Pertanyaan
Dok, anak saya berusia 3 tahun dan sangat pilih-pilih makanan. Ia hanya mau makan beberapa jenis makanan seperti nasi, mi, telur, biskuit, dan susu. Ia selalu menolak sayur, buah, ikan, atau makanan baru. Bila dipaksa mencoba makanan yang berbeda, anak langsung menutup mulut, menangis, bahkan kadang muntah karena tidak suka teksturnya. Waktu makan sering menjadi pertengkaran di rumah dan saya khawatir karena berat badannya mulai sulit naik. Apakah kondisi ini masih termasuk picky eater yang normal atau sudah menjadi gangguan makan? Mengapa ada anak yang sangat pilih-pilih makanan, apa risikonya terhadap pertumbuhan, dan bagaimana cara mengatasinya?
Jawaban
Picky eater adalah perilaku makan yang ditandai dengan penolakan terhadap berbagai jenis makanan berdasarkan rasa, tekstur, warna, aroma, atau penampilan makanan, bukan karena keinginan menurunkan berat badan atau gangguan citra tubuh. Kondisi ini paling sering terjadi pada anak usia 18 bulan hingga 5 tahun, dengan puncaknya sekitar usia 3 tahun. Diperkirakan sekitar satu dari empat anak pada kelompok usia tersebut mengalami picky eating. Pada sebagian besar anak, perilaku ini akan berangsur membaik ketika memasuki usia sekolah karena kemampuan sensorik, pengalaman makan, dan perkembangan perilaku semakin matang.
Picky eater lebih dari sekadar tidak menyukai satu atau dua jenis makanan. Anak biasanya memiliki pilihan makanan yang sangat terbatas, menolak hampir semua makanan baru, dan sering hanya menerima makanan dengan tekstur atau warna tertentu. Sebagai contoh, ada anak yang hanya mau makanan berwarna putih atau cokelat, hanya mau makanan yang renyah, atau menolak semua makanan yang berkuah. Kondisi ini dikenal sebagai food neophobia, yaitu ketakutan atau keengganan mencoba makanan baru yang merupakan bagian dari perkembangan normal pada sebagian anak.
Penelitian menunjukkan bahwa faktor genetik ikut memengaruhi perilaku pilih-pilih makanan. Salah satu gen yang paling banyak diteliti adalah TAS2R38 yang berperan dalam mengenali rasa pahit. Anak yang memiliki variasi tertentu pada gen ini akan merasakan sayuran seperti brokoli, kubis, kale, atau sawi sebagai jauh lebih pahit dibandingkan anak lain sehingga lebih sering menolaknya. Selain faktor genetik, sensitivitas sensorik juga berperan penting. Anak dengan sensitivitas sensorik tinggi dapat merasa sangat terganggu oleh tekstur makanan yang lembek, berserat, berlendir, atau berbau tajam sehingga makanan tersebut langsung ditolak.
Meskipun sebagian besar picky eater tetap tumbuh normal, sebagian anak berisiko mengalami kekurangan zat gizi bila pilihan makanannya terlalu terbatas. Kekurangan zat besi dan seng merupakan masalah yang paling sering ditemukan. Kedua mineral tersebut berperan penting dalam pertumbuhan, perkembangan otak, sistem kekebalan tubuh, dan nafsu makan. Oleh karena itu, dokter tidak hanya menilai jenis makanan yang dikonsumsi, tetapi juga memantau berat badan, tinggi badan, serta kurva pertumbuhan secara berkala. Anak yang tetap mengikuti kurva pertumbuhan umumnya tidak mengalami gangguan gizi yang bermakna meskipun pola makannya terbatas.
Orang tua perlu mulai khawatir apabila perilaku pilih-pilih makanan disertai tanda bahaya seperti berat badan tidak bertambah selama dua sampai tiga bulan, penurunan kurva pertumbuhan, tinggi badan melambat, hanya mau mengonsumsi sangat sedikit jenis makanan, sering muntah atau tersedak saat makan, membutuhkan waktu makan lebih dari 30 sampai 45 menit, mengalami kekurangan gizi, atau gangguan makan mulai mengganggu aktivitas sekolah maupun kehidupan sosial. Kondisi tersebut dapat mengarah pada Pediatric Feeding Disorder atau Avoidant Restrictive Food Intake Disorder (ARFID), yaitu gangguan makan yang memerlukan evaluasi dan penanganan lebih lanjut.
Cara paling efektif untuk membantu picky eater menerima makanan baru adalah memberikan paparan makanan secara berulang tanpa paksaan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa menawarkan satu jenis makanan baru setiap hari selama sekitar delapan sampai sepuluh kali paparan dapat meningkatkan kemungkinan anak menerima makanan tersebut. Anak tidak harus langsung menghabiskan makanan. Tujuan utamanya adalah membangun rasa aman dan mengenal makanan baru secara bertahap. Mengubah tekstur makanan, misalnya memanggang sayuran hingga renyah atau mencampurkannya ke dalam saus, juga dapat membantu pada anak dengan gangguan sensorik.
Suasana makan di rumah memiliki pengaruh yang sangat besar. Orang tua dianjurkan menerapkan responsive feeding dengan menyediakan makanan bergizi pada waktu yang teratur, kemudian membiarkan anak menentukan jumlah yang ingin dimakan. Hindari memaksa, mengancam, menyuapi sambil mengejar anak, atau menggunakan televisi dan gawai agar anak mau makan. Cara tersebut terbukti meningkatkan konflik saat makan dan dapat memperkuat perilaku penolakan makanan. Sebaliknya, makan bersama keluarga, memberikan contoh yang baik, dan mengenalkan makanan baru secara konsisten akan meningkatkan keberhasilan dalam jangka panjang.
Kesimpulannya, picky eater merupakan kondisi yang umum pada anak usia dini dan sebagian besar akan membaik seiring bertambahnya usia. Namun, apabila perilaku tersebut menyebabkan gangguan pertumbuhan, kekurangan zat gizi, atau mengganggu kehidupan anak dan keluarga, evaluasi oleh dokter spesialis anak perlu dilakukan untuk menyingkirkan Pediatric Feeding Disorder, ARFID, alergi makanan, penyakit saluran cerna, atau gangguan medis lainnya. Penanganan yang dimulai sejak dini memberikan peluang yang lebih besar untuk memperbaiki pola makan, memenuhi kebutuhan gizi, dan mendukung pertumbuhan serta perkembangan anak secara optimal.







Leave a Reply