jumlah dan variasi makanan yang diterima, makanan yang dihindari, durasi makan, respons terhadap makanan baru, riwayat tersedak atau muntah, pengalaman makan yang traumatik, gejala gastrointestinal, riwayat alergi makanan, perkembangan anak, serta pola interaksi orang tua dan anak selama proses makan. Pemeriksaan fisik mencakup penilaian antropometri seperti berat badan, tinggi badan, indeks massa tubuh, pertumbuhan berdasarkan kurva pertumbuhan, tanda defisiensi nutrisi, serta evaluasi kemampuan oral-motor dan fungsi menelan bila diperlukan. Penilaian nutrisi dilakukan untuk menentukan kecukupan energi, protein, variasi makanan, dan kemungkinan defisiensi mikronutrien melalui food diary atau dietary assessment. Pemeriksaan penunjang tidak dilakukan secara rutin pada semua pasien, tetapi disesuaikan dengan temuan klinis, seperti pemeriksaan darah untuk menilai anemia atau defisiensi vitamin dan mineral, pemeriksaan alergi bila terdapat kecurigaan alergi makanan, endoskopi bila dicurigai penyakit esofagus seperti eosinophilic esophagitis, atau pemeriksaan fungsi menelan seperti videofluoroscopic swallow study pada anak dengan dugaan disfagia. Diagnosis banding perlu dipertimbangkan, termasuk feeding difficulties, Pediatric Feeding Disorder (PFD), alergi makanan, gastroesophageal reflux disease (GERD), penyakit celiac, gangguan menelan, serta anoreksia nervosa. Identifikasi fenotipe utama ARFID, yaitu sensory sensitivity, lack of interest in eating, dan fear of aversive consequences, penting dilakukan karena membantu menentukan strategi terapi yang paling sesuai bagi setiap anak.
Tabel 5. Pendekatan Diagnosis ARFID
| Komponen | Evaluasi |
|---|---|
| Anamnesis | Riwayat makan, variasi makanan, riwayat tersedak, muntah, trauma makan, gangguan perkembangan |
| Pemeriksaan fisik | Antropometri, status gizi, tanda defisiensi nutrisi |
| Penilaian nutrisi | Food diary, variasi makanan, kecukupan energi dan mikronutrien |
| Pemeriksaan laboratorium | Darah lengkap, feritin, vitamin D, vitamin B12, folat, seng sesuai indikasi |
| Diagnosis banding | Alergi makanan, GERD, penyakit celiac, eosinophilic esophagitis, PFD, anoreksia nervosa |
Diagnosis Banding
Diagnosis Banding
Diagnosis banding ARFID perlu dilakukan secara cermat karena beberapa gangguan makan dan kondisi medis dapat memberikan gambaran klinis yang serupa, terutama berupa penolakan makan, pembatasan asupan, atau gangguan pertumbuhan. ARFID berbeda dengan anoreksia nervosa karena pembatasan makan pada ARFID tidak disebabkan oleh ketakutan mengalami peningkatan berat badan atau gangguan persepsi terhadap bentuk tubuh, sedangkan anoreksia nervosa ditandai oleh keinginan kuat untuk menurunkan berat badan dan distorsi citra tubuh. Feeding difficulties umumnya menunjukkan kesulitan makan yang lebih ringan, sering terjadi pada anak sehat, dan tidak selalu menyebabkan gangguan nutrisi atau gangguan fungsi psikososial yang bermakna. Pediatric Feeding Disorder (PFD) memiliki cakupan yang lebih luas karena melibatkan gangguan pada satu atau lebih domain, yaitu medis, nutrisi, keterampilan makan, dan psikososial, sedangkan ARFID berfokus pada pola pembatasan makan yang menetap dengan konsekuensi klinis tertentu. Disfagia juga perlu dipertimbangkan karena gangguan menelan dapat menyebabkan penolakan makan, batuk saat makan, tersedak, atau aspirasi, tetapi mekanisme utamanya adalah gangguan proses menelan. Selain itu, kondisi medis seperti alergi makanan, gastroesophageal reflux disease (GERD), eosinophilic esophagitis, penyakit celiac, dan gangguan gastrointestinal lainnya harus disingkirkan karena dapat menyebabkan nyeri, ketidaknyamanan, atau rasa takut makan yang menyerupai ARFID. Evaluasi diagnosis banding penting dilakukan agar anak memperoleh terapi yang tepat berdasarkan penyebab utama, bukan hanya berfokus pada perilaku penolakan makan.
