Apakah Bayi yang Sering Gumoh atau Muntah Pasti Alergi Susu Sapi?
Pertanyaan
“Dok, bayi saya sekarang usia 10 bulan. Dari usia sekitar 3 bulan sampai sekarang masih sering gumoh, kadang muntah setelah minum susu atau makan MPASI. Belakangan makannya makin susah, hanya mau makanan yang lembut, sering menolak kalau diberi makanan yang agak kasar, dan pilih-pilih makanan. Makannya juga lama sekali, kadang sampai lebih dari 30 menit. Berat badannya sulit naik dan kadang sembelit. Ada yang bilang bayi saya pasti alergi susu sapi sehingga harus ganti susu. Ada juga yang menyarankan cukup diberi obat lambung. Saya jadi bingung. Benarkah bayi yang sering gumoh atau muntah pasti alergi susu sapi?”
Jawaban
Belum tentu. Justru sebagian besar bayi yang sering gumoh tidak mengalami alergi susu sapi. Gumoh merupakan kondisi yang sering terjadi karena saluran pencernaan bayi masih berkembang. Pada banyak bayi, gumoh akan berkurang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia, terutama setelah mulai duduk, makan MPASI, dan lebih banyak beraktivitas dalam posisi tegak. Jadi, jangan langsung menyimpulkan bahwa setiap bayi yang sering gumoh atau muntah pasti disebabkan oleh alergi susu sapi.
Namun, bila gumoh atau muntah berlangsung terus-menerus dan disertai berat badan yang sulit naik, bayi tampak kesakitan saat makan, sering rewel, sembelit, diare, darah pada tinja, eksim, atau batuk berulang, kondisi tersebut memang perlu dievaluasi lebih lanjut. Apalagi bila bayi mulai hanya mau makanan tertentu, menolak tekstur yang lebih kasar, makan sangat lama, atau tampak sulit mengunyah dan menelan. Keluhan tersebut dapat mengarah pada feeding difficulties atau gangguan makan, bahkan pada sebagian bayi dapat disertai gangguan perkembangan kemampuan oral-motor. Penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari refluks, gangguan saluran cerna, gangguan menelan, hingga alergi makanan.
Saat memeriksa bayi, dokter akan melihat keseluruhan kondisi, bukan hanya gumohnya. Dokter akan menilai pola makan sejak bayi, jenis makanan yang ditolak, kemampuan mengunyah dan menelan sesuai usia, pertumbuhan berdasarkan kurva berat dan panjang badan, serta adanya gejala lain yang mengarah ke alergi. Dengan cara ini dokter dapat membedakan apakah bayi hanya mengalami gumoh fisiologis, gangguan makan biasa, gangguan oral-motor, atau memang terdapat penyakit yang mendasarinya, termasuk kemungkinan alergi makanan.
Hal yang juga perlu diketahui adalah masih sering terjadi overdiagnosis alergi susu sapi. Bayi yang sering muntah, susah makan, sembelit, atau berat badannya sulit naik sering kali langsung dianggap alergi susu sapi tanpa pemeriksaan yang memadai. Akibatnya, banyak bayi menjalani diet yang tidak diperlukan atau langsung mengganti susu formula yang lebih mahal. Padahal, keluhan tersebut juga dapat disebabkan oleh refluks, konstipasi, gangguan oral-motor, atau penyebab lain yang memerlukan penanganan berbeda. Memberi label alergi tanpa bukti yang kuat justru dapat membuat penanganan menjadi kurang tepat.
Bila setelah evaluasi dokter memang mencurigai adanya alergi susu sapi, biasanya akan dilakukan diet eliminasi secara terarah dan dipantau responsnya. Namun, gejala yang membaik setelah menghentikan susu sapi belum otomatis membuktikan bahwa bayi benar-benar alergi. Diagnosis tetap harus dipastikan, bila kondisi memungkinkan dan aman, dengan Oral Food Challenge yang saat ini merupakan baku emas untuk menegakkan diagnosis alergi makanan. Karena itu, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa bayi yang sering gumoh, pilih-pilih makanan, mengalami gangguan oral-motor, atau berat badannya sulit naik pasti alergi susu sapi. Yang paling penting adalah mencari penyebabnya secara menyeluruh agar pengobatan yang diberikan benar-benar sesuai dengan masalah yang dialami bayi.









Leave a Reply