Tabel 6. Perbedaan ARFID dengan Gangguan Makan Lain
| Gangguan | Ciri Utama | Perbedaan dengan ARFID |
|---|---|---|
| ARFID | Pembatasan makan karena sensitivitas sensorik, kurang minat makan, atau takut konsekuensi negatif tanpa gangguan citra tubuh | Diagnosis utama berdasarkan pola pembatasan makan dan dampak nutrisi atau psikososial |
| Anoreksia nervosa | Pembatasan makan disertai ketakutan berat badan meningkat dan gangguan persepsi tubuh | ARFID tidak memiliki kekhawatiran mengenai berat badan atau bentuk tubuh |
| Feeding difficulties | Kesulitan makan ringan seperti picky eater, makan lama, atau menolak makanan tertentu | Biasanya tidak menyebabkan gangguan nutrisi berat atau gangguan fungsi yang signifikan |
| Pediatric Feeding Disorder (PFD) | Gangguan makan akibat gangguan medis, nutrisi, keterampilan makan, atau psikososial | PFD lebih luas dan dapat mencakup ARFID sebagai salah satu kondisi yang tumpang tindih |
| Disfagia | Gangguan mengunyah atau menelan yang menyebabkan risiko aspirasi | ARFID tidak selalu disebabkan gangguan mekanisme menelan |
| Alergi makanan | Gejala muncul akibat respons imun terhadap makanan tertentu | Pada ARFID, penghindaran makanan dapat terjadi karena pengalaman tidak nyaman atau ketakutan meskipun tidak selalu terdapat alergi |
| GERD | Refluks menyebabkan nyeri, muntah, atau ketidaknyamanan saat makan | ARFID dapat muncul sekunder akibat pengalaman negatif akibat GERD, tetapi perlu dibedakan penyebab utamanya |
| Eosinophilic esophagitis | Peradangan esofagus yang menyebabkan nyeri menelan, disfagia, dan penolakan makan | Memerlukan konfirmasi medis karena penyebab utama adalah inflamasi esofagus |
Penatalaksanaan
Penanganan Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID) memerlukan pendekatan multidisiplin yang disesuaikan dengan mekanisme utama gangguan makan, tingkat keparahan defisiensi nutrisi, usia anak, serta penyakit penyerta yang ditemukan. Tujuan utama terapi adalah memperbaiki kecukupan nutrisi, meningkatkan variasi makanan, mengurangi kecemasan atau ketakutan terhadap makanan, memperbaiki kemampuan makan, serta mengembalikan fungsi psikososial anak dan keluarga. Rehabilitasi nutrisi menjadi komponen awal yang penting untuk memastikan kebutuhan energi, protein, vitamin, dan mineral terpenuhi melalui strategi pemberian makan yang terstruktur. Pada anak dengan malnutrisi berat atau pertumbuhan terganggu, intervensi nutrisi perlu dilakukan secara intensif dengan pemantauan pertumbuhan secara berkala. Terapi psikologis seperti Cognitive Behavioral Therapy for ARFID (CBT-AR) memiliki peran penting terutama pada anak dengan sensitivitas sensorik, kecemasan makan, atau ketakutan terhadap konsekuensi negatif setelah makan. Pendekatan ini membantu anak meningkatkan toleransi terhadap makanan baru secara bertahap melalui paparan makanan yang terencana. Family-Based Treatment (FBT) juga berperan dalam memperbaiki pola interaksi makan antara anak dan orang tua, meningkatkan dukungan keluarga, serta mengurangi konflik selama proses makan. Pada anak dengan gangguan sensorik diperlukan terapi okupasi untuk membantu adaptasi terhadap tekstur, rasa, bau, dan karakteristik sensorik makanan, sedangkan terapi wicara atau feeding therapist diperlukan pada anak dengan gangguan oral-motor, kemampuan mengunyah, atau disfagia. Penyakit penyerta seperti gastroesophageal reflux disease (GERD), alergi makanan, konstipasi kronis, atau gangguan gastrointestinal lainnya harus ditangani karena dapat menjadi faktor pemicu atau mempertahankan perilaku menghindari makanan. Suplementasi nutrisi diberikan berdasarkan hasil evaluasi untuk mengatasi defisiensi zat besi, vitamin D, kalsium, seng, atau mikronutrien lain yang ditemukan.
Tabel 7. Penatalaksanaan ARFID Berdasarkan Intervensi dan Tujuan
| Intervensi | Tujuan Utama | Indikasi atau Penerapan |
|---|---|---|
| Rehabilitasi nutrisi | Memenuhi kebutuhan energi, protein, dan zat gizi untuk mengejar pertumbuhan | Anak dengan berat badan sulit naik, faltering weight, malnutrisi, atau asupan makanan sangat terbatas |
| Dietary assessment dan perencanaan nutrisi | Menilai kecukupan asupan dan memperbaiki kualitas diet | Anak dengan variasi makanan rendah atau risiko defisiensi nutrisi |
| Cognitive Behavioral Therapy for ARFID (CBT-AR) | Mengurangi kecemasan makan, meningkatkan penerimaan makanan, dan memperluas variasi makanan | Anak dengan sensory sensitivity, fear of aversive consequences, atau kecemasan terkait makanan |
| Family-Based Treatment (FBT) | Memperbaiki peran keluarga dalam proses makan dan mengurangi konflik saat makan | Anak dengan gangguan perilaku makan dan orang tua yang mengalami kesulitan dalam pemberian makan |
| Terapi okupasi | Mengatasi gangguan pemrosesan sensorik dan meningkatkan toleransi terhadap berbagai karakteristik makanan | Anak yang menolak makanan berdasarkan tekstur, warna, bau, atau suhu |
| Feeding therapy | Meningkatkan kemampuan makan secara bertahap dan membangun pengalaman makan positif | Anak dengan penolakan makan berat atau keterbatasan kemampuan makan |
| Terapi wicara (speech-language therapy) | Memperbaiki kemampuan oral-motor, mengunyah, dan menelan | Anak dengan disfagia, gangguan koordinasi oral-motor, batuk atau tersedak saat makan |
| Terapi penyakit penyerta | Menghilangkan faktor medis yang mempertahankan gangguan makan | GERD, alergi makanan, eosinophilic esophagitis, konstipasi kronis, penyakit gastrointestinal lain |
| Suplementasi nutrisi | Mengatasi kekurangan vitamin dan mineral | Defisiensi zat besi, anemia, defisiensi vitamin D, kalsium, seng, atau mikronutrien lain |
| Nutrisi enteral | Menjamin kebutuhan nutrisi pada kondisi berat | Anak dengan malnutrisi berat, kegagalan memenuhi kebutuhan oral, atau risiko medis akibat kekurangan nutrisi |
| Monitoring pertumbuhan dan evaluasi berkala | Menilai respons terapi dan mencegah komplikasi jangka panjang | Semua pasien ARFID dengan pemantauan berat badan, tinggi badan, status gizi, dan fungsi makan |
Prognosis
Prognosis Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID) sangat dipengaruhi oleh usia saat diagnosis ditegakkan, durasi gangguan makan, tingkat keparahan gangguan nutrisi, adanya penyakit penyerta, kondisi psikososial keluarga, serta kepatuhan terhadap program terapi. Diagnosis dan intervensi yang dilakukan sejak dini memberikan luaran yang lebih baik karena dapat mencegah terjadinya gangguan pertumbuhan dan komplikasi nutrisi yang menetap. Sebagian besar pasien menunjukkan perbaikan setelah mendapatkan pendekatan multidisiplin yang melibatkan intervensi nutrisi, terapi perilaku, terapi sensorik, terapi feeding, serta penanganan kondisi medis yang mendasari. Perbaikan umumnya terlihat melalui peningkatan variasi makanan, peningkatan asupan energi dan zat gizi, perbaikan berat badan serta pertumbuhan, dan penurunan kecemasan atau ketakutan terhadap makanan. Sebaliknya, ARFID yang tidak teridentifikasi atau tidak mendapatkan terapi yang adekuat dapat menyebabkan konsekuensi jangka panjang berupa malnutrisi kronis, faltering weight, stunting, defisiensi mikronutrien, gangguan perkembangan fisik dan psikososial, keterbatasan aktivitas sosial, serta peningkatan beban emosional bagi anak dan keluarga. Oleh karena itu, pengenalan dini terhadap pola pembatasan makan yang menetap dan evaluasi komprehensif menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan terapi dan kualitas hidup pasien.
Daftar Pustaka
- American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders. 5th ed. Arlington (VA): American Psychiatric Association; 2013.
- American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders. 5th ed, Text Revision (DSM-5-TR). Washington (DC): American Psychiatric Association; 2022.
- Goday PS, Huh SY, Silverman A, Lukens CT, Dodrill P, Cohen SS, et al. Pediatric Feeding Disorder: Consensus Definition and Conceptual Framework. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2019;68(1):124-129. doi:10.1097/MPA.0000000000002649.
- Bryant-Waugh R. Avoidant/restrictive food intake disorder: An illustrative case example. Int J Eat Disord. 2019;52(4):469-472. doi:10.1002/eat.23031.
- Fisher MM, Rosen DS, Ornstein RM, Mammel KA, Katzman DK, Rome ES, et al. Characteristics of Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder in Children and Adolescents: A “New Disorder” in DSM-5. J Adolesc Health. 2014;55(1):49-52. doi:10.1016/j.jadohealth.2013.10.004.
- Nicely TA, Lane-Loney S, Masciulli E, Hollenbeak CS, Ornstein RM. Prevalence and Characteristics of Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder in a Pediatric Eating Disorder Program. Int J Eat Disord. 2014;47(5):495-499. doi:10.1002/eat.22276.
- Norris ML, Robinson A, Obeid N, Harrison M, Spettigue W, Henderson K. Exploring Avoidant Restrictive Food Intake Disorder in Eating Disorder Patients: A Descriptive Study. Int J Eat Disord. 2014;47(5):495-499. doi:10.1002/eat.22237.
- Bourne L, Bryant-Waugh R, Cook J, Mandy W. Avoidant/restrictive food intake disorder: A systematic scoping review of the current literature. Psychiatry Res. 2020;288:112961. doi:10.1016/j.psychres.2020.112961.
- Thomas JJ, Eddy KT. Cognitive-Behavioral Therapy for Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder. Cambridge: Cambridge University Press; 2019.
- Zickgraf HF, Murray HB. Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder: Recent Findings and Future Directions. Curr Psychiatry Rep. 2021;23(9):59. doi:10.1007/s11920-021-01270-0.
- Kambanis PE, Kuhnle MC, Wons OB, Jo JH, Keshishian AC, Hauser K, et al. Prevalence and correlates of psychiatric comorbidities in children and adolescents with avoidant/restrictive food intake disorder. Int J Eat Disord. 2020;53(7):1120-1130. doi:10.1002/eat.23295.
- Seetharaman S, Fields EL, Chao AM, et al. Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder: A Review of the Current Literature. Curr Psychiatry Rep. 2024;26:1-12.
- Chiarello F, Ruzzi V, Cimino S, et al. Avoidant Restrictive Food Intake Disorder: Recent Advances in Neurobiology and Treatment. J Eat Disord. 2024;12:95. doi:10.1186/s40337-024-01032-2.
- Menzel JE, Perry TR. Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder: Review and Recent Advances. Focus (Am Psychiatr Publ). 2024;22(3):288-300. doi:10.1176/appi.focus.20230045.
- World Health Organization. International Classification of Diseases 11th Revision (ICD-11). Geneva: World Health Organization; 2019. Available from: https://icd.who.int/







Leave a Reply